Phuket Story (3rd Series Billionare Love Story)

Phuket Story (3rd Series Billionare Love Story)
Kejutan Ami untuk Sasha



Ami berjalan menuruni tangga. Ia memikirkan sesuatu. Pemberitaan tentang Clara telah berkurang sedikit. Mungkin karena ada berita mengenai skandal seorang artis yang jauh lebih besar. Namun hilang atau tidaknya pemberitaan tentang Clara, tidak akan membuatnya berubah pikiran untuk menyetujui hubungan mereka. Ia harus memastikan agar Clara cepat memutuskan Edward.


Ia yakin pria seperti Edward dapat dengan cepat melupakan Clara. Ia tahu seperti apa anaknya. Beberapa kali ia menemukan Edward dengan beberapa wanita berbeda ketika mereka masih di Singapura. Ia tidak khawatir. Ia pun berjalan ke dapur untuk meminum air putih.


Hari ini ia meminta Sasha untuk tidak pergi ke kantor. Ia melihat gadis itu berada di ruang tamu. Ia sudah siap. Sasha tidak tahu akan dibawa kemana hari ini.


"Sasha, kita pergi sekarang." ucapnya.


Sasha mengambil kunci mobil milik Ami segera. Hari ini ia yang akan menyetir. Ia langsung berlari ketika melihat Ami sudah berdiri disamping mobil.


"Sasha, mama kamu harus segera datang kesini." ucap Ami serius.


"Untuk apa, Tante?"


"Membicarakan hubungan kalian. Tante mau secepatnya menyatukan kalian." ucap Ami.


Sasha menatap Ami. Ia bingung. "Maaf, Tante. Sasha gak ngerti. Menyatukan gimana?" tanyanya gugup.


"Pernikahan kalian. Tante yakin kamu gak akan nolak. Kamu mau kan sama Edward?" tanya Ami


"Tapi Clara gimana Tante?"


"Mereka putus." jawab Ami tenang


Sasha tersenyum. Ternyata jalan untuk hidup dengan Edward dipermudah. Ia tidak menyangka jalannya akan lancar. Seringkali ia berfikir bagaimana cara agar ia bisa merebut Edward dari Clara. Sekarang yang harus ia lakukan adalah dengan membuat Edward melupakan Clara secepatnya. Dengan begitu ia bisa masuk disaat hati Edward kosong.


Mobil berhenti di sebuah ruko. Tidak terlihat menarik,pikir Sasha. Ketika Ami turun, iapun turun dan mengikuinya kedalam. Didepan pintu masuk, mereka sudah ditunggu oleh seorang wanita seusia ibunya. Ia masih terlihat sangat cantik. Dan ia terlihat sangat ramah.


"Sasha, kenalkan ini adalah orang yang akan mengurus semua acara pernikahan kamu sama Edward nanti." ucap Ami.


Sasha terkejut. Ia tidak percaya apa yang didengarnya. Ia gugup. Perlahan ia mengulurkan tangannya pada wanita itu. Ini terlalu mendadak. Antara senang dan bingung.


"Tante,," panggil Sasha.


Ami menoleh. "Kenapa?"


"Terlalu mendadak, Tante. Kita belum membahas ini dengan Edward." jawab Sasha malu.


"Itu semua urusan Tante." Jawab Ami cepat.


***********************************************


"Ga!" panggil Edward.


Dega melepaskan tatapannya pada dokumen dan menatapnya. "Apa?"


"Kapan pulang ke rumah?" tanya Edward. Ia masuk ke ruangan Dega siang itu.


Dega menatap adiknya curiga. Ia yakin ada yang ia inginkan. "Cepet ngomong langsung." ucapnya.


Edward tersenyum. Ia duduk didepan Dega. "Lusa gantiin aku buat meeting. Aku mau ketemu Clara." ucapnya.


"Please Ga, ini urgent. Aku mau ketemu Clara dan pulang cepet."


"Aku gak yakin." ucap Dega sambil menatapnya.


"Ada papa kok, kamu cuma gantiin aku aja. Please! Kamu tau sendiri kalo sekarang Clara lagi kesulitan. Aku gak bisa terus-terusan hubungi dia. Aku mau ketemu langsung. Aku mau liat keadaan dia." jelas Edward memohon.


Dega menghela nafas. "Oke tapi cuma satu kali meeting aja. Kamu liat sendiri kerjaan aku juga banyak. Lusa juga aku ada sidang pagi-pagi."


Edward memegang kedua tangannya. "Thanks" ucapnya senang. Ia langsung berjalan keluar ruangan. Ketika ia masuk ke ruangannya, ia mendapat telepon dari Calvin.


"Apa?" tanya Edward.


"Ke kantor Dave sekarang. Ada kerjaan baru. Sekalian makan siang disini." ucap Calvin.


"Oke, aku kesana sekarang." jawab Edward cepat. Ia berbalik dan segera berlari menuju mobilnya. Tidak membutuhkan waktu lama untuknya sampai ke kantor Dave. Ketika sampai disana, ia melihat Dave dan Calvin sedang berbincang dengan orang asing. Ia tidak tahu darimana asal pria itu. Tanpa mengetuk pintu, ia masuk kedalam ruangan.


"Ini salah satu tim kami. Nanti ia yang langsung ke lokasi." ucap Dave.


Edward hanya tersenyum walaupun sebenarnya ia tidak mengerti karena ia baru saja tiba. Calvin dan Dave berdiri.


"Makan siang." ucap Dave.


"Project apa?" tanya Edward ketika mereka sudah tiba di restoran.


"Kerjaan di Singapura. Enak kan? Mungkin empat bulan." jawab Dave.


"Oke, deal!" jawab Edward. Seperti biasa, Singapura bukan tempat yang jauh baginya. Ia siap kapanpun. "Sendiri?"


"Sandra gak bisa ditinggalin. Sampe sekarang dia nangis terus. Dia masih belum percaya" ucap Calvin cepat.


"Alena sama. Kandungan dia udah empat bulan. Aku gak bisa tinggalin dia." jawab Dave.


Edward terdiam. Ia yakin harus pergi lagi. "Oke, tapi aku mau gaji 50 persen dari proyek ini."


Calvin bertatapan dengan Dave. Mereka tahu apa yang sedang dialami Edward dengan Clara. Mereka cemas awalnya. Tapi melihat Edward tampak tanpa beban, mereka yakin jika sahabatnya baik-baik saja.


"Alena cemas karena sampai sekarang Clara belum bisa dihubungi." ucap Dave.


"Ternyata aku sama. Clara bisa aku hubungi tadi malem. Tadi pagi dia gak bisa dihubungi. Aku kadang nyesel, Clara melakukan semua sendiri. Lusa aku mau kesana. Aku mau liat keadaannya" jawab Edward serius.


"Aku ikut. Aku wakilin Alena buat ngeliat langsung keadaan dia." ucap Dave serius.


Ditempat Clara


"Halo.." jawab Clara ketika mendapatkan telepon siang ini.


"Nanti malam kita tunggu di belakang bar Toxic. Bawa uangnya dan jangan lupa jangan bawa siapapun. Kalo kamu macam-macam, jangan harap kamu bisa lolos dari anak buah saya." ucap wanita itu.


Clara melihat handphonenya ketika wanita itu mematikan sambungan teleponnya. Nanti malam ia harus siap. Ia tidak khawatir karena polisi sudah menyiapkan semuanya.