NIKI - The Lost Son

NIKI - The Lost Son
9



Bab 9.


 


Sai sudah sampai ditempat persembunyian Sada, ia berjalan menghampiri pondok itu. Saat melangkah tanpa sengaja Sai menginjak sebuah benang, seketika lusinan jarum beracun ditembakan kearahnya, ia langsung melompat menghindari jebakan yang dipasang oleh Sada. Sai berhasil menghindari semua jarum, ia kembali berjalan mendekati pondok. Sai masuk kedalam pondok, tetapi pondok itu sudah kosong, Sada sudah pergi darisana.


Di ruangan pasukan macan kumbang, Wu sedang panik, ia tidak mendengar kabar dari Yinsa sejak kemarin. “Apa tidak sebaiknya utus pasukan untuk mencari?” usul Han yang juga ada diruangan itu, Wu menggeleng “terlalu berbahaya, jika mereka diserangpun aku yakin Yinsa bisa memikirkan cara” jawab Wu yang juga meyakinkan dirinya sendiri.


Yinsa mulai sadarkan diri, ia sudah tidak sadarkan diri selama sehari, lukanya kini sudah dibalut dengan perban. Yinsa tidak mengenali tempat itu, Kin terbaring disebelahnya, masih tidak sadarkan diri, tetapi lukanya juga sudah dibalut. “Tenang saja, temanmu akan selamat” seorang biksu masuk kedalam ruangan, ia bernama biksu Guo.


Yinsa tampak bingung, ia sama sekali tidak mengenali Guo, “tidak perlu bingung, aku biksu penjaga kuil, ada beberapa pemuda yang menemukanmu tergeletak dan membawamu kemari” Guo tersenyum dan mengambilkan segelas teh hangat untuk Yinsa “minumlah”, Yinsa meminum teh itu, kini Yinsa berada di kuil empat mata angin, nyawanya berhasil terselamatkan.


Guo sedang menyapu halaman, Yinsa datang menghampiri “biksu” sapa Yinsa, “sudah bisa berjalan ya” jawab Guo sembari tersenyum, “biksu, aku butuh pertolongan lagi” kata Yinsa langsung pada intinya.


Kui berlari tergesa - gesa ke ruangan pasukan macan kumbang. Wu sedang menikmati teh, pintu ruangan dibuka, Kui disana dengan terengah - engah “ada pesan dari senior Yinsa!”, Wu langsung bangkit berdiri membaca pesan itu. Wu mengirim pasukan untuk menjemput Yinsa dan Kin.


Kin masih tidak sadarkan diri, kini ia berada di ruang pengobatan untuk melanjutkan pengobatannya. Yinsa disambut minum teh oleh Wu, “maafkan aku ketua, aku bertindak terlalu jauh, memakan terlalu banyak korban” Yinsa tertunduk, “tidak perlu terlalu dipikirkan” jawab Wu sembari meminum tehnya.


Niki datang menjenguk Kin, ia hanya berdiri diujung ruangan melihat Kin yang masih terbaring. Pintu ruang pengobatan dibuka, Vivian masuk kedalam, “kau juga disini ya?” sapa Vivian ke Niki, “siapa yang melakukan ini padanya?” tanya Niki, Vivian tersenyum “jadi kau ingin balas dendam ya, aku juga ingin melakukan hal yang sama” – “memangnya kau mengenal Kin?” tanya Niki lagi, “tentu saja, kau ini bodoh ya dia ini anak buahku” Vivian menghampiri Niki “jangan bertindak gegabah, lebih baik kau belikan anak ini buah ketika sudah sadar, balas dendam urusan pasukanku” Vivian tersenyum dan berjalan pergi dari ruang pengobatan.


Disalah satu kota, di rumah bunga, Oto sedang bertemu dengan Sada, ditemani beberapa botol arak diatas meja. Oto memberikan sekantung perak “ini sisa bayaranmu”, Sada mengambil kantung itu dan menghitungnya. Sada menyimpan kantung perak itu “dengan ini pekerjaanku selesai” Sada ingin beranjak pergi, “aku ingin menawarkan pekerjaan lain” kata Oto menghentikan langkah Sada.


Kara muncul dari ruang sebelah “apa aku harus membunuhnya? dia tahu terlalu banyak” – “membunuhnya atau dibunuh olehnya? Kemampuannya sekarang sudah setara dengan anak iblis, tidak bisa sembarang bergerak” jawab Oto.


Di Tebing Langit, Gema sedang bersantai ditemani para gadis. Pintu ruangan diketuk, Taka masuk kedalam “kabar dari Oto” Taka memberikan sebuah gulungan. Gema membaca isi gulungan, ia tersenyum “kabari Oto, lanjutkan rencana”. Sai baru saja kembali ke Tebing Langit, “senior” sambut Yinsa, “dimana ketua Wu?” tanya Sai.


Kini Sai sedang melapor pada Wu, “jadi begitu, semua petunjuk hilang ya” Wu menghela nafas panjang, “jadi pengejaran Yinsa juga gagal?” tanya Sai, Wu mengangguk “komplotan serigala merah menyerang mereka”. Sai mulai berpikir “aku takut ini semua ada hubungannya” – “maksudmu Sai?” tanya Wu bingung, “pengejaran Yinsa secara tiba-tiba dihalangi oleh komplotan serigala merah, dan racun timur juga menghilang dari kediamannya, mereka menghilang diwaktu yang bersamaan, apa ketua Wu tidak mencurigainya?” Sai menjelaskan, Wu berpikir sejenak “sepertinya ketua Wan harus mengetahui tentang ini”.


Niki sedang pergi ke kota untuk membeli buah - buahan, “paman aku beli yang ini” Niki mengambil sekantung buah - buahan. Dikota yang sama, Kidan dan Lilia sedang minum arak disebuah kedai, “gara - gara orang menyusahkan itu bayaranku jadi dipotong Zazu” gerutu Kidan, “itu salahmu sendiri, bisa - bisanya meleset begitu” jawab Lilia yang sudah kesal mendengar keluhan Kidan terus menerus, “akan kubunuh orang itu jika bertemu lagi” Kidan meminum habis araknya, “ayu kita berangkat, jika terlambat ke pertemuan akan dimarahi Zazu lagi” Lilia bangkit dari tempat duduknya.


Siang itu Fei berkunjung ke pondok Su, “tumben sekali kau mampir kemari” sapa Su saat Fei masuk ke dalam pondok, “lama tak jumpa guru, ada yang perlu kubicarakan” jawab Fei langsung pada intinya, Su tersenyum “kau sudah lama berpergian, duduk dan minum teh terlebih dahulu”. Su dan Fei duduk berbincang sembari menikmati teh hangat, “jadi apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Su, “sepertinya sebentar lagi akan terjadi pergejolakan, penjahat - penjahat dikota satu persatu mulai berpergian keluar kota” jawab Fei sembari meminum tehnya.


Su terdiam berpikir, “jangan katakan kau berpikir untuk menyuruhku membawa pergi keturunan bangau emas?” tanya Fei, Su tersenyum “anak itu memang tidak peduli, tetapi dia bukan tipe orang yang melarikan diri” – “kau seyakin itu?” tanya Fei lagi, Su meminum tehnya “buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, lagi pula selama tidak ada yang tahu dia keturunan bangau emas, tidak akan menjadi masalah”, Fei tersenyum “memang Tagatha selalu merepotkan ya”.


Wu sedang melapor keruangan Wan, “sepertinya kita berada disituasi genting ya, sudah lama Tebing Langit dalam keadaan tenang, aku tidak suka ini” Wan menghela nafas panjang, “saran saya sebaiknya kita Tarik mundur semua pasukan yang sedang bertugas diluar benteng, perketat penjagaan benteng untuk sementara waktu, kita tidak tahu pasti kekuatan musuh” usul Wu, “memangnya kita tahu siapa musuh kita sebenarnya?” tanya Wan.


Disebuah istana terbengkalai di kaki bukit, para penjahat dari setiap kota berkumpul disana. Zazu juga berada disana bersama Kidan dan Lilia, para penjahat terkagum melihat penjahat sehebat mereka juga ada disana. Oto dan Kara datang ke istana itu, “kau terlambat” sambut Zazu, “kau yang datang terlalu cepat” jawab Oto.


Oto naik keatas altar, semua penjahat memperhatikannya, “aku yang meminta kalian datang kemari” Oto membuka pembicaraan, ia mengeluarkan sekantung emas, menumpahkannya ke tanah, semua penjahat bingung melihat itu, “ikutlah denganku, saat Tebing Langit sudah dikuasai, kalian akan mendapatkan kepingan emas yang lebih banyak” lanjut Oto yang membuat semua penjahat terlihat bersemangat, Zazu tersenyum “kali ini bagianku lebih besar” Zazu berjalan pergi.