
Bab 25.
Malam di Tebing Langit. Tubuh Sai sudah di rantai, ia dimasukan kedalam ruang tahanan, “aku tidak menyangka pendekar sepertimu akhirnya tertangkap” Kara menghantam wajah Sai, ia tertawa dengan puas “lihatlah dirimu sekarang, kau bahkan sudah tidak berdaya” kemudian Kara mengeluarkan kerambitnya dan menebas wajah Sai, darah mengalir keluar. Lagi - lagi Kara tertawa dengan puas dan mengunci ruang tahanan Sai, Sai hanya bisa diam tidak berdaya, ia sedang memikirkan cara untuk melarikan diri.
Di gunung emas, Vivian dan Tang masih menunggu Sai kembali. “Dia belum juga kembali, sepertinya terjadi sesuatu” Tang membuka pembicaraan, “aku juga mengkhwatirkan hal yang sama” kata Vivian penuh cemas, “tidak perlu berpikir dua kali, kita harus mencari orang bernama Liang” Tang mulai mengambil peralatan, “aku setuju” Vivian ikut mengambil peralatannya. Tang dan Vivian kini menuntun kuda mereka menuju ke hutan, mereka pergi secara diam - diam.
“Sesuatu terjadi pada senior Sai, bukan begitu?” Niki berdiri tak jauh, sudah bersiap dengan kudanya, “apa yang kau lakukan disini?” tanya Vivian, “aku ikut dengan kalian” jawab Niki, “jangan bercanda..” belum selesai Tang bicara, “baiklah” potong Vivian, Tang terkejut mendengar itu, Niki tersenyum kemudian naik ke atas kudanya. Kini mereka berkuda menuju kota tempat Liang berada.
Malam semakin larut, disalah satu kota. Liang sedang berendam menikmati air hangat, seorang perempuan datang, seorang pelayan yang bertugas untuk memandikan Liang, perempuan itu adalah Vivian. “Mari saya mandikan tuan” Vivian ikut berendam, ia mulai memandikan Liang secara perlahan, Liang sangat menikmati itu, hingga tiba - tiba sebuah pisau ditempelkan dilehernya “dimana Sai?” tanya Vivian, Liang hanya tersenyum “mengapa kalian suka sekali menyamar” tiba - tiba Liang melayangkan hataman ke tubuh Vivian hingga terpental.
Tang melompat menghancurkan atap ruangan, ia melemparkan kapaknya kearah Liang, Liang membentuk cakar elang dan menangkap kapak Tang, lalu mencengkram kapak itu hingga hancur, Tang terkejut melihat itu. Liang melompat keluar dari dalam kolam “kalian mengganggu waktu santaiku!”, Vivian bangkit berdiri, ia melemparkan beberapa pisau ke arah Liang, Liang menghindarinya, Vivian mengeluarkan sebuah pisau dan maju menyerang, Tang mengeluarkan kapak satunya lagi dan ikut menyerang, pertarungan pun terjadi.
Vivian dan Tang berhasil memojokan Liang hingga melompat keluar dari rumah pemandian, baru Liang memijakan kaki di tanah, tiba-tiba Niki datang, ia mengalirkan tenaga dalam ke tinjunya dan langsung menghantam Liang dari belakang. Liang terkejut dengan kedatangan Niki, hantaman telak Niki membuatnya terpental cukup jauh, Liang mulai memuntahkan darah “kecoanya bertambah satu!” ia mulai bangkit berdiri.
Niki bersiap mengeluarkan kerambitnya, begitu pula Tang dan Vivian dengan senjata mereka. “Siapa dari kalian yang ingin mati terlebih dahulu?” Liang bersiap dengan cakar elangnya, “hati-hati dengan jurusnya” kata Tang, “aku mengerti” jawab Niki sembari mulai memasang kuda-kuda. “Hei perempuan, ku kira malam ini aku bisa menikmati mu, ternyata malah ingin membunuhku, kau membuatku kecewa, kau mati pertama!” Liang maju menyerang, serangan Liang sangat cepat, dalam sekejap ia sudah berada dihadapan Vivian dan siap menghantam dengan cakar elangnya, Vivian terkejut, ia tidak bisa menghindar, tetapi Niki berhasil membaca gerakan Liang dan menahan cakar elang itu dengan kerambitnya.
Liang menghajar mereka habis-habisan, Tang sudah terkapar, beberapa tulangnya remuk akibat cakar elang, sedang Vivian dan Niki masih berdiri dengan babak belur. “Kalian gigih juga, sama seperti teman kalian, butuh empat orang untuk mengalahkannya” puji Liang, “ternyata benar Sai ada bersama mu” jawab Vivian yang sudah terengah-engah. “Ku beri kalian penawaran, aku akan mengalahkan kalian dan kalian bisa menyusul teman kalian, bagaimana?” kata Liang meledek, “kurang ajar!” Vivian bersiap menyerang.
Niki menahan “tunggu!” Niki berpikir sejenak “maafkan aku, aku akan kembali bersama senior Sai” Niki mendorong Vivian menjauh, ia mengalirkan tenaga dalam ke tinjunya dan menghantam tanah tempat ia berdiri, tanah itu pun mulai retak, memisahkan Vivian dan Tang dibelakang sana.
“Aku lawanmu!” Niki kembali mengalirkan tenaga dalam ke tinjunya dan maju menyerang, Liang kembali membentuk cakar elang, kini tinju Niki beradu dengan cakar elang Liang, getaran kuat terjadi, tanah dan bangunan disekitar mereka mulai retak, Vivian terkejut melihat itu.
Matahari mulai terbit, di Tebing Langit, Sai masih berdiam diri didalam ruang tahanan, pintu ruangan dibuka, Niki dilemparkan kedalam, ia terikat rantai dan masih tidak sadarkan diri setelah pertarungan semalam, Sai terkejut saat melihat Niki.
Di ruanganya, Shibaku sedang duduk minum teh ditemani Liang, “sepertinya kau terlalu sering pergi berendam, mungkin sekarang tempat itu sudah dipenuhi pasukan” Shibaku membuka pembicaraan, “ya aku tahu, sepertinya aku harus mencari pemandian yang baru” jawab Liang sembari meminum tehnya.
Matahari mulai sampai di puncak, Sai dan Niki masih berada didalam ruang tahanan, “dasar bodoh! Untuk apa menyusulku kemari!” Sai memarahi Niki, Niki tersenyum “sepertinya senior kesulitan dengan rantai itu” Niki mengeluarkan sebuah potongan besi kecil dari balik lidahnya, Sai tersenyum. Kini rantai yang mengikat tubuh mereka sudah terlepas, Niki menyalakan cerutunya “aku tidak akan datang kemari tanpa persiapan” ia menghembuskan asap cerutunya, “aku memiliki rencana lain sebelum keluar dari sini” kata Sai sembari mencoba melihat keluar dari celah lubang, “aku juga tidak sedang buru-buru” jawab Niki masih menghisap cerutunya.
Matahari mulai terbenam, Sai dan Niki sudah bersiap untuk keluar dari sana. “Dengar Niki, kau bakarlah lumbung makanan, setelah itu lepaskan kandang kuda, bawa dua kuda ke luar benteng bagian timur” perintah Sai, “aku mengerti!” jawab Niki, “jika tengah malam aku belum kembali, kau kembalilah ke gunung emas” lanjut Sai, “tidak! Aku datang kemari untuk membawa senior kembali!” Niki menekan nada bicaranya, Sai tersenyum “baiklah kalau begitu, kita kacaukan benteng ini” Sai mendobrak pintu tahanan, beberapa penjaga terkejut melihat itu, tetapi Sai dan Niki dapat melumpuhkan mereka dalam sekejap. Sai dan Niki mulai mengambil senjata mereka kembali, “kita berpisah disini” Sai mulai berjalan kearah tengah benteng, sedangkan Niki kearah lumbung makanan.
Disebuah ruangan, Oto sedang menyusun rencana, peta kekaisaran terpampang diatas meja, dan ada seseorang lagi menutupi wajahnya dibalik jubah merah, ia adalah Valir. “Ini rencana terbaru dari ayah” Valir menaruh sebuah gulungan diatas meja “jangan sampai ada kesalahan sedikitpun” – “tenang saja, belum ada yang mencurigaiku” Oto mengambil gulungan itu. Diluar ruangan, Sai mendengarkan itu semua, ia bermaksud untuk mencuri gulungan rencana, tetapi ia tidak menyangka ada orang lain diruangan itu.