NIKI - The Lost Son

NIKI - The Lost Son
76



Bab 76.


 


Hari yang tenang di istana, Lam kini dikurung disebuah ruangan, dijaga oleh dua orang pasukan istana. Pintu ruangan dibuka, Lei berjalan masuk sembari membawa senampan makanan “makanlah” Lei menaruh nampan makanan itu, “mengapa aku tidak dikurung di sel bawah tanah?” tanya Lam, Lei tersenyum “kau berjasa memberikan informasi, makanlah sebelum makanan ini dingin” Lei beranjak pergi.


 


Kini Lei berjalan kembali ke ruang arsip, para jendral menghabiskan kebanyakan waktu mereka disana, “jendral” sapa Lei, “kita sudah mengumpulkan semua informasi dari bandit yang kau tangkap” Sun mengeluarkan selembaran wajah seseorang “ini adalah orang yang membantu Naga Biru, ia dikenal dengan julukan Kobra” – “ia adalah penjual budak yang cukup terkenal, beberapa kekaisaran menjadikannya buronan, tetapi ia berada dibawah perlindungan Singa Putih, tidak ada yang bisa menyentuhnya” sambung Kang, Lei terdiam sejenak “jadi kita juga tidak bisa menyentuhnya?”, Fei menghela nafas “sayangnya, orang yang memiliki kemampuan setara dengan Singa Putih sudah tewas”. Lei masih terdiam “tetapi ini satu-satunya kesempatan kita untuk menghentikan Naga Biru, sebagian besar bandit Naga Biru berasal dari Kobra”, para jendral terdiam sejenak “bagaimana jika kita mengirimkan mata-mata ke Mawar Merah?” celetuk Kumo, “terlalu beresiko, mereka hanya akan menjadi mayat disana” jawab Sun, “sebenarnya kita sudah mempunyai mata-mata” kata Kang yang membuat para jendral terdiam. “Maksud jendral?” tanya Kumo, Kang menghela nafas “jendral Lin pernah mengirim mata-mata untuk masuk ke dalam komplotan Zazu, jika informasinya benar, Naga Biru meminta pertolongan Zazu untuk memindahkan para bandit dari Mawar Merah ke Bulan Sabit, itu berarti mata-mata kita juga bisa masuk ke Mawar Merah, yang menjadi pertanyaan adalah, apakah dia masih berpihak pada istana setelah kematian kakaknya?”, Sun terdiam sejenak “siapa namanya?” – “Vin” jawab Kang.


Tiga hari berkuda, kini Vin berkuda keluar dari terowongan diikuti Kara, Kulu, dan juga Akari, mereka keluar dari lubang selokan yang cukup besar, mereka telah sampai di Mawar Merah. “Tuan Kobra sudah menunggu” sambut anak buah Kobra, mereka semua membawa tameng dan juga pedang, layaknya pasukan yang terlatih. Vin, Kara, Kulu, dan juga Akari dibawa ke sebuah kastil megah di kota bagian dalam Mawar Merah, mereka berjalan memasuki kastil itu, para pelayan perempuan dengan pakaian minim menyambut mereka “mari kami antarkan, tuan Kobra sedang menyaksikan pertarungan”.


Sebuah arena pertarungan dibangun didalam kastil itu, para bandit dengan antusias menyaksikan pertarungan di arena itu “Atlan! Atlan! Atlan!” teriak para bandit, mereka sedang menyaksikan pertarungan antara manusia melawan dua ekor beruang. Seorang laki-laki berbadan kekar, berkulit hitam, dan tanpa sehelai rambut, ia bernama Atlan, kini ia sedang berhadapan dengan dua ekor beruang, bermodalkan sebilah pedang. Dari balkon kastil, seorang laki-laki paruh baya, berambut panjang dan berjenggot tebal, dengan antusias menyaksikan pertarungan, ia bernama Rha, atau lebih dikenal dengan julukan Kobra. Salah seorang pelayan perempuan menghampiri “tuan, tamu anda sudah datang” – “bawa mereka kemari” jawab Rha sembari meminum segelas arak. “Tuan Kobra, lama tidak berjumpa” Kulu berjalan menghampiri diikuti Kara, Akari, dan juga Vin, “ah Kulu, lama tidak berjumpa” sambut Rha “duduklah, saksikan pertarungannya, salah satu petarung terkuat ku sedang bertarung”. Atlan bertarung dengan sangat berani, kekuatannya jauh lebih kuat dari pada seekor beruang, ia baru saja menebas leher salah satu beruang, kemudian mematahkan leher beruang satunya lagi, para bandit pun berteriak antusias “Atlan! Atlan! Atlan!”.


 


Rha meminum araknya “sepertinya kalian pembeli yang serius, aku menyukai itu, tetapi menyiapkan seribu bandit dalam waktu yang singkat, sepertinya itu tidak mungkin, untuk sekarang aku hanya bisa memberikan tiga ratus bandit”, Kulu mengeluarkan sebuah kotak berisi selusin batangan emas “jika kau tidak memiliki bandit, bagaimana jika kami membeli pasukan bayaran mu?”, Rha tertawa kecil “pasukan bayaranku? Mereka kubeli dari kekaisaran yang sangat jauh, mereka tidak kujual”, Kulu tertawa kecil “kau adalah seorang pedagang, apa kau tidak tetarik dengan batangan emas ini?”.


Rha tersenyum “kau tahu bagaimana caranya menawar” Rha mengambil salah satu batangan emas “satu batang emas ini bisa untuk membeli Atlan, kau sudah melihat sendiri kekuatannya”, Akari tertawa kecil “dia memang kuat, tetapi cara bertarungnya sangat buruk, aku bisa mengalahkannya”, Rha kembali tersenyum “aku tidak meragukan itu”. Kara bangkit berdiri “kirimkan semua bandit yang bisa kau kirimkan, aku tidak suka negoisasi yang terlalu lama” Kara beranjak pergi, diikuti Akari, Kulu tersenyum “ketua kami memang tidak suka berlama - lama, kau bisa menyelesaikan pembeliannya denganku” Kulu meminum araknya.


Perbincangan pembelian menuju kata sepakat, sebuah gulungan pembelian terpampang diatas meja, Kulu menyayat lengannya, kemudian menetaskan darahnya di gulungan itu. Rha tersenyum “dengan ini kita sepakat, lima ratus bandit akan dikirimkan sebelum musim dingin”, Kulu meminum araknya “terima kasih atas kerjasamanya”, Rha ikut meminum araknya “sebenarnya bukan urusanku untuk ikut campur, tetapi mengapa kalian membeli bandit dalam jumlah yang sangat banyak, apa yang akan kalian lakukan? Meratakan kota?”, Kulu tersenyum “apa menurutmu seribu lima ratus banditmu hanya bisa untuk meratakan kota? Kami akan meratakan kekaisaran” kata Kulu yang membuat Rha terdiam sejenak “jika aku tidak salah, kalian berasal dari Bulan Sabit bukan? Apa kalian yakin bisa meratakan Bulan Sabit hanya dengan menggunakan bandit? Lusinan Kekaisaran sudah pernah mencoba merobohkan Bulan Sabit selama ratusan tahun, tetapi tidak pernah ada yang berhasil”, Kulu tertawa kecil “aku hampir berhasil melakukan itu, kali ini aku akan mencobanya lagi”, Rha tersenyum, menuangkan segelas arak “aku yakin kau akan melakukannya, aku akan bersulang untukmu” Rha meminum araknya diikuti Kulu.


Kulu baru saja keluar dari ruangan Rha, Rha kembali meminum araknya, ia mengambil secarik kertas, menulis pesan, dan menerbangkan seekor burung pengantar pesan. “Apa tuan mempercayai mereka?” seorang pelayan yang bernama Shae masuk kedalam ruangan, membawakan sebotol arak, kemudian menuangkannya, Rha tersenyum, meminum araknya “aku mempercayai semua pembeliku, asalkan mereka membayarku dengan harga yang tepat”, Shae tersenyum, duduk di pangkuan Rha, membelai tubuh Rha “lalu bagaimana dengan mereka? Kudengar mereka membeli seribu lima ratus bandit darimu”, Rha kembali tersenyum “ya, itu benar, mereka juga membayar dengan harga yang bagus” Rha mengambil salah satu batang emas “kau menyukainya?”, Shae mengangguk, Rha memberikan batang emas itu pada Shae “untukmu”, Shae tersenyum lebar “terima kasih tuan, anda sangat murah hati”.


Di kota Purnama, Niki sedang bersantai sembari menghisap cerutu, Kin sedang membakar beberapa potong daging. “Ternyata kalian disini” Zeo datang menghampiri “dimana Sai?” – “aku tidak melihatnya sejak tadi” jawab Kin sembari masih membakar daging “memangnya ada apa?” – “aku ingin mengajak kalian untuk merampok ke kota, aku sedang mengumpulkan orang” jawab Zeo yang membuat Kin terdiam sejenak “merampok kota?” – “ada apa? Memang itu kan pekerjaan kita?” tanya Zeo bingung, “aku ikut” jawab Niki yang membuat Kin terkejut “baiklah aku juga ikut”.