
Bab 59.
Para pasukan istana terpaku melihat pertarungan Lei dan Darius, bukan pemandangan sehari-hari bisa melihat seorang jendral bertarung. Lei sedikit kewalahan menghadapi kecepatan Darius, serangan Darius seakan sulit ditangkap mata, tetapi selain kecepatan, Darius juga memiliki kekuatan yang merepotkan, lagi-lagi pukulannya menghantam tameng Lei hingga terdorong cukup jauh. Lei mulai memikirkan cara lain untuk menghadapi Darius, sementara Darius masih bisa tertawa kecil “bagaimana? Aku cukup kuat kan?” – “cih!” Lei kesal melihat tingkah Darius yang masih bisa santai “semua pasukan! Buatlah tembok dan mulai menjempit!” perintah Lei, para pasukan istana pun mulai mengangkat tameng mereka, bersiap untuk memojokan Darius, Darius hanya tertawa kecil. Baru para pasukan istana bermaksud untuk menekan, tiba-tiba Niki maju menyerang seorang diri, tebasan pedang bunga telak mengenai tubuh Darius, tetapi Darius sempat melayakan pukulan balasan, menghantam Niki hingga jatuh terpental. Kini Darius terkapar, darah mulai mengalir keluar, Law terkejut melihat itu, Niki dapat melukai Darius bahkan sampai dua kali. “Cih!” Darius memuntahkan darah, ia mulai bangkit berdiri “dasar sial!”, Lei pun melihat celah “rantai jaring!” perintah Lei, para pasukan istana langsung melemparkan rantai mengikat tubuh Darius, menahan rantai itu sekuat tenaga, “cih!” gerutu Darius, kini ia sudah terpojok.
Lei memasukan kembali pedangnya “kini sudah selesai” Lei berjalan menghampiri Darius, tetapi tiba-tiba beberapa jarum ditembakan, memutuskan rantai yang mengikat Darius, Lei terkejut melihat itu. Sebuah peti dilemparkan, berdiri tepat didepan Darius, Akari melompat keatas peti itu “sepertinya pertarungan disini harus diakhiri sekarang” Akari melemparkan bola asap, lalu pergi menghilang bersama dengan Darius dan juga peti itu. “Cih!” Lei tampak geram “kerahkan pasukan untuk mencari mereka!” – “hentikan!” perintah Fei yang berdiri tidak jauh “tidak perlu menimbulkan korban”. Niki mulai bangkit berdiri, memasukan kembali pedang bunga, Kin berjalan menghampiri “kau tak apa?”, dari kejauhan Kal memperhatikan pertarungan barusan, kini ia semakin yakin jika Niki bukan pasukan biasa.
Disebuah gua didalam hutan, Akari sedang beristirahat, tenaganya terkuras karna menggendong Darius dan juga peti selama melarikan diri. Darius masih memegangi lukanya “sudah lama aku tidak terluka seperti ini, ternyata masih ada pedang yang bisa melukai kulitku” Darius tertawa kecil, “cih! dasar merepotkan” gerutu Akari. Di istana, para pasukan mulai membereskan kerusakan yang terjadi, sementara Vivian sedang melapor ke ruangan Fei. “Sudah dipastikan, mereka membawa mayat milik Liang” Vivian memberi laporan, Fei menghela nafas, menuang segelas teh, kemudian meminumnya “siapa yang mengambilnya?”, Vivian memberikan selembaran wajah Darius “ia dijuluki pukulan petir, ia bukan berasal dari wilayah Bulan Sabit, dan juga namanya pernah berada di gulungan hitam” – “pernah?” tanya Fei bingung, “menurut informasi, seharusnya ia sudah meninggal beberapa tahun yang lalu” jawab Vivian yang membuat Fei terdiam sejenak, kemudian menghela nafas, Fei melihat kearah secarik kertas, pesan yang dikirim Tang tadi pagi “sepertinya semakain sesuai dengan informasi yang diberikan Tang”.
Yung membawa Tsam ke pinggir kota, mata Tsam melihat-lihat sekitar, tempat yang tidak terawat. “Jika kau mencoba menipuku, aku akan membunuh mu” kata Tsam sembari masih mengikuti Yung, tetapi tiba-tiba Jiu sudah berada dibelakang Tsam, menodongkan belati dileher Tsam “siapa yang ingin kau bunuh”, Yung membuka tudungnya “dia tamu”, Jiu pun tertawa “padahal aku sudah bersemangat, sepertinya dia lawan yang kuat” – “dia mencari orang yang mengalahkan mu tempo hari” kata Yung langsung pada intinya. Jiu tertawa kecil “orang itu ya, dari yang kudengar dia dijuluki bangau merah”, Yung melemparkan sekantung perak kepada Jiu “dia membutuhkan informasi lebih dari itu”, Jiu menghitung perak didalam kantung itu “kau membutuhkan informasi apa?” – “kemana perginya orang itu?” jawab Tsam. Jiu tertawa kecil “aku bisa saja memberitahu mu, tapi jawablah pertanyaanku, apa kau mencarinya untuk membunuhnya?” – “memangnya apa urusannya dengan mu?” jawab Tsam, Jiu kembali tertawa kecil “jadi begitu..kalau begitu kau harus antri, karna aku yang akan membunuhnya” seketika Jiu menghilang “aku memberikan mu penawaran, bawa aku bersama mu, maka akan ku antarkan kau langsung kehadapan orang itu”, Tsam tersenyum “jika aku membawa mu, maka kau akan mengganggu ku” – “jawaban yang salah” seketika Jiu berada dibelakang Tsam, bermaksud melakukan tebasan dengan belatinya, tetapi tiba-tiba Tsam membalikan badan dan mencekik Jiu “aku tidak punya waktu untuk main-main”. Yung terkejut melihat itu, ia pun segera melarikan diri, Tsam tertawa kecil “sepertinya sekarang hanya kita berdua”, Jiu mulai kesulitan bernafas, Tsam mencekiknya dengan sangat kencang, “istana-istana” jawab Jiu yang sudah tidak bisa bernafas, Tsam tersenyum, kemudian melempar Jiu hingga jatuh terpental cukup jauh. “Aku sudah tidak ada urusan dengan mu” Tsam beranjak pergi, “tunggu!” teriak Jiu yang menghentikan langkah Tsam “bawa aku bersama mu, aku pasti akan berguna”, Tsam terdiam sejenak “terserah kau saja” kemudian melanjutkan langkahnya.
Matahari kembali terbit, hari yang tenang di istana, beberapa pasukan masih bekerja memperbaiki bekas pertarungan tempo hari. Jee sedang bekerja diruangannya, menulis beberapa gulungan, tidak beberapa lama, pintu ruangan diketuk, Oto masuk kedalam ruangan, ia memakai pakaian pasukan istana, Oto juga mengubah sedikit tampilan wajahnya, masuk kedalam pasukan istana dengan nama Zeke. “Lama tidak berjumpa ya, Zeke” sambut Jee, “senang bertemu dengan anda” Zeke memberi hormat, Jee menyalakan cerutu “bagaimana kabar Valir?” – “dia baik-baik saja, Shee mengawasinya” jawab Zeke, Jee pun menghembuskan asap cerutu “baguslah kalau begitu” kemudian Jee memberikan sebuah gulungan “aku akan merekomendasikan mu ke pasukan Belalang Sembah dibawah pimpinan jendral Sun, tidak perlu terlalu mencolok, pasukan kelas dua sudah cukup”, Zeke mengambil gulungan itu “saya mengerti” memberi hormat, kemudian beranjak pergi.
Di pondok pasukan Belalang Sembah, para pasukan sedang berlatih, sementara Kal dan Yun hanya duduk di pinggir lapangan. “Ku dengar kalian dihajar habis-habisan ya oleh penyusup” seorang laki-laki berbadan gemuk menghampiri, ia adalah Roo, tangan kanan pasukan Belalang Sembah. “Ah senior Roo” sambut Yuan, “tidak juga, dia mengalahkan kami dalam satu serangan” celetuk Kal, Roo tertawa “wah sepertinya menarik jika aku yang melawannya” – “tapi dia lawan yang benar-benar kuat, jendral Lei saja kewalahan melawannya” jawab Kal, Roo kembali tertawa “gemuk-gemuk begini, jangan remehkan aku”. Masih asik berbincang, Zeke datang menghampiri “permisi, apa anda adalah Roo? Saya datang untuk melapor” Zeke memberi hormat, kemudian memberikan sebuah gulungan, Roo membaca gulungan itu “ahh ternyata pasukan baru ya, selamat datang, ei kalian berdua! daripada bengong saja, urus pasukan baru ini” Roo memberikan gulungan itu ke Yuan “aku pergi cari makan dulu” Roo tertawa kecil kemudian beranjak pergi. Kini tersisa Zeke, Kal, dan juga Yuan, Zeke memberi hormat “mohon bantuannya”, Yuan membaca gulungan itu “pasukan kelas dua ya, kau harus banyak berlatih” – “kau masih berani bicara begitu setelah dihajar habis-habisan?” celetuk Kal, kemudian bangkit berdiri dan beranjak pergi “kuserahkan pasukan baru ini pada mu” – “cih! Merepotkan saja!” gerutu Yuan.