NIKI - The Lost Son

NIKI - The Lost Son
18



Bab 18.


 


Hari terakhir musim dingin, salju sudah mulai mencair. Kereta kuda Kulu baru saja sampai di pelabuhan, Kulu turun dari kereta kuda. Dari kejauhan Yamato mengikuti Kulu secara diam - diam. Kulu berjalan naik ke atas dek kapal, “jendral” sambut Huang “semuanya sudah siap, mereka sudah menunggu didalam” – “bagus, naikkan jangkar, kita berlayar” perintah Kulu.


Kapal sudah mulai berlayar, Yamato melompat masuk kedalam kapal. Kapal pun sudah berlayar hingga ketengah lautan, Kulu kini memasuki ruangan terbawah di kapal itu, kedelapan jendral sudah berada disana, digantung tanpa busana dan tidak berdaya. Kulu bertepuk tangan “selamat datang”, para jendral pun mulai membuka mata mereka, mereka tidak bisa berkata - kata saat melihat Kulu, mereka sudah tidak memiliki tenaga sama sekali.


“Kulu sialan..” Lin masih berusaha untuk berbicara, Kulu hanya tersenyum, berjalan menghampiri Lin, Kulu mencabut pedangnya dan mulai menusuk - nusuk tubuh Lin hingga tidak bernyawa, para jendral hanya bisa tediam melihat itu. “Dengan ini istana akan runtuh” Kulu tertawa dengan kencang “buang mereka semua ke laut, dan pastikan jasad mereka tidak pernah muncul lagi” perintah Kulu kemudian beranjak pergi darisana.


Para jendral mulai diturunkan, sebuah pemberat diikatkan dikaki mereka, hanya menunggu waktu mereka akan dilempar ke laut. Kulu naik keatas dek kapal, Xu disana sedang meminum teh hangat “sudah selesai berpestanya?” sambut Xu, Kulu ikut duduk bersama Xu, meminum segelas teh “belum pernah aku menikmati teh seperti ini” Kulu tertawa bersama Xu.


Satu persatu jendral mulai dilempar ke laut, kini hanya tersisa Kang, tubuh Kang mulai diangkat, tetapi tiba - tiba Yamato datang dan menyerang para penjaga, dalam sekejap para penjaga dapat dilumpuhkan. Yamato melakukan itu semua tanpa menimbulkan keributan, ia mulai melepaskan ikatan di tubuh Kang “jendral bertahanlah”.


Kulu dan Xu masih bersantai di dek kapal, seekor burung pengantar pesan hinggap, Kulu membaca pesan itu, Kulu langsung terdiam “cepat putar kapal ini kembali ke pelabuhan!” perintah Kulu dengan panik.


Di istana, Khan sudah sadarkan diri, tetapi tubuhnya belum pulih sepenuhnya, kini ia sedang duduk sembari meminum obat. Obat racikan Wen telah bekerja.


Disalah satu kota, kota yang sudah dikuasi oleh Enel dan Sabo. Seorang gadis bernama Pingping sedang berlari kabur, ia dikejar oleh Sabo dan pasukannya. “Gadis cantik kemarilah” Sabo berhasil menangkap Pingping, Sabo pun mulai meraba - raba tubuh Pingping, “lepaskan aku!” Pingping memberontak dan menghantam wajah Sabo, “sialan!” Sabo langsung menampar Pingping hingga terjatuh. “Gadis sepertimu harus diberi pelajaran” Sabo menarik rambut Pingping, tetapi tiba - tiba sebuah batu dilemparkan mengenai kepala Sabo, darahpun mengalir keluar, Niki yang melempar batu itu.


“Kenapa kota ini berantakan sekali?” tanya Niki sembari menghisap cerutu, “jadi kau yang melempar ya? Harus diberi pelajaran!” Sabo menghapus darah di kepalanya, mengeluarkan golok bermata duanya dan maju menyerang Niki, Niki tersenyum dan mengeluarkan kerambitnya, pertarungan pun terjadi. Sabo terus menyerang Niki dengan membabi buta, Niki pun melihat celah dan mendaratkan sebuah tendangan ke tubuh Sabo, Sabo pun jatuh terpental. “Apa yang terjadi, mengapa kau bisa sampai kalah?” Enel menghampiri Sabo, ia melihat kearah Pingping “apa ini karna perempuan?” – “tidak usah ikut campur!” Sabo bangkit berdiri, ia tampak kesal, ia pun kembali menyerang, pertarungan kembali terjadi.


Sabo kembali dijatuhkan oleh Niki, “sudah cukup! Aku muak melihatnya!” Enel bangkit berdiri, ia memasang tameng emasnya dan mulai menerjang kearah Niki. Niki mulai memasang kuda - kuda, mengalirkan tenaga dalam ke tinju kanannya, Enel akan menabrak Niki dengan tameng emasnya, Niki pun melayangkan tinjunya menghantam tameng emas itu. Enel jatuh terpental, Sabo terkejut melihat itu, tameng emas milik Enel pun remuk, tameng yang tidak pernah hancur sebelumnya. Niki melemparkan bubuk asap, lalu pergi menghilang membawa Pingping bersamanya.


Niki dan Pingping kini telah lari kedalam hutan, mereka sedang beristirahat dibawah pohon, “terima kasih telah menolong ku” kata Pingping yang masih terengah - engah, “bukan apa - apa, aku hanya kebetulan lewat” Niki menyalakan cerutunya. Niki kembali melanjutkan perjalanannya diikuti Pingping, “memangnya kemana tujuanmu?” tanya Pingping, “mengapa kau mengikuti ku?” tanya Niki, “aku tidak tahu harus kemana, yang jelas tidak bisa kembali ke kota itu, lagi pula sekarang kota sudah tidak aman” jawab Pingping yang masih mengikuti Niki, “kota tidak aman? Apa maksudmu?” tanya Niki lagi, “sekarang hampir semua kota sudah dikuasai oleh penjahat, aku tidak pernah melihat pasukan istana berkeliling lagi dikota, memangnya kau tidak tahu? Kau tinggal dimana selama ini?” jawab Pingping yang membuat Niki bingung, “Kau belum menjawab pertanyaanku, kau mau kemana?” lanjut Pingping, “bukan urusanmu” jawab Niki sembari terus berjalan.


Malam telah tiba, kembali ke kota, Enel dan Sabo sedang duduk dengan kesal, mereka baru saja dikalahkan oleh pengelana yang tidak dikenal. “Kita akan mencari orang itu, aku akan langsung menghantamnya hingga hancur” kata Enel sembari memainkan palu besi miliknya, “sebaiknya kau mengantri, aku akan memotong - motongnya terlebih dahulu” sahut Sabo sembari mengasa golok bermata duanya.


Rasa melihat tameng emas Enel yang telah remuk “jangan bercanda, kalian tidak lalai, tapi kemampuan kalian saja yang berbeda” – “Rasa! Jaga bicaramu, mereka ini adikmu” potong Caka, “aku hanya bicara apa adanya, mereka hanya suka bersenang - senang, itulah akibatnya jika kalian terlena dengan dunia, kalian menjadi lemah” jawab Rasa kemudian beranjak pergi, Caka hanya menghela nafas.


Niki dan Pingping sedang berkemah di tengah hutan, duduk di dekat api unggun. “Aku belum mengetahui namamu, namaku Pingping” Pingping membuka pembicaraan, “namaku Niki” jawab Niki sembari membakar daging. “Kau tidak suka diajak bicara, tetapi mau repot - repot menyelamatkanku, oiya kau hebat juga ya bertarungnya” Pingping terus berbicara, “kau ini selalu banyak bicara? Sebaiknya kau tidur, sudah malam” Niki mematikan api unggun lalu beranjak pergi.


Malam semakin larut, Pingping sudah terlelap, sedangkan Niki hanya duduk di atas pohon sembari menghisap cerutunya. Malam itu Enel dan Sabo memutuskan untuk mengejar Niki, mereka membawa pasukan berkuda masuk kedalam hutan, beberapa obor pun dinyalahkan untuk menerangi. Niki melihat cahaya obor dari kejauhan, Niki pun langsung melompat turun membangunkan Pingping, Niki menutup mulut Pingping, memberikan isyarat untuk tidak bersuara.


Kini Niki dan Pingping bersembunyi di dalam semak - semak, mereka tidak mungkin lari, pasti terkejar dengan pasukan berkuda. Enel dan Sabo pun telah sampai ditempat perkemahan, “mereka sudah tidak ada disini” lapor salah satu pasukan, “cari terus! mereka pasti belum jauh” perintah Enel. “Mengapa kau tidak melawan mereka saja?” tanya Pingping, “aku tidak suka bertarung” jawab Niki sembari mengeluarkan kerambitnya bersiap - siap, “tetapi kau mengeluarkan senjata, dasar aneh” celetuk Pingping.


Para pasukan masih mencari, salah satu pasukan membawakan kabar “maaf tuan, kami tidak bisa menemukannya”, Enel pun tampak kesal, ia mengayunkan palunya menghantam pasukan itu hingga terpental “dasar kalian tidak berguna! Bakar hutan ini!” perintah Enel. Para pasukan mulai menyalakan obor mereka, tetapi tiba - tiba satu persatu pasukan mulai tumbang, obor pun mulai padam satu persatu, Enel dan Sabo sedikit panik melihat itu.


Kini hanya tersisa satu obor yang menyala, “aku pinjam ya obor ini” Niki memegang obor itu, mayat para pasukan sudah bergeletakan dibelakangnya “mereka tidak mati, hanya tidak sadarkan diri”, Enel tersenyum “akhirnya kau menampakan diri” Enel menyalakan obor, melemparnya ke tanah, api pun mulai menyebar. “Sekarang akan menjadi lebih menarik” Enel turun dari kuda, bersiap dengan palu besinya “kau jangan menganggu” kata Enel ke Sabo, Enel pun langsung maju menyerang, Niki menghindari serangan Enel, pertarungan terjadi.


Kebakaran hutan sudah semakin besar, Niki masih bertarung dengan Enel, Niki hanya mengulur waktu agar Pingping bisa melarikan diri. Pertarungan berjalan dengan sengit, “berhentilah!” teriak Sabo yang sudah berhasil menangkap Pingping, “dasar bodoh!” gerutu Niki, Enel melihat celah dan melayangkan palu besinya menghantam tubuh Niki, Niki pun terpental hingga menghantam pohon.


Hantaman palu besi Enel sangatlah kuat, Niki sedang menahan sakit, seluruh tubuhnya terasa remuk.


“Tinggalkan saja dia disini, dia sudah tidak berdiri, dia akan mati terbakar, dan perempuan sialan ini akan kujadikan ******* saat kembali ke kota” Sabo menampar Pingping hingga terjatuh. Niki mulai memejamkan matanya, berusaha untuk mengumpulkan tenaga dalam. “Baiklah, kita pergi” Enel pun naik kembali ke atas kudanya, Sabo menjambak rambut Pingping “cepat berdiri!”, Pingping sama sekali tidak berdaya, Sabo jauh lebih kuat dibandingkannya.


Niki mulai membuka matanya “sudah cukup!”, Enel dan Sabo pun menengokkan wajah mereka, Niki bangkit berdiri. Pingping melihat celah, ia pun langsung mengambil pisau di saku Sabo dan memotong rambutnya, kini ia berhasil melepaskan diri dari Sabo. Niki mulai mengalirkan tenaga dalam ke jari - jarinya, ia memasang kuda - kuda jurus delapan totokan, “biar aku yang bereskan” Sabo mengeluarkan golok bermata duanya dan maju menyerang, Niki melihat celah dan langsung melayangkan jurusnya, satu - dua - tiga - empat - lima - enam - tujuh - delapan totokan menghantam telak tubuh Sabo.


Sabo memuntahkan darah, ia jatuh tergeletak, dalam sekejap Sabo sudah tidak bernyawa, jurus delapan totokan adalah jurus yang menyerang organ dalam tanpa melukai tubuh luar, jurus yang langsung mematikan lawan. Enel pun terkejut melihat itu “bajingan!” ia bermaksud turun dari kudanya, tetapi Pingping terlajur memukul pantat kuda itu hingga langsung berlari sembari membawa Enel diatasnya. “Terima kasih” Pingping langsung memeluk Niki.