NIKI - The Lost Son

NIKI - The Lost Son
39



Bab 39.


Di gunung emas, asap hijau itu terlihat sampai kesana, para pasukan naga mulai kebingungan melihat asap itu. “Asap hijau ya” Su menyalakan cerutunya, asap itu sebagai tanda jika tempat persembunyian sudah ketahuan, “semuanya, kita evakuasi!” perintah Wen. Kepanikan mulai terjadi di gunung emas, para pasukan mulai mengeluarkan barang-barang mereka darisana.


“Bawa jendral Kang pergi!” perintah Wen kepada para pasukan, “sepertinya Vivian dalam bahaya, aku akan kesana!” Fei naik keatas kudanya, “aku ikut dengan mu” Su juga naik keatas kudanya, tetapi tiba-tiba asap hitam terlihat di langit, “mereka datang” Wen mencabut pedangnya.


Shibaku memimpin pasukan berkuda menuju gunung emas, mereka sudah memasuki hutan dan menerobos jebakan-jebakan yang dipasang pasukan naga, asap hitam mulai meledak, sebagai tanda adanya penyusup. Saat itu Liang, Kara, Taka dan juga Rasa berkuda mengikuti Shibaku, beserta para bandit dan pasukan bayangan istana, mereka menyerang dengan kekuatan penuh.


Di gunung emas, pasukan naga terbagi menjadi dua, ada yang melarikan diri membawa barang-barang, melindungi para tabib, pasukan yang terluka, dan juga Kang, dan ada pasukan yang tinggal untuk bertarung. “Kau pergilah, aku akan menyusul” kata Niki kepada Pingping, “tidak! aku akan tetap disini” Pingping menolak, “ini akan menjadi pertarungan yang besar, terlalu berbahaya untukmu” Niki meyakinkan Pingping, Pingping terdiam sejenak “berjanjilah kau akan menyusul” kemudian mengecup pipi Niki dan beranjak pergi, Niki terdiam, ini pertama kalinya ia dikecup seorang perempuan, “Niki! Ada yang harus kita lakukan” Sai membuyarkan lamunan Niki, Niki pun mengangguk “aku mengerti!”.


“Su!” teriak Shibaku yang berkuda mendekati gunung emas, Su turun dari kudanya “kita harus menghentikannya disini”, Fei mengangguk. Su menghirup nafas panjang kemudian menekan tenaga dalamnya dan melepaskannya, seketika getaran besar terjadi, Shibaku dan pasukannya terhempas dari kuda mereka, tenaga dalam yang sangat besar. “Ternyata kemampuan mu tidak hilang ya” canda Wen sembari naik keatas kuda, kemudian mencabut pedangnya “serang!” Wen memacu kuda memimpin pasukan naga.


Kini perang pecah di gunung emas, darah mulai bertumpahan, seketika salju ikut turun, semua orang pun bingung melihat itu “kenapa tiba-tiba ada salju?” tanya Kara, “cih! Ini jurus hipnotis Fei” gerutu Shibaku, perlahan para bandit mulai jatuh tertidur. “Tidak akan ku biarkan!” Shibaku maju menyerang Fei, ia bermaksud melayangkan sebuah hantaman, tetapi Su terlanjur datang dan menahan serangan itu “kali ini aku akan menghentikan mu” Su kembali melepaskan tenaga dalamnya, membuat Shibaku terpental menghantam pohon hingga tumbang “dasar tua bangka sialan!” Shibaku bangkit berdiri dan kembali menyerang Su, pertarungan terjadi.


Sai sedang bertarung melawan para pasukan bayangan, tiba-tiba rantai api menebasnya dari belakang, Taka yang melakukan itu “kau mangsa ku!” Taka mencabut pedang bermata duanya dan maju menyerang, Sai menangkis tebasan Taka dengan pedang hitamnya, Taka membuka mata kirinya dan seketika berada dibelakang Sai, Sai terkejut melihat itu, ia segera membalikan badan dan menyerang Taka, Taka menangkis serangan Sai. “Tidak kusangka kau bisa mengimbangi kecepatanku” puji Taka, “kau banyak bicara” Sai kembali maju menyerang, pertarungan terjadi.


Wen kini sedang bertarung dengan para bandit dari atas kudanya, bandit-bandit itu bukanlah tandingannya, tetapi tiba-tiba Liang menyerang Wen dengan cakar elangnya, Wen berusaha menangkis dengan pedangnya, tetapi tetap membuatnya terpental dari atas kuda. “Kau akan merepotkan” Liang maju menyerang, “ya, aku sudah selesai pemanasan si” Wen menangkis serangan Liang dengan pedangnya, pertarungan terjadi.


Rasa sudah kembali berdiri di tempat semula, memasukan kembali pedang tipisnya “aku tidak ingin meremehkan mu, tetapi menjadi terlalu mudah”, Niki bangkit bediri “sepertinya tebasan mu kurang dalam” Niki tertawa kecil dan bersiap dengan kerambitnya, Rasa ikut tertawa “sesuai harapan” Rasa kembali maju menyerang, ia melakukan serangan dengan kecepatan yang sama, lagi-lagi Niki tidak bisa melihatnya.


Niki mulai memikirkan cara, seketika ia mengalirkan tenaga dalam ke tinjunya dan menghantam tanah, retakan dan getaran besar pun terjadi, Rasa yang sudah hampir menebas Niki pun ikut terpental. Niki melihat celah dan langsung menyerang, Niki melayangkan tebasan dengan kerambitnya, Rasa menghindarinya, tetapi tebasan itu masih mengenai kaki kanan Rasa, Rasa pun terjatuh. Darah mengalir keluar dari kaki kanan Rasa, ia berusaha bangkit berdiri, karna luka tebasan itu, kini Rasa tidak bisa melakukan serangan dengan kecepatan seperti tadi “cih! Kau ternyata memang mengincarnya ya” gerutu Rasa, Niki tertawa kecil “ayu kita lanjutkan!”


Matahari mulai terbenam, mayat sudah berserakan di gunung emas. Kini pertarungan hebat terjadi antara Shibaku dengan Su dan Fei, Shibaku tertawa “lagi-lagi terulang, kalian tidak akan bisa mengalahkan ku, Tagatha sudah menjadi bukti!” – “cih!” Fei mengepalkan tangannya, ia tampak kesal, Su juga sudah kelelahan, ia sudah tidak muda lagi, apa lagi untuk pertarungan panjang dan memakai tenaga dalam yang besar.


“Jika kalian tidak mau menyerang, aku akan menyerang duluan!” Shibaku maju menyerang, Fei menghindarinya, Shibaku terus melayangkan serangan, Fei terus menghindarinya hingga satu titik hantaman Shibaku telak menghantam wajahanya hingga terpental menghantam pohon. Su maju menyerang, ia melayangkan tendangan, Shibaku menahan tendangan Su dan membalikan serangan, ia mencekik leher Su dan membantingkan ke tanah, Shibaku kembali melayangkan hantaman hingga tanah disekeliling retak, Su memuntahkan darah.


“Tetua!” Sai bermaksud menolong Su, tetapi Taka mengikat tubuhnya dengan rantai api, seketika rantai api itu mengeluarkan asap, Sai menahan panas itu, ia berusaha melepaskan rantai api, Taka tertawa “kau takkan bisa melepaskannya, itu adalah senjata terkutuk”, tetapi tiba-tiba pedang hitam Sai berhasil memotong rantai api, Taka terkejut melihat itu, “kau bukan satu-satunya yang memiliki senjata terkutuk” Sai menggigit jarinya, kemudian mengoleskan darahnya ke pedang hitam, seketika pedang hitam terbang menyerang Taka, pedang hitam bertarung dengan sendirinya, inilah jurus yang membuat Sai mendapat julukan anak iblis.


Wen masih bertarung dengan Liang, tapak es dan cakar elang beradu hantam, getaran besar pun terjadi. “Aku pernah mendengar jurus itu, tapak es, jurus yang membunuh Kaisar kerajaan lain” kata Liang sembari memegangi legannya yang sakit akibat benturan tadi, “wah, ternyata jurus ku terkenal juga ya” Wen tertawa kecil, ia juga sudah mulai kelelahan, ditambah ia belum meminum obatnya.


Di sisi lain, pertarungan Niki dan Rasa berjalan sengit, tubuh mereka kini sudah dipenuhi luka-luka, nafas Niki juga sudah mulai terengah-engah.