
Bab 27.
Matahari baru saja tebit, Sai mulai membuka matanya, ia tertidur disebuah pondok yang tidak ia kenali, Niki terbaring tidak jauh. “Kau sudah sadarkan diri rupanya” seorang kakek menghampirinya, ia adalah Bing, tabib di kota itu. “Lukamu akan segara kering, minumlah” Bing memberikan segelas ramuan, Sai meminum ramuan itu, “terima kasih telah menolong kota ini, kita membutuhkan pahlawan seperti kalian” lanjut Bing, “bagaimana temanku?” tanya Sai, “dia belum sadarkan diri, dia mengalami luka dalam, sepertinya terlalu memaksakan tubuhnya melewati batas” jawab Bing, Sai terdiam sejenak, “tidak perlu khwatir, dia akan sadarkan diri” lanjut Bing sembari meninggalkan Sai, membiarkannya kembali istirahat.
Di Tebing Langit, Kong membalikan meja “bajingan! Kirim pasukan dan hancurkan kota itu!” Kong terlihat sangat kesal, dua tangan kanannya dan keponakannya pulang dengan terluka parah. “Apa perlu sampai begitu?” Shibaku berjalan masuk kedalam ruangan, “kau tidak perlu ikut campur! ini masalah pribadi!” jawab Kong, “kita sama - sama menduduki benteng ini, anak buahmu juga anak buahku, jangan membuang - buang pasukan hanya untuk hal bodoh” Shibaku duduk tidak jauh, Kong tampak kesal.
“Permisi tuan, ini wajah orang yang bersama dengan anak iblis” Kako memberikan secarik kertas dengan gambar wajah Niki, Kong memandangi wajah Niki “berikan kepalanya harga seratus keping perak”, Shibaku tertawa “apa itu tidak terlalu besar” ia mengambil kertas itu dan terdiam sejenak ketika melihat wajah Niki, wajah yang sangat mirip dengan teman lamanya, Shibaku tersenyum “kita juluki dia bangau..ema..tidak - tidak, bangau merah”.
Di gunung emas, Tang sedang diobati oleh para tabib, “aku tidak menyangka kau bisa terluka sampai separah ini” Fei berdiri tidak jauh, “maafkan aku ketua, tetapi kemampuan Liang tidak bisa diremehkan, aku masih mengkhwatirkan Sai dan juga Niki” jawab Tang sembari tubuhnya diperban. Vivian menghampiri dengan tergesa - gesa “Sai memberi kabar!” kata Vivian dengan masih terengah - engah, Fei tersenyum “segera bawa pasukan untuk menjemput mereka”.
Matahari mulai terbenam, semua orang melakukan pekerjaan mereka masing - masing, hanya saja saat itu pasukan menjadi lebih sedikit. Rasa melihat ini sebagai peluang, ia mulai membuka perlahan rantai yang mengikatnya, tidak membutuhkan waktu lama rantai itu terbuka, Rasa langsung bergegas mengambil pedang tipisnya dan menyelinap keluar dari sana. Baru Rasa berhasil keluar dari dalam gua, “berhenti!” dua orang penjaga menghentikannya, Rasa tersenyum, langsung mencabut pedang tipisnya dan dalam sekejap kedua penjaga berhasil dilumpuhkan, Rasa menebas mereka dengan sangat cepat, bahkan lebih cepat dari mata manusia.
“Hentikan!” Pingping berdiri tidak jauh dan menembakan anak panahnya kearah Rasa, Rasa menghindarinya dengan sangat mudah dan dalam sekejap ia sudah berada di samping Pingping, Pingping tampak terkejut, Rasa memasukan kembali pedang tipisnya “aku tidak akan melukaimu karna Niki melindungimu, katakan padanya suatu hari nanti kita akan bertarung” lalu kemudian ia pergi menghilang, Pingping bernafas lega.
Malam semakin larut, para pasukan sudah sampai di pondok tempat Sai dan Niki dirawat. Su masuk kedalam pondok, “tetua!” Sai langsung memberi hormat “saya tidak menyangka tetua yang akan datang”, Su tersenyum “kalian berdua sudah kuanggap sebagai cucuku, bisa - bisanya terluka sampai seperti ini” – “maafkan saya tetua, tetapi sepertinya Niki telah menyelamatkan saya” lanjut Sai, Su kembali tersenyum sembari melihat Niki yang masih terbaring tidak sadarkan diri “begitu ya, bukan hanya wajahnya, tetapi sifatnya sama saja”.
Di Tebing Langit, di ruang pengobatan, Lou mulai sadarkan diri, tubuhnya dibalut perban, Kong berdiri tidak jauh, sudah menunggu dari tadi. “Paman?” Lou bingung saat melihat Kong, “syukurlah, ayahmu menitipkanmu padaku, aku tidak akan punya muka jika kau sampai mati” Kong menepuk pundak Lou.
Diruangan yang sama Taka - Taki masih terbaring tidak sadarkan diri, “kondisinya terlalu parah, tubuh Taki hancur, ia sudah tidak menunjukan tanda - tanda kehidupan, maafkan aku” kata Pei sembari menutupi tubuh Taki, ia adalah tabib benteng.
“Bagaimana dengan Taka?” tanya Kong, “lukanya menembus organ vital, harusnya ia sudah mati ditempat, tetapi sepertinya ia masih memiliki semangat hidup, sampai sekarang denyutnya masih ada” Pei menjelaskan, Kong menghelas nafas “lakukan yang kau bisa, aku tidak bisa kehilangan mereka berdua sekaligus”, Pei mengangguk.
Tidak jauh darisana, gambar wajah Niki sudah disebar keseluruh kota, kini para penjahat mulai mengincar harga kepalanya. Disalah satu kota, Rasa sedang beristirahat disalah satu kedai, ia melihat selembaran wajah Niki ditempelkan, ia mengambil selembaran itu dan tersenyum “seratus keping perak, harga yang pantas untukmu”.
Matahari sudah sampai dipuncak, sebuah teriakan terdengar dari ruang pengobatan Tebing Langit. Taka baru saja sadarkan diri, tubuhnya dibasahi keringat, “kau sudah sadarkan diri?” sambut Pei sembari memberikan segelas teh, Taka meminum teh itu, tangannya gemetar, ia masih terkejut. “Sepertinya kau mati suri, seharusnya kau sudah mati, tetapi kau seperti menolak untuk itu” Pei menjelaskan, “dimana Taki?” tanya Taka dengan masih gemetar, Pei menggeleng “maafkan aku” jawab Pei sembari beranjak pergi meninggalkan Taka untuk kembali istirahat, Taka terdiam mendengar itu.
Matahari hampir terbenam, Taka berdiri dihadapan makam Taki, pedang kembar Taki tertancap menyilang disana, Taka hanya terdiam memperhatikan makam Taki, ia mulai meneteskan airmata “aku akan membalaskan dendam mu adik” Taka menghapus air matanya dan beranjak pergi meninggalkan makam Taki. Malam sudah larut, Shibaku sedang bersantai sembari meminum teh, pintu ruangan dibuka, Taka masuk kedalam.
“Apa yang kau lakukan disini?” sambut Shibaku, Taka bersujud “beri saya kekuatan, saya akan mengabdi pada tuan Shibaku”, Shibaku tersenyum “terdapat dendam yang begitu besar di matamu, aku menyukai orang yang memiliki dendam, pergilah ke hutan malam, dan carilah seorang bernama Kuijin”, Taka mengangguk “saya mengerti”.
Malam itu Taka berkuda menuju ke hutan malam, ia berkuda tanpa henti hingga matahari mulai terbit, kini ia telah sampai di pintu masuk hutan malam. Hutan yang sangat lebat, Taka berkuda perlahan memasuki hutan itu, hutan yang sama sekali tidak memiliki cahaya, bahkan cahaya matahari tidak bisa menembus rindangnya pepohonan yang menutupi, itulah mengapa hutan ini disebut hutan malam. Taka mulai menyalakan obor untuk menerangi, berkuda perlahan memasuki hutan lebih dalam, selama berkuda Taka terus memperhatikan sekitar, tangannya memengang pedangnya, bersiap untuk mencabut pedang jika ada yang menyerang.
Taka sudah berkuda cukup dalam, tetapi ia belum menemukan apa - apa, hanya hutan kosong, tetapi satu titik ia melihat sebuah cahaya dari kejauhan, Taka mulai mempercepat kudanya menuju ke arah cahaya. Sebuah pondok berdiri ditengah hutan, beberapa obor mengelilingi pondok itu untuk menerangi, Taka berhenti tepat diluar lingkaran obor, ia turun dari kuda dan berjalan mendekati pondok, “siapa disana?” seorang kakek buta memakai tongkat keluar dari dalam pondok, “aku mencari Kuijin” jawab Taka, “itu aku, ada keperluan apa?” Kuijin berjalan mendekat, “jadi kau buta?” tanya Taka, “tidak baik mengajukan pertanyaan sebelum kau menjawabnya terlebih dahulu” Kuijin seakan menatap mata Taka dengan mata butanya.
“Shibaku yang menyuruhku datang kemari” kata Taka, Kuijin tersenyum “matamu dipenuhi dendam, pulanglah, aku tidak ingin diganggu” Kuijin membalikan badannya dan berjalan kembali ke dalam pondok, Taka tampak geram “jangan membuang waktuku!” Taka mencabut pedangnya dan menyerang Kuijin, tebasan pedangnya menembus tubuh Kuijin begitu saja dan kemudian menghilang, Taka terkejut melihat itu.
Suara tawa terdengar disekeliling hutan “jika serangan seperti itu bisa melukaiku, aku sudah mati sejak lama” seketika Kuijin berdiri dibelakang Taka dan menepuk pundak Taka, Taka tampak terkejut dan terjatuh, ia gemetar dan mulai berkeringat, Kuijin baru saja masuk kedalam pikirannya. Kuijin tertawa “aku mengerti alasan mu kemari, seorang kakak memang harus membalaskan kematian adiknya” Kuijin berjalan masuk kedalam pondok meninggalkan Taka yang masih tergeletak gemetar.