NIKI - The Lost Son

NIKI - The Lost Son
54



Bab 54.


 


Dihalaman istana, lusinan pasukan sedang bersiap, mereka adalah pasukan pedang emas. Kumo juga berada disana, ia sedang bersiap dengan kudanya, Lou menghampiri “jendral” kemudian memberi hormat, “jadi kau pemuda yang dibicarakan penasehat Jee, selamat datang” sambut Kumo, “terima kasih, saya akan melakukan yang terbaik” Lou kembali memberi hormat. Kini pasukan pedang emas berkuda meninggalkan istana, mereka menuju kota tempat Vivian dan pasukannya berada. Di tepi sungai, didalam hutan, Niki baru saja selesai membersihkan dirinya, setelah ini ia memutuskan untuk pergi ke kota terdekat.


Matahari sudah sampai dipuncak, Vivian dan pasukannya masih berada di pondok menteri, Damyo duduk terikat, diawasi oleh para pasukan. Tidak beberapa lama, pintu gerbang pondok dibuka, pasukan pedang emas telah sampai, Kumo turun dari kudanya “jendral!” Vivian memberi hormat, “dimana dia?” tanya Kumo, “didalam” jawab Vivian, “baiklah kalau begitu, kalian semua berjaga disini, aku akan bicara empat mata dengannya” Kumo berjalan masuk kedalam. Kumo masuk kesebuah ruangan, Kumo memberi isyarat kepada pasukan yang berjaga untuk keluar, para pasukan mengangguk dan meninggalkan ruangan, kini hanya ada Kumo dan Damyo diruangan itu. Kumo mencabut pedangnya dan memotong tali yang mengikat Damyo, kemudian menarik bangku dan duduk dihadapan Damyo “kau suka membuat masalah ya” Kumo menuang segelas arak, kemudian meminumnya, Damyo tertawa kecil “maafkan saya merepotkan jendral”, Kumo menyalakan cerutu “jadi berapa desa yang kau jual kepada bandit?” tanya kumo langsung pada intinya, Damyo terdiam sejenak “lima desa”–“dengan harga berapa?” tanya Kumo lagi, “tiga ratus keping emas” jawab Damyo yang membuat Kumo terdiam sejenak. Kumo mulai tersenyum “lima desa, jadi totalnya seribu lima ratus keping emas, itu emas yang banyak”, Damyo tertawa kecil “apa jendral Kumo bisa mempermudah masalah ini?”, Kumo meminum araknya “tentu saja, dimana emasnya?”–“di ruang bawah tanah” jawab Damyo, “baiklah kalau begitu, kau tunggu disini” Kumo bangkit berdiri dan beranjak pergi, meninggalkan Damyo sendiri diruangan itu. Kumo keluar dari ruangan “bagaimana jendral?” tanya Vivian, “mulai darisini pedang emas yang akan menangani, kalian bisa kembali ke istana” jawab Kumo, “terima kasih jendral” Vivian memberi hormat, kemudian beranjak pergi diikuti pasukan naga.


 


Disalah satu penginapan dikota, Vivian memutuskan untuk bermalam satu malam lagi. “Mengapa kita tidak langsung kembali ke istana?” tanya Zao, “ada hal yang belum selesai, kita akan menunggu disini” jawab Vivian sembari mengasah pisaunya, sebenarnya ia juga khwatir, ia hanya mengadu dengan keberuntungan. Dipinggir kota, Yung sedang bertemu dengan beberapa orang bandit, Yung memberikan sekantung perak “aku ingin kalian membunuh seorang perempuan” – “bukan masalah besar” jawab seorang laki-laki, berambut panjang, ia bernama Jiu, dijuluki tanpa hawa, ketua komplotan bandit itu. Jiu mengambil kantung perak itu, kemudian menghitungnya “bayaran yang bagus, kau tahu dimana dia?”.


Malam semakin larut, pasukan naga sudah tertidur, hanya dua orang pasukan yang berjaga. Malam itu malam yang tenang, tidak ada yang terjadi, pasukan yang berjaga pun mulai mengantuk, hingga tiba-tiba sebuah tebasan memotong tubuh mereka, suara teriakan pun membangunkan para pasukan. Kini kedua pasukan yang menjaga sudah terkapar, tubuh mereka terpotong menjadi dua, Zao terkejut melihat itu “kita diserang!” tiba-tiba sebuah tebasan memotong lehernya, Zao terkapar berlumuran darah. Seketika para pasukan menjadi panik, mereka tidak melihat ada yang menyerang mereka, “semuanya ke ruang terbuka!” perintah Vivian, para pasukan pun berlarian keluar dari penginapan, mereka mulai bersiap dengan senjata mereka, mata mereka mengitari setiap sudut, tetapi tidak ada siapapun disana. Hingga tiba-tiba, Jiu berdiri dibelakang Pingping, menodongkan belatinya dileher Pingping, para pasukan terkejut melihat itu, “sial! Darimana datangnya dia?!” Kin bersiap dengan pedang tumpulnya, Vivian juga bersiap dengan pisaunya “jurus menghilang ya”, Jiu tertawa “ternyata kau mengetahuinya ya” – “apa maskud kedatangan mu?” tanya Vivian, “membunuh mu” jawab Jiu kemudian menghilang.


“Semuanya lindungi ketua!” teriak Kin, tetapi tiba-tiba sebuah tebasan mengenai tubuhnya, Kin pun segera mengayunkan pedang tumpulnya ke udara, pedang tumpul itu menghantam Jiu hingga terpental. Kin terjatuh, darah mulai mengalir keluar “menghilang bukan berarti tidak bisa diserang, hanya perlu menebak dimana keberadaan mu”, Jiu tertawa kecil, kemudian bangkit berdiri “kau cukup hebat, tapi pertanyaanya, apa kalian masih sanggup berdiri saat berhasil menebaknya?” Jiu bermaksud menghilang, tetapi tiba-tiba sebuah pisau dilemparkan, tepat menancap ke tubuhnya, Vivian yang melakukan itu “lambat!” Vivian menghujani Jiu dengan lemparan pisau-pisaunya, Jiu tidak bisa menghindarinya, ia menerima semua lemparan pisau itu, menancap memenuhi tubuhnya, darah mengalir keluar dengan deras. Jiu mulai tertawa “sudah lama aku tidak sesenang ini, akhirnya menemukan lawan yang kuat!” Jiu kembali bersiap dengan belatinya “kau akan kusisakan terakhir, akan kubunuh dari yang terlemah!” Jiu maju menyerang kearah Pingping, ia menyerang dengan sangat cepat, “Pingping awas!” teriak Kin, kini Jiu bermaksud menebas Pingping, Pingping takkan bisa menghindarinya, hingga tiba-tiba pedang bunga menangkis belati Jiu, para pasukan terkejut melihat itu, termasuk Pingping. Niki berdiri didepan Pingping, menangkis belati Jiu dengan pedang bunganya “apa aku terlambat?”, Kin tertawa kecil melihat Niki “kau mati dua kali hah?!”, sedangkan Pingping masih diam membeku, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, Niki benar-benar masih hidup.


Niki menendang Jiu menjauh, “datang pengganggu ya, akan kuakhiri dengan cepat!” Jiu kembali menghilang. Jiu mulai menyerang, menghujani Niki dengan serangan, Niki tidak bisa melihat Jiu, tetapi ia bisa merasakan kehadirannya. Niki terus menangkis semua serangan Jiu, pertarungan yang sengit, hingga satu titik Niki lengah, sebuah tebasan mengenai tubuhnya, Niki pun terjatuh, darah mulai mengalir keluar. “Cih! Sepertinya kurang dalam ya” gerutu Jiu, Niki mulai bangkit berdiri, ia memejamkan matanya, mulai mengalirkan tenaga dalam, berusaha mencari keberadaan Jiu, Jiu tersenyum “selama aku tidak menunjukan diri, dia tidak akan bisa menyerang duluan”, Niki membuka matanya, ia sudah merasakan keberadaan Jiu, Niki langsung maju menyerang. Jiu terkejut melihat itu, ia sangat yakin Niki tidak bisa melihatnya, Niki menghujani tebasan, Jiu terus menghindarinya, hingga satu titik sebuah tebasan telak mengenai tubuhnya, Jiu pun terjatuh, tubuhnya kembali terlihat. “Cih! Sepertinya bukan lawan sembarangan!” gerutu Jiu, Jiu berusaha bangkit berdiri, tetapi Niki sudah kembali menyerang, ia tidak memberikan Jiu kesempatan untuk menghilang, Niki menyerang dengan sangat cepat, bahkan Jiu kewalahan untuk mengimbanginya, perlahan api biru mulai merambat keluar dari lengan kiri Niki, kecepatan serangannya pun semakin bertambah, Jiu sudah tidak bisa mengimbangi, sebuah tebasan telak mengenainya, Jiu pun terjatuh. Niki berusaha menekan api biru agar tidak menyambar keluar, seketika ia memuntahkan darah, Niki pun jatuh berlutut, menopang tubuhya dengan pedang bunga, “Niki!” Kin berlari menghampiri, pandangan Niki mulai buram, tubuhnya mulai melemas, ia kehilangan kesadaran, jatuh tergeletak tidak sadarkan diri. Sementara Jiu masih terkapar, tubuhnya gemetar, ia seperti baru saja melihat iblis dari bayangan Niki, tiba-tiba Vivian sudah menodongkan pisau dileher Jiu “jangan bertindak bodoh”.