NIKI - The Lost Son

NIKI - The Lost Son
71



Bab 71.


 


Matahari baru saja terbit, Mei masih berkuda mengikuti peta yang diberikan Enel, sedangkan Vivian berkuda mengikuti dari kejauhan, Mei sama sekali tidak menyadari kehadiran Vivian. Kini Mei berkuda memasuki salah satu kota, Mei memutuskan untuk beristirahat terlebih dahulu, menurut peta sebentar lagi ia akan sampai.


Mei memasuki salah satu kedai, mengambil tempat duduk, seorang pelayan menghampiri “mau pesan apa nona?” – “berikan aku apa saja” Mei menaruh satu keping emas diatas meja, pelayan terkejut melihat itu “baik nona” mengambil keping emas itu, kemudian beranjak pergi. Vivian juga memasuki kedai itu, duduk di ujung ruangan, memperhatikan Mei dari kejauhan.


Matahari mulai sampai di puncak, Mei kembali berkuda meneruskan perjalanannya, hingga ia sampai disebuah benteng tua tak berpenghuni, tembok benteng itu sudah ditumbuhi lumut dan rerumputan liar, tak lain benteng itu adalah Tebing Langit. Dari kejauhan Vivian masih berkuda mengikuti, ia pun terkejut saat melihat Mei sampai di pintu gerbang Tebing Langit, Vivian pun turun dari kudanya, masih memperhatikan Mei dari kejauhan.


Mei turun dari kudanya, membuka pintu gerbang Tebing Langit, berjalan perlahan masuk kedalam, benteng yang sudah tidak terawat, “siapa kau?” dua orang bandit berada didalam sana, salah seorang bernama Kili, laki-laki berambut panjang diikat kebelakang, mata kanannya ditutupi kain, membawa busur panah di punggungnya, ia dijuluki burung hantu. Lalu salah seorang lagi tak lain adalah Buza.


“Untuk apa perempuan cantik seperti dirimu datang kemari? Apa kau tersesat?” Buza berjalan menghampiri Mei, mengelus wajahnya, Mei hanya terdiam takut “aku mencari tuan Kulu” kata Mei gemetar, “mencari Kulu ya? Kami akan mengantarkan mu padanya, tapi setelah aku puas menikmati tubuh mu” Buza mulai menarik pakaian Mei, tetapi tiba-tiba sebuah busur panah ditembakan melesat tempat disamping telinga kanan Buza, bahkan menggoresnya sedikit, Buza pun terkejut “apa yang kau lakukan?!” – “dia adalah tamu Kulu, jangan kau ganggu dia” Kili memasukan kembali busur panahnya, “cih!” gerutu Buza kesal. “Maaf atas kelancangan temanku, ikutlah denganku, aku akan mengantarkan mu” kata Kili sembari berajalan masuk kedalam benteng diikuti Mei, “Buza, kau berjagalah disini, aku akan segera kembali” lanjut Kili, Buza tampak kesal.


Kini Kili berjalan menuju ruang senjata Tebing Langit, sembari membawa lentera sebagai penerangan, Mei mengikutinya dari belakang. Kili membuka ruang rahasia senjata para leluhur, Mei pun mengikutinya dari belakang dengan wajah sedikit takut, “tidak perlu takut” kata Kili yang kini mendekati sebuah tameng emas yang tergantung di sudut ruangan, ia menggeser tameng emas itu, seketika sebuah pintu rahasia terbuka, terowongan gelap terpampang didepan sana.


Dari atas pohon, Vivian memperhatikan Buza yang sedang bersantai, bersandar disebuah batu besar dihalaman benteng Tebing Langit. Tidak beberapa lama, Kili berjalan kembali, “kau sudah mengantarkan perempuan itu ke terowongan? Apa dia berani untuk melewati terowongan gelap itu sendirian? Kalau aku jadi kau sudah pasti akan kutemani” sambut Buza yang masih bersantai di batu besar, Kili hanya tertawa kecil “sepertinya kau butuh belaian perempuan, pergilah ke rumah bunga di kota”. Dari atas pohon Vivian mendengarkan itu semua, ia mulai menerbangkan burung pengantar pesan.


Matahari mulai terbenam, hari yang tenang di istana, Fei sedang menikmati segelas teh hangat di loteng istana. Tidak beberapa lama, Sai datang menghampiri “jendral, kita sudah mendapat kabar dari Vivian” Sai menyerahkan secarik kertas pesan, Fei terkejut saat membaca isi pesan itu. Fei segera beranjak menuju ruang arsip istana, Sai mengikutinya dari belakang, Fei mulai menggeledah gulungan-gulungan di ruang arsip itu, “ada apa jendral?” tanya Sai bingung.


Fei mengambil salah satu gulungan, membuka gulungan itu dan menaruhnya diatas meja, Fei membaca sesaat isi gulungan itu “ternyata benar..” – “ada apa jendral?” tanya Sai lagi, Fei menghela nafas, menunjukan isi gulungan itu “ratusan tahun yang lalu, saat perang besar Bulan Sabit membuat sebuah kota agar para penduduk bisa berlindung, kota yang tidak tersentuh perang, kota bawah tanah yang disebuat kota Purnama, selama ini kukira cerita itu hanyalah mitos, tapi sepertinya Naga Biru menemukan kota bawah tanah itu”, Sai terdiam sejenak “jadi maksud jendral.. markas Naga Biru berada di kota Purnama?”, Fei mengangguk pelan.


Kini para jendral mengadakan pertemuan, “kota bawah tanah?! Kota itu benar-benar ada?” Kumo tidak percaya mendengar penjelasan Fei. Peta kekaisaran Bulan Sabit terpampang di atas meja “tidak ada yang tahu dimana pintu masuk kota Purnama, tetapi menurut legenda, terdapat banyak pintu masuk yang tersebar diseluruh Bulan Sabit, kita baru mengetahui satu” Lei melingkari benteng Tebing Langit, “sepertinya satu pintu sudah cukup untuk menghabisi mereka” celetuk Kumo, “tidak bisa!” potong Kang “dari gulungan yang pernah kubaca, pintu masuk kota Purnama berbentuk terowongan, kita tidak mungkin menyuruh seluruh pasukan menerobos melalui satu terowongan” – “lagi pula jika kita menyerang melalui satu terowongan, mereka bisa kabur melalui terowongan lain dengan mudah” timpal Sun. Perbincangan masih terjadi, hingga tiba-tiba pintu ruangan dibuka, Roku tergesa-gesa berjalan masuk kedalam “apa benar kota bawah tanah itu benar-benar ada?!”.


Mei masih menyusuri terowongan gelap, hingga ia melihat sedikit cahaya di ujung terowongan. Mei segera berlari menuju ke cahaya itu, betapa terkejutnya ia ketika melihat sebuah kota bawah tanah, kota yang dihuni para bandit, kota bawah tanah yang menjadi markas bandit Naga Biru. Para bandit terdiam saat melihat Mei, begitu juga dengan Mei, tubuhnya gemetar, takut terlihat diwajahnya, “wah-wah, ada perempuan cantik, ada keperluan apa kemari?”goda para bandit, “hentikan! Dasar para laki-laki hidung belang” Akari datang menghampiri Mei “siapa kau?” – “aku mencari tuan Kulu” jawab Mei gemetar, “ikutlah denganku” Akari beranjak pergi diikuti Mei. Kini Mei mengikuti Akari, memasuki kota bawah tanah lebih dalam, Akari membawa Mei ke sebuah ruangan yang cukup besar “tunggulah disini, aku akan memberitahu Kulu” Akari beranjak pergi meninggalkan Mei di ruangan itu.


Mei duduk diam menunggu di ruangan itu, tidak beberapa lama, Kulu masuk kedalam ruangan itu, sontak Mei langsung beranjak memeluk Kulu “tuan aku takut, istana sudah mulai mencurigaiku”, Kulu membalas memeluk Mei, menenangkan Mei sementara waktu “tidak perlu khwatir, tidak akan ada yang menemukan mu disini”, Mei mulai meneteskan airmata “terima kasih tuan” kemudian mengecup bibir Kulu, mereka berciuam sejenak. Tidak beberapa lama, Akari masuk kedalam ruangan “kamar untuknya sudah disiapkan” – “tidak perlu, dia akan tidur denganku” jawab Kulu, Akari pun mengangguk dan meninggalkan ruangan, sedangkan Mei masih memeluk Kulu dengan erat.