NIKI - The Lost Son

NIKI - The Lost Son
42



Bab 42.


Hari berlalu, matahari terik di padang gurun. Niki sudah sadarkan diri, kini ia sedang duduk didepan batu nisan Su, tubuhnya masih dipenuhi balutan perban. Niki hanya duduk diam memperhatikan batu nisan, tidak mengatakan apa-apa semenjak ia duduk disana, “Niki, kita sudah harus berangkat” Sai menghampiri, Niki mengangguk lesuh, kemudian mengikatkan ikat kepala merahnya di batu nisan Su, dan pergi meninggalkan batu nisan itu.


Kini pasukan naga tengah bersiap didalam gua, “berjalan di gurun tanpa kuda, semua pasukan sudah kehausan, kita tidak mungkin sampai ke benteng perbatasan utara” gerutu Kang kepada Fei, Fei hanya diam memperhatikan peta, tidak menjawab sama sekali, “hei! Apa kau mendengar ku?! Jawab aku! Aku ini jendral!” bentak Kang, Fei kesal mendengar itu, ia bangkit berdiri dan mendorong Kang hingga terjatuh “jika kau jendral lalu mengapa pasukan bayangan istana memburu kita?!” Fei mengambil sebuah pedang, melemparkannya kearah Kang “jika kau ingin kembali istana, kembalilah! sekarang aku tidak melarang!”.


Para pasukan terdiam melihat itu, “aku tidak percaya jika dia seorang jendral” celetuk Tang, “diambang kematian setiap orang akan menunjukan watak aslinya, sebentar lagi akan banyak pasukan kita yang melakukan hal serupa” jawab Vivian sembari mengemasi barang, “apa menurut mu kita salah mengikuti ketua Fei? Seharusnya setelah Tebing Langit runtuh kita tidak perlu ikut campur masalah istana?” tanya Tang, “mungkin, jika dilihat sekarang posisi kita adalah pelarian, tetapi aku mempercayai ketua Fei, bagaimanapun dia guruku” jawab Vivian, Tang tersenyum mendengarnya.


Pasukan naga kini melakukan perjalanan di tengah padang gurun yang terik, semua pasukan berjalan sembari menahan haus. “Sebenarnya mengapa kita kembali ke wilayah kekaisaran, aku lebih memilih pergi ke kota Mawar Merah” gerutu Kang kepada Wen di tengah perjalanan, Wen tersenyum “tidak ada yang ingin kembali ke kekaisaran, disana kita menjadi buronan, tetapi apa kau lupa posisi mu? kau adalah jendral, kau disingkirkan secara tidak terhormat, lalu kau ingin kabur begitu saja, sepertinya waktu itu kau yang paling bersemangat untuk menyelamatkan Kaisar, apa yang terjadi?”.


Kang tertunduk “apa kau pernah dikurung didalam kandang layaknya binatang? Saat itu yang dipikiranku hanyalah tidak mati layaknya hewan buruan”, Wen terdiam sejenak “kau tahu apa yang kukatakan kepada para pasukan saat meminta mereka bergabung dengan pasukan naga? Aku mengatakan jika kita akan mendukung jendral Kang menyelamatkan Kaisar, tetapi yang baru saja kau lakukan terhadap Fei, aku tidak tahu apa itu akan merusak pandangan para pasukan”, Kang tertunduk terdiam.


Pasukan naga masih melakukan perjalanan, tembok perbatasan utara sudah mulai terlihat, tetapi tiba-tiba lusinan perompak gurun berkuda mengejar mereka dari belakang. “Perompak! Perompak gurun datang!” teriak salah satu pasukan yang membuat para pasukan panik dan mulai berlari ketukan, “semua terus lari! Sebentar lagi kita sampai!” teriak Fei.


Diatas mereka, seekor elang terbang berpatroli, dari atas tembok perbatasan, seorang laki-laki berambut putih panjang diikat kebelakang, memakai penutup mata di mata kanannya, ia adalah Ao, dijuluki mata Elang, komandan divisi satu. Mata kanan Ao adalah mata elang, sehingga ia bisa berbagi penglihatan dengan elangnya.


“Sepertinya ada rombongan pengembara yang menuju kesini, mereka dikejar perampok gurun” lapor Ao kepada Yao, seorang laki-laki berbadan gagah dengan luka menyilang di wajahnya, ia adalah jendral benteng perbatasan utara. Yao melihat menggunakan teropongnya, Yao terkejut saat melihat Wen, ia seperti mengenalinya.


Para perompak gurun sudah semakin mendekat, Wen mencabut pedangnya “akan kuhentikan mereka!” pedang Wen berubah menjadi es dan ia melakukan tebasan, seketik sekelilingnya berubah menjadi tembok duri-duri es, beberapa kuda perompak tertusuk dan jatuh dari kuda mereka.


Yao yang masih memperhatikan melalui teropongnya terkejut melihat itu “jurus itu..tidak salah lagi itu serigala putih” gumam Yao “pasukan kuda besi bersiaplah, kita akan membuka gerbang!” perintah Yao, Ao terkejut mendengar itu, sebelumnya mereka tidak pernah membuka gerbang perbatasan, apa lagi untuk menolong pengembara.


Yao mengambil golok bermata duanya dan melompat keatas kuda, pintu gerbang mulai dibuka, Yao berkuda keluar memimpin para pasukan “kita habisi para perompak itu!”, dari atas tembok benteng seorang laki-laki berambut merah memperhatikan, ia adalah Sin, dijuluki kaki merah, komandan divisi dua.


Sin tertawa “wah-wah sepertinya jendral sangat semangat hari ini” – “lebih baik kau membantunya Sin” celetuk Ao, “aku sedang malas hari ini, kita lihat saja dari atas sini” jawab Sin.


Dari kejauhan, beberapa perompak berkuda mendekat, seorang laki-laki tanpa sehelai rambut, membawa pedang besar di punggungnya, ia adalah Buza, dijuluki kera gurun, salah satu perempok gurun.


“Akhirnya jendral pengecut itu keluar, harga kepalanya cukup besar, bunuh dia!” Buza mempercepat kudanya, kemudian mencabut pedang besarnya dan melompat kearah Yao “mati kau jendral!”, Yao menangkis serangan itu dengan golok bermata duanya, pertarungan pun terjadi.


Buza menghujani Yao dengan tebasan pedang besarnya, Yao terus menangkisnya, “aku akan kaya!” kata Buza sembari terus melakukan tebasan, “ya, teruslah bermimpi” Yao mendaratkan hataman dengan golok bermata duanya, Buza pun jatuh terpental, “cukup sampai disini, kita kembali ke tembok!” perintah Yao kemudian berkuda kembali ke dalam tembok bersama para pasukan kuda besi.


 


Matahari mulai terbenam, pintu gerbang tembok perbatasan utara baru saja ditutup. “Terima kasih telah mengijinkan kami masuk” Wen memberi hormat, Yao turun dari kudanya “lama tidak berjumpa penasehat” Yao juga memberi hormat “Ao!” panggil Yao, Ao melompat turun dari atas tembok benteng “ya jendral” Ao memberi hormat, “siapkan makan malam untuk para pengungsi ini” perintah Yao, “tapi jendral, persediaan makan kita sudah sangat sedikit” bisik Ao, “mereka semua tampak kelelahan, berikan saja” kata Yao, Ao mengangguk.


Kini pasukan naga disambut makan malam oleh Yao, potongan roti disediakan dimeja makan, “terima kasih jendral” Wen memberi hormat, “penasehat tidak perlu sungkan, hanya potongan roti yang tersisa” jawab Yao.


 


Malam itu Fei sedang berada di atas tembok benteng, memperhatikan gurun dari atas sana, “guru tidak makan?” Vivian datang menghampiri, “aku akan menyusul” jawab Fei singkat, “pasti guru masih memikirkan tentang tetua” Vivian berdiri disamping Fei, “dia adalah guruku, dia dibunuh oleh muridnya sendiri, salah satu saudara ku” Fei tertunduk, “maaf jika aku lancang, bukankah Shibaku sudah berhasil dibunuh?” tanya Vivian, Fei mengangguk “Niki yang membunuhnya, anak itu sama seperti ayahnya, aku belum sempat bicara kepadanya setelah kematian guru”. Dari kejauhan, Kin yang sedang duduk menatapi bintang, tidak sengaja mendengar percakapan Fei dan juga Vivian.


Wen sudah selesai makan, kini ia sedang berkeliling benteng bersama Yao. “Sebenarnya apa yang terjadi? Mengapa penasehat bisa berada di luar benteng?” Yao membuka pembicaraan, “ya, mungkin kau tidak akan percaya mendengar ini, tetapi..” baru Wen ingin menjelaskan, tiba-tiba Ao datang “lapor jendral! ada pasukan yang tidak sadarkan diri lagi”, mendengar itu Yao langsung bergegas “maaf penasehat, nanti kita lanjutkan lagi perbincangan kita” kemudian beranjak pergi bersama Ao.


Malam semakin larut, Yao baru saja keluar dari ruang pengobatan, Wen sudah berada disana menunggu “sebenarnya apa yang terjadi Yao?” tanya Wen, Yao terdiam sejenak “mari..” Yao mengajak Wen untuk kembali berkeliling.


Kini mereka berdua berjalan-jalan di atas tembok benteng “semenjak musim dingin, istana tidak mengirimkan persediaan, tidak ada makanan, tidak ada minuman, dan tidak ada perlengkapan persenjataan yang baru, seharusnya jendral Lin yang mengirim itu semua” Yao menjelaskan, Wen terdiam sejenak “jendral Lin sudah meninggal” kata Wen yang membuat Yao terdiam “apa itu ada hubungannya mengapa penasehat bisa berada di luar perbatasan?” tanya Yao, Wen mengangguk.