NIKI - The Lost Son

NIKI - The Lost Son
84



Bab 84.


 


Niki mulai sadarkan diri, tubuhnya luka-luka akibat tertimpa reruntuhan, kaki kirinya tertimpa pohon. Dari kejauah beberapa bandit berkuda mendekat, salah satu dari mereka adalah Kara. Kara turun dari kuda, berjalan kearah reruntuhan, Kara menghembuskan tenaga dalam, seketika pohon-pohon yang tumbang tertiup cukup jauh, para bandit masih tidak sadarkan diri, termasuk Rha.


 


Niki berusaha beranjak pergi, tetapi kaki kirinya hancur, darah mengalir dengan deras, ia sama sekali tidak bisa merasakan kaki kirinya. Kara berjalan menghampiri Niki “bangau merah, tidak kusangka kau malah mendatangiku” Kara mengangkat lengan kiri Niki, Niki sudah tidak berdaya, Kara melihat keadaan Niki, ia tertawa kecil, kemudian meremas lengan kiri Niki hingga remuk, Niki berteriak sangat kencang.


Kara tertawa puas, kemudian menjatuhkan Niki ke tanah, Kara melihat pedang bunga tergeletak tak jauh, ia mengambil pedang bunga, mencabut pedang bunga dari sarungnya “bahkan kau memiliki pedangnya” Kara menyambarkan api biru membakar pedang bunga, tidak butuh lama, kobaran api biru mulai melelehkan pedang bunga, Niki geram melihat itu, tetapi ia tidak bisa menggerakan tubuhnya. Kara tertawa semakin kencang “kau akan kubiarkan mati membeku disini, putra Tagatha” Kara kembali naik keatas kuda, berkuda pergi membawa para bandit yang masih tidak sadarkan diri.


Kini Niki mulai menyeret tubuhnya menggunakan tangan kanan, darah dari kaki kirinya masih mengalir, tubuhnya juga sudah mulai membeku, pandangannya sudah mulai buram. Tidak beberapa lama, sama-samar terlihat seorang laki-laki berlari kearah Niki, “Niki! Niki!” tak lain adalah Zeo.


 


“Kaki kirinya tidak bisa disembuhkan, kita harus mengamputasinya, maafkan aku.. tetapi dia sudah tidak bisa menjadi pendekar lagi” samar-samar suara terdengar, Niki masih tidak sadarkan diri.


 


Beberapa hari berlalu, Niki mulai sadarkan diri, lengan kirinya masih dibalut perban, begitu pula dengan kaki kirinya yang tersisa. Niki berusaha bangkit berdiri, tetapi ia terjatuh, ia tidak bisa merasakan kaki kirinya. Mendengar kegaduhan, Kin segera masuk kedalam ruang pengobatan “Niki!” Kin membantu Niki kembali ke tempat tidur “jangan bergerak dulu”. Kini Niki telah dibawa kembali ke istana, “bagaimana dengan ketua Sai?” tanya Niki, “semua baik-baik saja” jawab Kin, Niki terdiam sejenak saat melihat kaki kirinya, Kin ikut terdiam, “berapa lama aku tidak sadarkan diri?” tanya Niki lagi, “lima hari” jawab Kin.


Musim dingin mencapai puncaknya, setiap hari Niki habiskan dengan duduk dikursi roda di loteng istana, memperhatikan salju sembari menghisap cerutu. “Aku belum sempat ucapkan terima kasih” Sai datang menghampiri, membawakan sebotol arak “kudengar sekarang kau suka minum arak” Sai memberikan botol arak itu, Niki tersenyum kecil, meminum arak itu. Hari itu Sai menemani Niki berbincang di loteng istana, tidak beberapa lama, Fei datang menghampiri “Niki, ada yang ingin bertemu dengan mu”, Bao berjalan dibelakang Fei, Niki terkejut saat melihat Bao “guru”.


 


Kini Bao mendorong kursi roda Niki berkeliling istana. “Guru, ada yang ingin kutanyakan” Niki membuka pembicaraan, “katakan saja” jawab Bao masih sembari mendorong kursi roda Niki, “guru pernah mengatakan jika aku mirip dengan teman lama guru, apa dia bernama Tagatha?” tanya Niki yang membuat Bao terdiam sejenak, “orang yang menyerangku, dia memanggilku dengan sebutan putra Tagatha” lanjut Niki, Bao masih terdiam “apa kau ingin mendengar tentangnya?”, Niki menggeleng.


 


Matahari mulai terbenam, Kin memapah Niki berjalan memasuki ruang makan, Niki masih membiasakan diri berjalan menggunakan kaki buatannya, masih menggunakan tongkat untuk memapahnya, dari kejauhan Pingping memperhatikan itu semua. Di kandang kuda, Bao sedang mempersiapkan kudanya, “apa kau tidak akan berpamitan dengannya?” Fei datang menghampiri, Bao tersenyum “belum saatnya” Bao naik ke atas kuda, kemudian berkuda pergi.


 


Musim dingin hampir berakhir, Niki sudah mulai terbiasa berjalan menggunakan kaki palsu, sudah tidak membutuhkan tongkat untuk memapahnya. Hari itu Pingping sedang berlatih memanah, lusinan anak panah sudah ditembakan, “sedang berlatih?” Niki datang menghampiri, Pingping terdiam sejenak saat melihat Niki, kemudian langsung memeluk Niki, air mata mulai menetes “kau selalu saja memaksakan diri”, Niki mulai tersenyum “terima kasih”. Kini Niki mengambil busur panah “aku sudah tidak bisa bertarung seperti dulu, sepertinya kau harus mengajariku memanah”, Pingping mulai tersenyum.


Hari yang tenang di Cahaya Fajar, matahari bersinar terang. Tiba-tiba suara teriakan terdengar dari kamar Rades, mendengar kegaduhan para pasukan langsung berlarian ke kamar Rades, kini Rades terkapar di lantai kamarnya, mulutnya mengeluarkan busa. Kini para petinggi Cahaya Fajar mengadakan pertemuan di ruang singgasana, pintu ruangan dibuka, Harl berjalan masuk kedalam ruang singgasana, semua mata tertuju padanya.


 


Harl berjalan menuju kursi takhta, bermaksud duduk disana, Kasim bangkit berdiri “jangan berani-beraninya kau duduk di kursi itu!” bentak Kasim, Harl tertawa kecil, kemudian duduk di kursi takhta “setahuku, penerus takhta ini adalah aku”, Kasim geram mendengar itu “Kaisar belum mati! lagi pula kita semua tahu siapa dalang dibalik ini!”, Harl kembali tertawa kecil, menuang segelas arak “benarkah begitu? Lalu siapa dalang dibalik ini?” Harl meminum arak itu.


Kasim semakin geram “pasukan, tangkap pangeran!”, tetapi tidak ada satupun pasukan yang beranjak, “tangkap pengkhianat ini! dia yang meracuni Kaisar!” perintah Kasim, tetapi lagi-lagi tak ada satupun pasukan yang beranjak, Harl mulai tertawa “sepertinya disini kau pengkhianatnya Kasim, gelar Honora mu kucabut, posisi kepala pendeta kuberikan kepada Khel, tangkap dia!”.


Para pasukan langsung beranjak menangkap Kasim, Kasim pun mulai memberontak “tujuh kematian, tolong aku! ingat jasa Kaisar pada kalian! dia telah berkhianat! bunuh dia!”, Galahad mulai bangkit berdiri, berjalan kehadapan Harl, kemudian berlutut memberi hormat “Galahad Honora siap melayani Kaisar”, tujuh kematian mulai bangkit berdiri dan memberi hormat, Kasim terkejut melihat itu, Harl tertawa puas.


 


Kini Harl naik kesalah satu armada kapal, diikuti tujuh kematian dibelakangnya, juga Bron, Jee, dan Lou. Tiga ratus armada kapal sudah bersiap, Harl membawa tiga puluh ribu pasukan, Harl mencabut pedangnya “kita akan menaklukan seribu kekaisaran, kita akan memulainya dari Bulan Sabit!”, para pasukan mulai bersorak, jangkar kapal mulai dinaikkan, layar kapal mulai terbuka, tiga ratus armada kapal berlayar meninggalkan pelabuhan Cahaya Fajar.