NIKI - The Lost Son

NIKI - The Lost Son
58



Bab 58.


 


Malam itu hujan mengguyur kuil selatan, Zezu jatuh tergeletak, tubuhnya dipenuhi luka - luka, Tsam berdiri tak jauh, memegang pedang berlumuran darah. Tsam berjalan menghampiri Zezu, menusuk Zezu sekali lagi dengan pedangnya “apa ingatan mu sudah pulih? kemana perginya dia?” Tsam menunjukan selembaran wajah Niki, “aku tidak kenal siapa dia” Zezu mulai memuntahkan darah, “cih! Keras kepala” Tsam menusukan pedangnya lebih dalam, Zezu berteriak kesakitan. “Hentikan! Aku mengenal orang di selembaran itu” Oden berdiri tak jauh, “guru! Jangan katakan!” Zezu kembali memuntahkan darah, “aku tidak punya urusan dengan anak itu, dia pergi ke kota terdekat, pergilah, jangan datang lagi kemari” kata Oden lagi, Tsam tertawa kecil, kemudian mencabut pedangnya “kau beruntung anak muda” Tsam beranjak pergi, Oden segera berlari menghampiri Zezu “kau harus diobati” kemudian memapah Zezu masuk kedalam kuil.


Matahari kembali terbit, hari yang cerah di istana, beberapa pasukan sudah memulai kegiatan mereka, ada yang menjaga menara, berlari pagi, dan hal lainnya. Sedangkan Niki kini sedang membantu pasukan lainnya mengangkut barang, tidak jauh darisana, Kal dan juga Yuan sedang berlatih, Yuan memperhatikan Niki yang sedang mengangkut barang “aku tidak percaya kau dikalahkan oleh orang itu” celetuk Yuan, Kal hanya diam tidak menanggapi, membayangkan kejadian kemarin saja masih membuatnya gemetar “sebaiknya kau tidak cari masalah dengannya” kata Kal pelan. Di sisi lain istana, Akari sudah memakai pakaian pasukan istana, ia menyelundup masuk kedalam istana bersama dengan Darius, laki - laki berbadan kekar dan berambut panjang. Kini mereka berjalan memasuki ruang mayat, “saya diperintahkan untuk mengambil mayat milik tahanan” Akari menunjukan sebuah gulungan perintah, “sebentar, akan saya cek” kata seorang pasukan, baru pasukan itu bemaksud membaca gulungan yang diberikan Akari, tiba - tiba Akari menembakan jarum dari mulutnya, jarum itu menancap tepat dileher pasukan itu, seketika pasukan itu tergeletak tak sadarkan diri. “Mengapa kau sudah membunuhnya? Kita kan belum mengetahui dimana mayatnya” celetuk Darius, “pasti ada didalam sini, kau segeralah cari!” jawab Akari, “cih!” Darius mulai beranjak mencari. Setelah cukup lama mencari, Darius menarik keluar salah satu peti berisi Liang didalamnya, “baguslah, aku sudah tak tahan dengan bau disini” Akari dari tadi menutup hidungnya. Baru mereka ingin beranjak pergi, tiba - tiba seorang pasukan masuk kedalam ruangan, ia bermaksud untuk menggantikan pasukan sebelumnya, sontak ia pun terkejut melihat seorang pasukan istana tergeletak disana, pasukan itu pun segera melarikan diri “ada penyusup!” teriaknya sembari berlari. “Kau si mencari mayatnya terlalu lama!” gerutu Akari kemudian mengejar pasukan itu, diikuti Darius sembari membawa peti di pundaknya.


Kegaduhan mulai terdengar, pasukan istana mulai bergerak mencari penyusup. Akari dan Darius kini bersembunyi didalam kandang kuda, masih memperhatikan sekitar, menunggu situasi memungkinkan, “ini salah kau!” gerutu Akari, “jangan salahkan aku terus, lagipula bukannya dengan begini jadi lebih seru” Darius tertawa kecil. Kini Kin dan regunya datang menolong Kal dan Yuna, regu itu dipimpin oleh Law, anggota pasukan naga, pasukan kelas satu, ia membawa kera di pundaknya, kera itu diberi nama Wanwan. “Kemana perginya mereka?” tanya Law sembari membantu Kal yang masih terkapar, “dia pergi kearah sana” Kal menunjuk kearah kandang kuda berada, “bawalah mereka ke ruang perawatan, aku akan mengejar, Kin, ikutlah denganku” Law beranjak pergi diikuti Kin. Mata Law mulai menjelajah sekitar, tetapi ia tidak menemukan tanda - tanda, dari dalam kandang kuda, Darius masih memperhatikan, kemudian ia tertawa kecil “sepertinya ini akan menarik, aku akan membukakan jalan untuk mu”. Law dan Kin masih mencari sekitar, seketika Darius beranjak keluar dari kandang kuda, menyerang kearah Law, ia bergerak dengan sangat cepat, bermaksud melayangkan pukulan, Law terkejut melihat itu, tetapi ia masih bisa menghindarinya, pukulan itu melesat tepat disampingnya, Law bergerak dengan sangat lincah layaknya kera. “Kau tidak apa - apa kan Wanwan? sepertinya kita menemukan penyusupnya” Law mengusap - usap Wanwan, Darius tertawa kecil “menarik, kita lihat apa kau masih bisa menghindar” Darius bermaksud kembali menyerang, tetapi tiba - tiba Kin sudah berada dibelakang Darius dan melayangkan tebasan dengan pedang tumpulnya, Darius hanya tertawa kecil, seketika ia sudah berada dibelakang Law, ia bergerak dengan sangat cepat, Darius melayangkan pukulan, lagi - lagi Law berhasil menghindarinya, pukulan Darius menghantam tanah hingga hancur. “Cih!” gerutu Law, ia menyadari jika mereka bukan lawan sebanding, ia hanya bisa mengulur waktu hingga pasukan bantuan datang.


 


Kin meledakan petasan asap, asap merah pun terlihat sampai kelangit, tanda jika mereka menemukan penyusupnya, Darius tertawa kecil “mau mati ya?” seketika Darius sudah berada dihadapan Kin, melayangkan pukulan, Kin berusaha menahan pukulan itu, tetapi pukulan Darius sangatlah kuat, hingga membuat Kin jatuh terpental cukup jauh. Darius kembali tertawa kecil, tetapi tiba-tiba Law sudah berada dibelakangnya, mencabut sepasang kukri dan melakukan tebasan, tetapi lagi-lagi Darius sudah berpindah tepat dengan sangat cepat. Darius mulai tertawa dengan kencang “ini menyenangkan sekali”, Law mulai kesal, ia kembali maju menyerang, melakukan tebasan dengan kukrinya, tebasan itu telak mengenai Darius, tetapi Darius sama sekali tidak beranjak, tebasan kukri Law hanya membuat luka gores di tubuh Darius. Law terkejut melihat itu, Darius hanya tertawa kecil kemudian melayakan pukulan, menghantam Law telak hingga jatuh terpenal cukup jauh. Belum Law sempat bangkit berdiri, Darius sudah kembali menyerang, bermaksud melayakangkan pukulannya lagi, tetapi tiba-tiba Niki muncul dibelakang Darius, Darius terkejut, ia sama sekali tidak merasakan kehadiran Niki, Niki mencabut pedang bunga dan langsung menusuk menembus tubuh Darius. Darius segera melepaskan diri dari tusukan pedang bunga, membalikan badan dan melayangkan pukulan, Niki menahan pukulan Darius, tetapi ia tetap terpental cukup jauh. “Cih!” Darius mulai memuntahkan darah, Kin dan Law mulai bangkit berdiri, bersiap untuk bertarung, kini Darius telah dikepung, Darius tertawa kecil “menarik! ini semakin menarik saja!” Darius mulai mengepalkan tangannya “siapa yang ingin mati pertama?” baru Darius bermaksud menyerang, pasukan istana sudah terlanjur datang dan mengepung, bersiap dengan tameng dan tombak mereka. Lei berjalan menghampiri dari kerumunan pasukan istana “berani sekali berbuat kegaduhan di istana!” Lei mulai bersiap dengan tameng dan pedangnya “kegaduhan mu akan berakhir disini!” Lei maju menyerang, menghantam Darius dengan tamengnya, Darius menahan serangan Lei, Darius terdorong cukup jauh, Lei melayangankan tebasan, Darius menghindarinya, kemudian membalikan serangan, melayang pukulan telak, Lei menahan pukulan itu dengan tamengnya, tetapi ia tetap terdorong cukup jauh, pertarungan sengit terjadi.