NIKI - The Lost Son

NIKI - The Lost Son
82



Bab 82.


 


Matahari mulai terbit, pasukan elang perak dan pasukan kuda hitam berhasil mengalahkan para bandit, pertempuran di kota dan benteng perbatasan utara telah selesai. Kini para pasukan yang terluka sedang diobati, dan juga mengumpulkan para pasukan yang gugur, Silvana masih duduk disamping Lei, memegang erat tangannya, airmata menetes dengan deras, kini Lei sudah tidak bernyawa, Silvana menutup mata Lei.


 


Mayat Kang juga telah ditemukan, dua orang pasukan membawanya menggunakan tandu, Vin terdiam melihat itu “siapkan altar, kita akan membakar mayat mereka”. Sementara itu, Darius mulai sadarkan diri, tubuhnya diikat rantai, beberapa pasukan menjaganya, tak jauh darisana, Ao sedang mengobati kaki kanan Sin “bagaimana kau mengalahkannya?” – “obati saja, jangan banyak bertanya!” gerutu Sin sembari menahan sakit.


Kini kota perbatasan utara telah hancur, Yao membantu para pasukan untuk merapikan reruntuhan, hingga tiba-tiba seekor anjing hitam berlari mendekat, kemudian anjing hitam itu berubah menjadi Cilion, ekspresinya berubah saat melihat keadaan disana “ternyata terlambat ya..”.


 


Di kota Purnama, Kara baru saja selesai bermesraan dengan Akari, tiba-tiba terdengar kegaduhan dari luar. Kulu baru saja kembali ke kota Purnama, ia turun dari kudanya, segera menghampiri Rha, kemudian mencekiknya “ini semua pasti ulah mu, kau mengkhianati kami!”.


 


Kara memakai kembali pakaian dan topengnya, berjalan keluar dari kamarnya “ada apa ini?!”, Kulu masih mencekik Rha “pasukan istana tiba-tiba datang dan mengalahkan para bandit, dia membocorkan rencana kita, ide untuk menyerang tembok utara hanyalah jebakannya” Kulu mencekik lebih kencang, Rha mulai kehabisan nafas, “lepaskan dia!” perintah Kara, Kulu pun terdiam sejenak, kemudian melepaskan cekikannya.


Rha kembali mengatur nafasnya “aku tidak melakukan apa-apa” – “banyak bicara!” Kulu melayangkan pukulan menghantam wajah Rha hingga terjatuh, Kara memperhatikan sekitar “dimana yang lain?”, Kulu terdiam sejenak, kemudian menggeleng “kita kehilangan seratus bandit, begitupula Taka dan juga Darius”.


Akari terkejut mendengar itu, ia segera memakai kembali pakaiannya dan berlari keluar “apa yang terjadi dengan Darius?!”, Kulu tertunduk “aku tidak tahu, kemungkinan dia ditangkap” – “Taka?” tanya Kara, “Taka terbunuh” celetuk Dae “jendral Yao memenggal kepalanya, aku melihatnya sendiri”. Kara terdiam mendengar itu, ia mulai mengepalkan tangannya “kau melihatnya sendiri? Lalu mengapa kau tidak membunuh jendral sialan itu?” Kara menyemburkan api biru dari tangan kanannya, dalam sekejap kobaran api biru membakar Dae hingga menjadi abu, semua orang terkejut melihat itu.


Kara berjalan menghampiri Rha, mengeluarkan api biru di tangan kanannya “sekarang katakan padaku yang sebenarnya?”, Rha mulai gemetar “aku tidak tahu.. aku sama sekali tidak tahu.. kumohon..” kaki Rha mulai lemas, Rha pun terjatuh, ia mulai menyeret mundur tubuhnya “kumohon.. kumohon.. aku sama sekali tidak tahu”, Kara memadamkan api biru di tangan kanannya “aku percaya padanya” kemudian beranjak pergi masuk kembali kedalam kamar diikuti Akari.


 


Kobaran api mulai membakar altar, benteng perbatasan utara kini sedang melepas kepergian para korban pertempuran semalam, mereka semua tertunduk. “Ao, sampaikan berita ini pada istana” perintah Yao, Ao mengangguk dan beranjak pergi.


 


Burung pengantar pesan hinggap di istana, kini para jendral mengadakan pertemuan, mereka semua tertunduk “jendral Kang dan jendral Lei, mereka telah gugur mempertahankan tembok utara” Sun memberikan kabar, Fei terdiam sejenak “meskipun mereka telah gugur, pasukan kuda hitam dan pasukan elang perak, mereka masih hidup, pemimpin pasukan selanjutnya harus segera ditentukan”, Kumo menghela nafas “kali ini aku sependapat dengan jendral Fei, kita harus tentukan sekarang”, Sun mengangguk “aku akan menyampaikan ini pada jendral besar dan juga Kaisar” kemudian beranjak pergi.


Hari berlalu, salju tebal mulai memenuhi halaman istana, pintu gerbang istana dibuka, pasukan elang perak dan kuda hitam telah kembali, kepala mereka tertunduk. “Kami turut berduka atas kematian jendral kalian” Khan berjalan keluar dari istana, para pasukan langsung memberi hormat, Khan tersenyum “Silvana dan Vin, kemarilah”, Silvana dan Vin datang menghampiri, kemudian kembali memberi hormat “kasiar!”, Khan menepuk pundak mereka “kalian adalah tangan kanan Lei dan juga Kang, mulai sekarang kalian meneruskan kepemimpinan mereka”, Silvana dan Vin terkejut mendengar itu, mereka menengokan wajah mereka kearah para pasukan, para pasukan langsung memberi hormat “jendral!”.


Di dalam hutan, Kini Kulu sedang menjernihkan pikiran, ia memanah, lusinan anak panah sudah ditembakannya, semua anak panah itu menancap di batang pohon yang sama. Tidak beberapa lama, Mei berjalan keluar dari dalam gua, menghampiri Kulu yang masih memanah, Mei memeluknya dari belakang “kau bilang kita akan punya waktu bersama selama musim dingin”, Kulu terdiam sejenak, menaruh busur panahnya, membalikan badan dan mengecup bibir Mei, mereka mulai berciuman.


“Masuklah kedalam, diluar begitu dingin” kata Kulu sembari mengambil busur panahnya “aku akan berada disini lebih lama”, Mei mengelus perutnya, Kulu terdiam sejenak, Mei tersenyum dan mengangguk “kau mempunyai keturunan”, Kulu terkejut mendengar itu, ia mulai tersenyum lebar, kemudian memeluk Mei erat.


Di salah satu kota tak jauh darisana, Kara berkuda memasuki kota diikuti Akari, mereka menuju ke salah satu rumah pandai besi. Kara turun dari kudanya, berjalan masuk kedalam rumah pandai besi itu, “ada perlu apa tuan?” sambut Jung, Kara menaruh sekantung kepingan perak “buatkan aku sepasang cerurit, dan pastikan cerurit itu tidak bisa patah”. Jung mengambil kantung perak itu, kemudian menghitungnya “tentu saja, aku bisa saja membuatkan cerurit dari perunggu, tidak akan patah, tetapi bayaran mu tidak cukup”, Kara memberikan sekatung lagi “apa ini cukup?”, Jung mengambil kantung itu, ia terkejut saat melihat kepingan emas didalamnya, Jung tersenyum lebar “tentu saja ini cukup”.


Kara berjalan keluar dari rumah besi, Akari masih duduk diatas kuda “ku kira kau tidak memerlukan senjata”, Kara naik keatas kuda “aku membutuhkannya untuk pertempuran selanjutnya” Kang memacu kudanya diikuti Akari, berkuda meninggalkan kota.


Di kota Purnama, Niki dan Kin sedang menghangatkan diri di dekat api unggun, Zeo datang menghampiri “aku membawakan kalian ini” Zeo memberikan sebotol arak, “darimana kau mendapatkannya?” tanya Kin, “aku membelinya di kota, anggap saja ucapan terima kasih untuk tempo hari” jawab Zeo, Niki mengambil botol arak itu, kemudian meminumnya “kita impas”, Zeo tertawa kecil “hadiah ku belum selesai” – “apa maksudmu?” tanya Kin, Zeo tersenyum “apa kalian pernah bermesraan dengan perempuan?”.


Malam itu Zeo membawa Niki dan Kin ke rumah bunga, menghangatkan malam disana, kini Zeo dan Kin sedang bermesraan dengan perempuan di kamar mereka masing-masing. Di salah satu kamar, Niki hanya duduk di pinggir jendela sembari menghisap cerutunya, seorang perempuan duduk di ujung ruangan, ia bernama Mia. “Apa kau tidak akan menyentuhku?” tanya Mia, Niki hanya membalas senyum, mengeluarkan sekantung perak, menaruhnya di pinggir jendela, kemudian melompat keluar jendela, Mia hanya terdiam bingung.