
Dave sedang menatap laptopnya dengan serius. Akhir-akhir ini ia sangat sering mengadakan rapat terbatas dengan karyawannya karena beberapa pekerjaan yang hampir deadline. Beberapa karyawannya terburu-buru ketika datang ke ruang meeting dengan data seadanya. Ketika semua karyawannya sudah duduk dengan rapi di kursi masing-masing, ia mulai menyalakan proyektornya dan semua data sudah ditampilkan dilayar. Ia mulai berdiri untuk memulai rapat, namun suara handphonenya tiba-tiba mengganggunya. Ia melihatnya. Telepon dari rumah sakit tempat Alena bekerja. Ia sedikit berfikir, seharusnya Alena sedang melakukan operasinya
"Halo." jawab Dave.
"Halo, Pak Dave, saya suster Ana." ucap wanita itu terbata.
Dave sangat mengenal suster Ana. Karena semenjak ia mengenal Alena, iapun mengenal suster Ana.
"Pak, emm..begini, bapak jangan tegang. Dengar ucapan saya dengan tenang."ucapnya terbata-bata.
Dave berjalan keluar dari ruang meetingnya. "Ada apa? Apa terjadi sesuatu sama istri saya?" tanya Dave waspada. Sejak mengenal Clara, ia dan Alena mulai waspada.
"Dokter Alena jadi korban tabrak lari didepan lobi rumah sakit."
Dave langsung berlari. Jantungnya seperti berhenti berdetak. Ia ketakutan. "Gimana Alena? Gimana bayi nya?"tanya Dave ketakutan.
"Lebih baik bapak langsung kerumah sakit." ucap Suster Ana.
Rasa takut yang berlebihan mulai mengelilingi Dave. Alenanya sedang terbaring kesakitan. Ia tidak sanggup menahannya. Ia berlari menuju parkiran. "Shitt!!!!" pekiknya sambil memukul kemudi mobil.
Ketika sampai dirumah sakit, ia langsung disambut Suster Ana dan Dokter Ivan. Mereka terlihat khawatir.
"Gimana?"tanya Dave khawatir.
"Nanti sebentar, kita tunggu dokter yang ada didalam."
"Mana dokternya. Kenapa lama? Ayo cepat, kenapa Alena? Gimana bayinya?" tanya Dave cemas.
Tiba-tiba seorang dokter keluar. Ia menatap Dave. "Dokter Alena stabil. Tapi Dokter Alena mengalami pendarahan hebat. Terpaksa kita harus keluarkan bayinya sekarang. Kehamilan dokter Alena masih muda, harus cepat-cepat ditangani."
Dave langsung menarik kerah dokter yang menangani Alena. "Kamu dokter kan? Kamu gak bisa menyelamatkan keduanya?"teriak Dave.
Dokter Ivan melerai Dave. "Tenang-tenang."
Ia melihat suster Ana yang menangis. "Ayo, bilang! Apa kamu pantas disebut dokter kalo kamu gak bisa menyelamatkan keduanya?" teriak Dave kembali.
"Pak, tolong jangan mempersulit. Didalam, Dokter Alena sedang berhadapan dengan maut." tangis Suster Ana.
Dave lemas. Ia langsung ambruk dilantai.
Suster Ana mengambil kertas yang diberikan oleh salah satu suster yang ikut dalam operasi. Ia berjongkok. "Pak. ini surat pernyataan yang harus ditandatangani."
Dave menatap kertas itu dengan nanar. Ia tidak pernah berharap kejadian seperti ini akan menimpanya. Ia menatap Suster Ana. Tak lama kemudian ia menandatanganinya.
Dokterpun masuk kembali ke ruang operasi dan mulai melakukan operasi. Dave duduk sambil menunduk. Ia telah melonggarkan dasi yang dipakainya. Rambutnya acak-acakan. Ia tidak peduli disebut suami yang cengeng. Ia mulai menitikkan air mata. Orang yang paling disayanginya ada didalam sedang kesakitan. Ia mulai mengepalkan tangannya. Ia marah. "Siapapun orang yang ada dibalik ini, akan aku bunuh!" ucapnya marah.
"Halo." jawab Siska.
"Nek, kayaknya mereka udah mulai menyalakan api." Ucap Dave serius.
Siska mengerutkan keningnya."Kenapa Dave?"
Clara melihat Siska yang terlihat panik.
"Alena ditabrak seseorang dan Alena terpaksa harus kehilangan bayinya." Isak Dave.
Siska terkejut. Ia langsung terduduk dikursi yang ada disamping telepon. "Alena.." bisiknya pelan.
Clara menatap Siska cemas. Ia menghampiri Siska. "Nek, ada apa?" tanyanya cemas
Siska menyimpan teleponnya. Ia menatap Clara. "Kakak kamu ada yang menabrak. Dave barusan telepon nenek. Mereka bahkan harus kehilangan bayi mereka." Ucap Siska sambil terisak. "Alena malang sekali."
Clara terkejut. Ini semua pasti gara-gara kehadirannya. Ia menangis mengingat kebaikan Alena padanya. "Kakak." lirihnya.
Siska bangun dari duduknya. Ia memanggil Dira. "Dira, kita kerumah sakit sekarang."
Dira berlari menghampiri Siska dan memapahnya keluar.
"Clara ikut nek." ucapnya.
Siska menggelengkan kepalanya. "Lebih baik kamu dirumah, Clara. Kalo kamu ikut, bisa-bisa kamu yang jadi korban selanjutnya."
Clara menuruti ucapan Siska. Ia berjalan menaiki tangga untuk pergi ke kamarnya.
Ketika sampai dirumah sakit, Siska melihat Dave sudah berada disamping Alena. Alena terlihat masih pucat. Ia terlihat banyak menangis. Siska merasa terharu. Alena, wanita yang sangat kuat dan tegar harus mengalami kejadian seperti ini.
"Dave" panggil Siska.
Dave menoleh dan melihat Siska berjalan didampingi Dira. Ia berdiri dan memberikan kursinya pada Siska. Siska membelai rambut Alena. Ia menyayangi Alena lebih dari apapun. Ia menggenggam tangannya dengan erat.
"Sabar sayang." ucap Siska.
"Bayi Alena, nek." isak Alena.
Siska mengangguk sedih. "Kamu sabar ya, yang penting sekarang kamu baik-baik aja."
Dave menatap keduanya. Ia tidak kuat berada didalam. Iapun berjalan keluar ruangan dan mulai menghubungi seseorang.
"Halo, ini aku. Dave. Aku minta tolong, cari pemilik mobil sedan warna hitam. Nanti videonya aku kirim. Bisa secepatnya? Kalo udah ketemu, bawa ke tempat biasa." ucapnya serius.