Phuket Story (3rd Series Billionare Love Story)

Phuket Story (3rd Series Billionare Love Story)
Penyesalan



Dave menatap cincin yang sedang ia pegang sambil melamun di depan meja makan. Cincin itu adalah titipan dari Clara yang harus ia kembalikan pada Edward. Padahal sampai sekarang ia tidak dapat menemukan Edward. Begitu pula dengan orangtuanya. Ia teringat ucapan Clara beberapa hari yang lalu. Jika ia tidak memaksa Clara mengatakannya, ia tidak akan bercerita. Ia tidak bisa melihat keduanya menyiksa diri hanya karena orangtua Edward. Alena harus tahu semuanya. Ia menoleh pada Alena yang sedang berada di meja pantry. Ia sedang menyiapkan makan malam untuknya.


"Al.." panggil Dave


Alena berjalan menghampirinya sambil membawakan secangkir kopi. "Kenapa?"


"Clara sama Edward putus."


Alena terkejut. "Kenapa? Gara-gara berita itu? Jadi karena putus, Clara minta buat melihat kerjaan nenek di luar negeri?" tanyanya.


Dave mulai menceritakan semuanya. Apa yang ia dengar dari Clara pada waktu itu. Ia menceritakan semuanya tanpa ada yang ia sembunyikan. Terlihat perubahan wajah Alena. Ia terlihat sangat marah. Seorang kakak wajar ingin melindungi adiknya seperti itu. Ia melihat Alena berdiri.


"Aku mau ketemu mamanya Edward. Anter aku, Dave." ucapnya marah.


Dave menggeleng. "Gak bisa , sampai sekarang aku juga gak tau dimana Edward berada. Aku tau dengan pasti keduanya pasti hancur."


Tiba-tiba handphonenya berbunyi. Calvin menghubunginya. Ia yakin ada kabar. "Halo."


"Dave, ketemu! Edward udah ketemu. Kamu sekarang kesini. Aku WhatsApp alamatnya." seru Calvin tergesa-gesa.


Dave berdiri. "Oke, aku langsung kesana." jawabnya cepat. Ia menatap Alena. "Aku pergi dulu, Edward udah ketemu." ucapnya cepat.


Dave bergegas menuju tempat yang sudah dikirim Calvin alamatnya. Ia menatap bangunan yang ada didepannya. Sebuah hotel biasa yang terlihat sedikit rapuh. Seorang Edward memilih bersembunyi di tempat seperti ini. Ia melihat Calvin sudah berdiri didepan pintu masuk. Wajahnya tidak terlihat tenang. Iapun turun dan menghampiri Calvin.


"Aku ditelepon sama resepsionis disini. Edward bikin onar. Dia mengganggu tamu yang lain." ucap Calvin dengan nada kesal.


"Emang keterlaluan mamanya Edward. Dia harus liat sendiri apa yang udah dia perbuat sama anaknya." jawab Dave sama-sama kesal.


Merekapun berjalan menuju sebuah kamar yang terletak diujung lorong. Calvin mengetuk pintu kencang. Cukup lama untuk menunggu. Ketika pintu terbuka, ia dan Dave langsung masuk tanpa dipersilahkan. Ia bahkan tidak menghiraukan siapa yang membuka pintu kamar. Mereka berdua melihat Edward tertidur. Beberapa botol minuman, snack dan rokok telah mengotori seluruh ruangan. Pesta apa yang dibuat Edward? pikir mereka.


Dave menghampiri Edward sedangkan Calvin sedang berbicara dengan wanita yang tadi membukakan pintu. Ia menepuk-nepuk pipi Edward dengan kencang.


"Bangun Ed!" teriak Dave. Ia menatap Edward yang terlihat berantakan. Kali ini jauh lebih parah dari sebelumnya.


Edward membuka matanya pelan. Ia menyipit karena cahaya lampu yang menyilaukan matanya. Ia tersenyum ketika melihat Dave didepannya. "Ngapain kalian kesini? Acaranya belum selesai."


"Kamu harus tau semuanya Ed! Semua gara-gara ibu kamu! Dia yang minta Clara buat putusin kamu!" ucap Dave kesal.


********************************************


Pintu rumah Edward didobrak dengan kencang oleh Edward. Ia tidak melihat siapapun. Ia hanya melihat ibunya yang sedang duduk didepan ruang televisi bersama Sasha. Mereka berdua terlihat terkejut.


Edward kesal. Ia menghampiri rak dengan vas bunga besar diatasnya. Ia ambil dan membantingnya dengan kencang.


"Ma! Puas bikin aku kayak gini?" teriak Edward marah.


"Edy! Jangan gitu ke Tante Ami." seru Sasha.


Edward menunjuk wajah Sasha dan menatapnya marah. "Jangan ikut campur kamu!"


Sasha langsung terdiam. Sedangkan ibunya memegang tangannya. Dengan cepat ia melepaskan tangan ibunya dan memukul cermin besar yang ada disampingnya. "Ahhhhhh!!" teriaknya kencang. Ia menatap ibunya. "Mama kenapa tega? Apa mama tau apa yang terjadi sama Clara setahun ini?" tanya Edward. Tubuhnya ambruk dilantai. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya yang sekarang mengeluarkan banyak darah.


"Itu gak penting buat mama. Kamu sama Sasha akan menikah tahun ini juga. Mama gak peduli dengan kekayaan Clara. Kalo dia hanya datang untuk mempermalukan nama keluarga kita, mama yang paling depan menolaknya." ucap Ami tegas.


Edward mulai terisak. "Ma, hidup Clara jauh lebih berat dari yang mama kira. Dia hidup tanpa kasih sayang seorang ibu, dia pernah mengalami penculikan dan hampir dijual sama mucikari yang menyelamatkan dia. Udah cukup Clara menderita ma, kenapa mama nambah penderitaan Clara? Kenapa ma?"


Ami terdiam. Ia berpangku tangan dan berfikir. Tak lama ia berbalik. "Tapi Clara bukan anak baik-baik." ucapnya gugup.


"Mama pikir aku ini anak baik? Aku pernah pxrkxsx dia ma! Aku takut dia hamil waktu itu! Anak mama ini yang jahat. Bukan Clara!" teriak Edward sambil berdiri.


Sasha menghampirinya. "Tapi Ed, aku liat sendiri dia keluar dari bar. Ini ada fotonya. " ucapnya.


Hanya melihat sekilas saja ia tahu dimana foto itu diambil. Ia mendorong bahu Sasha dan mencekiknya. "Kamu yang kasih tau mama foto ini! Hah! Kamu gak tau cerita dibalik foto ini! Aku yang buat Clara mabuk! Dua orang ini adalah temen aku!' teriak Edward.


Sasha terbatuk-batuk hingga akhirnya Edward melepaskan cekikannya karena tubuhnya ditarik oleh kedua sahabatnya.


"Cukup Ed!" seru Calvin.


"Kamu liat sendiri! Mereka kan yang megang Clara waktu itu! Sasha, kamu memang wanita gak tau diri! Kamu deketin mama karena mau deketin aku. Cara kamu kotor, Sasha. Sampai kapanpun aku gak akan pernah berniat menikahi kamu. Apalagi menjadikan kamu sebagai istri aku!" ucap Edward.


Ketika Edward sudah tenang, Dave dan Calvin duduk diruang tamu bersama kedua orang tua Edward. Mereka terlihat kebingungan. Berada jauh dengan Edward membuat mereka tidak mengetahui bagaimana sifat Edward kini.


"Kita cuma tau nama kalian tapi gak pernah tau wajah kalian. Kenalkan, saya Andi. Papanya Edward." ucap Andi ramah.


Dave dan Calvin berjabat tangan. Mereka kemudian melihat ibunya Edward yang sedang melamun.


"Kalau kalian ini, memang temen Edward dari jaman kuliah di Michigan?" tanya Andi.


"Betul om. Dan kebetulan saya juga kakak ipar Clara." jawab Dave.


Tiba-tiba Ami menatap Dave. "Dave, apa bener yang Edward tadi bilang tentang Clara? Tante gak percaya ada kejadian seperti itu." ucap Ami


"Sakit Clara bukan cuma fisik Tante, psikologisnya juga terganggu saat itu. Kami berusaha keras untuk menyembuhkan lukanya. Sejak ketemu Edward lagi, saya pikir Clara sembuh. Begitu juga dengan Edward. Mereka pernah salah paham waktu itu. Saya menyesalkan sikap Tante yang memisahkan mereka berdua. Mereka mempunyai mimpi. Dan kami berusaha mewujudkannya. Kemungkinan 4 bulan kedepan, Clara pindah kantor kesini. Jadi tidak ada alasan untuk Edward pergi jauh hanya untuk bertemu Clara. Awalnya kami berbuat seperti itu. Tapi sekarang, tidak ada lagi yang dapat kita lakukan. Kita hanya mendukung apapun yang mereka lakukan."


"Sekarang dimana Clara?" tanya Ami.


Dave melihat jam tangannya. "Clara udah berangkat ke Aussie satu jam yang lalu." jawab Dave.


Ami merasa penyesalan mulai menghampirinya. Jika benar apa yang Dave katakan tentang Clara, ia akan meminta maaf. Tapi sepertinya ia terlambat.