NIKI - The Lost Son

NIKI - The Lost Son
6



Bab 6.


Disebuah kota, Ge dan kelompoknya sedang melakukan tugas pengawalan, mereka mengawal Gema, laki-laki paruh baya yang kaya raya. Gema sedang berkeliling kota, membeli semua barang yang dilihatnya, kelompok Ge hanya bertugas untuk membawakan barang belanjaannya. “Tugas macam apa ini” gerutu Lee, “sudah-sudah, hanya sepuluh hari kok” Ge berusaha menghibur. Di kejauhan, Taka dan Taki memperhatikan mereka dari atas atap rumah. Kara dan Hibi muncul dari belakang, “Ketua Kong bilang kau akan datang” sambut Taka, “dimana targetnya?” tanya Hibi, “laki-laki berbadan gendut itu, kami sudah menaruh pengawal yang paling lemah” jawab Taki. Kara dan Hibi langsung beranjak pergi.


Gema masih asik berbelanja, Hibi datang menghadang jalan mereka “aku ingin main-main dulu” Hibi mencabut pedangnya dan menerjang kearah Gema. Ju dan Kin langsung mencabut pedang mereka menahan serangan Hibi, dengan mudah Hibi menjatuhkan mereka berdua. Lee mencabut pedangnya dan menyerang Hibi, sekali tebasan Hibi berhasil mengenai tubuh Lee, Lee jatuh tidak berdaya. Sedangkan Ge dan Chocho hanya berdiri ketakutan, “bawa tuan Gema pergi!” teriak Ju yang sudah terkapar, Hibi menginjak tubuh Ju “banyak bicara”.


Tiba-tiba sebuah pisau dilempar kearah Hibi, Hibi berhasil menghindarinya, Vivian datang bersama empat orang pasukan “tidak kusangka hanya tugas ringan bisa sampai seperti ini” Vivian mengeluarkan beberapa pisau “kalian selamatkan tiga orang itu lalu bawa mereka pergi, penjahatnya biar aku yang urus” Vivian langsung melemparkan pisau-pisaunya dan menyerang Hibi, pertarungan terjadi. Hibi menyerang dengan tendangan-tendangan yang sangat cepat, itu mengapa ia dijuluki kaki setan, Vivian mengimbangi serangan Hibi, tetapi tiba-tiba Gema berteriak, Vivian menengokan wajahnya, Kara sudah menodongkan ceruritnya di leher Gema, pasukan Vivian dan kelompok Ge sudah terkapar tidak berdaya.


“Hei Nona jangan palingkan pandanganmu” Hibi menendang tubuh Vivian hingga terjatuh, Hibi tertawa “dengan begini selesai sudah” Hibi bermaksud menusuk Vivian, tetapi tiba-tiba sebuah rantai mengikat tubuh Hibi, Taka yang melakukannya, “apa maksudnya ini?!” teriak Hibi, Taki mencabut pedang kembarnya dan memenggal kepala Hibi. Kara terkejut melihat itu, tetapi ia tahu tidak bisa melakukan apa-apa, Kara langsung kabur membawa Gema bersamanya. “Terima kasih, aku tertolong” Vivian bangkit berdiri, “bukan hal besar” Taki tertawa.


Disebuah kota, di rumah bunga, Kong sedang minum ditemani para gadis, Oto datang berkunjung. “Ada apa kemari? Kau mengganggu kesenangan ku!” kata Kong yang sudah mabuk, “sepertinya Shibaku sangat marah dengan apa yang anda lakukan, itu tidak sesuai dengan rencana” jawab Oto. Kong berdiri menghampiri Oto, “katakan pada Shibaku, aku hanya meningkatkan kepercayaan Wan padaku, yang penting dia mendapatkan Gema kan? Satu kecoa tidak masalah untuk dikorbankan, kau masih berpihak padaku kan?” Kong tersenyum dan berjalan kembali ke pelukan gadis-gadis, “akan ku sampaikan” Oto mengangguk kemudian menghilang.


Kelompok Ge masih dirawat diruang pengobatan, “kalian sepertinya kewalahan” Niki masuk kedalam ruang pengobatan, Ge tertawa melihat kedatangan Niki. Karna kejadian penyerangan di kota, Wan memutuskan untuk menarik semua calon pasukan kembali ke Tebing Tinggi, kini Wan mengadakan pertemuan dengan Vivian, Tang, Taka, dan Taki selaku pengawas seleksi.


“Maaf ketua, ini adalah salah saya, saya teledor dan tidak mengantisipasi adanya serangan sebesar itu” Vivian memberi hormat, “menurut saya sebaiknya kita tidak usah melanjutkan seleski, kita pilih saja dengan hasil yang sudah ada” usul Tang, “saya setuju dengan usul Tang, jika mereka sudah resmi menjadi pasukan kita, bukannya justru menambah daya tempur kita” lanjut Taka. Wan berpikir sebentar “bagaimana denganmu Taki?” tanya Wan, “isi kepalaku selalu sama dengan kakak” Taki tertawa, “baiklah kalau begitu sudah diputuskan!” kata Wan.


Wan mengumpulkan semua petinggi diruangannya, ini waktu para ketua pasukan memilih pasukan baru mereka. Satu persatu ketua sudah mulai memilih, tetapi tidak ada nama Niki disana. Sai memberi hormat “ketua Wu, ketua Wan, mohon izin bicara, saya merekomendasikan Niki untuk masuk kedalam pasukan macan kumbang”, seisi ruangan terkejut mendengar itu.


“Apa maksud mu Sai? Bukannya Niki tidak melakukan tugas akhir” potong Tang, “saya rasa semua calon pasukan tidak menyelesaikan tugas akhir” jawab Sai. “Apa pertimbanganmu Sai? Macan kumbang adalah pasukan elit, tidak pernah menerima pasukan tanpa pengalaman” tanya Wan, “dia bisa selamat setelah bertarung satu lawan satu dengan racun timur, itu pertimbangan saya” jawab Sai lagi, Wan mengangguk “baiklah, rekomendasi kuterima, sekarang tergantung persetujuan Vivian sebagai kepala seleksi dan Wu sebagai ketua pasukan macan kumbang”. Vivian memberi hormat “saya mensetujui rekomendasi Sai, pertarungan dengan racun timur bisa dianggap sebagai tugas terakhir”, Wu juga memberi hormat “saya setuju”. Wan mengangguk “baiklah! Semua nama sudah diputuskan!”.


Siang itu Su lagi-lagi mengundang Niki untuk makan dipondoknya. Su dan Niki sedang menikmati makan siang mereka, pintu pondok diketuk, Sai masuk kedalam. “Tetua” sapa Sai, “ah Sai, ada apa kemari?” tanya Su, “sebenarnya aku tidak ada urusan dengan tetua, tetapi dengan Niki” jawab Sai, Niki bingung mendengar itu, ia bahkan tidak mengenal Sai. Sai memberikan sebuah gulungan kepada Niki “ini surat untuk mengambil perlengkapan, mulai besok kau berada di pasukan ku” Sai tersenyum, Niki semakin bingung, Su hanya tersenyum.