
Bab 21.
Malam yang tenang di istana, Sanji sedang berbincang dengan Khan di ruangan Kaisar, seteko teh hangat menemani perbincangan mereka. “Jadi begitu ya, sepertinya keadaan kekaisaran memang sedang melemah” kata Khan sembari meminum tehnya, “sudah cukup lama kita tidak berperang, kekuatan tempur pasti melemah, pemberontakan di kota - kota seharusnya bisa ditangani oleh para jendral, mereka hanya bandit - bandit yang melihat celah kosong” jawab Sanji sembari meminum tehnya. “Sanji, kau adalah penasehat termuda, sudah pasti kau memiliki pikiran yang paling maju, jadi apa saranmu untuk selanjutnya?” tanya Khan.
Sanji terdiam sejenak “karna Kaisar bertanya, dengan hormat saya miminta izin untuk memasuki ruang arsip rahasia, dengan itu mungkin kita bisa memikirkan kemungkinan terbaik dari seluruh sumber yang kita punya” – “kau tahu kan ruang arsip adalah tempat paling terlarang di istana ini?” tanya Khan, Sanji menundukan kepala “maaf jika saya telah lancang!”, Khan tersenyum “ya tetapi larangan itu juga dibuat oleh para leluhur, mungkin sekarang zaman telah berubah” Khan memberikan sebuah kunci emas “beberapa hari yang lalu aku hampir mati, mungkin sekarang aku mendapatkan kesempatan lagi, sudah saatnya kekaisaran ini menuju ke jalan yang baru”, Sanji tersenyum mendengar itu.
Malam semakin larut, Kulu sedang menghisap cerutunya di tepi danau istana. “Sudah lama menunggu?” Rasa menghampiri Kulu, “apa tujuan mu mengajak bertemu? Kau tahu kan ayahmu sudah mengundurkan diri?” sambut Kulu, “ayahku mengundurkan diri bukan berarti aku juga” jawab Rasa “aku bersedia membantu rencanamu, dengan satu syarat, aku mau kau bunuh ayahku” lanjut Rasa, Kulu tersenyum “tidak kusangka kau anak yang durhaka” – “aku hanya tidak suka diperintah orang lemah seperti dia” Rasa beranjak pergi “dan satu hal lagi, jangan permainkan aku dengan politikmu, kau tahu kan aku bisa saja membunuhmu dengan beberapa serangan”, Kulu hanya tersenyum.
Matahari baru saja terbit, Niki, Pingping, dan Kiba kini berkuda memasuki wilayah gunung emas. Mereka berkuda memasuki hutan, “berhenti!” perintah Kiba, ia turun dari kudanya dan melihat sekitar, beberapa benang perangkap terlihat “hutan ini sudah dipenuhi perangkap, sebaiknya kita meneruskan dengan berjalan kaki” usul Kiba. Niki dan Pingping turun dari kuda mereka, mulai berjalan mengikuti Kiba dari belakang.
Kini mereka sudah memasuki hutan cukup dalam, tiba-tiba beberapa anak panah ditembakan kearah mereka, “ada serangan!” teriak Kiba. Niki, Pingping, dan Kiba berhasil bersembunyi di balik pepohonan, “penyusup!” seorang laki - laki melompat turun dari pepohonan dan siap menebas dengan pedang besarnya, Niki langsung mengeluarkan kerambitnya dan menangkis pedang besar itu, “senior Yinsa?!” Niki terkejut melihat orang yang menyerangnya, “Niki?! Kau masih hidup?!” Yinsa pun tampak terkejut, beberapa pasukan keluar dari balik pepohonan dan siap menyerang, “hentikan! Aku mengenal mereka” perintah Yinsa “mari kuantar ke dalam” Yinsa berjalan diikuti Niki, Pingping, dan Kiba.
“Aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu lagi Kiba, terutama Niki” Yinsa membuka pembicaraan sembari berjalan memasuki hutan lebih dalam, “hey Niki, sepertinya semua orang sudah mengira kau mati” bisik Pingping ke Niki, Niki hanya membalas senyum.
Mereka kini telah sampai di kaki gunung, terdapat gua besar dengan batu besar didepannya menutupi jalan masuk, serta beberapa pasukan berjaga. “Buka gerbangnya!” perintah Yinsa, para pasukan mulai mendorong batu besar itu, “ikuti aku” Yinsa berjalan masuk kedalam gua diikuti Niki, Pingping, dan Kiba. “Aku tidak menyangka senior tetap bekerja pada ketua Fei” kata Kiba sembari memasuki gua itu, “ini sudah bukan Tebing Langit lagi, ini adalah pasukan naga” jawab Yinsa, seluruh isi gua terpampang dari sana, gua yang besar dan berisi banyak pasukan, “kekaisaran sedang genting, kami adalah pasukan terakhir, ketua Fei membentuk pasukan ini setelah membubarkan Tebing Langit” Yinsa menjelaskan.
Disalah satu kota, Sai dan Tang sedang bertarung dengan para bandit yang mengacaukan kota. Lusinan bandit sudah terkapar tidak bedaya, “bajingan! Siapa kalian?!” teriak Lung, ketua para bandit itu. Tang tertawa “tidak penting siapa kami, memangnya kenapa? Kau sudah mau melarikan diri?” ejek Tang yang membuat Lung semakin kesal “akan kuberikan lima puluh keping perak bagi siapa yang membunuh mereka?!” perintah Lung ke bandit - bandit yang tersisa, “memangnya hanya segitu ya harga kita?” Tang mengayunkan sepasang kapaknya dan mulai bertarung, begitu pula dengan Sai.
Pedang hitam Sai sudah berlumuran darah, seluruh bandit terkapar tidak berdaya, “kau berurusan dengan orang yang salah, bos Liang tidak akan suka dengan ini!” Lung mencabut pedangnya dan mulai menyerang, Sai menghindari serangan itu dengan mudah, menghantam tubuh Lung hingga terjatuh dan menodongkan pedang hitamnya di leher Lung “katakan lebih banyak tentang Liang”, Lung sudah tidak bisa melakukan apa - apa.
Matahari sudah terbenam, Liang berkuda memasuki kota, lusinan mayat bandit masih berserakan dijalan. Liang turun dari kudanya, Lung keluar dari salah satu kedai dengan tubuh yang berlumuran darah “bos Liang, tolong aku” Lung terjatuh tepat di hadapan Liang “bos tolong aku, kami diserang”. Liang menghela nafas “dasar bidak” lalu menginjak kepala Lung hingga hancur, darah mengalir dengan deras.
Malam semakin larut, Sai dan Tang baru saja sampai di gunung emas. “Kalian sudah kembali ya” sambut Vivian, “aku akan melapor” jawab Sai, “sebaiknya kau menemui seseorang terlebih dahulu” Vivian menunjuk Niki yang sedang duduk didekat api unggun bersama dengan Kin. Sai berjalan menghampiri Niki “bagaimana latihanmu?” sapa Sai, Niki terkejut melihat Sai, ia langsung bangkit berdiri dan memberi hormat “senior!”, Sai tersenyum, ia mengeluarkan sebuah ikat kepala bewarna merah, ikat kepala Niki yang tertinggal sehabis pertarungan waktu itu “kau meninggalkan ini”, Niki mengambil ikat kepala itu dan memakainya “terima kasih senior”.
Pintu ruang arsip istana terbuka, Kulu baru saja membuka kunci pintu itu, ia tersenyum dengan lebar “sudah lama aku menantikan ini” lalu berjalan masuk kedalam ruang arsip. Sanji mengikuti Kulu dari belakang, ia hanya tertunduk merasa bersalah, “hei Sanji, kau seorang terpelajar, disini banyak tersimpan catatan, bacalah sesuka hatimu, aku tidak membutuhkan itu” kata Kulu, “tidak membutuhkan? Lalu untuk apa menyuruhku meminta kunci ruang arsip?” tanya Sanji bingung.
Kulu tersenyum, ia berjalan ke ujung ruangan “yang aku cari ada dibalik tembok ini” Kulu menghantam tembok itu hingga hancur, sebuah trisula emas tertancap didalam sana, “senjata Kaisar terdahulu, senjata yang dianggap terkutuk” Kulu memegang trisula itu, mengaguminya, kemudian mencabut trisula itu “trisula raja kini milikku”.