NIKI - The Lost Son

NIKI - The Lost Son
52



Bab 52.


 


Niki mulai terengah - engah, api biru meningkatkan kecepatan dan kekuatannya, tetapi membuatnya cepat lelah, ditambah lagi kini lengan kirinya mulai terasa terbakar, Niki pun memadamkan api biru di lengan kirinya. “Ternyata kau sudah sampai batasnya ya” Tsam berusaha bangkit berdiri, Niki kini sudah terengah - engah, menggunakan api biru seperti pedang bermata dua, Tsam melihat ini sebagai kesempatan, ia mulai mengambil goloknya. Liu mengerti apa yang akan terjadi, ia berlari dan berdiri didepan Niki “pertarungan ini sudah berakhir, kita tetap bisa memakai kesepakatan kita sebelumnya”, Tsam tertawa “jangan bercanda! Kesepakatan batal! Biarkan aku membunuhnya, aku akan melepaskan desa kalian” Tsam memberi penawaran. Liu sempat terkejut mendengar itu, ia terdiam sejenak “kau yang jangan bercanda! Mana mungkin ku serahkan pahlawan desa ini!”, Niki terkejut mendegar itu, seketika penduduk desa keluar dari pondok mereka, membawa senjata apa saja yang bisa dipakai dari pondok mereka, Tsam terkejut melihat itu, kemudian ia mulai tertawa “tikus - tikus seperti kalian akan kumusnahkan!” Tsam pun mulai mengangkat goloknya dan maju menyerang, tetapi tiba - tiba Suna datang dari balik pepohonan, menahan golok Tsam dengan lengannya, Tsam terkejut melihat itu “cih!”, Suna pun melayangkan hantaman cakar macan ke tubuh Tsam, Tsam memuntahkan darah dan jatuh berlutut, kini ia sudah mencapai batasnya, “pergilah! Sekarang desa ini dilindungi kuil selatan” kata Suna, Tsam pun geram mendengar itu, tetapi ia sudah tidak bisa melakukan apa - apa, dengan tenaga yang tersisa Tsam pun bangkit berdiri dan memilih untuk pergi darisana. Penduduk desa pun mulai tersenyum.


Matahari mulai sampai dipuncak, kini Niki sedang diobati didalam pondok, lengan kirinya kembali dibalut. Di luar pondok, Liu sedang berbincang dengan Suna, “kepala desa tidak perlu khwatir, saya sudah mengirimkan pesan, sebentar lagi bantuan dari kuil akan datang” kata Suna, Liu tersenyum “terima kasih sudah mengirimkan pahlawan”, Suna ikut tersenyum “jika yang kau maksud anak itu, dia juga pahlawan di kuil kami”. Tidak beberapa lama beberapa kereta kuda kuil sampai, Tonraq turun dari kereta kuda diikuti para pendeta, mereka mulai menurunkan bahan - bahan makanan dan obat - obatan, Zin dan Zezu juga berada disana. “Terima kasih sudah menerima pesanku” sambut Suna, “bukan masalah besar” jawab Tonraq “dimana anak itu?” tanya Tonraq, “didalam pondok” Suna menunjuk salah satu pondok, Tonraq pun segera menuju pondok itu. Didalam pondok Niki masih duduk diam, pintu pondok dibuka, Tonraq masuk kedalam “aku sudah memberikan mu tempat tinggal, lalu mengapa pergi begitu saja?” – “bukankah kau sendiri yang mengatakan jika bisa pergi kapan saja” jawab Niki, Tonraq tersenyum “yahh begitulah” kemudian duduk disamping Niki “bagaimana jika kau kembali, aku ingin mengajak mu menjadi pendeta” – “maaf, kali ini aku harus menolak, terima kasih atas bantuan mu” jawab Niki lagi, Tonraq kembali tersenyum “baiklah kalau begitu” kemudian beranjak pergi meninggalkan pondok.


Matahari mulai terbenam, di sebuah gua, kini Tsam terkapar, ia masih memulihkan diri, “sama saja, kau juga dikalahkannya, ketua tidak akan suka dengan ini” celetuk Dae, “cukup bicara mu!” jawab Tsam yang masih kesal, ia baru saja dipermalukan oleh seorang pendeta kuil. Kini para pendeta sudah bersiap untuk kembali ke kuil selatan, “sekali lagi, terima kasih atas bantuan kalian” Liu memberi hormat, “sudah menjadi tugas kami” Tonraq membalas hormat.


 


Liu kini berjalan memasuki salah satu gua, jauh didalam hutan, Niki mengikuti dengan bingung. Liu berhenti diujung gua, dan mulai menggali, ia mengambil sebuah pedang bewarna putih dengan lambang bunga “bangau emas menukarnya untuk menikahi gadis dari desa ini” Liu memberikan pedang bunga itu kepada Niki “kau boleh memilikinya”, Niki terkejut mendengar itu “aku tidak bisa menerimanya, itu adalah pertukaran untuk menikah”, Liu tersenyum “ada satu hal yang belum aku ceritakan, gadis yang dinikahi bangau emas bernama Yue, putriku satu-satunya”, Niki terdiam, berusaha untuk mencerna semuanya, “aku tidak pernah menyesal putriku menikah dengan pahlawan seperti bangau emas, pedang ini hanya menjadi barang tidak berguna ditanganku, tetapi jika ditangan mu, aku melihat seorang pahlawan” Liu kembali tersenyum “sayang sekali aku tidak pernah melihat putriku lagi dan juga cucuku, seharusnya kini ia seusia denganmu”. Niki masih terdiam, ia tidak yakin, “mungkin aku tidak bisa mengingat wajahnya, tetapi kau mengingatkan ku pada bangau emas” Liu kembali memberikan pedang bunga, dengan berat hati Niki mengambil pedang bunga itu “terima kasih”.


 


Malam itu Niki kembali bermalam di pondok Liu, Niki tidak bisa tidur, ia hanya duduk diam sembari memandangi pedang bunga yang baru saja diberikan kepadanya. Niki mulai mencabut pedang bunga, pedang yang begitu indah, terdapat sebuah ukiran di pedang itu “Tagatha”, nama yang seperti pernah didengar oleh Niki, tetapi ia tidak begitu mengingatnya. Matahari kembali terbit, kini Niki sudah bersiap untuk pergi, membawa pedang bunga di belakang pingganggnya. “Apa kau tahu kemana tujuan mu? Tanya Liu, “aku belum memutuskan, mungkin kota terdekat” jawab Niki, kemudian Liu memberikan sebuah peta “hutan didaerah sini mungkin akan membuat mu tersesat” , Niki mengambil peta itu “kau sudah banyak membantuku” kemudian memberi hormat kepada Liu. Hari itu Niki melanjutkan perjalanannya yang tanpa tujuan itu, Liu tersenyum melepas kepergian Niki, bukan hanya mengingatkannya kepada bangau emas, tetapi juga mengingatkannya kepada putri satu - satunya, Yue.


Di salah satu desa, desa tempat gubuk Niki berada. Vivian dan pasukannya berkuda memasuki desa, Zao turun dari kudanya dan mulai menanyai penduduk, ia membawa selembaran wajah Niki. “Pemuda itu, aku mengenalinya” kata seorang laki - laki paruh baya, ia bernama Hun, kepala desa. Hun mengantarkan Vivian dan pasukannya menuju ke ladang, hanya ada sebuah gubuk bekas terbakar di tengah - tengah ladang, “apa maksudnya ini?” tanya Vivian, “pemuda itu sempat tinggal di gubuk ini” Hun menunjuk gubuk bekas terbakar itu. Mata Kin masih menjelajahi setiap sudut ladang, tiba - tiba matanya terhenti pada sebuah makam yang berada tak jauh darisana, ia pun menghampiri makam itu, makam dengan sepasang kerambit yang menancap diatasnya, sepasang kerambit yang tak asing baginya, Kin pun terdiam sejenak, ia tidak tahu harus bereaksi apa. Pingping berjalan menghampirinya, “berhenti!” kata Kin “kau tidak perlu kemari” – “apa maksudmu?” Pingping meneruskan langkahnya, kemudian terdiam saat melihat makam itu, kakinya lemas, Pingping pun terjatuh, seketika para pasukan langsung datang menghampiri, Vivian ikut terkejut saat melihat makam itu “ini makam siapa?!” tanya Vivian kepada Hun, Hun tertunduk “korban dari kebakaran gubuk itu”, Vivian terdiam mendengarnya.