
Bab 40.
Kang dan pasukan naga berkuda keluar dari hutan, tiba - tiba Shee dan pasukan bayangan istana mencegat. Kang terkejut melihat itu “sial! Ini jebakan!” – “jangan biarkan jendral melarikan diri!” Shee memacu kudanya bersama pasukan bayangan, tetapi tiba - tiba kuda Shee tersandung jebakan, begitu juga dengan pasukan bayangan lainnya, mereka semua terjatuh dan masuk kedalam jaring rantai.
“Maaf ya, jebakan ku berhasil” Kiba duduk diatas pepohonan, “sepertinya kita selamat” kata Tang yang duduk di kereta kuda, ia bangkit berdiri dan turun dari kereta kuda menggunakan tongkat, menopang kaki kanannya yang patah “dimana terowongannya?” – “sudah tidak jauh” Kiba melompat turun dari pepohonan “mari..” kemudian beranjak pergi diikuti para pasukan naga.
Kini pasukan naga berada di depan sebuah gua kecil yang ditutupi batu, Kiba mendorong batu itu, didalam sana terpampang terowongan kecil yang hanya muat dengan berjalan kaki, “kemana ujung terowongan ini?” tanya Kang, “keluar dari perbatasan Bulan Sabit” jawab Kiba sembari menyalakan obor, “apa kau sudah gila? Kita bisa mati jika keluar dari perbatasan” kata Kang sembari turun dari kudanya, “persembunyian kita baru saja diserang, itu berarti sudah tidak ada tempat aman di kekaisaran ini” Tang juga menyalakan obor dan beranjak masuk kedalam terowongan, “cih!” gerutu Kang.
Di gunung emas, Su dan Fei masih bertarung dengan Shibaku, Su memuntahkan darah, ia terlalu banyak menggunakan tenaga dalam. Shibaku tertawa “sayang sekali ya guru, kau harus berakhir di tempat ini, mati sebagai orang biasa, sama persis seperti murid kesayangan mu” – “jaga bicara mu!” potong Fei, Shibaku kembali tertawa “Fei - Fei, kita tidak pernah menjadi murid kesayangannya, kita selalu berada dibawah Tagatha, apa kau tidak muak melihat itu? Lebih baik kita bekerjasama dan membunuhnya, bagaimana?”, Fei mengepalkan tangannya “jangan bercanda! Kau pikir siapa yang membesarkan kita!” Fei maju menyerang, ia melayangkan hantaman, begitu pula dengan Shibaku, hantaman mereka beradu, ledakan tenaga dalam yang besar terjadi, mementalkan mereka berdua dan juga menumbangkan pohon - pohon disekeliling mereka.
Fei jatuh terpental, tangan kanannya remuk akibat benturan, Shibaku juga terpental, tetapi ia tidak terluka “apa kau lupa Fei, kau tidak sekuat diriku” Shibaku tertawa. “Sudah cukup hentikan!” Su mulai memasang kuda - kuda “Fei, berjanjilah padaku, akhiri perang ini!” seketika angin kencang terjadi, sebuah lingkaran api terbentuk mengelilingi tempat pertarungan mereka, Su mengeluarkan semua tenaga dalamnya yang tersisa. “Guru! Guru bisa mati!” kata Fei, “aku harus menghentikan murid ku!” Su maju menyerang, Shibaku tersenyum, pertarungan pun terjadi.
Di sisi lain, pedang hitam Sai baru saja menusuk menembus tubuh Taka, Taka mulai memuntahkan darah. “Tidak ada yang pernah selamat dari pedang hitam” kata Sai sembari memanggil pedang hitam kembali ke tangannya, Taka kembali memuntahkan darah “dendam Taki harus ku balaskan, aku tidak boleh mati” ia jatuh berlutut, memegangi luka tusukan, tiba - tiba mata kirinya terbuka dengan sendiri, seketika burung gagak terbang keluar dari mata kirinya, kemudian burung gagak itu berubah menjadi Kuijin.
Sai terkejut melihat itu, “sepertinya sudah waktunya kau untuk mati ya Taka” kata Kuijin, “aku belum boleh mati” Taka kembali memuntahkan darah, Kuijin tersenyum “tekad mu memang besar, tetapi kau sudah tidak bisa melanjutkan pertarungan ini akan ku obati luka mu” Kuijin menyentuh Taka dengan tongkatnya, seketika Taka terhisap masuk kedalam tongkat itu.
Sai bersiap dengan pedang hitam, ia bisa merasakan jika Kuijin lawan yang jauh lebih kuat, Kuijin tersenyum “sepertinya kau pendekar yang hebat, pedang hitam tidak sembarang memilih tuannya” secara tiba - tiba Kuijin maju menyerang, ia melayangkan serangan dengan tongkatnya, Sai menangkis serangan itu dengan pedang hitamnya, Kuijin mengeluarkan tenakan yang sangat besar, hingga membuat membuat Sai tidak bisa bergerak. Kuijin tersenyum kemudian mementalkan Sai hingga menghantam pohon “sejujurnya aku masih ingin bertarung dengan pedang hitam, tetapi mungkin lain kali” seketika Kuijin menghilang.
Liang memuntahkan darah, duri - duri itu menembus tubuhnya, begitu pula dengan dua tubuh lainnya, “sepertinya jurusku yang harus mengakhiri riwayat mu” Wen menghampiri, bermaksud menebas Liang, tetapi tiba - tiba Wen memuntahkan darah, tubuhnya gemetar dan hampir terjatuh, Wen menopang tubuhnya dengan pedang. Liang tertawa “sepertinya tubuh mu sudah tidak sanggup tua bangka” Liang juga memuntahkan darah “sepertinya kita akan mati bersama”.
Di sisi lain, Niki dan Rasa bertarung hingga ke ujung tebing, Rasa berhasil memojokan Niki. Niki sudah terengah - engah, ia sudah kehabisan nafas, “akan ku akhiri pertarungan ini” Rasa maju menyerang, ia bermaksud menebas Niki dan menjatuhkannya dari tebing.
Niki yang sudah kehabisan nafas mulai memikirkan cara, serangan Rasa pun datang, Niki menghindarinya, ia berguling menjauh, kini posisi Rasa yang berada di ujung tebing, Niki langsung mengalirkan tenaga dalam ke tinjunya kemudian menghantam tanah, seketika tebing itu retak dan mulai runtuh, begitu pula dengan tempat Rasa berpijak, seketika Rasa ikut terjatuh dari tebing.
Rasa mulai memejamkan matanya, ia tersenyum “aku mengaku kalah bangau merah” gumamnya dalam hati dan menghilang bersama puing - puing yang berjatuhan. Niki mulai mengatur kembali nafasnya.
Su memuntahkan darah, Shibaku mencekik dan mengangkat tubuhnya, Su sudah tidak berdaya. “Akhirnya, saat - saat yang ku tunggu” Shibaku menghantam tubuh Su, Su memuntahkan darah, hantaman Shibaku menembus tubuhnya, sebuah lubang yang cukup besar terpampang di tubuh Su, perlahan api yang mengelilingi tempat pertarungan mereka mulai redup.
“Guru!” teriak Fei yang sudah terkapar tidak berdaya, Shibaku tertawa puas kemudian melempar tubuh Su, Fei melompat, menahan Su dengan tubuhnya sehingga tidak menghantam pohon. Shibaku masih tertawa dengan sangat puas, impiannya kini telah tercapai, tetapi tiba - tiba Niki dan Sai berlari mendekat “kakek!” mereka bermaksud menyerang Shibaku, “kalian hentikan!” teriak Fei, Shibaku masih tertawa “memangnya apa yang bisa kalian lakukan?”, Sai langsung melayangkan tebasan pedang hitam ke tubuh Shibaku, lalu Niki memasang kuda - kuda jurus delapan totokan, mengalirkan tenaga dalam ke jari - jarinya dan langsung melanjutkan serangan, satu - dua - tiga - empat - lima - enam - tujuh - delapan.
Shibaku memuntahkan darah, ia terkejut melihat jurus delapan totokan, jurus yang sama yang digunakan Tagatha saat membunuhnya waktu itu. Fei juga terkejut melihat Niki menggunakan jurus itu, jurus ciptaan dan hanya dikuasai oleh Tagatha. Sementara Su yang masih tersadar mulai tersenyum, bukan karna Shibaku sudah dikalahkan, tetapi karena melihat kedua cucunya. Perlahan Su mulai memejamkan matanya, kini ia telah meninggal dunia.