NIKI - The Lost Son

NIKI - The Lost Son
26



Bab 26.


 


Api mulai melahap lumbung makanan, kuda - kuda pun terlepas dari kandang dan berlarian bebas, kepanikan mulai terjadi didalam benteng. Kong sedang bermesraan dengan para gadis, suara ricuh terdengar hingga ke kamarnya, Kong pun bangkit berdiri, memakai kembali pakaiannya dan berjalan keluar “ada apa ribut - ribut?!” – “maaf tuan, lumbung makanan terbakar” lapor salah satu anak buahnya. Shibaku juga keluar dari dalam kamarnya, lumbung yang terbakar terlihat dari sana, ia segera menuju ke ruangan Oto, ia tahu jika kebakaran lumbung terlihat janggal. Oto masih berbicara dengan Valir diruangannya, suara riuh juga terdengar sampai sana, “sepertinya terjadi sesuatu” kata Valir, Oto merasakan kedatangan Shibaku “ada yang datang!”, Valir segera melompat keluar jendela.


Shibaku masuk kedalam ruangan, Oto baru saja menyembunyikan gulungan yang diberikan Valir, “tuan Shibaku, saya sudah mengamankan gulungan rencana” Oto memberikan gulungan lain, Shibaku mulai curiga dengan gerak - gerik Oto, ia mengambil gulungan itu “sebaiknya bantu selesaikan masalah di lumbung” perintah Shibaku, “saya mengerti!” Oto beranjak pergi.


Kini hanya Shibaku diruangan itu, ia melihat - lihat sekitar, mencari sesuatu yang janggal tetapi tidak menemukannya, Shibaku kembali menaruh gulungan rencana diatas meja dan pergi meninggalkan ruangan. Sai masih bersembunyi di ujung ruangan, tidak ada yang menyadari kehadirannya, Sai segera mengambil gulungan rencana dan melompat keluar jendela.


Niki sudah menunggu di luar benteng bagian timur, Sai melompati tembok benteng dan duduk tepat diatas kudanya, “senior lama sekali” sapa Niki kemudian memacu kudanya pergi diikuti Sai.


Matahari kembali terbit, kebakaran di Tebing Langit sudah padam. Para pasukan sedang memberi laporan kepada Shibaku dan Kong, “maaf tuan, ternyata kebakaran ini disebabkan oleh tahanan yang kabur” lapor salah satu pasukan, “mereka juga melepaskan semua kuda milik kita” lanjut pasukan lain, “dan yang terparah penyimpanan makanan kita habis total, kita sudah tidak memiliki makanan” timpal pasukan lain.


Shibaku menghela nafas “aku tidak ada waktu untuk mengurus hal bodoh seperti ini” lalu beranjak pergi meninggalkan Kong disana, “siapa tahanan yang kabur itu?” tanya Kong, “Sai si anak iblis” jawab Kara dari ujung ruangan, Kong tampak kesal mendengar nama itu “seharusnya aku membunuhnya!” Kong mengepalkan tangannya, “biar kami yang urus” Taka - Taki menghampiri, “aku masih punya urusan dengannya” Taka menunjuk mata kirinya yang tertutup dan meninggalkan bekas tebasan, “kejar dengan pasukan yang kita punya dan bawa kepalanya kehadapanku!” perintah Kong, Taka - Taki mengangguk kemudian beranjak pergi.


Shibaku kini berada di ruangan Oto, gulungan rencana yang semalam ditaruhnya diatas meja sudah menghilang, Shibaku tampak geram.


Matahari sudah sampai di puncak, Sai dan Niki baru saja memasuki salah satu kota, mereka memutuskan untuk istirahat sejenak. Tidak jauh dari sana Taka - Taki kini sedang berkuda bersama selusin pasukan, termasuk Lou dan anak buahnya, Taka - Taki mengandalkan indra penciuman mereka untuk mengejar Sai dan Niki.


Sai dan Niki kini berada di sebuah penginapan, Sai sedang membalut luka - luka bekas pertarungan yang lalu “kita sebisa mungkin harus menghindari pertarungan, luka ku belum pulih” kata Sai sembari tetap membalut luka - lukanya, “aku memang tidak pernah menginginkan pertarungan” jawab Niki sembari menghisap cerutunya, “sejak kapan kau menghisap cerutu?” tanya Sai, “petapa gemuk yang memberikannya padaku” jawab Niki sembari tetap menghisap cerutunya, Sai tersenyum “jadi itu sebutannya sekarang”.


Matahari hampir terbenam, beberapa penjahat mulai berkeliaran di jalanan kota, Sai memperhatikan itu semua dari jendela penginapan. “Sepertinya kota-kota semakin tidak aman saja” kata Sai yang masih memperhatikan keluar, “pasukan istana sudah tidak pernah terlihat di kota” timpal Niki, “istana bukan lagi tempat yang aman” jawab Sai, “tetapi pasukan naga tidak akan cukup untuk membendung semua kota” lanjut Niki, “jika ingin menangkap ular, tangkap kepalanya” jawab Sai lagi.


Gerombolan pasukan berkuda mulai memasuki kota, mereka adalah Taka-Taki dan pasukannya, seketika jalanan kota menjadi ricuh karna kedatangan mereka. “Sepertinya mereka sudah disini” kata Sai sembari mengambil pedang hitamnya, “kita harus mencari rute melarikan diri” Niki melihat keluar jendela, “tidak ada pilihan lari, Taka-Taki yang mengejar kita, mereka yang terbaik dalam hal pengejaran” Sai memasukan pedang hitamnya “kita bertarung jika harus bertarung”.


 


Lou turun dari kudanya “dia urusanku” kata Lou sembari menunjuk Niki, “terserah, kalian jangan ganggu mangsaku!” Taka mencabut pedangnya dan maju menyerang, Sai juga mencabut pedang hitamnya, menahan serangan Taka, pertarungan terjadi. “Dulu aku pernah menghajarmu, sekarang aku akan membunuhmu” Lou mencabut pedangnya, Niki tersenyum “kebetulan, aku ingin mencoba jurus baruku, kehormatan bagimu menjadi korban pertama” – “cih!” Lou tampak kesal dan maju menyerang, Niki menangkis serangan Lou, Lou terus menghujani Niki dengan serangan.


Hingga satu titik Niki melihat celah, ia pun mengalirkan tenaga dalam ke kerambitnya dan menebas Lou, Lou menghindari kerambit itu, tetapi sebuah tebasan tetap mengenai tubuhnya, Lou pun terjatuh. Lou terkejut, ia seperti ditebas oleh angin, ia berusaha bangkit berdiri tetapi kembali terjatuh, tebasan yang mengenainya cukup dalam.


“Bos!” Kako dan pasukan lainnya mengeluarkan senjata mereka dan maju menyerang Niki, tetapi dalam sekejap mereka semua berhasil dijatuhkan. Taki geram melihat itu “kalian tidak berguna! biar aku yang urus!” Taki mencabut pedang kembarnya dan maju menyerang Niki, Niki menghindarinya serangannya, pertarungan pun terjadi.


Matahari sudah terbenam, pertarungan di jalanan kota masih terjadi. Taka berhasil menekan Sai, luka - luka ditubuh Sai kembali terbuka, Taka tertawa “sepertinya luka - lukamu belum sepenuhnya pulih”, Sai hanya bisa diam menahan sakit. Disisi lain pertarungan Taki dan Niki berjalan seimbang, tetapi nafas Niki sudah mulai terengah - engah dan Taki mengetahui itu, Taki langsung maju menyerang menekan Niki, ia tidak membiarkan Niki menarik nafas terlebih dahulu.


Taki terus menekan Niki, Niki mulai terpojok, pada satu titik Niki sudah kehilangan tenaga, ia tidak akan bisa menghindar lagi, Taki pun bermaksud untuk menebas Niki dan mengakhiri pertarungan, dengan sisa tenaga Niki mengalirkan tenaga dalam ke tinjunya dan menghantam tanah tempat ia berdiri, tanah disekitarnya retak dan getarannya menghempaskan Taki. Taki jatuh terkapar, ia sama sekali tidak menduga jika Niki akan melakukan itu “sialan!” Taki bangkit berdiri “aku lengah, tetapi serangan tadi tidak ada artinya, kau tetap akan mati!” Taki bersiap untuk menyerang, Niki sudah semakin terengah - engah, kini ia mulai memikirkan rencana dengan sisa tenaga yang ia punya.


Taki maju menyerang, ia bermaksud untuk mengakhiri dengan sekali serangan, tetapi Niki melemparkan bubuk asap, bubuk asap itu menghalangi pandangan Taki “bajingan kau, takkan kubiarkan kabur!” Taki menebas - nebaskan pedangnya membabi buta, “aku tidak kabur!” seketika Niki berada dibelakang Taki, Taki tampak terkejut, ia bermaksud menyerang kebelakang, tetapi Niki sudah mengalirkan tenaga dalam ke tinjunya dan menghantam telak Taki, Taki pun terpental cukup jauh hingga menghancurkan salah satu kedai. Taki jatuh tergeletak, ia memuntahkan darah, tubuhnya hancur tertimpa reruntuhan. Niki mulai kehilangan tenaga dan ikut jatuh tergeletak.


Disisi lain pertarungan, Sai mulai kehabisan darah, lukanya yang terbuka cukup besar, darah mengalir dengan deras. Taka tertawa “kita lihat berapa lama kau akan kehabisan darah” Taka maju menyerang, ia melemparkan rantainya mengikat lengan Sai dan menariknya mendekat kemudian melakukan tebasan, pedangnya telak menebas tubuh Sai, Sai jatuh tergeletak berlumuran darah, ia sudah kehabisan darah. Taka kembali tertawa “tidak kusangka anak iblis akan mati di tanganku” Taka bermaksud menusuk Sai.


Dari kejauhan Niki berusaha bangkit berdiri, pandangannya berbayang, ia bermaksud menolong Sai, sudah tiga kali ia melepaskan tenaga dalam, tetapi ia tidak mempunyai pilihan lain, Niki mulai mengalirkan tenaga dalam ke kakinya dan menginjakan tanah tempat ia berdiri, seketika getaran besar dan retakan tanah terjadi.


Taka yang bermaksud menusuk Sai kehilangan keseimbangan akibat getaran itu, Sai melihat peluang dan langsung bangkit berdiri menusuk tubuh Taka, pedang hitamnya menembus tubuh Taka, Taka mulai memuntahkan darah, “aku tidak bisa membiarkanmu hidup” Sai mencabut pedangnya, Taka jatuh tergeletak dengan darah yang mengalir deras, perlahan ia mulai kehilangan kesadaran. Sai yang sudah kehabisan darah ikut jatuh tergeletak, begitupula dengan Niki, ia memuntahkan darah dan jatuh tergeletak tidak sadarkan diri, hujan mulai turun mengguyur kota itu.