NIKI - The Lost Son

NIKI - The Lost Son
36



Bab 36.


 


Matahari sudah sampai dipuncak, hari yang tenang di istana, tiba - tiba suara teriakan terdengar dari ruang jendral armada laut. “Apa maksud mu jika aku tidak bisa bertemu dengan Kaisar?!” Roku memukul meja hingga hancur, “maafkan saya jendral, tetapi Kaisar tidak ingin diganggu” jawab Toro dengan gemetar, “sudah begitu lama berlayar dilautan dan kembali tanpa sambutan, apa kau sedang bercanda?!” Roku menekan nada bicaranya.


“Sebaiknya jendral Roku menuruti perintah Kaisar” Kulu masuk kedalam ruangan, “kau berani bicara padaku?!” Roku semakin kesal melihat kehadiran Kulu. “Kita sama - sama memiliki peringkat jendral, aku menghormati mu, tetapi jika sudah menyangkut perintah Kaisar, aku tidak akan membiarkan mu bertingkah lebih jauh lagi!” Kulu menekan nada bicaranya, mendengar itu Sun langsung mengeluarkan gadah kembarnya dan menodongkan kearah Kulu “sebaiknya kau jaga bicara mu dengan jendral Ruko” – “bukankah lebih baik kita duduk minum teh?” Kumo menuangkan teh mencairkan suasana.


“Aku tidak suka jendral penjilat seperti mu Kulu, jadi sebaiknya kau tidak usah bicara denganku!” Ruko beranjak pergi diikuti Sun. Kumo menghela nafas “sebaiknya jendral tidak perlu memasukan ke hati” Kumo menawarkan segelas teh, “terima kasih” Kulu meminum teh itu, “jika ada apa - apa kau bisa bicara denganku, nanti biar aku yang bicara dengan jendral Ruko” lanjut Kumo, Kulu memberi hormat “jendral memang sangat murah hati”.


Di salah satu kota, Vivian dan Kin kini berada di salah satu rumah pandai besi, Vivian mengantarkan Kin untuk membuat pedang. “Lama tidak berjumpa kilat merah” sapa Jung, laki - laki paru baya pemilik rumah pandai besi itu, “kakak Jung” Vivian memberi hormat, “kali ini senjata apa yang ingin ku buat?” tanya Jung, “saya ingin pedang dengan kekuatan tebasan yang besar” jawab Kin, Jung tersenyum “jadi senjata ini untuk mu, aku ingat pernah membuatkan senjata seperti ini, siapa ya namanya, ahh.. aku ingat, Yinsa”. Vivian tertunduk “Yinsa telah gugur” kata Vivian yang membuat Jung terdiam sejenak “maafkan aku, dia pendekar yang hebat” Jung ikut tertunduk.


“Pama Jung!” tiba - tiba terdengar teriakan dari luar, Kidan masuk kedalam rumah pandai besi diikuti Vin, saat itu Kidan sedang mabuk “wah - wah ternyata sedang ada tamu, maafkan ketidaksopananku gadis cantik” sapa Kidan saat melihat Vivian, Vivian terkejut saat melihat Kidan, ia bersiap mengeluarkan pisaunya.


“Aku seperti pernah melihat mu..” Kidan mendekatkan wajahnya kearah Vivian “ahh..kau pasti bidadari di tidurku semalam” – “hei berandal jangan ganggu tamu ku” Jung melemparkan dua bilah pedang “cepat pergi sana!”, Kidan mengambil kedua pedang itu dan menaruhnya di punggung, menggantikan dua pedangnya yang patah “terima kasih paman” Kidan melemparkan sekantung perak kepada Jung, lalu beranjak pergi diikuti Vin. “Cih! Berandal itu mengacau saja” gerutu Jung, Vivian menghela nafas, ia berpikir akan terjadi pertarungan.


Di gunung emas, sebuah burung pengantar pesan hinggap, Wen membaca pesan itu “jendral armada laut telah kembali ke istana” Wen memberikan kabar kepada para petinggi pasukan naga. “Sepertinya kini kita telah menemukan titik cerah” Kang bangkit berdiri, tubuhnya dipebuhi balutan perban, “jendral harus istirahat” para tabib menghentikan.


“Bagaimana menurut mu Fei?” tanya Su sembari menyalakan cerutunya, “apa jendral armada laut bisa dipercaya?” Fei meminum segelas teh, “aku bisa mempercayai jendral Roku” jawab Wen, “orang menyebalkan itu lagi ya” timpal Su “sepertinya memang harus bekerjasama dengannya” Su menghembuskan asap cerutunya.


Tidak jauh darisana, Sai dan Niki sedang bersantai ditemani seteko teh, Sai sedang membaca gulungan hitam, sedangkan Niki sedang menikmati menghisap cerutunya. “Hei Niki, sepertinya nama mu masuk daftar gulungan hitam” Sai membuka pembicaraan, “harga kepalaku dipasang dimana - mana, apa bedanya?” jawab Niki acuh tak acuh, “yah melihat keadaan kita sekarang juga tidak ada bedanya si” Sai meminum tehnya, “apa senior merindukan Tebing Langit?” tanya Niki yang membuat Sai terdiam sejenak, kemudian tersenyum “aku dibesarkan disana, sudah pasti aku merindukannya”.


“Apa tuan Shibaku tahu jika Kong sudah memutuskan untuk keluar aliansi?” tanya Kulu langsung pada intinya, “jadi si gendut itu sudah memutuskan sendiri ya” Shibaku meminum araknya, “masalah itu bisa kita bicarakan nanti, saya meminta anda kemari untuk membawakan kabar lain” Kulu meminum araknya “sepertinya saya telah mengetahui keberadaan Su dan juga Fei”.


Mendengar itu Shibaku tersenyum dengan lebar “katakan” – “dalam beberapa hari mereka akan mengambil bahan - bahan kebutuhan dari salah satu rumah dagang, aku akan menyuruh orang untuk mengikutinya, dan setelah itu kita bisa menghancurkan mereka” Kulu menjelaskan, Shibaku tertawa “aku sudah menunggu saat ini begitu lama” – “tapi tuan, pasukan di Tebing Langit sangat dibutuhkan, apa tidak masalah dengan Kong?” tanya Kulu, “Kong ya, si gendut itu biar aku yang urus” Shibaku kembali meminum araknya, Kulu tersenyum.


Di loteng rumah bunga, Linlin baru saja mendengarkan pembicaraan mereka dan bermaksud mengirimkan pesan kepada Wen, baru Linlin ingin menerbangkan burung pengantar pesan, tiba - tiba Shee datang menghentikan, sebuah hantaman dilayangkan ketubuh Linlin, Linlin pun terkapar, Shee mengambil pesan itu, Linlin tidak bisa melakukan apa - apa.


Shee membawa Linlin kehadapan Kulu dan Shibaku, “aku menemukan penyusup, dia ingin mengirim pesan” Shee memberikan secarik kertas pesan kepada Kulu, Kulu membacanya “jadi benar begitu, Su bekerjasama dengan Wen untuk menghentikan kita”, Shibaku tersenyum “kau urus masalah ini, aku sudah tidak sabar untuk membunuh Su” Shibaku bangkit berdiri dan beranjak pergi.


Kulu membakar secarik kertas pesan itu “nona manis, untuk apa kau bekerja dengan Wen, kau bisa bekerja untukku” Kulu mengusap wajah Linlin “kau cantik juga, siapkan kamar, aku akan memberikannya pelajaran” Kulu tersenyum lebar.


Malam semakin larut, hujan semakin deras mengguyur Tebing Langit, Taka baru saja keluar dari ruang Shibaku, wajahnya pucat. Di ruang Shibaku, “apa tidak masalah memberi perintah itu kepadanya? Apa tuan yakin dia bisa melakukan itu?” tanya Liang sembari meminum segelas arak, “kita akan melihat kesetiaanya” Shibaku tersenyum kemudian meminum araknya.


Taka berkuda meninggalkan Tebing Langit, kini ia berkuda menuju salah satu kota. Selama perjalanan Taka terdiam dengan tatapan kosong, ia ragu untuk melakukan tugas ini, tetapi ia sudah berjanji untuk melayani Shibaku. Tidak butuh waktu lama, Taka sudah sampai di salah satu kota, ia berhenti di depan salah satu rumah bunga, beberapa pasukan berjaga disana “senior Taka!” para pasukan memberi hormat, mereka adalah pasukan pengejar Tebing Langit, pasukan Kong.


Taka turun dari kudanya “dimana tuan?” – “tuan sedang tidak ingin diganggu” hormat salah satu pasukan, “baiklah kalau begitu, siapkan meja untukku, aku akan menunggunya” Taka berjalan masuk kedalam rumah bunga. “Silahkan tuan” beberapa perempuan menyambut, mempersilahkan Taka untuk duduk, sebotol arak disediakan untuk menemani Taka, Taka menuang arak itu kedalam gelas “kosongkan rumah bunga ini, kalian para pasukan tunggulah diluar, aku ingin bicara berdua dengan tuan” kemudian Taka meminum araknya.