NIKI - The Lost Son

NIKI - The Lost Son
83



Bab 83.


 


Hari berlalu, Zeo, Kin, dan juga Niki telah kembali ke kota Purnama, mereka sedang duduk di dekat api unggun, sembari membakar beberapa potong daging. “Malam kemarin adalah malam terbaik, sudah lama aku tidak bermesraan dengan perempuan” Zeo tertawa puas sembari meminum sebotol arak “dulu saat aku masih kecil, aku pernah melihat ayahku bermesraan dengan tiga orang perempuan, sekarang aku tahu rasanya sangat menyenangkan” Zeo kembali tertawa, begitu pula Kin dan juga Niki.


 


Masih asik bercanda gurau, tiba-tiba mata Niki melihat seseorang dengan wajah tak asing berjalan masuk kedalam kota Purnama, tak lain adalah Enel. Niki segera menutupi wajahnya dengan tudung hitam, “ada apa?” tanya Kin, “tak apa, hanya kedinginan” jawab Niki. Enel tidak melihat kehadiran Niki, ia terus berjalan menuju ke salah satu ruangan, pintu ruangan dibuka, Kara, Kulu, Akari, dan juga Rha alias Kobra ada di ruangan itu, “maaf aku terlambat” Enel berjalan masuk.


Kini bandit Naga Biru sedang menyusun rencana mereka selanjutnya, peta Bulan Sabit terpampang diatas meja, Kara mulai melingkari salah satu kota di peta itu “kota ini termasuk kota yang makmur, persediaan mereka cukup sampai musim dingin berakhir, ditambah mereka juga mempunyai penyimpanan perak dan emas”, Kulu mengangguk “baiklah kalau begitu, aku akan membawa tiga ratus bandit untuk merebut kota”.


“Siapa yang bilang kita akan merebut kota?” potong Kara “kita akan merempas persediaan kota itu, setelah itu kembali ke kota purnama, aku akan membawa seratus bandit” – “seorang ketua tidak perlu mengotori tangannya sendiri” potong Kulu, Kara tertawa kecil “aku ingin mencoba senjata baruku, ditambah lagi, akan kutunjukan kekuatan kita yang sebenarnya pada istana”. Dari balik ruangan, Sai mendengarkan itu semua.


Kini Kara membawa seratus bandit, bersembunyi di dalam hutan, memperhatikan kota dari kejauhan, Zeo, Kin, dan Niki juga berada disana.


Di kota Purnama, kini ruang pertemuan telah kosong, Sai masih bersembunyi tak jauh, memperhatikan sekitar, kemudian berjalan masuk kedalam ruangan. Mata Sai mulai menjelajahi ruangan, mencari informasi sebanyak mungkin, masih menggeleda ruangan itu, tiba-tiba seseorang laki-laki berdiri dibelakang Sai, tak lain adalah Kobra.


Sai merasakan kehadiran Kobra, ia langsung mencabut pedang hitam, membalikan badan dan menodongkan pedang hitam kearah Kobra, Kobra hanya tersenyum “ternyata kau mata-matanya” seketika seekor ular merambat naik ke tubuh Sai, Sai terkejut dan berusaha memberontak, tetapi ular itu terlanjur menggigit leher Sai, dalam sekejap Sai jatuh tergeletak tak sadarkan diri. Kobra tersenyum, membuka topeng wajah yang ia kenakan, Valir wajah dibalik topeng itu.


Malam mulai dingin, Kara dan seratus bandit sudah bersiap, Kara naik keatas kuda “rampas semua barang yang bisa kalian rampas, kita bakar kota itu hingga rata dengan tanah!”, para bandit mulai bersorak, Kara berkuda memimpin seratus bandit menyerbu kota. Teriakan para warga mulai terdengar, Kara mencabut sepasang ceruritnya, berkuda sembari menebas penduduk yang menghalangi jalannya, para bandit mulai menjarah dan membakar kota, kericuhan terjadi di kota itu.


Para bandit menerobos masuk ke salah satu rumah bunga, membawa perempuan-perempuan yang bisa mereka tangkap, salah satu dari perempuan itu adalah Mia. Para bandit membawa Mia ke salah satu gang, Mia memberontak, berteriak, tetapi tenaganya sama sekali tidak berarti, para bandit yang membawanya hanya tertawa puas, hingga tiba-tiba, “lepaskan!” Niki berjalan menghampiri mereka diikuti Kin, “carilah jarahan yang lain, ini milikku!” kata bandit itu, Niki tersenyum, melihat kearah Mia “jangan bergerak” Niki mencabut pedang bunga dan maju menyerang, dalam sekejap para bandit itu dikalahkan oleh Niki.


Mia pun terkejut melihat itu, “pergilah” Niki memasukan kembali pedang bunga, kemudian beranjak pergi diikuti Kin. “Tunggu!” Mia berlari mengejar, menghentikan langkah Niki, Mia mengecup pipi Niki “terima kasih” kemudian berlari pergi bersama dengan penduduk lainnya.


Api biru berkobar membakar kota, Kara turun dari kuda, berjalan menghampiri salah seorang penduduk yang jatuh ketakutan. Kara menarik penduduk itu “larilah ke istana, katakan pada mereka, Naga Biru akan datang membakar istana” penduduk itu mengangguk gemetar, Kara melepaskan penduduk itu, penduduk itu segera berlari ketakutan. Kobaran api biru telah padam, kota itu sudah rata dengan tanah.


 


 


Dari kejauhan, Niki mulai mengepalkan tangannya geram, ia sudah bersiap mencabut pedang bunga, tetapi Kin menahan, kemudian menggeleng. Kara berjalan menghampiri Sai “berapa lama waktu yang ia punya?” – “tiga hari” jawab Kobra, Kara mengangguk “segera cari informasi darinya”, Kobra mengangguk dan menyeret Sai masuk kesalah satu ruangan.


 


Satu hari berlalu, Niki sedang mengasah pedang bunga, sembari memikirkan cara untuk menolong Sai. Kin datang menghampiri “makanlah” Kin menaruh sepotong daging tak jauh “kau belum makan dari kemarin”, Niki masih terdiam “pergilah ke kota terdekat, kirimkan burung pengantar pesan ke istana” – “apa yang akan kau lakukan?” tanya Kin, “menolong ketua” Niki memasukan pedang bunga ke sarungnya “kita bertemu lagi dalam satu hari” kemudian beranjak pergi, Kin masih terdiam, kemudian juga beranjak pergi.


 


Niki berjalan menuju ke salah satu ruangan, dari luar ruangan terdengar jelas suara teriakan Sai, kini Kobra sedang menyiksa Sai untuk mencari informasi, ia baru saja memotong jari kelingking kanan Sai, darahnya masih menetes. Niki mulai melihat sekitar, kemudian menerobos masuk kedalam ruangan itu, Kobra terkejut melihat kedatangan Niki, Niki langsung mencabut pedang bunga dan menebas telak Kobra, Kobra pun terjatuh, darah mulai mengalir keluar. Niki memotong rantai yang mengikat Sai, kemudian membopong Sai pergi. Baru Niki beranjak keluar ruangan, Zeo sudah berdiri disana, Niki terkejut saat melihat Zeo, “ikutlah denganku” Zeo membantu membopong Sai, mereka memasuki salah satu terowongan.


 


Niki, Zeo, dan juga Sai baru saja keluar dari terowongan, tetapi tiba-tiba selusin bandit berkuda kearah mereka, Kobra berkuda paling depan “jangan biarkan mereka kabur!” Kobra memacu kudanya lebih cepat. Niki dan Zeo segera berlari sembari membopong Sai, Sai masih tidak sadarkan diri.


 


Mereka berlari masuk kedalah hutan, para bandit berkuda semakin dekat, tidak butuh waktu lama mereka akan terkejar, Niki pun mulai memikirkan rencana, ia menyerahkan Sai kepada Zeo “bawalah dia ke kota terdekat” – “bagaimana dengan mu?” tanya Zeo, “aku akan menyusul” jawab Niki, Zeo terdiam sejenak, kemudian mengangguk, menggendong Sai di punggungnya dan berlari pergi.


Para bandit berkuda semakin dekat, Niki mulai mengalirkan tenaga dalam ke kaki kirinya, kemudian menghentakkan tanah, seketika getaran besar terjadi, para bandit terjatuh dari kuda mereka, lalu tiba-tiba pohon-pohon mulai tumbang, salah satu pohon menimpa Niki dan membuatnya tertimbun dalam salju.