NIKI - The Lost Son

NIKI - The Lost Son
70



Bab 70.


 


Malam semakin larut, Jee menyambut Enel makan malam. Enel makan dengan lahapnya, entah sudah berapa potong daging yang dihabisinya, Jee hanya menemani sembari meminum sebotol arak. “Tak perlu basa - basi, untuk apa kau meminta ku kemari?” Enel membuka pembicaraan sembari mengunyah makanan, Jee tersenyum “tidak perlu terburu - buru, aku tidak berniat untuk menghentikan maksud kedatangan mu kemari” Jee kembali meminum araknya, “baguslah kalau begitu, apa kau bisa memberitahu ku dimana bangau merah?” Enel masih mengunyah makanan, Jee kembali tersenyum “jadi sekarang kau bekerjasama dengan Kulu? Jika benar begitu, berarti kau belum mengetahuinya”, Enel terdiam sejenak “mengetahui apa?” – “apa kau tahu siapa orang dibalik kematian ayahmu?” tanya Jee yang membut Enel terdiam.


Jee tertawa kecil “jadi kau memang tidak mengetahuinya ya” Jee meminum araknya “Kulu adalah dalang dari kematian ayahmu”, Enel pun terkejut mendengar itu, ia langsung menghantam meja hingga hancur “tidak mungkin! Kau pasti hanya ingin menghalangi rencana ku!”, Jee tersenyum “lalu apa untungnya bagiku?”, Enel masih mengepalkan tangannya menahan amarah, Jee bangkit berdiri “kau boleh mengamuk sesuka hatimu, tapi jika kegaduhan sampai terdengar, pasukan istana akan datang dan menangkap mu, atau mungkin kau ingin cara lain, bekerjasamalah denganku, kau bisa membalaskan kematian ayah mu, dan juga saudara mu sekaligus”. Enel terdiam sejenak mendengar itu, ia mulai mengatur nafasnya kembali “aku mendengarkan mu”, Jee tersenyum “pertama - tama, beritahu aku terlebih dahulu, dimana penyusup yang lain?”.


Di tempat penyimpanan senjata istana, Tsam dan juga Jiu sedang beristirahat, sementara Yuan duduk terikat. Tiba - tiba pintu ruang penyimpanan senjata di dobrak, pasukan pedang emas menerobos masuk, Tsam dan Jiu pun terkejut melihat itu.


Di pondok pasukan naga, Sai sedang berbincang dengan Kiba, “jadi apa maksud ketua memanggilku kemari?” tanya Kiba, “kau adalah tangan kananku di pasukan macan kumbang, jadi aku ingin kau mengetahui keadaannya” Sai terdiam sejenak “pasukan ini dibentuk untuk melindungi Niki, ada orang - orang yang mengincar Niki, salah satunya adalah penyusup yang baru saja tertangkap”, Kiba terdiam sejenak “boleh saya tahu alasannya?” – “aku sendiri belum mengetahui alasannya, karena itu aku ingin mencari tahu” Sai memakai tudung hitamnya “pastikan Niki tidak mengetahui hal ini” Sai beranjak pergi, tidak jauh darisana, Pingping tanpa sengaja mendengarkan percakapan itu, ia pun terkejut mendengarnya, hanya bisa diam membatu.


Tsam duduk terikat didalam ruang tahanan, Sai datang menghampiri, membawa lentera sebagai penerangan. Sai duduk didepan sel Tsam, menaruh lentera dilantai “lama tidak berjumpa”, Tsam tertawa kecil “bagaimana rasanya menjadi anjing istana?” – “bagaimana rasanya menjadi bandit jalanan?” tanya Sai balik, Tsam kembali tertawa kecil, “sudah cukup basa - basinya, untuk apa kau mengincar Niki?” Sai menekan nada bicaranya, “jadi itu namanya, aku lebih mengenalnya dengan sebutan bangau merah” Tsam mendekatkan diri ke jeruji sel “kau ingin tahu alasan aku mengincarnya? Dia mempunyai kekuatan yang sama dengan ketua kami, kekuatan api terkutuk”.


Sai terdiam sejenak “lalu siapa ketua kalian ini?”, Tsam tertawa kecil “jadi kau mulai tertarik?”, Sai mengeluarkan sebuah kunci “aku bisa saja mengeluarkan mu dari sini, katakan padaku lebih banyak tentang Naga Biru”, Tsam kembali tertawa kecil “jadi kau sudah mengetahui banyak hal ya, dan satu hal lagi, tidak perlu berbicara omong kosong, kau adalah pendekar yang bergerak berdasarkan peraturan, buang saja kunci itu”, Sai tersenyum “aku disini bukan karna peraturan” Sai melempar kunci itu kedalam sel “kau bisa membuka rantai itu sendiri bukan? Jangan kau dekati lagi anak itu” kemudian Sai bangkit berdiri dan beranjak pergi, “cih!” Tsam tertawa kecil.


Tidak beberapa lama dua orang berkuda datang, tak lain Enel dan Mei, “jaga bicara mu!” kata Enel sembari turun dari kuda, “siapa perempuan itu?” tanya Tsam, “pelayan Kulu, aku sengaja menjemputnya, lalu bagaimana dengan bangau merah?” tanya Enel balik, Tsam terdiam sejenak “kita tidak bisa mendekatinya untuk sekarang, anak iblis menjaganya” – “cih! Dasar tidak berguna! ayu kita ke kota terdekat, aku ingin beristirahat” Enel kembali naik ke atas kudanya “Mei kau naiklah bersamaku, kuda itu untuk mereka berdua”, Mei mengangguk kemudian pindah ke atas kuda Enel. “Kita berangkat” Enel memacu kudanya menuju kota terdekat, diikuti Jiu berkuda dibelakangnya.


Di loteng istana, Vivian memperhatikan melalui teropong “mereka sudah berkuda pergi” – “sepertinya sesuai rencana ya” jawab Sai yang berdiri tak jauh, “aku akan mengikutinya” Vivian beranjak pergi, “hati - hati” kata Sai yang membuat Vivian terdiam sejenak, mengangguk kemudian beranjak pergi.


Kegaduhan terjadi di istana, para pasukan baru saja memeriksa sel kosong milik Tsam. “Segera kerahkan pasukan untuk mencari mereka!” perintah Lei, “tidak perlu!” potong Fei, “jendral Fei?” tanya Lei bingung, “aku yang melepaskannya, aku sudah mengirim pasukan untuk memata - matai mereka, dengan ini kita bisa membuka topeng dibalik mereka” jawab Fei yang membuat Lei terdiam sejenak “baiklah kalau begitu, kuserahkan pada jendral Fei” Lei memberi hormat, “terima kasih atas kerjasamanya” Fei membalas hormat.


Disalah satu kota, Tsam, Jiu, Enel, dan juga Mei sedang beristirahat, menikmati hidangan makan disalah satu kedai, mereka makan dengan lahap, kecuali Tsam, ia hanya makan sedikit, tidak banyak bicara dari tadi. “Tsam, kau kenapa?” tanya Jiu, “tidak, aku hanya tidak bisa bertemu dengan ketua, aku akan dibunuhnya” Tsam terdiam sejenak “kalian kembalilah ke markas, aku tidak ikut”, semua terdiam mendengar itu.


Mei berinisiatif untuk menuangkan sebotol arak “tidak perlu terlalu dipikirkan, kita masih bisa memikirkan cara lain” Mei berusaha mencairkan suasana, Enel masih terdiam “sejujurnya aku juga tidak akan kembali ke markas” Enel terdiam sejenak “ada hal yang harus kulakukan terlebih dahulu, aku akan menyusul kalian ke markas”, Jiu geram mendengar itu, ia mencabut belatinya, menusukannya ke atas meja “apa yang kalian bicarakan?! Kita mempunyai tujuan yang sama, membunuh bangau merah! Selama tujuan itu belum tercapai, kita akan terus mengejarnya, aku juga tidak akan kembali ke markas!”. Dari atas atap kedai, Vivian mendengarkan itu semua, ia sudah mengganti pakaiannya, menggunakan topi caping dan juga cadar menutupi wajah.


Matahari mulai terbenam, hujan mengguyur di salah satu kota. Enel dan Mei baru saja selesai bermesraan, Mei memakai kembali pakaiannya “jadi mengapa kau tidak ikut kembali ke markas?” Mei membuka pembicaraan, “Jee menyuruhku untuk mendatangi sebuah tempat” jawab Enel yang masih bersantai di tempat tidur tanpa sehelai pakaian “kau tetaplah ikuti rencana Jee” Enel memberikan sebuah peta “ikuti saja peta ini, kau akan sampai di markas Naga Biru, katakan saja kau mencari Kulu”, Mei mengambil peta itu, “pakailah kudaku, pergilah sekarang, kau akan sampai saat matahari dipuncak” lanjut Enel, Mei pun mengangguk dan beranjak pergi. Kini Mei berkuda meninggalkan penginapan, Vivian berkuda mengikutinya dari kejauhan.