
Bab 78.
Semakin hari salju semakin tebal, sungai pun mulai membeku, tak jauh darisana, disebuah pondok ditepi sungai. Kang sedang menyalakan api unggun untuk menghangatkan diri, “apa kau yakin ini tempatnya?” Fei membawa beberapa potong kayu untuk dibakar, “disini seharusnya kita bertemu dengannya” Kang masih mencoba menyalakan api unggun, “biar aku saja” Fei mengalirkan tenaga dalam melalui telapak tangannya, dalam sekejap api mulai membakar potongan kayu itu, Kang tertawa kecil “anda saja aku mengusai tenaga dalam”.
Cukup lama mereka menunggu, hingga seseorang berkuda mendekat, tak lain adalah Vin, Vin turun dari kudanya “jendral” kemudian memberi hormat, Kang membalas hormat “terima kasih telah menyempatkan waktu”. Kini Vin ikut menghangatkan diri di api unggun “katakan padaku, bagaimana kakakku meninggal?”, Kang terdiam sejenak “dia orang terakhir yang menyerah, di saat sudah tidak berdaya, ia masih mencoba untuk melawan, ia mati dengan terhormat, lebih terhormat daripadaku yang seharusnya mati, justru malah selamat, diselamatkan lebih tepatnya”, Vin terdiam sejenak “aku tidak pernah ingin menanyakan ini.. siapa yang membunuhnya?”, Kang tertunduk “Kulu”, Vin mulai mengepalkan tangannya “dia berkuda bersamaku selama tiga hari, begitu banyak kesempatan untuk membunuhnya, aku tidak tahu jika dia orangnya”.
Kini Vin berkuda menuju pasar malam diikuti Kang dan juga Fei, “kita mau kemana?” tanya Kang masih sembari berkuda, “nanti jendral juga akan tahu” Vin berkuda lebih cepat. Matahari sudah hampir terbenam, Vin, Kang, dan juga Fei berkuda memasuki pasar malam, setelah kematian Zazu pasar malam menjadi tempat tak berpenghuni, mereka menuju ke gua tempat terowongan rahasia berada, Vin turun dari kudanya diikuti Kang dan juga Fei, Vin mulai menyalakan obor, “tempat apa ini?” tanya Kang, “Lilia dan Kidan, mereka mencari Singa Putih untuk melakukan balas dendam, mereka sudah menyerang kastil Kobra, hanya dalam hitungan hari Singa Putih akan keluar dari terowongan ini untuk memburu Naga Biru” jawab Vin yang membuat Fei terdiam sejenak “Singa Putih ya, tidak kusangka akan melibatkannya”.
Matahari mulai terbenam, Vin, Kang, dan juga Fei sedang menghangatkan diri di dekat api unggun di tengah hutan, “jadi apa rencanamu setelah ini?” tanya Kang kepada Vin, Vin terdiam sejenak “aku tidak tahu, perintah terakhir kakakku adalah memata-matai Zazu, ia akan menjadi ancaman bagi kekaisaran suatu hari nanti, tetapi kini ia sudah mati” – “apa kau ingin kembali ke istana?” tanya Kang yang membuat Vin terdiam sejenak, kemudian mengangguk, Kang menepuk pundak Vin “memang disanalah tempat mu seharusnya”.
Malam semakin larut, di Mawar Merah, Kazu sedang bersantai berendam di air hangat. Pintu ruangan diketuk, Baro masuk kedalam “tuan, para bandit sudah bersiap, kita bisa berangkat saat matahari terbit”, Kazu tersenyum “memangnya siapa yang mengatakan jika aku akan membawa kalian? Aku akan berkuda sendiri ke Bulan Sabit”, Baro terkejut mendengar itu “tetapi tuan, kami sudah bersumpah untuk mengikuti tuan”, Kazu tersenyum “lalu jika kalian semua ikut denganku, siapa yang akan menjaga daerah kekuasaanku ini?”, Baro terdiam sejenak.
Hari berlalu, kini para jendral sedang melakukan pertemuan. “Apa katamu?! Singa Putih akan datang kemari?!” Roku terkejut mendengar itu “kerahkan semua pasukan yang kita punya, dan berharap saja itu cukup untuk menghentikannya” – “tapi jendral besar!” potong Sun “kita juga harus melawan Naga Biru, posisi kita tidak menguntungkan jika harus memulai pertempuran dengan mereka berdua sekaligus” – “kalau begitu biarkan saja Singa Putih dan Naga Biru saling bunuh, setelah itu kita baru menyerang mereka” timpal Kumo, “tidak bisa!” potong Fei “saat mereka berdua saling bunuh, berapa banyak penduduk yang harus menjadi korban?” Fei terdiam sejenak “aku pernah bertarung dengan Singa Putih, dia pernah berjanji untuk tidak menyentuh Bulan Sabit lagi, pasukan kita tidak ada urusannya dengannya, tetapi dia mengincar Naga Biru”.
Sun terdiam sejenak “jadi maksud jendral? kita bekerjasama dengan Singa Putih?”, Fei mengangguk. Seketika Roku langsung menghantam meja “apa kau sudah gila?! Kita tidak akan bekerjasama dengan bandit! Itu hanya membuat malu leluhur!”, Fei terdiam sejenak “apa malu leluhur kita lebih penting daripada keselamatan para penduduk? Jika pasukan istana tidak bisa menghentikan ini, siapa lagi yang bisa menghentikan?”, Roku kembali menghantam meja “kita tidak akan bekerjasama dengan bandit!” Roku bangkit berdiri dan beranjak pergi, para jendral hanya bisa terdiam.
Di salah satu desa, Zeo dan komplotannya baru saja merampok salah satu desa, para penduduk desa mengurung diri dipondok mereka ketakutan, Niki dan Kin juga berada disana. “Kita sudah merampas makanan mereka, mereka tidak akan bertahan untuk melewati musim dingin, apa kita bunuh saja mereka semua?” usul salah satu komplotan Zeo, “tidak!” potong Niki “kita datang kemari untuk merampas makanan, bukan untuk membantai desa, bisa atau tidaknya mereka melewati musim dingin, biarkan mereka sendiri yang menentukan”, Zeo memasukan kembali belatinya “aku setuju dengan Niki, lebih baik kita kembali ke markas” Zeo bermaksud beranjak pergi.
“Hentikan!” teriak salah satu bandit bernama Saba “kau yang membawa kami meninggalkan Mawar Merah, disana kita bebas membunuh, dan kini kau malah menjadi lunak” Saba mencabut pedangnya “kami tidak akan mengikuti mu lagi Zeo”, Zeo tersenyum “kalian memang tidak mengikutiku, kita mengikuti ketua” – “kami akan membakar habis desa ini!” Saba menekan nada bicaranya. Zeo tersenyum, mencabut belatinya “kau ingin bertarung denganku?”, seketika sebuah batu menghantam kepala Zeo dari belakang, salah satu bandit yang melakukannya, Zeo pun tergeletak tak sadarkan diri, “tentu saja tidak, aku tidak akan menang melawan mu” Saba tersenyum “bakar desa ini hingga rata dengan tanah!”, para bandit pun mulai bersorak.
“Hentikan!” Niki mencabut pedang bunga, Kin juga mencabut pedang tumpulnya, “maafkan aku kalian harus mati” Niki maju menyerang, pertarungan pun terjadi. Dalam sekejap komplotan bandit itu berhasil dikalahkan, salju berubah menjadi merah, “kita bakar mayat mereka” Niki memasukan kembali pedang bunga. Kobaran api mulai melahap tumpukan mayat para bandit, sedangkan Zeo masih tidak sadarkan diri, ia sedang diobati oleh salah satu warga, “terima kasih telah membela nyawa kami” salah seorang penduduk desa menghampiri, Niki terdiam sejenak “maafkan kami, makanan kalian akan kami kembalikan”, penduduk desa itu terkejut mendengarnya, Niki hanya membalas senyum.
Matahari mulai terbenam, malam yang tenang di istana, kini Fei sedang menikmati teh hangat di loteng istana. Tidak beberapa lama, Kang datang menghampiri “jendral” sapa Kang kemudian berdiri disamping Fei, Kang mulai menyalakan cerutu “kau mau?”, Fei menggeleng, “apa yang sedang kau pikrikan?” tanya Kang, Fei meminum tehnya “aku akan menemui Singa Putih, seorang diri”, Kang terkejut mendengar itu “tapi bukankah..” – “ini satu - satunya jalan untuk menghindari pertumpahan darah, berapa banyak pasukan yang akan mati sia - sia untuk menghentikan Singa Putih? Mereka hanya seperti semut dihadapannya” jawab Fei yang membuat Kang berpikir sejenak “bagaimana jika kau kalah?”, Fei meminum tehnya “aku menemuinya bukan untuk bertarung”.