NIKI - The Lost Son

NIKI - The Lost Son
55



Bab 55.


 


“Tubuhnya tidak kuat menahan kekuatan didalamnya, menggunakan tenaga dalam sama saja dengan memperpendek umur” suara yang samar - samar terdengar. Niki mulai sadarkan diri, perlahan ia mulai membuka matanya. Kini Niki berada di pondok pengobatan istana, tetapi ia tidak mengenali tempat itu, tidak ada siapa - siapa juga disana, pedang bunga ditaruh tidak jauh darinya. Tidak beberapa lama, pintu ruangan dibuka, Fei masuk kedalam “kau sudah sadarkan diri?” – “ketua Fei? Dimana aku?” tanya Niki sembari berusaha untuk duduk, Fei tersenyum “Vivian membawa mu ke istana, kau sudah tidak sadarkan diri selama tiga hari”, Niki sedikit terkejut mendengar itu. Fei menuangkan segelas teh “minumlah”, Niki meminum teh itu, “menataplah disini untuk sementara waktu, setelah kau pulih, ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan” lanjut Fei, kemudian ia melihat kearah pedang bunga, pedang yang tak asing baginya, Fei tersenyum “pedang yang indah, darimana kau mendapatkannya?” – “seorang kepala desa memberikannya kepada ku” jawab Niki, Fei kembali tersenyum “menarik, istirahatlah, aku pergi dulu” kemudian beranjak pergi, membiarkan Niki kembali beristirahat.


Hari yang tenang, Jee sedang bersantai di loteng istana, menikmati segelas the hangat. Lou datang menghampiri “penasehat” Lou memberi hormat, “ahh Lou, ada apa?” tanya Jee, Lou kembali memberi hormat “saya hanya ingin mengucapkan terima kasih karena telah membawa saya ke istana”, Jee tersenyum sembari meminum tehnya “Kong adalah sahabatku, setelah kepergiannya, sudah seharusnya aku mengurus mu” Jee bangkit berdiri, menepuk pundak Lou “lakukan semampumu, suatu saat mungkin kau akan memimpin pasukan pedang emas”, Lou sedikit terkejut mendengar itu, kemudian ia tersenyum “baik penasehat”. Di bagian lain istana, Fei sedang berbicara dengan Tang dan juga Vivian, “menurut informasi yang saya dapat, kemungkinan terbesar Sai berada di kota Mawar Merah” Tang memberi laporan, Fei menghela nafas “entah apa yang dipikirkan olehnya” – “jadi apa yang sebenarnya terjadi jendral?” tanya Vivian, Fei terdiam sejenak “aku belum tahu pasti, yang jelas untuk sekarang kita harus melindungi Niki, hingga tahu siapa lawan kita sebenarnya” – “apa jendral ingin saya menaruh beberapa penjaga didekatnya?” tanya Vivian lagi, Fei tersenyum “apa kau pikir Niki adalah orang yang akan diam saja jika kita menaruh penjaga didekatnya?” – “lalu apa rencana jendral?” – “aku akan kembali mengajaknya menjadi pasukan naga, hanya dengan cara ini aku bisa melindunginya, kau urus berkas - berkasnya, aku menempatkannya langsung dibawah pengawasan mu” perintah Fei kepada Vivian, Vivian memberi hormat “saya mengerti”.


Matahari mulai terbenam, disebuah gua bawah tanah, gua yang begitu besar, mungkin bisa juga disebut kota bawah tanah, markas dari bandit Naga Biru. Gua itu ramai dipenuhi bandit - bandit dari seluruh penjuru, sebagian besar para bandit berasal dari luar wilayah Bulan Sabit. Tsam, Dae, dan juga komplotan mereka telah kembali ke markas, “kalian telah kembali, sepertinya kalian akan dibunuh ketua” sambut Akari, perempuan berambut hijau, salah satu anggota bandit Naga Biru. “Tidak usah banyak bicara, aku sedang tidak ingin bicara dengan mu” jawab Dae ketus, “kau tunggu saja diluar, biar aku yang bicara dengan ketua” Tsam berjalan masuk kedalam salah satu ruangan, ruangan yang hanya boleh dimasuki oleh ketua dan juga orang yang diinginkannya. Pintu ruangan dibuka, seseorang duduk disebuah singgasana membelakangi pintu, tidak pernah ada orang yang melihat wajah ketua. Tsam berjalan masuk kedalam ruangan dengan gemetar “ketua” hormat Tsam, “sepertinya aku mencium bau kesalahan” jawab ketua tanpa memalingkan wajahnya, “maafkan saya ketua, tetapi para pendeta..” belum selesai Tsam bicara, sebuah pisau dilemparkan ke dekatnya “cabutlah nyawamu sendiri, aku tidak ingin mengotori tanganku”, Tsam terkejut mendengar itu, tubuhnya mulai gemetar kencang “te..tetapi ketua, a..aku membawakan kabar yang penting” – “apa menurutmu kabar itu bisa mengampuni nyawamu?” tanya ketua yang membuat Tsam semakin gemetar “kumohon dengarlah untuk sebentar” – “katakan” – “seorang pemuda memiliki kekuatan yang sama denganmu, dia mempunyai api biru” kata Tsam dengan gemetar, ketua menengokan wajahnya, seorang laki - laki memakai topeng biru, tak lain adalah Kara. Kara tertawa kecil “menarik, aku ingin bertemu dengannya”, Tsam bernafas lega “saya mengerti!” Tsam memberi hormat, lalu segera keluar dari ruangan itu.


“Segel ini akan menekan tenaga dalam mu, jika melepaskan tenaga dalam terlalu besar, segel ini akan terbuka, ledakan tenaga dalam yang besar akan terjadi pada tubuhmu, dan jika itu terjadi, tubuhmu akan hancur, apa kau mengerti?” Fei duduk dibelakang Niki, Niki duduk bersila layaknya orang bermeditasi. Niki mengganguk, kemudian menghirup nafas dalam - dalam, Fei pun meletakan telapak tangannya di punggung Niki, kemudian mengalirkan tenaga dalamnya, seketika Niki berteriak kesakitan, punggungnya terasa terbakar, tidak beberapa lama Niki tergeletak tidak sadarkan diri, kini terpampang segel di punggungnya.


Niki kembali membuka matanya, ia sudah berada di ruang pengobatan, cukup lama ia tidak sadarkan diri, punggungnya pun masih terasa panas. Tidak beberapa lama, pintu ruangan dibuka, Fei masuk kedalam ruangan, “berapa lama aku tidak sadarkan diri?” sambut Niki, “hanya sehari” Fei tersenyum. Dari kejauhan, Liang duduk diatas pepohonan, memperhatikan itu semua melalui teropong “sudah waktunya bekerja ya”. Malam itu malam yang tenang di istana, Niki pun sudah tertidur, beberapa pasukan berjaga di depan ruang pengobatan. Liang kini sudah menyamar menggunakan pakaian pasukan istana, berjalan mendekati ruang pengobatan. Para pasukan yang berjaga di depan ruang pengobatan mulai mengantuk, mereka pun melihat kedatangan Liang “akhirnya penggantinya datang juga” – “maaf membuat menunggu” jawab Liang, para pasukan itu pun mulai beranjak pergi meninggalkan ruang pengobatan. Liang mulai melihat sekitar, kemudian membuka pintu ruang pengobatan, Niki masih tertidur pulas, Liang berjalan mendekati Niki, membentuk cakar elang, ia bermaksud membunuh Niki malam itu. Liang pun melayangkan cakar elangnya, mencekik leher Niki, Niki pun langsung terbangun dan terkejut melihat Liang, Niki menendang tubuh Liang menjauh. Liang terpental cukup jauh, kemudian ia tersenyum “sepertinya tidak akan mudah ya” Liang maju menyerang, pertarungan terjadi. Pertarungan yang sengit, hingga satu titik Liang kembali mencekik leher Niki menggunakan cakar elangnya, Niki tidak bisa menghindarinya, perlahan Niki pun mulai susah untuk bernafas, ia sudah terpojok, Niki mulai memikirkan cara, meraih pedang bunga yang ditaruh tak jauh darisana. Niki mencabut pedang bunga dan melakukan tebasan, Liang berhasil menghindarinya, tetapi tebasan itu merobek pakaiannya. Liang kesal melihat itu, ia pun kembali bersiap menyerang, baru Liang bermaksud menyerang, tiba - tiba beberapa pisau dilemparkan kearahnya, Liang tidak bisa menghindar, pisau - pisau itu menancap memenuhi tubuhnya, Liang pun terjatuh. Kini Vivian berdiri di depan pintu “sepertinya kau kesulitan”.