Phuket Story (3rd Series Billionare Love Story)

Phuket Story (3rd Series Billionare Love Story)
Melepaskan diri



Clara merasakan ada langkah kaki sedang berjalan menghampiri kamarnya. Ia tidak dapat membuka matanya akibat lebam diwajahnya. Ia ingat tadi malam Edi menyiksanya habis-habisan gara-gara ia tidak mau makan. Makan tidak makan sama saja. Ia lebih baik mati daripada dijual ke orang yang iapun tidak tahu siapa yang membelinya. Sejak semalam ia tidak tidur. Seluruh badannya sakit, tamparan Edi di pipinya masih terasa hingga saat ini. Semalam ia berhalusinasi bertemu ayahnya. Ia terlihat menangis. Beberapa kali Clara meminta ikut tapi ayahnya hanya ingin pergi sendiri.


Pintu terbuka kencang. Langkah berat seseorang masuk ke dalam kamarnya.


"Bangun!" suara Edi terdengar keras.


Clara tidak bisa bangun. Ia terlalu sakit.


"Ma! bantuin!" panggil Edi pada istrinya.Istri Edi masuk dengan tergesa-gesa. Badannya yang besar membuatnya kesulitan berlari.


"Gantiin baju Ari sama baju bagus yang udah kamu beli kemarin. Tutup mukanya pake masker. Jangan sampe keliatan biru-birunya. Sebentar lagi ada yang datang." seru Edi sambil menatap Clara. "Kalo kamu semalem mau makan, saya gak akan mukul kamu!" tambahnya dengan nada kesal.


Istri Edi langsung menggantikan baju Clara dengan cepat. Clara sesekali mengeluh kesakitan.


"Makanya nurut sama suami saya. Kalo kamu nurut, kamu gak akan dipukulin." ucap wanita itu.


Clara hanya diam. Ia tidak bisa melawan. Tenaganya habis. Setelah beres, Clara digiring keluar oleh wanita itu.


Clara melihat wanita itu datang kembali dengan dua orang pria bertubuh tinggi besar. Ia menatap Edi. Ia tersenyum dengan amplop besar ditangannya. Clara hanya menunduk. Ia dibawa oleh kedua orang itu kedalam mobil.


Mobil pun mulai pergi meninggalkan perkampungan itu. Ia melihat Edi melambaikan tangan dengan senyumnya yang lebar. Clara tidak tahu ia tinggal di daerah mana. Tapi ketika mobil keluar kampung, sepertinya tempat ini hanya berjarak 30 km dari kota tempat tinggalnya. Tiba-tiba ia memiliki tenaga dan optimisme yang kuat. Ia harus bisa melarikan diri. Ia melihat tanda panah dengan tulisan sebuah tempat wisata? Ternyata kedua orang itu telah membuangnya sangat jauh. Untuk itu mereka tidak membunuhnya sesuai arahan ibu tirinya. Jika ia selamat, ia akan menemui kedua orang yang masih baik padanya itu. Kemudian Ia melihat ke kiri dan kekanan. Sebelah kirinya ada sebuah jurang tapi ia yakin masih bisa menyelamatkan diri. Ia menunggu suasana tepat untuk menyelamatkan diri. Ia melihat wanita disampingnya tertidur. Kedua orang pria didepannya sedang bercanda sambil sesekali mencuri pandang padanya.


Ketika suasana tepat, dengan kekuatan penuh ia menendang wanita yang ada disampingnya sehingga ia terjerembab ke bawah mobil. Clara membuka dengan cepat pintu mobil dan melompat ke bawah. Ia melihat mobil itu berhenti mendadak tapi tubuhnya melayang diantara beberapa tumbuhan dan pohon yang menjulang di antara tanah dan jurang. Ia terjerembab ke tanah dengan cepat. Ia masih sadar dan merangkak untuk mencari tempat aman.


Kedua orang pria kekar itu mulai mencari keberadaan Clara. Clara menunduk dan bersembunyi dibalik semak-semak. Ia harap hidupnya masih akan bertahan lama. Ia harus bertemu dengan kakaknya. Begitu pula dengan amanat ayahnya. Ia harus segera bertemu kakaknya segera. Ia berharap tidak akan ditemukan. Ia melihat kedua orang itu pergi. Clara menunggu sesaat sampai situasi aman.


Setelah beberapa saat situasi aman, ia keluar dari persembunyian. Dengan hati-hati dan nafasnya yang pendek, ia menaiki ranting-ranting yang bisa membawanya ke atas. Ia berharap orang yang menemukannya orang baik-baik. Ia dapat bernafas lega ketika bisa mencapai atas. Jalanan besar itu tidak terlihat ada mobil satupun yang melintas atau orang yang ada disana. Jalan itu sepi. Ia berjalan menyusuri jalanan dan berharap ada orang yang menolongnya. Namun lama-lama ia merasa lelah dan nafasnya sesak. Apakah ia akan mati disaat seperti ini? Clara terjatuh.


Sebuah mobil sedang dalam perjalanan pulang. Seorang pria sedang memegang tangan kekasihnya dengan kuat. Ia bersenandung disepanjang jalan.


"Seneng banget kayaknya.." ucap wanita itu.


Tangan wanita itu diangkat dan disimpan di bibirnya. Ia mengecup pelan tangan yang dipegangnya. "Aku bahagia. Jangan tinggalin aku. Aku bisa mati kalo kamu pergi."


Wanita itu tersenyum. "Kamu pinter gombal sekarang-sekarang."


"Harus dong. Kita mampir ke swalayan dulu buat beli sesuatu."


"Masih jauh. Aku mau tidur dulu." ucapnya sambil menoleh ke samping. Tiba-tiba ia dikejutkan oleh sesuatu. "Sayang, ada mayat!" teriaknya.


Mobil berhenti mendadak.


Wanita itu langsung berlari keluar dan menghampiri sosok yang tidak sadarkan diri itu. Ia memegang tangannya untuk mengecek nadinya. Masih hidup, pikirnya.


"Siapapun kamu, kalo kamu sadar, tolong anggukan kepala kamu."


Clara masih tidak bereaksi. Wanita itu berteriak.


"Saya dokter Alena. Tolong, kalo kamu sadar, anggukan kepala. Atau gerakkan bibir kamu."


Clara bisa menggerakkan bibirnya.


Kak Alena, makasih udah datang. Pah, makasih udah bawa Kak Alena buat nolong Clara.. Tiba-tiba ia benar-benar sudah tidak sadarkan diri.