
Bab 49.
Matahari baru saja terbit, kegaduhan terjadi di halaman istana, Fei ditemukan tergeletak tidak sadarkan diri. “Guru!” Vivian berlari menghampiri “cepat bawa ke ruang pengobatan!”, para pasukan pun segera mengangkat tubuh Fei dan membawanya pergi darisana. “Sial!” Vivian menghantam tinjunya ke tembok, “tenanglah, jendral Fei bukan orang yang mudah dikalahkan” Tang berusaha menenangkan, “cih! Jika bukan karna jendral tua itu, mungkin saja aku bisa menolong guru!” Vivian geram. Matahari mulai sampai dipuncak, kini Fei sudah sadarkan diri, mata kanannya dibalut perban, Vivian dan Tang masuk kedalam ruang pengobatan “jendral!” mereka memberi hormat “apa yang terjadi?” tanya Vivian, Tang menghentikan “bukankah lebih baik membiarkan jendral beristirahat terlebih dahulu?”, Vivian tertunduk “maafkan saya jendral”. Tidak beberapa lama, Roku masuk kedalam ruang pengobatan “kau sudah sadarkan diri”, Fei memberi hormat “jendral besar” – “kau terlalu ceroboh Fei, terpancing jebakan musuh, jadi apa yang terjadi?”, Fei tertunduk diam “tidak ada, hanya para bandit yang tidak suka pada istana”, Roku diam sejenak “baiklah kalau begitu, pulihkan dirimu” kemudian beranjak pergi. Kini hanya tersisa Vivian dan Tang di ruang pengobatan, “mereka mengincar Niki” kata Fei langsung pada intinya, “apa maksud jendral?” tanya Tang bingung, “aku tidak tahu alasannya, yang jelas segera temukan Niki dan bawa padaku” jawab Fei, “tapi jendral, kita tidak mengetahui dimana lokasi Niki” kata Vivian, “cih! Andai saja Sai ada bersama kita” gerutu Tang, Fei menghela nafas “kalau begitu Vivian, kau kutugaskan untuk mencari Niki, dan kau Tang, carilah Sai, kita sangat membutuhkannya sekarang” – “baik jendral!” Vivian dan Tang memberi hormat.
Di kota Mawar Merah, disalah satu tempat pemandian, Sai sedang bersantai ditemani seteko arak, menikmati harinya. Kini Sai memutuskan untuk berhenti dari pasukan dan menikmati sisa hidupnya, kota Mawar Merah adalah tempat yang cocok. “Apa kabar mu Sai?” sapa seorang laki - laki, ia adalah Jozu, salah satu bandit gurun. Jozu ikut masuk kedalam pemandian, “tidak ada yang menarik” jawab Sai sembari memejamkan matanya, “oiya apa kau tahu, Buza bergabung dengan salah satu komplotan bandit, tadi pagi ia berkuda memasuki Bulan Sabit” lanjut Jozu, “komplotan bandit? Maksudmu serigala merah?” tanya Sai, “bukan, mereka komplotan baru, Naga Biru, aku belum pernah mendengar mereka sebelumnya, tetapi rumor yang beredar, kekuatan mereka sebanding dengan seribu pasukan” Jozu menjelaskan, Sai membuka sedikit matanya “apa itu tidak terlalu berlebihan?” canda Sai dibalas tawa oleh Jozu.
Matahari hampir terbenam, para pendeta mulai membagikan makan malam kepada para pengungsi, sedangkan Niki tidak ada disana, ia belum kembali juga. Dari dalam hutan, Niki mulai berjalan kembali bersama dengan Ten, seketika mata para pengungsi langsung menatap tajam Niki, mereka takut jika karna ulah Niki, para pengungsi akan terkena imbasnya dan diusir dari kuil selatan. Saat itu Zin sedang membagikan makanan, ia terkejut saat melihat Niki dan langsung menghampirinya “aku belum sempat mengucapkan terima kasih” – “bukan hal besar” jawab Niki, kemudian Lung datang menghampiri, membawakan sepotong roti “makanlah, aksi mu hebat” – “terima kasih” Niki mengambil sepotong roti itu dan memakannya. “Lihatlah pengemis itu, sudah diberi makan, seenaknya menghajar pendeta” gerutu Oden dari kejauhan, “aku akan memberinya pelajaran” kata Ing sembari berjalan menghampiri Niki, tetapi tiba\-tiba Suna menghentikan, “apa yang kau lakukan? Mau menyelamatkan anak itu?” tanya Ing, “tidak, aku menyelamatkan mu” jawab Suna, “cih!” Ing menepis lengan Suna dan berjalan menghampiri Niki “hei anak muda!” panggil Ing dari kejauhan, “Niki cepatlah pergi! pendeta Ing berbeda dengan Zezu” kata Zin saat melihat Ing mendekat. Ing membuka jubah putihnya dan melemparkannya ke tanah “aku menantang mu satu jurus, jika kau bisa menerima seranganku, kalian para pengemis boleh tetap disini, jika kau takut, kalian semua pergilah dari kuil ini!” kata Ing yang membuat heboh para pengungsi “terima sajalah hantamannya” – “kau saja yang pergi! Dasar kau pembawa sial!” – “cepat pukul saja dia, kami ingin tetap disini!” teriak para pengungsi. Melihat itu semua, Ten tertawa kecil sembari meminum botol araknya “dasar manusia”. Ing sudah bersiap dengan kuda - kudanya “apa kau sudah siap pengemis sampah?”, Niki tertunduk “Zin, Lung, pergilah, ini bukan urusan kalian”, Zin dan Lung terdiam sejenak kemudian beranjak pergi. “Berani juga nyali mu, terima ini!” Ing maju menyerang, ia bermaksud melayangkan hantaman ke tubuh Niki, Niki bersiap menerima hantaman itu begitu saja, baru hataman Ing akan menyentuh tubuh Niki, seketika api biru menyambar keluar dari lengan kiri Niki, Ing terkejut melihat itu, ia pun menarik kembali hantamannya dan terjatuh. Api biru di lengan kiri Niki mulai padam, semua orang menyoraki Niki karna tidak mau menerima hantaman Ing, Niki terkejut, api biru itu menyambar keluar dengan sendirinya dari lengan kirinya, Ten juga terkejut melihat itu. “Niki cepat pergi!” Zin menarik Niki, mereka berlari masuk kedalam kuil.
Matahari mulai terbenam, para pendeta senior mengadakan pertemuan di ruang meditasi, duduk melingkar. “Kita harus menindak tegas pengungsi itu, dia sangat keterlaluan, berani mengacaukan perayaan ritual, lalu melukai dua orang pendeta kita” kata Oden dengan geram, “bukankah Ing sendiri yang menghajar pengungsi itu terlebih dulu? dia hanya membela diri” potong Tonraq, “mengapa kini kau membala pengungsi itu?! Dari awal aku tidak pernah setuju jika kuil ini menampung para pengungsi, kuil ini adalah tempat suci!” kata Oden lagi, “sudah cukup!” kata Lupu yang membuat seisi ruangan hening “ruangan ini adalah ruangan suci, kalian malah bertengkar dihadapan para dewa” Lupu menghelas nafas.
Di sebuah ruangan, Niki sedang membalut bekas luka bakar dilengan kirinya, ia terdiam memandangi lengan itu, ia tidak tahu mengapa api biru bisa menyambar keluar dari lengan kirinya, melihat api biru hanya mengingatkannya pada gubuk yang terbakar.