NIKI - The Lost Son

NIKI - The Lost Son
8



Bab 8


 


Matahari baru saja terbit, Yinsa membawa empat orang pasukan penyergap, mereka berkuda memasuki salah satu kota, Kin salah satu dari pasukan itu. “Kita istirahat dulu” Yinsa turun dari kudanya dan berjalan masuk ke dalam kedai makanan. Makanan sudah disajikan, para pasukan makan dengan lahap, “habis ini kita bergerak, telusuri isi kota, jika tidak ada tanda-tanda, kita akan langsung ke kota selanjutnya, waktu kita tidak banyak” kata Yinsa, para pasukan mengangguk.


Matahari sudah sampai dipuncak, Yinsa dan pasukannya sudah berkuda ke kota selanjutnya, “sial, sepertinya disini juga tidak ada ya, jika begini kita sudah kehilangan jejak mereka” gerutu Yan, salah satu pasukan. Yinsa masih melihat - lihat sekeliling, ia tidak menemukan satupun petunjuk. Yinsa berkumpul kembali dengan para pasukan, “hei Yan, terbangkan burung pengirim surat, katakan pada ketua Wu kita akan mencari ke kota selanjutnya” perintah Yinsa, Yan mengangguk dan mulai menerbangkan burung.


Di kota lain, di rumah bunga, Sai sedang bermain catur dengan Fei. “Jadi racun timur sudah menunjukan diri lagi?” tanya Fei sembari memindahkan bidak catur, “aku tidak berhadapan langsung dengannya, Vivian yang berhadapan dengannya” jawab Sai, “hmm, Vivian ya, bagaimana kabarnya? Apakah ia masih galak? aku berpikir untuk menyerahkan jabatanku padanya” kata Fei sembari tetap bermain catur.


“Ketua Fei, kau tahu dimana lokasi racun timur kan?” Sai menekan nada bicaranya, Fei tersenyum “bagaimanapun juga dia tetap muridku, jujur saja, dia murid yang membangkang” Fei memberikan sebuah gulungan “jika menemukan Sada, langsung kau bunuh saja, jangan bawa dia kehadapan Wan, kau mengerti kan Sai?”, Sai mengangguk dan mengambil gulungan itu.


Burung pengantar surat dari Yinsa sudah sampai di Tebing Langit, Kui sebagai kurir langsung bergegas menyampaikan isi pesan. Didalam perjalanan Taka menghadang jalan “mau kemana?” tanya Taka, Kui gemetar melihat Taka “hanya ingin menyampaikan pesan” jawab Kui gemetar, “berikan saja padaku” Taka meminta pesan itu, Kui mengangguk ketakutan dan menyerahkan secakir kertas, lalu langsung berlari pergi, Taka tersenyum.


Kong dan Gema sedang bersantai minum teh sembari ditemani para gadis, pintu ruangan diketuk, Taka masuk kedalam “Yinsa dan pasukannya akan mengejar lebih jauh” Taka membawakan kabar, “kalau begitu kabari Zazu untuk segera menyerang” jawab Gema, Taka mengangguk lalu beranjak pergi. “Tidak kusangka kau sampai repot - repot menyewa Zazu” celetuk Kong, “kelompotan Zazu bisa diandalkan” Gema tertawa.


Disebuah gua dikaki gunung, burung pengantar pesan dari Taka sudah sampai, seorang perempuan berambut pendek dengan tubuh dipenuhi tato mengambil pesan itu, ia bernama Lilia, dijuluki laba-laba betina.


Lilia membawa pesan itu masuk kedalam ruangan bawah tanah “sudah ada kabar dari Shibaku” Lilia memberikan pesan itu kepada seorang laki-laki bertubuh besar, berkulit sawo matang, dan berambut ikal panjang, sedang duduk di kursi singgasananya, sebuah golok berukuran besar menancap disebelahnya, ia bernama Zazu, dijuluki serigala merah.


“Sudah harus bekerja ya? Aku malas” gerutu seorang laki - laki dengan luka disekujur tubuh, berdiri tidak jauh dari Zazu, membawa tiga buah pedang dipunggungnya, ia bernama Kidan, dijuluki malaikat pembunuh.


Matahari hampir terbenam, Yinsa dan pasukannya masih menusuri kota demi kota. “Disini juga tidak ada” kata Yan, “baiklah, kita ke kota selanjutnya” Yinsa kembali memacu kudanya. Matahari sudah terbenam, mereka kini memasuki wilayah hutan, ditengah perjalanan Kidan berdiri menghalangi jalan mereka.


“Hei cepat minggir!” teriak Yan, Kidan tersenyum, ia mencabut pedangnya dan langsung menyerang Yan, serangannya sangat cepat, Yinsa masih sempat menahan serangan Kidan dengan pedang besarnya, jika tidak Yan pasti sudah tewas dengan sekali tebas. Yinsa seperti mengenali Kidan “kalian semua mundur! dia malaikat pembunuh!” perintah Yinsa ke pasukannya, Kidan tertawa “ternyata aku terkenal juga ya” – “namamu ada di gulungan hitam, kau salah satu komplotan serigala merah” Yinsa bersiap dengan pedang besarnya.


Kidan mencabut kedua pedangnya dan mulai menyerang Yinsa, pertarungan terjadi, serangan pedang Kidan sangatlah cepat, ia jauh lebih hebat dibandingkan Kara. Kidan berhasil menebas tubuh Yinsa, Yinsa langsung terjatuh, “gerakanmu sangat lamban” ejek Kidan.


Lilia sedang bersembunyi diatas pepohonan, membidik para pasukan dengan busur panahnya. Yinsa berusaha bangkit berdiri, “ternyata masih bisa berdiri ya, sepertinya tebasanku kurang dalam” Kidan bersiap untuk menyerang lagi. Lilia bosan menunggu, ia langsung menembakan busur panahnya, panah itu tepat menembus tubuh Kin, Lilia dapat memanah dengan kekuatan yang sangat besar.


Kin langsung terjatuh dan memuntahkan darah, para pasukan terkejut, Lilia melompat turun, langsung memanah Yan dan kedua pasukan yang tersisa sekaligus, panah Lilia tepat menembus kepala mereka. “Kau tidak bisa menunggu ya?!” gerutu Kidan, “kau terlalu lama, cepat bereskan dia, atau aku juga yang akan bereskan” oceh Lilia, “baiklah” baru Kidan menengokan kepalanya, Yinsa melemparkan bubuk asap, lalu pergi menghilang membawa Kin bersamanya, “dasar merepotkan saja!” gerutu Lilia.


Tidak jauh dari sana, Yinsa berhasil membawa Kin kabur ke dekat sungai. Yinsa masih terengah - engah berusaha mengatur nafasnya dan meminum air sungai, Kin kembali memuntahkan darah, Yinsa mengecek luka Kin, lukanya terlalu parah, jika tidak dibawa ke Tebing Langit mungkin tidak akan selamat. Saat itu Yinsa sangat bingung, dua orang perampok mengejarnya, dia berada di tengah hutan, tidak mungkin membawa Kin kembali ke Tebing Langit tepat waktu.


“Senior, tinggalkan aku saja” Kin kembali memuntahkan darah, “aku tidak akan meninggalkan anggotaku, kita akan mencari jalan keluar” Yinsa berusaha menenangkan keadaan. Kidan dan Lilia berkuda mengelilingi hutan mencari Yinsa “ini semua salah kau!” oceh Lilia, “jika bertemu dengannya lagi, akan langsung ku selesaikan” jawab Kidan.


Matahari sudah kembali terbit, Yinsa sudah mencabut panah ditubuh Kin dan menggendongnya mencari bantuan. Yinsa sudah kelelahan berjalan semalaman, Kin sendiri sudah tidak sadarkan diri. Pandangan Yinsa mulai buram, ia terjatuh tidak sadarkan diri.


Oto datang ke markas komplotan serigala merah, “kau membawa bayaranku?” sambut Zazu, Oto melemparkan sekantung perak, Zazu menghitung bayarannya “hanya tiga puluh keping perak, perjanjiannya lima puluh” Zazu melemparkan kantung perak itu kembali ke Oto. “Anak buahmu gagal membunuh mereka semua, karna itu bayaranmu kupotong” jawab Oto, Zazu langsung bangkit berdiri, mencabut goloknya dan menodongkan ke leher Oto “bicara apa kau?! sekali lagi meragukan anak buahku, kupenggal kau!” bentak Zazu, Oto tersenyum, lalu melemparkan serbuk asap dan menghilang, meninggalkan kantung perak tergeletak ditanah, “Hantu sialan!” gerutu Zazu.