
Bab 53.
Beberapa hari berlalu, ditengah hutan, kini Niki sedang berlatih menggunakan pedang bunga, entah sudah berapa banyak pohon yang tumbang akibat tebasannya. “Pedang ini sangat kuat” gumam Niki sembari memasukan kembali pedang bunga kedalam sarungnya. Disalah satu kota, Vivian dan pasukannya memutuskan untuk kembali ke istana, kini mereka sedang beristirahat di sebuah kedai, “sepertinya perjalanan kali ini menjadi sia - sia” celetuk salah satu pasukan, saat itu Kin makan dengan tidak lahap, tetapi itu tidak ada apa - apanya dibandingkan Pingping, ia hanya berdiam diri, tidak bicara sedikit pun akhir - akhir ini. Para pasukan masih menikmati makan mereka, Vivian bangkit berdiri menghampiri Pingping, duduk disampingnya “aku tahu apa yang kau rasakan”, Pingping hanya diam tidak menjawab, “mungkin kau lebih mengenalnya daripada aku, tapi apa menurut mu Niki adalah orang yang akan mati karna kecelakaan?” tanya Vivian yang membuat Pingping terdiam sejenak, ia mulai memiliki harapan jika Niki masih hidup, Vivian mulai tersenyum melihat ekspresi wajah Pingping “makanlah, kau belum makan semenjak kemarin”.
Di kota yang sama, sebuah pondok megah di tengah kota, tempat tinggal menteri kota. Damyo, laki - laki berbadan gemuk, ia adalah menteri kota itu. Damyo sedang duduk minum arak ditemani beberapa perempuan, pintu ruangan dibuka “permisi tuan, tamu anda sudah datang” kata Yung, tangan kanan Damyo. “Suruh dia masuk” kata Damyo sembari meminum araknya, Yung mengangguk dan mempersilahkan tamu itu masuk, seorang laki - laki masuk kedalam, tak lain adalah Dae “lama tidak bertemu ya tuan Damyo” sapa Dae. Damyo memberi isyarat untuk meninggalkan ruangan, kini hanya ada Dae dan Damyo diruangan itu, “kau telat membayar upeti” sambut Damyo, Dae tertawa kecil, kemudian mengambil tempat duduk “apa kau tidak menawarkan tamu mu minum?” – “tidak perlu basa - basi” jawab Damyo ketus, Dae kembali tertawa kecil “apa kau tahu jika kuil selatan mengacau? Mereka merampas desa yang sudah kami beli, lalu kau masih menuntut upeti? Minta saja kepada para pendeta itu!” Dae memukul meja. Mendengar kericuhan, Yung segera masuk kedalam ruangan, Damyo memberi isyarat jika bukan apa - apa, Yung pun kembali menutup pintu. “Jadi apa maksud kedatangan mu kemari?” tanya Damyo, “akhirnya kau mendengarkan” Dae menuang segelas arak, kemudian meminumnya “aku akan memberikan upetinya, tapi besok pagi, desa itu harus kembali menjadi milik kami, kau tahu sendiri kan ketua tidak suka mendengar masalah - masalah sepele seperti ini, aku tidak mau ia sampai turun tangan, karna bukan hanya nyawaku, tapi nyawamu juga dalam ancaman”, Damyo terdiam sejenak, kemudian menghela nafas “jadi kau menginginkanku bermain kotor?”, Dae tersenyum “itu tergantung cara mu melakukannya” kemudian beranjak pergi.
Kini para penduduk dikumpulkan ditengah-tengah desa, mereka semua ketakutan. “Siapa kepala desa kalian?!” bentak Yung sembari turun dari kudanya, Liu maju kedepan “kau sedang bicara dengannya”, Yung tertawa kecil “ternyata hanya kakek tua, waktunya kau lengser” Yung mencabut pedangnya dan bermaksud menebas Liu, tetapi tiba-tiba Vivian datang dan menangkis pedang itu dengan pisaunya, kemudian mendorong Liu menjauh “kalian semua pergilah! Aku adalah pasukan istana!”, Yung terkejut mendengar itu, ia pun langsung menyerang Vivian, pertarungan terjadi. Yung tidak bisa diremehkan, tetapi bukan lawan yang sebanding, Vivian menebas lengan Yung dengan pisaunya, pedang Yung pun terjatuh, kini Vivian melayangkan tendangan ke tubuh Yung, Yung pun jatuh terpental. Melihat itu para pasukan langsung menyerang Vivian, jumlah yang tidak sedikit, Vivian mulai bersiap, pertarungan kembali terjadi. Vivian melemparkan pisaunya, tepat menancap dikepala salah satu pasukan, pasukan itu pun terjatuh, kini semua pasukan sudah terkapar, Vivian melumpuhkan mereka semua. “Sepertinya aku sudah tidak dibutuhkan” Tonraq keluar dari dalam hutan, kobaran api yang membakar hutan sudah padam, “apa kau pasukan istana?” tanya Tonraq, Vivian mengangguk, Tonraq memberi hormat “saya pendeta dari kuil selatan”. Yung masih sadarkan diri, ia melihat celah kemudian melarikan diri kedalam hutan, “cih!” Vivian bermaksud mengejarnya, “tidak perlu” Tonraq menahan “aku sudah mengirim beberapa pendeta untuk berpatroli, bandit itu pasti ditemukan”. Liu yang masih terkapar mulai bangkit berdiri “sepertinya desa ini sudah tidak aman, bolehkah para penduduk ini mengungsi ke kuil selatan?”, Tonraq mengangguk “bukan masalah besar” – “tidak perlu!” potong Vivian “sudah menjadi tugas istana untuk melindungi kalian, besok aku akan menemui menteri kota dan membicarakan hal ini”, Liu tertunduk “anda saja pemuda itu tidak pergi, dia pasti bisa menjaga desa ini, seribu kali lipat daripada yang bisa kulakukan” – “pemuda?” Vivian bingung, Lung mengangguk “ia mengatakan jika julukannya adalah bangau merah”, Vivian terkejut mendengar itu, ia segera mengeluarkan selembaran wajah Niki “apa ini orangnya?”, Lung mengangguk, Vivian mulai tersenyum “kemana perginya?” – “aku juga tidak tahu, ia mengatakan jika akan pergi ke kota terdekat” jawab Lung, “terima kasih atas informasinya” Vivian segera menaiki kuda dan berkuda pergi, meninggalkan Liu masih dengan wajah bingung, “perempuan yang aneh” celetuk Tonraq.
Matahari mulai terbit, Vivian berkuda memasuki kota, para pasukan sudah bersiap didepan penginapan. “Ketua darimana saja?” tanya Zao, “aku mendapatkan informasi..” belum selesai Vivian bicara, matanya melihat Yung yang sedang tertatih masuk kedalam pondok menteri, ia merasa ada yang janggal, Vivian pun memacu kudanya mengejar Yung, para pasukan bingung melihat itu, mereka mulai naik keatas kuda, berkuda mengikuti Vivian. Di pondok menteri, Yung berjalan masuk kedalam, “akhirnya kau sampai” sambut Damyo, tetapi tiba-tiba sebuah pisau dilemparkan, menancap tepat di punggung Yung, “apa maksudnya ini?!” Vivian berkuda menerobos masuk kedalam pondok menteri, Vivian melompat dari kuda, mengeluarkan pisaunya dan melemparkannya kearah Damyo, pisau itu pun melesat menggores leher Damyo. Damyo terjatuh ketakutan, memegangi luka dilehernya “mengapa pasukan istana menyerang menteri? Aku akan melaporkan ini!” Kata Damyo pucat, Vivian geram mendengar itu, ia menghampiri Damyo dan menginjak tubuhnya “bagaimana dengan desa yang kau jual kepada bandit?!”, Damyo berusaha menahan sakit, Vivian mengeluarkan pisau dan bermaksud menusuk Damyo, Damyo pun berteriak “aku mengaku! Aku mengaku! Jangan lukai aku!”, Vivian menghentikan gerakannya “Zao, kirimkan pesan kepada istana, kita menangkap seorang pengkhianat”.