
Bab 86.
Pertempuran di istana semakin memanas, Darius kini mengamuk di istana, para pasukan dengan mudah dikalahkannya, hingga tiba-tiba pedang hitam menebasnya dari belakang, Sai yang melakukan itu. Darius membalikan badan, ia tertawa saat melihat Sai “menarik, ayu kita bertarung!” Darius maju menyerang, melayangkan tinjunya, Sai menghindarinya, tinju Darius melesat tepat disampingnya, Sai melakukan serangan balasan, pedang hitam menebas telak Darius, pertarungan pun terjadi.
Pasukan Cahaya Fajar juga ikut bertempur, Cilion menebas para bandit dengan sepasang belatinya, hinga tiba-tiba beberapa jarum ditembakan kearah Cilion, Cilion menangkis jarum-jarum itu, tak lain Akari yang melakukan itu. Akari berjalan mendekat, mengeluarkan sepasang pisau “kali ini kau yang akan mati sayang!”, Cilion tertawa kecil “ternyata kau masih dendam padaku ya”, Akari bermaksud maju menyerang, tetapi tiba-tiba selendang hitam mengikat tubuhnya, Zizi yang melakukan itu. Akari melihat kearah Zizi “cih! Kekasih baru mu?”, Cilion tertawa kecil “kau cemburu?” Cilion maju menyerang, ia bermaksud melakukan tebasan, Akari memotong selendang hitam yang mengikatnya, kemudian menghidari tebasan Cilion, pertarungan terjadi.
Di sisi lain istana, Sai masih bertarung dengan Darius, Darius lawan yang merepotkan, tubuh Sai luka-luka terkena hantaman tinju Darius, begitupula tubuh Darius luka-luka terkena tebasan pedang hitam. Sai dan Darius masih bertarung, pertarungan yang sangat sengit, Darius bergerak dengan sangat cepat, membuat Sai sedikit kewalahan, hingga tiba-tiba sebuah anak panah melesat menembus mata kiri Darius, ia berteriak dengan sangat kencang, darah mengalir dengan deras, Niki yang melakukan itu. Sai melihat celah, ia langsung menebaskan pedang hitamnya, menebas telak tubuh Darius hingga terjatuh. Niki, Kin, dan juga Pingping datang menghampiri “ketua Sai!”, Sai menghela nafas “syukurlah kalian tidak apa-apa”.
Di sisi lain istana, Kiba dan Law sedang bertarung dengan para bandit, hingga tiba-tiba sebuah anak panah melesat menesuk bahu kanan Kiba, Kiba pun terjatuh, Kili yang melakukan itu. Law berlari kearah Kiba “Kau tidak apa-apa?”, Kili tertawa kecil “kita impas”.
Pasukan istana ditekan oleh para bandit, sebagian besar pasukan ditelan kobaran api, dari atas atap istana Fei memperhatikan itu semua, Fei mulai mengumpulkan tenaga dalam, kemudian mengalirkannya, seketika hujan turun dengan deras, memadamkan kebakaran di istana. Vivian melihat kearah Fei “guru jangan lakukan itu!” – “ada apa?” tanya Tang, “guru menggunakan seluruh tenaga dalamnya untuk menurunkan hujan” Vivian masih memperhatikan Fei dengan wajah cemas.
Pertempuran di kota telah memakan banyak korban, Kara masih menebaskan sepasang ceruritnya melumpuhkan para pasukan, tetapi kemudian ia terdiam saat melihat hujan turun di istana “cih! Fei sialan!” geram Kara. Kara masih memperhatikan hujan di istana, hingga tiba-tiba Roo menyerang kearahnya, menebaskan sebilah golok, Kara menghindari tebasan itu, Roo kembali menyerang “kau telah membunuh jendral!” Roo melakukan tebasan, Kara menangkis tebasan itu dengan sepasang cerurit “kita lihat kemampuan mu” Kara melakukan serangan balik, pertarungan terjadi.
Di sisi lain kota, Silvana sedang bertarung dengan Enel, Enel menghujani Silvana dengan hantaman, Silvana hanya bisa menahan hantaman-hantaman Enel, tubuhnya sudah luka-luka, sekali lagi hantaman Enel menghantamnya telak hingga terjatuh, Silvana kini tidak sadarkan diri. Dari kejauhan Kumo memperhatikan itu semua, ia beranjak pergi dan bersembunyi disalah satu pondok.
Pertempuran masih terjadi di istana, pasukan istana kewalahan menangani para bandit. “Bagaimana ini?!” tanya Tang sembari masih bertarung dengan para bandit, “kau tahanlah para bandit, aku akan mencari jendral” Vivian menebas beberapa bandit dengan pisaunya, kemudian beranjak pergi.
Fei kini berdiri ditengah-tengah halaman istana, para bandit mengelilinginya, Fei menghirup nafas dalam-dalam “kalian semua pergilah!” kemudian menghempaskannya, seketika para bandit jatuh terpental cukup jauh, “aku akan mengikuti jejak mu guru!” gumam Fei, ia mengeluarkan semua tenaga dalamnya yang tersisa, seketika lingkaran api terbentuk mengelilingi halaman istana, para bandit terjebak didalam lingkaran api itu.
Di dermanga istana, Yamato dan beberapa pasukan bermaksud membawa Khan untuk melarikan diri menggunakan sebuah kapal kecil. “Kaisar naiklah” Yamato menyuruh Khan naik keatas kapal, “wah-wah kebetulan sekali kita bertemu disini” Kulu berjalan mendekat, ia sudah menunggu dari tadi. “Kulu?” Khan terkejut saat melihat Kulu, Kulu membungkukan tubuhnya memberi hormat “selamat malam Kaisar, maaf mengganggu waktu anda sebentar” Kulu mengeluarkan trisula raja, kemudian maju menyerang, para pasukan mengeluarkan senjata mereka, pertarungan terjadi.
Tidak butuh waktu lama, para pasukan sudah berhasil dilumpuhkan, hanya tersisa Yamato seorang, Kulu kembali menyerang, menebaskan trisula raja, Yamato menangkis dengan senjata cakarnya, Kulu terus menghujani Yamato dengan tebasan, hingga satu titik tebasan trisula raja menghancurkan senjata cakar Yamato, Yamato terkejut melihat itu, Kulu tersenyum kemudian menusuk trisula raja menembus tubuh Yamato, Yamato memuntahkan darah, Kulu mencabut trisula raja, Yamato terjatuh, darah mengalir dengan deras, dalam sekejap Yamato sudah tidak bernyawa. Khan terkejut melihat itu, “seorang Kaisar tidak seharusnya meninggalkan istana, mari kembali kedalam” Kulu menarik Khan turun dari kapal.
Sai, Kin, Pingping, dan juga Niki masih bertarung dengan para bandit. Niki menebaskan kerambitnya melumpuhkan para bandit, lusinan anak panah juga sudah ditembakan Pingping, hingga tiba-tiba seorang bandit maju menyerang, bermaksud menebas Pingping, tetapi Niki terlanjur menendang bandit itu menggunakan kaki palsunya hingga jatuh terpental cukup jauh, Pingping melihat kearah Niki “terima kasih” – “sebaiknya kau hati\-hati” jawab Niki sembari tertawa kecil.
Masih bertarung dengan para bandit, Kiba dan Law datang menghampiri “ketua!”, tidak beberapa lama, Vivian, Tang, dan Vin juga datang menghampiri, “kalian semua baik-baik saja?” sapa Tang. “Dimana jendral?” tanya Sai, Tang tertunduk “jendral tidak ikut, dia akan menahan para bandit” – “apa maksudnya menahan para bandit?” tanya Sai lagi, “jendral Fei menyuruh kita pergi” jawab Vin, “tidak, kita akan membawa jendral pergi” Sai bermaksud beranjak pergi, tetapi Vivian menahan “jangan buat guru mati sia-sia”, Sai terdiam mendengar itu, kemudian mengangguk “kita pergi sekarang”.
Di salah satu ruangan di istana, Roku duduk diam sembari menikmati seteko teh hangat. Pintu ruangan dibuka, Toro masuk kedalam ruangan “jendral besar, para pasukan istana sudah dipukul mundur”, Roku menghela nafas, menuang segelas teh “biarkan saja, aku akan runtuh bersama istana ini” Roku meminum tehnya.
Di dermaga istana, Sai mulai mempersiapkan kapal kecil “kita pergi menggunakan ini”, Tang, Vin, Kiba, Law, Kin, Pingping, dan juga Niki naik keatas kapal. “tunggu! Tunggu aku!” Sanji berlari mendekat, “cepat!” kata Sai, Sanji naik keatas kapal, hanya tinggal Sai dan Vivian yang belum menaiki kapal, Vivian masih menengokan wajahnya melihat kearah istana, Sai memegang tangan Vivian “masih ada waktu”, airmata Vivian mulai menetes, kemudian menggeleng, Vivian melangkahkan kaki naik keatas kapal diikuti Sai. Mereka berlayar pergi.
\=Akhir dari season 1\=
NIKI -The Lost Son akan kembali..