NIKI - The Lost Son

NIKI - The Lost Son
66



Bab 66.


 


Di pondok menteri, Chen menyambut Kaisar dan juga pangeran untuk makan malam, meja makan sudah dipenuhi hidangan. Khan makan dengan lahap “ketegangan hari ini membuat ku lapar” – “ya begitu pula dengan ku” sahut Harl sembari ikut menyantap hidangan, ruang makan dipenuhi pasukan istana yang berjaga, termasuk Lei dan Kumo, “baguslah jika Kaisar suka dengan hidangannya, saya permisi dulu agar tidak menganggu” Chen beranjak pergi. Sedangkan Jee tidak ikut makan malam, ia hanya duduk diam di kamarnya, luka dilengannya masih belum kering.


Malam semakin larut, Chen berjalan keluar meninggalkan pondok menteri, ia memakai jubah dan tudung hitam menutupi wajahnya. Chen berjalan memasuki salah satu kedai, didalam sana Akari sudah duduk menunggu di salah satu meja, Chen duduk dihadapan Akari, Akari mengeluarkan sekantung perak “sesuai perjanjian”, Chen menghitung perak dikantung itu “bagaimana dengan kerusakan yang kalian timbulkan,? kau bilang tidak akan keributan, kalian juga membunuh pasukan istana yang berjaga di hutan, itu tidak sesuai perjanjian” – “cih! Kau tidak mengerti ya, setiap penyerangan itu tidak selalu sesuai rencana” gerutu Akari sembari bangkit berdiri, bermaksud beranjak pergi, tetapi Chen memegang lengan Akari menghentikan “kalian menyerang dikota ku, menurut kalian butuh berapa hari hingga mereka memeriksaku?!” wajah Chen tampak pucat.


“Apa maksud mu?” tanya Akari, “bawalah aku bersama kalian, jika mereka sampai mengetahuinya, tidak ada tempat aman bagiku” jawab Chen gemetar, “cih! Merepotkan saja! Itu tidak sesuai perjanjian” Akari menepis tangan Chen, kemudian beranjak pergi, Chen semakin gemetar. Di atas atap kedai, Zizi duduk diam, memakai topi caping dan masker menutupi setengah wajahnya, dari tadi ia mendengarkan percakapan Akari dan juga Chen, Zizi pun menuliskan pesan dan mengirimkannya menggunakan burung pengantar pesan.


Chen baru saja meninggalkan kedai, wajahnya merah, entah sudah berapa botol arak yang ia habiskan untuk menghilangkan gemetar ditubuhnya. Chen berjalan dengan sempoyongan, hingga tiba - tiba Cilion muncul tempat dihadapannya, Cilion memakai masker menutupi setengah wajahnya. Chen tampak terkejut, Cilion langsung mencekik leher Chen dan membawanya masuk kedalam gang gelap, kemudian melemparnya hingga jatuh terpental, lalu tiba - tiba selendang hitam mengikat tubuh Chen, Zizi yang melakukan itu, Chen pun mulai gemetar ketakutan.


Cilion kembali mencekik Chen “jadi kau pengkhianatnya ya” mata Cilion mulai memancarkan nafsu membunuh “sudah lama aku menekan nafsu ini, sepertinya aku sudah tidak bisa menahannya” Cilion mencekik Chen lebih kencang “sebaiknya kau katakan, siapa orang - orang itu, mereka juga sudah membuang mu, tidak ada untungnya menyembunyikan mereka”. Chen mulai kehabisan nafas, “cih!” Cilion melepaskan cekikannya, baru Chen kembali bisa bernafas, Cilion langsung melayangkan hantaman kewajah Chen hingga mematahkan hidungnya, Chen pun berteriak kesakitan.


“Katakan padaku!” Cilion mencabut belatinya “aku sudah tidak bisa menahan nafsu ini” matanya Cilion mulai memerah, tubuh Chen bergetar hebat “aku tidak tahu - aku tidak tahu, kumohon lepaskan aku, aku tidak tahu siapa mereka”, Cilion langsung menebas tangan kanan Chen hingga putus, darah mengalir keluar, Chen berteriak kesakitan, tetapi kali ini teriaknnya tidak mengeluarkan suara sedikit pun, dalam sekejap Chen tidak sadarkan diri.


“Cih! Dasar lemah!” Cilion memasukan kembali belatinya. Zizi melepaskan ikatan selendangnya “dengan begini kita tidak mendapatkan informasi apa - apa” kata Zizi menggunakan bahasa isyarat, Cilion tertawa kecil “sebenarnya aku sudah tahu si siapa orangnya, aku hanya ingin melihat darah” – “dasar kau ini!” gerutu Zizi menggunakan bahasa isyarat, Cilion menghela nafas “perempuan berambut hijau itu, jika tak salah..tidak, tak salah lagi, dia adalah kucing hijau”.


 


Kereta kuda Khan mulai meninggalkan kota, Harl tidak berada di kereta kuda itu, ia memilih untuk berkuda bersama dengan Cilion dan pasukan istana lainnya “duduk di kereta kuda hanya membuat pinggangku sakit” canda Harl sembari berkuda, “pangeran, sebaiknya kita kembali ke Cahaya Fajar, saya takut ada yang mengincar anda, dan mereka bukan orang sembarangan” bisik Cilion, Harl tertawa kecil “kau semakin mirip saja dengan pamanku Cilion, aku tidak suka itu, mereka ingin membunuhku, sudah seharusnya aku memburu mereka balik, bukankah begitu?”, Cilion menghela nafas “maafkan saya, saya akan mengikuti pangeran”, Harl kembali tertawa kecil “itu yang ingin kudengar”.


Sepanjang perjalanan Cilion hanya diam “cih! Kucing hijau ya, mengapa ia bisa ada disini? Seharusnya aku sudah membunuhnya beberapa tahun lalu, apa dia mengincar pangeran untuk balas dendam? Seharusnya kemarin ia bisa membunuhku, mengapa ia tidak melakukannya?” gumam Cilion dalam hati, hingga Harl menepuk pundak Cilion, membuyarkan lamunannya “ada apa? Mengapa kau diam saja? Ada yang mengganggu pikiran mu?”, Cilion menghela nafas “nanti saja, akan saya ceritakan jika sudah kembali ke istana”.


 


Matahari sampai dipuncak, gerbang istana dibuka, kereta kuda Khan memasuki istana, para pasukan istana dan para jendral menyambut. Khan turun dari kereta kuda “ah lelahnya, pangeran, apa kau ingin ikut berendam bersama?”, Harl turun dari kudanya, kemudian memberi hormat “untuk kali ini sepertinya saya harus menolak, ada hal lain yang perlu saya lakukan” – “ah..begitu ya, baiklah kalau begitu, aku akan pergi berendam” Khan beranjak masuk kedalam istana.


Kini Harl pergi ke dergama istana, tempat perkemahan pasukan Cahaya Fajar, para pasukan Cahaya Fajar menyambut memberi hormat, termasuk Zizi, “dimana dia?” tanya Harl, Zizi menunjuk kesalah satu armada kapal, Harl pun mengangguk dan segera menuju ke armada kapal. Di ruang penyimpanan kapal, Chen duduk terikat rantai, tidak ada cahaya matahari yang masuk ke ruangan itu, tidak beberapa lama, Harl datang menghampiri, sembari membawa lentera di tangan kanannya, Cilion mengikuti di belakangnya.


Harl tertawa kecil saat melihat keadaan Chen “jadi kau sudah memotong lengannya ya, mengapa tidak ajak-ajak”, sementara Chen hanya duduk gemetar, Harl mengambil bangku dan duduk dihadapan Chen, menaruh lentera dilantai “aku tidak akan mengadukan hal ini kepada istana, jadi mengapa mereka mengincarku?” Harl membuka pembicaraan, “aku tidak tahu..” jawab Chen gemetar “aku tidak tahu siapa yang mereka incar, maafkan aku”, Harl tertawa kecil “apa kau tahu dimana mereka?”, Chen menggeleng.


Harl menghela nafas “kalau begitu si, kau jadi tidak berguna” Harl meminta belati kepada Cilion, Cilion memberikan belatinya, tubuh Chen semakin gemetar “kumohon jangan bunuh aku..aku hanya diperalat mereka, aku tidak tahu apa - apa, aku hanya meminjamkan tempat!” – “hanya meminjamkan tempat ya..maaf, aku menghancurkan penginapan mu, aku menebasnya dengan pedang, sekarang bayangkan tubuh mu yang akan kutebas, akan jadi seperti apa ya..?” Harl tertawa kecil.


Harl berjalan keluar ke atas dek kapal, ia tersenyum lebar “sudah lama tidak melihat darah” – “jadi sekarang bagaimana?” tanya Cilion, “bagaimana menurut mu Cilion?” tanya Harl balik, Cilion berpikir sejenak “saya belum tahu tujuan mereka sebenarnya, dari pemikiran saya, ada dua kemungkinan, yang pertama adalah balas dendam terhadap Cahaya Fajar, jika memang begitu, sepertinya kita tidak perlu repot - repot mengejar mereka, mereka akan datang lagi, kita hanya perlu bersiap” Cilion menjelaskan, “lalu apa yang kedua?” tanya Harl, “saya belum bisa memutuskan, saya akan mencari tahu lebih lanjut”, Harl tertawa puas “kau memang cerdas ya Cilion, aku tidak salah menyerahkan semuanya kepadamu”.