
Clara mengetuk pintu kamar Alena pagi itu. Ia sudah bersiap untuk berangkat. Semuanya telah ia siapkan dengan rapi. Ia akan bertemu pengacara papanya di kantor nya. Ia senang akhirnya hari ini tiba. Ia tidak ingin memikirkan yang lain. Ia hanya memikirkan keluarganya. Keselamatan kakaknya sangat berarti baginya. Ini bukan dendam. Tapi ia mempertahankan apa yang seharusnya menjadi miliknya.
Pintu kamar terbuka pelan. Dave yang membuka pintu. Ia tampak telah siap untuk pergi ke kantor. Sedangkan Alena masih berada di ranjangnya. Sejak keguguran beberapa hari yang lalu, ia diwajibkan untuk bedrest jika ingin hamil kembali.
"Sini masuk." panggil Alena.
Dave menghampiri Alena dan mengecup pipinya. "Aku pergi." bisiknya.
Kemudian ia berpapasan dengan Clara. "Jadi pergi hari ini?"
Clara mengangguk. "Kak, jangan kasih tau Edward aku pergi."
Dave tersenyum simpul. "Oke"
Setelah kepergian Dave, Clara menghampiri Alena dan duduk disamping ranjang.
"Sebentar lagi aku pergi kak." ucap Clara
"Clara, sebenernya kakak kurang ngijinin kamu pergi."
"Enggak kak, jangan melarang aku. Demi semuanya, aku siap. Aku bakal cepet-cepet memasukkan dua orang itu ke penjara." geram Clara.
" Keselamatan kamu paling utama."
"Aku bisa jaga diri."
"Edward gimana? Kakak yakin dia bakal cari kamu."
Clara terdiam sejenak. "Aku gak mau mikirin Edward dulu. Fokus aku cuma satu saat ini. Keselamatan kakak." Clarapun memegang tangan Alena. "Jangan kasih tau Edward aku ada dimana. Aku mau fokus sama masalah ini."
Ia mengingat kejadian tadi malam. Walaupun mereka sudah berbaikan karena kesalahpahaman di masa lalu, ia harus memutuskan sesuatu. Ia tidak mau Edward ikut terlibat pada masalahnya. Ia harus mengesampingkan perasaannya untuk saat ini
"Trus kamu mau tinggal dimana?"
"Aku percaya Om Sakti. Aku yakin ada tempat."
Alena memeluk Clara erat. "Hati-hati Clara. Cuma kamu keluarga kakak. Terus telepon kakak setiap saat biar kakak gak cemas."
"Iya kak."
Setelah berpamitan dengan Alena, ia berpamitan pada nenek Siska. Nenek Siska telah menyiapkan supir dengan bodyguardnya yang siap mengantarnya kemanapun ia pergi. Ia berharap ini adalah terakhir kalinya ia merepotkan orang lain. Iapun pergi dengan hati tenang. Perjalanan selama 3 jam tidak akan mudah baginya. Ia kembali ke tempat ia dilahirkan. Ia kembali ke kota dimana perusahaan, rumah dan semua milik ayahnya akan segera ia dapatkan kembali. Ia mulai menyusun rencana ketika diperjalanan.
Edward bersiul ketika ia masuk ke kantor Dave. Setiap karyawan wanita ia berikan senyuman. Hal sekecil itu bisa membuat mereka tersipu malu. Ia terlihat bahagia. Ia menyimpan tangannya di saku celananya dan berjalan dengan gagah. Dave yang melihat tingkah Edward pagi ini hanya mengerutkan keningnya. Jika ia tahu Clara pulang hari ini, ia yakin Edward akan marah besar. Bisa jadi ia langsung pergi dan mengabaikan pekerjaannya.
"Kakak ipar?" tanya Dave bingung.
"Iya, bentar lagi aku juga jadi keluarga kamu. Aku gak nyangka ternyata kita emang udah cocok jadi saudara." jawab Edward percaya diri.
"Aku seneng liat kamu percaya diri.". ucap Dave sambil melihat kembali laporan keuangannya.
"Kalo gitu aku pergi dulu. Aku cuma mampir sebentar. Nanti malem aku ke rumah." ujar Edward sambil berjalan keluar.
Dave melihat kembali Edward yang sudah keluar dari ruangannya. Tapi mengingat pekerjaannya yang begitu terburu-buru, ia harus mengirim Edward untuk ke Bali selama beberapa hari.
Iapun menghubungi Alena untuk menanyakan keadaan Clara.
"Udah pergi tadi pagi." ucap Alena.
"Kalau Edward tanya gimana?" tanya Dave.
"Sampe sekarang juga aku gak tau dia tinggal dimana."
"Oke, nanti aku hubungi kami lagi."
Ketika telepon ditutup, ia langsung menghubungi Edward. Ia yakin Edward masih ada dijalan.
"Apa lagi?" tanya Edward tanpa basa basi.
"Hari ini aku minta kamu ke Bali. Investor flower village mau ketemu. Kamu tau aku gak bisa pergi karena Alena."
"Kamu sengaja pisahin aku sama Clara?" tanya Edward curiga.
"Ngaco. Ini soal kerjaan. Fokus dulu sama kerjaan Ed." protes Dave.
"Oke, aku langsung pergi sekarang. Tolong jaga Clara" ucap Edward kesal.
"Clara aman." jawab Dave.
"Oh ya sekalian. Jangan pelit jadi kakak, Clara kasih handphone kek. Kita itu salah paham gara-gara handphone. Jangan sampai ada salah paham kedua gara-gara handphone" ujar Edward.
Dave hanya tertawa mendengar protes sahabatnya.
Edward kesal. Kenapa pekerjaannya kali ini tidak bisa di hentikan sejenak? Tapi sudahlah, demi Clara ia akan pergi tapi hanya sebentar. Ia tidak sanggup terpisah dengan Clara untuk waktu yang lama. Ia senang semua salah paham dapat diselesaikan. Tapi ada yang mengganjal hatinya. Clara yang ia kenal kali ini berbeda. Mungkin karena pengalaman kemarin, ia menjadi dingin. Harus penuh perjuangan untuk mendapatkan Clara yang sama seperti dulu. Ia ingin melihat Clara yang ceria. Bukan Clara yang ketakutan dibalik wajahnya yang dingin. Ia tidak bisa dibohongi jika Clara masih ketakutan. Dan hanya ia yang bisa menyembuhkannya. Permintaan maaf yang ia minta tadi malam masih belum membuatnya puas. Ketika mengantar Clara kemarin ia lebih banyak diam. Ia akan berjuang sekuat tenaga.
Tunggu aku pulang, Ara..