
Bab 65.
Khan dan Harl masih bercengkrama dengan para penduduk, Kulu mulai membidik busur panahnya, kemudian melepaskan anak panah. Anak panah itu melesat dengan sangat cepat, tepat kearah Harl, Cilion menyadari kehadiran anak panah itu, ia pun segera melompat dari kuda tepat kedepan Harl, mencabut sepasang belati, bermaksud menangkis anak panah itu, tetapi Jee sudah terlebih dahulu melompat, menghalangi anak panah itu, membiarkannya menusuk menembus lengannya. Para pasukan terkejut melihat itu, Lei segera mengeluarkan tamengnya dan melindungi Kaisar “semuanya lindungi Kaisar!”, Silvana meledakan petasan asap merah, sebagai tanda agar semua pasukan di kota itu bersiap.
“Penasehat tidak apa - apa?” Kumo turun dari kudanya, melihat luka di lengan Jee, sementara Harl, ia mulai tersenyum lebar, matanya mulai memancarkan tatapan membunuh, Harl mengambil tombak salah satu pasukan, kemudian melemparnya kearah asal anak panah ditembakan, ia melampar tombak itu dengan sangat kencang. Tombak itu melesat tepat disamping Kulu, menggores sedikit wajah Kulu, Kulu terkejut melihat itu, termasuk Taka dan Akari, lemparan tombak yang sangat kuat.
Kini Harl mengambil pedang Kumo dan berlari menerjang, “pangeran!” Cilion berlari mengejar, “Silvana, ikuti pangeran!” perintah Lei, “cih!” Silvana pun segera berlari mengejar diikuti beberapa pasukan. Lei mulai berpikir “sebaiknya kita bawa kembali Kaisar ke istana” – “tidak!” potong Khan “kita akan kembali bersama pangeran”, Lei menghela nafas “baiklah kalau begitu, kita cari tempat bersembunyi, bentuk formasi elang terbang!”, para pasukan pun langsung mengangkat tameng mereka, membentuk formasi elang terbang, “kuserahkan penasehat pada mu Kumo” lanjut Lei, Kumo mengangguk, sembari membantu Jee berdiri.
Kini Khan berlari kearah penginapan tempat Kulu bersembunyi, Kulu mulai membidiknya dari celah jendela. Kulu menembakan tiga anak panah sekaligus, Harl menangkis ketiga anak panah itu “mau main - main denganku ya?!” Harl melekukan tebasan, tebasan yang sangat kuat hingga penginapan itu terbelah menjadi dua, “cih! Dasar gila!” gerutu Cilion saat melihat itu.
Kini Taka melompat keluar dari reruntuhan, mencabut pedang bermata duanya, kemudian melakukan tebasan, Harl menangkis tebasan itu dengan pedangnya, tetapi seketika pedangnya patah “cih! Dasar pedang sampah!” gerutu Harl, Taka pun melihat celah dan bermaksud melayangkan tusukan, tetapi Cilion terlanjur datang dan menendang Taka menjauh, jatuh terpental ke reruntuhan. “Jangan bertindak sembrono!” gerutu Cilion kepada Harl, lalu tiba - tiba beberapa jarum ditembakan, tepat menusuk tubuh Cilion, dalam sekejap Cilion tidak bisa menggerakan tubuhnya, Akari yang melakukan itu, ia keluar dari reruntuhan diikuti Kulu “kau lengah!” ejek Akari.
Kulu bersiap membidik busur panahnya “buruannya sudah tertangkap” – “cih!” gerutu Cilion “pangeran, berdiri lah dibelakang ku!”, Kulu mulai tertawa kecil “ingin menjadikan tubuh mu tameng ya..kita lihat berapa anak panah yang bisa kau tahan” Kulu bersiap menembakan anak panahnya, tetapi tiba -tiba sebuah tombak dilemparkan, menusuk tangannya, busur panahnya pun terjatuh, Silvana yang melakukan itu.
Silvana mencabut pedangnya, menerjang kearah Kulu dan langsung melakukan tebasan kearah kepala, Silvana bermaksud mengakhirinya dalam sekali serang, tetapi Kulu masih sempat menghindarinya, hanya memotong sedikit rambut Kulu, “cih!” gerutu Silvana. Kini para pasukan elang perak mulai mengepung, “bantuan sudah mulai datang ya” Kulu tersenyum kecil “Taka, kita mundur”, Taka pun langsung memegang pundak Kulu dan Akari, membuka mata kirinya, seketika mereka semua tersedot masuk kedalam mata hitam dan menghilang, “cih!” gerutu Silvana.
Pondok megah di tengah kota, pondok menteri kota. Kini Khan dan pasukan istana berlindung disana, “maaf atas ketidak nyamanan ini Kaisar” seorang laki - laki yang sudah berambut putih, sujud memberi hormat, ia adalah Chen, menteri kota. Khan tersenyum “ini bukan salah mu, memang banyak orang yang ingin menyerang ku”.
Di salah satu ruangan, Jee sedang diobati, luka anak panah cukup dalam menembus lengannya, “sepertinya hari ini anda menjadi pahlawan penasehat” celetuk Kumo yang sedang membalut lengan Jee, Jee hanya tersenyum kecil “tidak perlu dibesar - besar kan”.
Tidak beberapa lama Silvana datang ke pondok menteri, diikuti Harl dan juga Cilion, tetapi Cilion dalam keadaan kaku, dibawa menggunakan tandu. “Apa yang terjadi?” tanya Lei, “jendral pengkhianat itu!” jawab Silvana masih kesal, “segera obati luka jendral Cilion” lanjut Lei “maafkan atas kelalaian pasukan saya” Lei memberi hormat, Harl tertawa kecil “tidak apa, tadi cukup menyenangkan”.
Kini Lei membawa Harl menghadap Khan “Kaisar, pangeran sudah kembali” Lei memberi hormat diikuti Harl “maaf membuat Kaisar cemas”, Khan hanya tersenyum “jika pangeran tidak terluka, tidak masalah untukku”, Harl membelas senyum “Kaisar sangat murah hati” kemudian kembali memberi hormat.
Didalam hutan, Kulu, Akari, dan juga Taka sedang beristirahat. “Sialan!” gerutu Kulu sembari membalut luka di tangannya “aku tidak menyangka, tombak sejauh itu bisa mengenaiku” Kulu memegang luka gores diwajahnya “pangeran Cahaya Fajar cukup menarik” – “Cih! Padahal aku sudah hampir membunuhnya” gerutu Taka.
Tidak jauh dari sana, pasukan istana sedang beristirahat di pinggir sungai, Law juga berada disana, ia sedang mengisi kantung airnya di sungai. “Aku akan pergi patroli” kata salah satu pasukan diikuti beberapa pasukan lainnya, mereka berpatroli kedalam hutan, cukup jauh mereka berpatroli hingga berpapasan dengan Kulu, Akari, dan juga Taka “wah - wah apa lagi ini?”.
Teriakan yang cukup kencang terdengar hingga pinggir sungai, para pasukan yang sedang beristirahat pun segera beranjak menuju tempat teriakan berasal. Law melompat dari satu pohon ke pohon lainnya, hingga ia melihat para pasukan istana terkapar berlumuran darah, Taka berdiri tak jauh dengan pedang bermata dua yang berlumuran darah, sedangkan Kulu dan Akari sudah tidak ada disana. Tanpa pikir panjang, Law mencabut sepasang kukrinya melompat menyerang Taka, tetapi tebasan kukrinya menembus tubuh Taka begitu saja “datang bantuan ya, merepotkan saja”, Law terkejut melihat itu, Taka langsung melayangkan tendangan, Law pun terpental hingga menghantam pohon, “maaf ya, aku tidak waktu untuk meladeni mu, aku harus menyusul yang lain” Taka membuka mata kirinya, seketika ia tersedot kedalam mata hitam dan menghilang dari sana, “cih!” gerutu Law.
Matahari mulai terbenam, para pasukan istana menjaga pondok menteri dengan ketat. Harl sedang bersantai di salah satu kamar, sembari ditemani sebotol arak, tiba - tiba pintu kamar diketuk, Cilion masuk kedalam kamar. “Kau sudah sembuh?” sambut Harl sembari menuang segelas arak, “maaf membahayakan pangeran, saya lengah” jawab Cilion sembari duduk dihadapan Harl, “minumlah” Harl memberikan segelas arak, Cilion meminum arak itu, “apa kau sudah mengirimkan laporan pada paman?” tanya Harl, “belum” jawab Cilion, Harl kembali menuangkan arak “kalau begitu tidak usah kau berikan laporan itu, kau mengerti kan Cilion?”, Cilion kembali meminum segelas araknya “aku mengikuti perintah mu”.
Tidak beberapa lama pintu kamar diketuk, Lei masuk kedalam “maaf menganggu, makan malamnya sudah siap”, Harl tersenyum “terima kasih, kami akan segera menyusul”, Lei mengangguk kemudian beranjak pergi, “Cilion, kirimkan pesan kepada Zizi, aku ingin tahu bandit yang mau membunuhku itu” Harl meminum araknya kemudian bangkit berdiri beranjak pergi, Cilion hanya mengangguk.