
Bab 73.
Hujan rintik mengguyur, pasukan elang perak sedang menggeleda benteng Laut Awan, benteng yang sudah hangus terbakar. “Sepertinya perkiraan jendral salah, tidak ada apa - apa disini, hanya tersisa puing - puing” celetuk Silvana, Lei berpikir sejenak “lalu untuk apa mereka membakar benteng ini?” – “maksud jendral?” tanya Silvana, “benteng ini sudah menjadi benteng terbengkalai, lalu benteng terbengkalai biasanya menjadi sarang bandit, tetapi justru benteng ini malah habis terbakar, sudah jelas bukan bandit pelakunya” Lei menjelaskan, Silvana terdiam sejenak “jadi maksud jendral?” – “pasti ada sesuatu yang ingin ditutupi” jawab Lei yang membuat Silvana kembali terdiam.
Matahari sudah hampir terbenam, hujan rintik masih mengguyur, beberapa tenda didirikan di Laut Awan, pasukan elang perak masih menggeleda benteng itu. Kini Lei mulai memasuki lumbung makanan, ruangan yang gelap, Lei membawa lentera sebagai penerangan, ia mulai menyusuri setiap sudut ruangan, hingga ia melihat tumpukan gentong yang berantakan, tetapi yang membuat Lei janggal adalah tiga buah gentong yang tetap tersusun rapih. Lei menghampiri ketiga buah gentong itu, Lei mencoba untuk mengangkatnya, tetapi tidak bisa, ketiga gentong itu seperti menyatu satu sama lain, Lei berpikir sejenak, kini ia memutuskan untuk menggeser ketiga gentong itu, sebuah tangga menuju terowongan bawah tanah termpampang disana, Lei mulai tersenyum “aku menemukannya!”.
Silvana dan para pasukan elang perak datang menghampiri Lei, “sepertinya kau beruntung jendral” canda Silvana. “Aku akan masuk kedalam, kalian berjagalah disini” perintah Lei, “aku akan ikut dengan jendral” celetuk Silvana, “tidak!” potong Lei “kau yang akan memimpin pasukan ini, jika aku tidak kembali saat matahari terbit, segera beritahu istana” Lei beranjak menuruni tangga terowongan itu, “cih!” gerutu Silvana.
Kini Lei menurusi terowongan gelap gulita, membawa lentera di tangan kanannya, cukup lama Lei berjalan hingga ia melihat sumber cahaya. Lei mempercepat langkahnya, kini kota Purnama sudah berada didepan matanya, ia melihat beberapa bandit berkeliaran. Mata Lei terus melihat sekitar, ia menunggu celah, kini ia berjalan kearah salah seorang bandit, memukulnya dari belakang hingga bandit itu tidak sadarkan diri, Lei menariknya masuk kedalam terowongan. Lei mengganti pakaiannya dengan pakaian bandit itu, menutupi wajahnya dengan kain, kemudian berjalan memasuki kota Purnama layaknya seorang bandit.
Malam semakin larut, kini Buza sedang berjudi dirumah perjudian di salah satu kota. Buza memenangkan banyak sekali kepingan perak malam itu, “wah tuan hebat” puji para pelayan di kanan kirinya, sembari memijat pundak Buza. Dari kejauhan, Vivian memperhatikan itu semua, kini ia berinisiatif untuk menghampiri Buza “permisi tuan, mau saya temani?” goda Vivian sembari duduk di pangkuan Buza, Buza hanya tertawa puas sembari memeluk Vivian dari belakang.
Entah sudah berapa banyak botol arak yang diminum Buza, kini wajahnya sudah memerah “gadis cantik, malam ini temani aku” goda Buza sembari mengusap wajah Vivian, “tentu saja” goda Vivian dengan senyum manisnya. Buza berjalan dengan sempoyongan, merangkul Vivian disampingnya, Buza membawa Vivian ke salah satu kamar penginapan. Sesampainya di kamar, Buza langsung melempar Vivian ke tempat tidur “waktunya kau memuaskanku” Buza bermaksud membuka pakaian Vivian, tetapi tiba - tiba Vivian menghantam leher Buza hingga tidak sadarkan diri.
Kini Bandit itu duduk terikat, sebuah kain menutupi tubuhnya, seorang laki-laki yang baru menginjak dewasa, ia bernama Lam. “Katakan padaku tentang komplotan bandit kalian!” Silvana menodongkan pedangnya dileher Lam, “aku tidak mengetahui apa-apa, aku hanya mengikuti temanku, ia mengatakan jika aku akan mendapatkan kepingan perak, bahkan aku bukan berasal dari sini” jawab Lam gemetar, “bukan dari sini katamu? Kau berasal darimana?!” Silvana menekan nada bicaranya, “kota Mawar Merah” jawab Lam yang membuat Lei terkejut “Mawar Merah? Berapa banyak bandit yang datang darisana?” – “aku tidak tahu, aku baru satu hari disini” jawab Lam masih gemetar.
Lei berpikir sejenak “kau datang dari terowongan mana? Ada berapa banyak terowongan didalam sana?”, Lam terdiam sejenak, “katakan!” Silvana kembali menodongkan pedangnya di leher Lam, “dari sebuah air terjun” jawab Lam gemetar, “air terjun yang mana?” tanya Lei lagi, “aku tidak tahu” jawab Lam, “cepat pikir!” Silvana masih menodongkan pedangnya di leher Lam, Lam semakin gemetar “yang aku tahu.. air terjun itu berbentuk seperti auman singa”, Lei terdiam mendengar itu.
Matahari sudah sampai di puncak, disebuah gubuk terbengkalai di dalam hutan. Buza duduk terikat, Vivian menendang Buza hingga terjatuh, kemudian menodongkan pisau dileher Buza “katakan padaku tentang terowongan itu”, Buza mulai tertawa “sayang sekali, perempuan secantik dirimu ternyata bukan perempuan penghibur”, Vivian geram mendengar itu, ia menusukkan pisaunya ke bahu Buza, Buza pun berteriak kesakitan. “Aku tidak suka basa-basi” Vivian menusukkan pisaunya lebih dalam, Buza berteriak semakin kencang, “berteriaklah sesuka hatimu, tidak akan ada yang mendengarnya” Vivian menusukkan pisaunya semakin dalam, Buza terus berteriak hingga tidak mengeluarkan suara “akan ku beritahu, kumohon hentikan”, Vivian pun mencabut pisaunya “katakan!”.
Di istana, para jendral masih berkumpul di ruang arsip, tiba-tiba sebuah burung pengantar pesan datang, Sun membaca pesan itu. “Ada apa?” tanya Kumo, “sepertinya Lei sudah menemukan salah satu terowongan” jawab Sun, “dimana?” tanya Kang, “Laut Awan” jawab Sun yang membuat para jendral terdiam sejenak. Fei melingkari Laut Awan di peta kekaisaran “apa ada informasi lain?” – “kemungkinan selanjutnya adalah air terjun Singa, Lei sedang menuju kesana untuk memastikan” jawab Sun.
Fei berpikir sejenak “jika kota Purnama dibuat untuk menghindari perang, dan kedua terowongan berada di bawah benteng” Fei terdiam sejenak, “ada apa jendral?” tanya Kang bingung, “berarti ada kemungkinan terowongan itu berada di bawah istana” kata Fei yang membuat seisi ruangan terdiam. “Cih! Pantas saja para penyusup itu dengan mudah masuk kedalam istana” Sun beranjak meninggalkan ruang arsip “perintahkan seluruh pasukan untuk menggeledah istana!” perintah Sun, dalam sekejap para pasukan segera bergegas menyusuri setiap sudut istana.