NIKI - The Lost Son

NIKI - The Lost Son
81



Bab 81.


 


Kobaran api mulai melahap tembok perbatasan utara, Dae baru saja membakarnya. “Bajingan!” Yao menyerang kearah Dae, ia menebaskan golok bermata duanya, Dae bermaksud menangkis dengan goloknya, tetapi tebasan Yao memotong goloknya terbelah menjadi dua, Dae terkejut melihat itu, Yao melanjutkan tebasannya, tebasan itu akan telak menebas Dae, tetapi tiba-tiba pedang bermata dua menangkis tebasan itu, Taka yang melakukannya. Melihat itu Dae langsung beranjak pergi, pertarungan pun terjadi antara Yao dan Taka.


 


Di kota perbatasan, Sin masih bertarung dengan Darius, Darius terus menghujani dengan pukulannya, sementara Sin membalas dengan tendangannya, hingga tiba-tiba sebilah pedang menebas punggung Darius, Lei yang melakukan itu. Darius pun membalikan badannya memukul kuda Lei hingga jatuh terpental, Lei berhasil melompat menghindar, Darius melanjutkan serangannya, melayangkan pukulan, Lei menangkis pukulan itu dengan tamengnya, sementara itu Sin melihat celah dan meleyangkan tendangan telak menghantam Darius hingga terpental. Darius masih berdiri tegak, ia mulai tertawa “semakin menyenangkan saja, aku masih mengingat wajahmu jendral” Darius mengepalkan tangannya “malam ini waktunya kalian mati!” Darius maju menyerang, pertarungan kembali terjadi.


 


Kobaran api semakin besar melahap tembok perbatasan utara, kobaran api itu terlihat hingga ke langit. Di istana, kobaran api itu samar-samar terlihat, “aku akan menyusul kesana!” Fei bermaksud beranjak pergi, “tunggu!” Sun menghentikan “pasukan Naga sangat penting untuk menjaga istana” – “aku akan pergi sendiri!” – “bagaimana jika pasukan ku saja yang pergi?” celetuk Cilion “pasukan Cahaya Fajar belum pernah melakukan apapun, kali ini biarkan kami membantu”, Sun terdiam sejenak “tembok perbatasan utara sangat jauh, jika berkuda tanpa henti, mungkin baru sampai saat tengah hari, semua sudah terlambat”, Cilion tersenyum “jika pergi seorang diri aku akan sampai saat matahari terbit”.


Ditengah kobaran api yang melahap tembok perbatasan utara, Yao masih bertarung dengan Taka, pertarungan yang sangat sengit, hingga akhirnya sebuah tebasan berhasil mengenai Taka, darah pun mengalir dengan deras. “Ternyata sesuai dengan reputasi mu jendral Yao” puji Taka sembari memegangi lukanya “tetapi aku juga mempunyai reputasi” Taka membuka mata kirinya, mata hitam terpampang, seketika luka tebasan di tubuhnya kembali menyatu. Yao terkejut melihat itu, Taka kembali bersiap “mari kita lanjutkan!” Taka mengeluarkan rantai api dan mulai menghujani Yao dengan tebasan rantai api, Yao terus menghindarinya, hingga satu titik Yao lengah, rantai api berhasil mengikat lengan kirinya, rantai api mulai mengeluarkan asap, lengan kiri Yao mulai terasa terbakar, Yao berusaha menahan sakit.


 


Pasukan elang perak dan pasukan kuda hitam berkuda masuk ke benteng utara, menerobos para bandit yang menghalangi. Dari kejauhan, Silvana melihat pertarungan Yao dan Taka, Silava pun berinisiatif untuk melempar tombaknya, tombak itu melesat dengan sangat kencang, memutuskan rantai api yang mengikat lengan kiri Yao. Taka terkejut melihat itu, Yao melihat celah dan langsung menunsukan goloknya menembus tubuh Taka, Taka mulai memuntahkan darah, ia membuka mata kirinya, bermaksud menyembuhkan lukanya dengan mata hitam, Yao mengetahui tujuan Taka, ia langsung menusuk mata kiri Taka dengan jarinya, darah mengalir keluar dengan deras Taka pun berteriak sangat kencang.


 


Pasukan elang perak dan pasukan kuda hitam mulai menekan para bandit. Kang dan Vin masih bertarung dengan para bandit di benteng utara, hingga tiba-tiba sebuah anak panah melesat tepat disamping mereka, anak panah itu berasal dari dalam hutan. “Pergilah!” kata Vin, Kang mengangguk, naik ke atas kuda, berkuda menuju ke tempat asal anak panah itu ditembakan. Kini Kang berkuda memasuki hutan, ia berusaha mencari asal anak panah itu ditembakan, matanya masih mencari sekitar, tiba-tiba sebuah batu dijatuhkan menghantam Kang dari atas, Kang pun terjatuh dari kudanya, Kulu yang melakukan itu. Kulu melompat turun dari atas pohon, mencabut pedangnya “lama tidak berjumpa ya Kang, terakhir kali kita berjumpa, kau bagaikan hewan, dikurung didalam kandang”, Kang geram mendengar itu, ia mulai bangkit berdiri dan mencabut pedangnya, “sudah lama aku menantikan ini” Kulu maju menyerang, pertarungan terjadi.


Di kota perbatasan, Darius masih bertarung dengan Sin dan juga Lei, meskipun dua melawan satu, Darius bukanlah orang sembarangan. Lagi-lagi Darius melakukan pukulan, Lei menahan pukulan itu dengan tamengnya, tetapi ia tetap jatuh terpental, bahkan kini tamengnya sudah hancur, terlalu banyak menahan pukulan Darius. Sementara itu, Sin masih mencoba mencari celah, lagi\-lagi tendangannya berhasil telak mengenai tubuh Darius, tetapi Darius hanya terpental, kakinya masih berdiri tegak, “cih!” gerutu Sin.


 


Lei mulai bangkit berdiri, maju menyerang kearah Darius, menusukan pedangnya menembus punggung Darius, Darius mulai memuntahkan darah, ia menengokan wajahnya, kemudian tertawa kecil, Lei terkejut melihat itu, Darius melayangkan pukulan telak menghantam Lei, Lei pun jatuh terpental cukup jauh.


“Lei!” Silvana berlari kearah Lei, kini Lei tergeletak berlumuran darah, tubuhnya remuk, “Lei bertahanlah!” Silvana menghampiri Lei, memegang tangannya “Lei kau harus bertahan”, Lei mulai memuntahkan darah, kemudian tersenyum “seharusnya sejak awal kau yang menjadi jendral” Lei kembali memuntahkan darah, Silvana mulai mengeluarkan airmata “jangan bicara! Kau harus bertahan.. cepat bawakan tandu untuk Jendral! siapa saja cepat!” teriak Silvana.


Sin masih terkejut melihat itu, ia mulai bangkit berdiri, mengambil tombak yang tergeletak tak jauh darinya “lawan mu adalah aku!” Sin mulai bersiap, Darius tertawa kecil “majulah kalau begitu”, Sin pun maju menyerang, pertarungan kembali terjadi.


 


Di tembok perbatasan utara, kini Taka berusaha melarikan diri, menyeret tubuhnya, sembari menahan sakit memengangi mata kirinya, darah mengalir dengan deras. “Mau kemana kau? Pertarungan kita belum selesai!” Yao menyeret golok bermata duanya, Taka menyeret tubuhnya semakin cepat, tubuhnya gemetar “Kulu tolong aku! Kulu! Cepat panah dia! Kulu!”, Yao menghirup nafas dalam-dalam “dasar memalukan!” Yao menebaskan golok bermata duanya memenggal kepala Taka. Seketika sebuah lilin di ruangan Kara redup. Dari kejauhan, Dae melihat kepala Taka yang sudah tergeletak, tubuhnya mulai gemetar.


 


Di kota perbatasan, Sin masih bertarung dengan Darius, Sin mulai terpojok, tomboknya baru saja dipatahkan oleh Darius, Sin pun memutuskan untuk mengeluarkan jurus terakhirnya, Darius kembali menyerang, Sin melihat celah dan melayangkan tendangan kaki besi menghantam telak kepala Darius, Darius pun jatuh terpental tidak sadarkan diri, tetapi Sin juga ikut terjatuh, tulang kaki kanannya remuk setelah melakukan jurus itu.


 


Di dalam hutan, Kang dan Kulu masih bertarung, beberapa luka sudah memenuhi tubuh Kang. “Kau memang tak sehebat itu ya Kang” Kulu tertawa kecil, kemudian kembali menyerang memojokan Kang, lagi-lagi sebuah tebasan mengenai lengan kanan Kang, membuat pedangnya terjatuh, kini Kulu menodongkan pedangnya dileher Kang, Kang sudah tidak berkutik.


 


“Tuan Kulu!” Dae berkuda menghampiri “tuan, para bandit berhasil dikalahkan!” lapor Dae, Kulu geram mendengar itu, Kang mulai tertawa kecil “kali ini kau kalah lagi Kulu”, Kulu semakin geram mendengar itu “tapi kali ini kau tidak disana untuk merayakan” Kulu menusuk pedangnya menembus leher Kang, Kang pun memuntahkan darah. Kang jatuh tergeletak, darah mengalir keluar dengan deras, dalam sekejap Kang sudah tak benyawa. Kulu memasukan kembali pedangnya “kita kembali ke markas” kemudian naik keatas kuda, berkuda pergi diikuti Dae.