NIKI - The Lost Son

NIKI - The Lost Son
57



Bab 57.


 


Hari berlalu, istana melakukan rutinitasnya seperti biasa, hari itu pasukan naga sedang melakukan latihan bersama dengan pasukan lainnya. Lapangan dipenuhi pasukan, mereka semua berlatih dengan penuh semangat, ada yang berlatih pedang, tombak, memanah, dan lainnya, Kin juga sedang berlatih dengan pedang tumpulnya, berlatih tarung dengan beberapa pasukan lain, sedangkan Pingping sedang berlatih memanah. Niki hanya duduk diujung lapangan, memperhatikan Pingping yang sedang memanah, mereka belum berbicara semenjak Niki datang ke istana. Matahari sampai dipuncak, matahari sangat terik hari itu, para pasukan sudah mulai dibasahi keringat, sedangkan Niki masih duduk bersantai di pinggir lapangan, tidak beberapa lama salah seorang pasukan menghampiri, laki - laki bertubuh gagah, ia bernama Kal, anggota pasukan jendral Sun, pasukan kelas satu. “Apa yang kau lakukan, mengapa hanya bersantai - santai?!” bentak Kal, “apa aku mengenal mu?” tanya Niki dengan santai, Kal kesal mendengar itu “kau dari pasukan mana dan pasukan kelas berapa?!” tanya Kal lagi, “apa aku perlu menjawabnya? Kau menganggu waktu santaiku saja” Niki bangkit berdiri beranjak pergi, Kal semakin geram, ia pun melayangan serangan, Niki hanya tersenyum, menghindari serangan Kal tanpa perlu melihat, kemudian Niki menyandung kaki Kal hingga terjatuh. Sontak semua mata langsung tertujuh pada mereka berdua, Kin langsung berlari kearah Niki “ada apa?” – “hanya orang iseng” jawab Niki santai, Kal semakin geram mendengar itu, ia bangkit berdiri “kau mau kubunuh ya?!”, Niki tersenyum kecil “bukannya barusan kau yang terjatuh?”, Kal semakin geram, tetapi Kin menghentikan “sepertinya tidak perlu ada pertarungan, dia pasukan baru, jangan dimasukan kehati” Kin berusaha untuk meredakan suasana, Kin pun menarik Niki untuk pergi darisana “belum sehari kau sudah membuat keributan”. Dari kejauhan Pingping memperhatikan itu semua.


Kini Kal duduk di pinggir lapangan, ia masih kesal, terlebih lagi ia tidak berhasil menghantam Niki. Salah seorang pasukan menghampiri, seorang laki - laki bernama Yuan, duduk disamping Kal “aku sudah mencari tahu tentangnya, ia anggota baru pasukan naga, pasukan kelas tiga” – “hanya pasukan kelas tiga?” Kal mengepalkan tangannya. Di tempat pemandian, kini Niki sedang membersihkan diri, begitu pula dengan Kin, masih asik menikmati air hangat. Tidak beberapa lama, Kal memasuki ruang pemandian, bersama dengan lima orang lainnya, termasuk Yuan, “semuanya keluar darisini!” bentak Kal, sontak semua orang berlarian keluar, menyisahkan Niki dan Kin yang masih berendam. Niki menengokan wajahnya “kau lagi? Mengapa kau selalu mengganggu waktu bersantaiku?”, Kal memberikan isyarat kepada teman - temannya, kemudian mereka menutup rapat - rapat pintu pemandian, “pasukan kelas tiga berani berulah, akan kuajarkan kau tata krama” Kal mengepalkan tangannya, Niki tersenyum “Kin, kau tidak akan melaporkan ini pada ketua Vivian kan?”, Kin tersenyum “aku akan menikmati tontonan ini”. Niki beranjak keluar dari kolam pemandian, Kal tersenyum dan langsung maju menyerang, melayangkan pukulan, Niki menangkis pukulan itu dengan mudah, bahkan ia tidak bergerak sedikit pun, kemudian Niki menatap Kal dengan tatapan tajam, seketika Kal terkejut, ia seperti melihat iblis dibayangan Niki, Kal pun terjatuh, tubuhnya gemetar. “Kal apa yang kau lakukan?!” teriak Yuan, Yuan pun geram dan maju menyerang, “hentikan!” Kal mulai bangkit berdiri, tubuhnya masih gemetar “kita pergi”, Yuan terkejut mendengar itu, Kal beranjak pergi tanpa berkata apa\-apa lagi. Kin bingung dengan apa yang terjadi, ia sempat berpikir apa Niki sudah sehebat itu? Hingga musuh gemetar hanya dengan tatapannya saja?


Kini Sai membawa Tang dan juga Kiba masuk kedalam kota Mawar Merah, kota Mawar Merah sendiri terbagi menjadi dua lapis, bagian luar dan bagian dalam. Bagian luar adalah tempat berkunjungnya para pengembara, pasar, penginapan, rumah bunga, rumah judi, dan lainnya. Sedangkan bagian dalam adalah tempat terlarang, tempat berkumpulnya para bandit, bagian dalam pun dibagi menjadi lima daerah yang masing - masing dikuasai komplotan bandit berbeda, tetapi ada satu komplotan bandit yang kekuasaanya paling besar, atau biasa dibilang tuan rumah Mawar Merah, mereka dikenal dengan nama bandit Singa Putih. Sai membawa Tang dan Kiba kesalah satu kedai, mereka semua memakai syal menutupi wajah. Beberapa lauk dihidangkan, mereka mulai makan dengan lahap, “jadi ada apa mencariku?” Sai membuka pembicaraan, “ada orang yang mengincar Niki, bahkan mereka sudah menyerang jendral Fei, dan juga sampai berhasil masuk ke istana, kau masih mengingat Liang bukan?” jawab Tang langsung pada intinya, Sai berpikir sejenak “Liang ya.. aku mungkin bisa memberikan mu beberapa informasi, tetapi tak banyak” Sai meminum segelas arak “akhir - akhir ini para bandit gurun mulai masuk kedalam wilayah Bulan Sabit, aku mendengar jika ada komplotan bandit baru yang merekrut mereka, Naga Biru, itu julukan mereka” – “Naga Biru? aku belum pernah mendengarnya sama sekali” celetuk Kiba, “lalu apa hubungannya ini dengan Liang?” tanya Tang. Sai kembali meminum araknya “aku khwatir jika Liang adalah salah satu kedok dibalik Naga Biru, hanya sedikit orang dengan kekuatan setara dengan Zazu yang bisa membangun komplotan bandit dalam jumlah besar” – “lalu mengapa mereka mengincar Niki?” tanya Tang lagi, Sai kembali meminum araknya “untuk itu aku belum menemukan hubungannya”.


Disebuah ruang interogasi, Liang duduk terikat rantai, Fei berdiri tak jauh “dengan kemampuan sepertimu, hipnotis tidak akan berguna, ditambah segel di dadamu, segel untuk menyimpan rahasia seumur hidup, segel kuno yang kukira sudah punah”. Liang hanya meludah tidak menjawab, Fei mencabut pedangnya “aku hanya memberikan satu kesempatan, mengapa kalian mengincar anak itu?”, Liang tertawa kecil “tidak perlu membual lagi, dia adalah keturunan Tagatha, anak itu selamat dari rumah obat yang terbakar!”. Fei terdiam sejenak, Liang mulai tertawa “jadi aku benar, bukan begitu?” – “apa Shibaku masih hidup?” tanya Fei pelan, Liang kembali tertawa “kami semua hidup untuk menyelesaikan dendamnya”. Fei menggenggam pedangnya lebih erat, tubuhnya mulai gemetar “anak itu tidak bersalah, dia hanyalah anak yang baru lahir!” Fei menusuk tubuh Liang, pedang itu menembus telak tubuh Liang, darah mulai mengalir dengan deras, Liang terkejut Fei melakukan itu, ia mulai memuntahkan darah. Fei mencabut pedangnya, Liang tergeletak berlumuran darah, kini ia sudah tidak bernyawa. Di gua bawah tanah, markas Naga Biru. Kara sedang bermeditasi, tiba - tiba salah satu lilin redup, Kara mulai membuka matanya “bawa mayat Liang kepadaku, aku ingin memberikan pemakaman yang layak” perintah Kara kepada Akari yang berdiri tak jauh, Akari mengangguk, kemudian beranjak pergi.