
Bab 77.
Musim dingin akhirnya datang, salju mulai turun memenuhi jalanan, kota Purnama kini dihuni seribu lima ratus bandit Naga Biru. Para bandit sedang menghangatkan tubuh mereka didekat api unggun, udara dingin bisa terasa sampai sana, termasuk Sai, Kin, dan juga Niki, mereka sedang membakar daging, mereka baru saja kembali dari menjarah salah satu desa. “Ku dengar kalian menjarah desa?” tanya Sai sembari membakar sepotong daging, Niki mengangguk sembari memakan sepotong daging, Kin hanya diam tidak menjawab, “apa kau sadar apa yang kau lakukan?” tanya Sai lagi, “berbaur, berbaur dengan para bandit, tenang saja, tidak ada penduduk desa yang terbunuh” jawab Niki masih sembari memakan sepotong daging, Sai menghela nafas “aku tidak bisa menyalakan kalian, itu memang harus dilakukan.
Di salah satu pondok, didalam hutan, Jiu sedang menghangatkan diri didekat api unggun “seharusnya kita kembali ke markas, tidak ada makanan disini, kita akan mati kedinginan”, sementara Tsam sedang mengasah pedangnya “sepertinya kali ini musim dingin datang lebih cepat, kita akan menjarah kota dan menetap disana selama musim dingin” – “apa maksud mu?” potong Jiu “ketua memerintahkan kita semua untuk kembali saat musim dingin” – “dia memberikan ku perintah yang berbeda, dan sampai sekarang aku belum menyelesaikan perintahnya” jawab Tsam masih sembari mengasah pedangnya. “Cih!” gerutu Jiu, “ada apa? Kau takut mati kedinginan di luar sana, ku kira kau juga ingin membunuh bangau merah?” celetuk Tsam, “Aku memang ingin membunuh bangau merah, begitu pula dengan Enel, tetapi dimana dia sekarang?!” Jiu menekan nada bicaranya. Tsam memasukan kembali pedangnya “jika kau ingin kembali ke markas kembalilah, aku tidak menghalangimu, aku akan ke kota terdekat” Tsam beranjak pergi meninggalkan pondok.
Salju mulai memenuhi istana, Fei sedang berdiri di loteng istana sembari menikmati teh hangat. “Jendral” Vivian datang menghampiri, “apa sudah ada kabar dari Sai?” sambut Fei, Vivian mengangguk “jumlah bandit di kota Purnama melebihi seribu”, Fei terkejut mendengar itu “seribu?”. Fei segera menuju ke ruang arsip, para jendral masih mencari informasi didalam sana, “jendral” sapa Fei “menurut mata - mataku, ada seribu bandit lebih di kota Purnama”, para jendral terkejut mendengar itu “seribu? mereka mengumpukan bandit sampai sebanyak itu?” celetuk Kumo, “apa Kaisar dan jendral besar perlu mengetahui hal ini?” tanya Kang, “tidak, tetapi jendral Cilion perlu, jika jumlah bandit sebanyak itu, kita membutuhkan pasukan mereka” jawab Sun.
Cilion kini memasuki ruang arsip “jendral” sapa Cilion, perbincangan panjang pun terjadi. “Jumlah seluruh pasukan istana adalah lima ribu, ditambah dua ratus pasukan Cahaya Fajar” Sun membuka pembicaraan “belum termasuk pasukan perbatasan, pasukan kota, dan pasukan armada laut” – “jika bicara jumlah pasukan kita lebih dari cukup, tetapi yang menjadi masalah adalah lokasi mereka” Lei membuka peta kekaisaran “untuk sekarang kita sudah mengetahui beberapa terowongan untuk menuju kota Purnama, tetapi mustahil untuk menerobos masuk melalui terowongan, kita hanya bisa menunggu mereka keluar”, Kumo menghela nafas “kota Purnama menjadi senjata utama Bulan Sabit saat peperangan, tetapi kini berbalik menyusahkan kita”.
Kazu sedang menikmati beberapa botol arak, ditemani dua ekor singa di kanan kirinya, pintu ruangan dibuka, Lilia dan Kidan masuk kedalam ruangan itu, ruangan yang hangat. Kazu bangkit berdiri, ia mencabut pedangnya, pedang berukuran besar, dengan gagang pedang terbuat dari tulang singa “jadi Zazu yang menyuruh kalian kemari? Ada apa anak haram itu mencariku?” Kazu menodongkan pedangnya, “tuan Zazu sudah mati, Naga Biru membakarnya hidup - hidup” jawab Lilia yang membuat Kazu terdiam sejenak, kemudian menghela nafas “aku selalu mengatakannya untuk ikut denganku ke Mawar Merah, ia tidak pernah mau mendengarnya, kini aku menjadi penguasa Mawar Merah, sedangkan ia mati terbakar di kekaisaran busuk itu” Kazu memasukan kembali pedangnya “lalu untuk apa kalian kemari?”.
Lilia dan Kidan mulai berlutut “kami ingin meminta tuan Singa Putih untuk membalaskan dendam tuan Zazu, kami tidak sebanding dengan Naga Biru, hanya tuan Singa Putih yang bisa membunuhnya”, Kazu tersenyum “Naga Biru ya, akhir - akhir ini aku sering mendengar namanya, apa dia sekuat itu?”, Lilia mengangguk, Kazu kembali tersenyum “menarik, memang sudah seharusnya seorang kakak membalaskan kematian adiknya meskipun ia hanyalah seorang anak haram, apa kalian tahu harus mulai darimana?” – “Kobra” jawab Lilia “dia menjual bandit pada Naga Biru, darisanalah ia mengumpulkan pasukan” – “Kobra ya” Kazu tersenyum “sudah lama aku ingin memenggal kepalanya, kini aku memiliki alasan untuk melakukan itu”.
Matahari mulai terbenam, malam semakin dingin, pembantaian terjadi di kastil Kobra, bandit Singa Putih melakukan penyerangan, mereka membunuh semua orang di kastil itu. Atlan kini sedang bertarung dengan salah satu bandit, ia adalah Bora, tangan kanan Singa Putih. Atlan terus menghujani Bora dengan tebasan pedangnya, tetapi tidak ada satu pun yang mengenai Bora, Bora terus menghindarinya dengan mudah, kini Bora mengeluarkan sebilah belati, Atlan kembali melakukan tebasan, Bora menghindarinya, menebas kaki Atlan hingga berlutut, kemudian menempelkan belatinya di leher Atlan, Atlan tidak berkutik.
“Hentikan!” Kazu berjalan menghampiri “dia petarung yang berharga, jangan dibunuh, bergabunglah dengan Singa Putih, lagipula tuan kalian hanyalah pengecut, Kobra sudah melarikan diri sejak tadi”, Bora memasukan kembali belatinya “kau beruntung”. Kini Singa Putih berjalan meninggalkan kastil Kobra “bakar kastil ini”, para bandit langsung melemparkan obor mereka, dalam sekejap kobaran api membakar kastil itu. “Bagaimana Kobra bisa melarikan diri? Kita baru saja berencana membunuhnya hari ini” celetuk Bora, Kazu tersenyum “tidak ada yang tahu, Kobra memiliki banyak mata - mata, kali ini ia beruntung”.
Di kota Purnama, “apa kau sudah gila?! Mengapa kau tidak mengatakan jika sudah membunuh Zazu?! Kini kakaknya memburuku!” Rha kini melarikan diri ke kota Purnama. Kulu memberika segelas arak “kau sudah melakukan perjalanan panjang”, Rha meminum arak itu, mulai mengatur kembali nafasnya “jika Singa Putih sudah memburu seseorang, tidak akan ada yang bisa lari darinya, kini ia memburuku, hanya dalam hitungan hari aku akan mati, jika ketua mu memang sekuat yang dirumorkan, kalian harus melindungiku” – “mengapa aku harus melindungi mu?” Kara datang menghampiri, “aku sudah memberikan mu seribu lima ratus bandit!” jawab Rha, “kau tidak memberikannya, aku membelinya” jawab Kara yang membuat Rha terdiam sejenak “aku akan membayarmu” – “apa aku terlihat seperti seorang pasukan bayaran?” tanya Kara yang membuat Rha kembali terdiam, “jangan mempertanyakan kekuatanku, aku akan membunuh Singa Putih agar kau mempercayainya” Kara beranjak pergi.