
Bab 50.
Malam semakin larut, malam yang tenang di kuil selatan. Niki keluar secara perlahan dari ruangan itu, ia bermaksud untuk pergi meninggalkan kuil. “Mau pergi setelah mengalahkan ku?” kata Zezu diujung ruangan, langkah Niki terhenti, Zezu tertawa kecil “aku tidak ingin menghentikan mu, tetapi belum pernah ada yang bisa mengalahkan ku di kuil ini” – “sepandai pandainya tupai melompat, pasti akan jatuh juga” jawab Niki sembari kembali beranjak, Zezu hanya tersenyum membiarkan Niki pergi. Kini Niki berjalan memasuki hutan, “apa kau tidak akan berpamitan?” kata Ten dari atas pohon, sedang duduk bersantai menikmati sebotol arak. “Tidak perlu” kata Niki sembari kembali beranjak, Ten tertawa kecil kemudian melompat turun “aku ikut” – “tidak, aku pergi sendiri” jawab Niki acuh tak acuh, Ten tertawa kecil, kemudian seketika ia sudah berada di hadapan Niki “kau boleh pergi jika bisa mengalahkan ku” Ten langsung melayangkan serangan, Niki menghindari serangan itu, pertarungan terjadi. Ten terus menghujani Niki dengan serangan, Niki terus menghindarinya, tetapi ia tidak melihat celah, Ten menyerang dengan mengalir seperti tertiup angin, seketika sebuah hantaman telak menganai Niki, Niki pun jatuh terpental. Ten tertawa kecil “hanya segini kemampuan mu anak muda?” kemudian meminum botol araknya, Niki mulai bangkit berdiri “apa mau mu?”, Ten kembali tertawa “akan ku perlihat satu jurus” Ten menghantamkan telapak tangannya ke udara, seketika angin kencang berhembus dan meniup Niki hingga terpental menghantam pohon. Ten tertawa puas “saat seusia mu sepertinya aku jauh lebih hebat”, Niki bangkit berdiri, mengalirkan tenaga dalam ke tinju kanannya kemudian menghantam tanah, seketika retakan besar terjadi, retakan itu menjalar kearah Ten, Ten melompat menghindarinya “boleh juga anak muda” seketika Ten membentuk bola angin dan menghempaskannya kearah Niki, Niki kembali terhempas, Ten kembali tertawa.
Niki mulai geram, ia kembali bangkit berdiri, Ten tertawa kecil “bagaimana? Apa kau mau mengeluarkan api biru mu untuk melawan ku?” – “jadi dari awal kau memang mengincar ini” Niki mulai melepaskan balutan di lengan kirinya, ia mengalirkan tenaga dalam ke lengan kirinya, seketika api biru menyambar keluar “majulah kakek tua!” Niki memasang kuda - kuda. Ten tertawa kecil, meminum botol araknya, kemudian duduk bersantai diatas batu, “apa yang kau lakukan?!” tanya Niki, Ten kembali tertawa “aku merindukan api biru itu” Ten kembali meminum botol araknya, menikmati kobaran api biru yang keluar dari lengan kiri Niki. Niki kesal dengan tingkah Ten, ia memadamkan api birunya, kemudian kembali membalut lengan kirinya “apa mau mu sebenarnya?”, Ten terdiam sejenak “bagaimana jika ku katakan aku pernah memiliki kekuatan api biru” Ten menekan nada bicaranya, ini pertama kalinya Niki melihat Ten berbicara dengan nada serius, Ten meminum botol araknya “aku akan melatih mu menguasai api biru” – “tidak perlu” jawab Niki “aku tidak mengerti apa yang kau katakan, tetapi aku yakin ada niat lain dibaliknya”, Ten tertawa kecil “api biru itu adalah api kutukan, api itu bisa menolong mu, dan juga bisa membunuh mu” Ten bangkit berdiri “ceritakan padaku bagaimana kau mendapatkan kekuatan itu” – “aku juga mencari jawaban itu” jawab Niki kemudian beranjak pergi, Ten tertawa kecil “sudah kuperingatkan” kemudian meminum botol araknya, membiarkan Niki pergi.
Matahari mulai terbit, Vivian dan pasukannya sedang beristirahat disalah satu desa, mereka belum juga menemukan tanda - tanda dari Niki. Vivian membawa beberapa pasukan, termasuk Kin dan Pingping didalamnya. “Sial! Dasar dia, bikin repot saja!” gerutu Pingping, “ya, tetapi kau juga akan senang kan jika bertemu lagi dengannya” timpal Kin sembari tertawa kecil. Salah seorang pasukan kembali, laki - laki bernama Zao, “saya sudah menyebarkan selembaran wajah Niki ke beberapa desa sekitar, tetapi belum pernah ada yang melihatnya” lapor Zao, Vivian menghela nafas “sepertinya pencarian kali ini akan memakan waktu”. Disalah satu gua, Niki baru saja terbangun dari tidurnya, ia menghambiskan malam di gua itu.
Matahari mulai sampai dipuncak, Lupu sedang menikmati makan siangnya di ruang meditasi, Tonraq juga berada disana. “Kepala pendeta, apa tidak sebaiknya kita mencari anak yang pergi itu?” Tonraq membuka pembicaraan, “kita selalu membuka pintu untuk orang yang membutuhkan, kini dia pergi karena kemauannya sendiri, lalu untuk apa kita memaksakannya kembali” jawab Lupu sembari menyuap makanannya “memangnya kenapa kau begitu memperhatikannya?” tanya Lupu, “kuil ini jauh berada di selatan, berada di gunung dan dikelilingi hutan, ia bisa aja dimakan hewan buas” jawab Tonraq, Lupu tersenyum “tidak usah membuat alasan, kita tahu kemampuannya, jadi apa alasan sebenarnya?”, Tonraq terdiam sejenak “saya melihat kebaikan hatinya, saya ingin mengajaknya bergabung menjadi pendeta”, Lupu kembali tersenyum “kau tahu kan, pendeta adalah panggilan, aku tidak akan menerimanya, kecuali ia yang meminta”, Tonraq mengangguk “maafkan saya kepala pendeta”.
Kini Niki berjalan memasuki hutan, ia bermaksud untuk berburu. Sudah berjalan cukup jauh, Niki belum menemukan satu pun mangsa, hingga tiba\-tiba seekor macan tutul berdiri tak jauh darinya. Niki terkejut saat melihat macan tutul itu, ia pun tersenyum “akhirnya” ia mengalirkan tenaga dalam ke tinju kanannya, bermaksud menghantam macan tutul itu. Baru Niki akan bergerak, macan tutul itu sudah berlari menjauh dengan sangat cepat, Niki hanya bisa menghela nafas, lagi\-lagi mangsanya hilang.
Hari itu adalah hari yang tenang di istana, Fei kini sedang duduk di balkon istana, kini ia memakai penutup mata di mata kanannya. “Kau sudah pulih?” Kang datang menghampiri, membawakan seteko teh, duduk disamping Fei. “Jendral tidak perlu repot - repot begitu” sapa Fei, Kang menuangkan segelas teh “karna berusaha menolongku, kau jadi masuk jebakan musuh, kau sudah terlalu sering menolongku, hutang budiku terlalu banyak”, Fei tersenyum “tidak perlu sungkan” kemudian meminum tehnya. Di bagian lain istana, Khan sedang duduk diloteng sembari melukis, Jee duduk tak jauh menemani, sembari menghisap cerutu. “Jadi bagaimana Jee? Sudah terbiasa menjadi penasehat?” canda Khan di sela - sela melukis, Jee tertawa kecil “kehormatan bagi saya bisa membantu istana, selain itu..Kaisar, ada hal yang ingin saya bicarakan” – “katakan saja” kata Khan masih sembari melukis, “ini perihal penyerangan tempo hari, saya ingin membentuk pasukan baru, menggantikan kekosongan pasukan bayangan, bagaimana menurut Kaisar?” kata Jee langsung pada intinya. Khan terhenti sejenak, menaruh kuasnya “tidak masalah, itu ide yang cukup bagus, kau tinggal memilih jendral untuk memimpin pasukan itu”, Jee memberi hormat “terima kasih Kaisar, saya akan menjalankan ini sebaik - baiknya”.