NIKI - The Lost Son

NIKI - The Lost Son
24



Bab 24.


 


Hari yang tenang di istana, Khan sedang melukis di loteng istana, Kulu datang menghampiri “Kaisar” Kulu memberi hormat. Khan meminum segelas teh “jadi begitu ya, pelakunya sudah ditemukan” – “jika Kaisar berkenan kami siap mengeksekusinya di alun - alun istana” jawab Kulu, “aku ingin bertemu dengannya terlebih dahulu” kata Khan, “saya mengerti!” Kulu memberi hormat kemudian beranjak pergi. Di gunung emas, Wen sedang berdiri di depan gua, menunggu burung pengantar pesan dari Yamato. “Sudah dua hari ia tidak memberikan kabar” Su datang menghampiri sembari menghisap cerutunya, “firasatku juga tak enak” Wen menghela nafas.


Ruang tahanan istana, Yamato dikurung disalah satu sel, dengan tangan yang dirantai, kini ia hanya menunggu waktu untuk dieksekusi. “Aku tidak percaya kau melakukan hal semacam itu” kata seorang laki - laki paruh bayah dengan wajah yang dipenuhi bekas luka, ia dikurung disamping sel Yamato, ia adalah Yoko, kepala koki istana. “Kau tahu kan kalau aku dijebak” kata Yamato, Yoko tertawa kecil “yah lagi pula aku juga sudah lama bosan hidup”, lalu terdengar suara dari kejauhan “kalian tunggu disini, aku ingin bicara seorang diri”.


Tidak beberapa lama seorang laki - laki menghampiri sel Yamato, ia adalah Khan, “Kaisar” sapa Yamato, “beritahu aku apa yang terjadi?” tanya Khan langsung pada intinya, “maaf Kaisar, aku tidak bisa mengatakan apa - apa” jawab Yamato, “aku tidak bodoh, racun waktu itu ditusukan kedalam tubuhku, bukan melalui makanan, jadi sebaiknya kau jelaskan mengapa kau bisa berada disini” lanjut Khan, Yamato tersenyum “maaf Kaisar aku tetap tidak bisa mengatakan apa - apa, itulah perintah yang dikatakan padaku, dan seharusnya aku sudah melaporkan ini beberapa hari yang lalu di makam para jendral”.


Khan terdiam sejenak, ia mengeluarkan sebuah kunci, melemparkannya kearah Yamato “baiklah jika begitu, aku sudah tidak ada urusan disini” lalu beranjak pergi. “Jadi para jendral sudah mati?” tanya Yoko dari samping sel, “tidak baik mendengarkan percakapan orang lain” jawab Yamato sembari membuka gembok rantai yang mengikatnya. Khan baru saja keluar dari ruang tahanan, “bagaimana Kaisar?” tanya Toro yang dari tadi menunggu disana, Khan hanya terus berjalan tanpa menjawab sepatah katapun.


Dihalaman istana, kereta kuda sudah disiapkan. Kulu dan Enel berjalan kearah kereta kuda, “jendral!” Kobe memberi hormat dan membukakan pintu kereta kuda, “ku titipkan istana ini padamu” kata Kulu sembari naik ke dalam kereta kuda diikuti Enel, Kobe mengangguk dan menutup pintu kereta kuda. Kini kereta kuda Kulu telah meninggalkan istana untuk pertemuan aliansi.


Di Tebing Langit, kereta kuda sudah disiapkan, Taka - Taki dan Oto sudah membukakan pintu kereta kuda untuk Kong dan Shibaku, “dari yang kudengar kau mengajak Liang ke pertemuan kali ini” Kong membuka pembicaraan, “bagaimanapun dia adalah tangan kanan ku” jawab Shibaku acuh tak acuh sembari menaiki kereta kuda, Kong tampak kesal.


Disalah satu kota, Liang baru saja selesai mandi, lengan kirinya yang putus masih dibalut perban, seorang perempuan sedang memakaikan Liang pakaian. Kini Liang berjalan keluar, sudah ada kereta kuda yang menunggu, seorang laki - laki memakai topi caping membukakan pintu “apa anda tuan Liang?” tanya laki - laki itu, “ya” jawab Liang singkat sembari menaiki kereta kuda itu, laki - laki itu tersenyum dan menutup pintu kereta kuda, laki-laki itu adalah Sai.


 


“Liang, ku kira kau tidak akan datang” sambut Kulu, Liang tidak menjawab dan mengambil tempat duduk, Kulu tersenyum “sepertinya pertemuan kali ini sudah bisa dimulai” Kulu mengeluarkan sebuah peta besar dan meletakannya di atas meja bundar, “tunggu!” Enel menaruh palu besinya diatas meja “kakak ku masih menjadi tahanan mereka, aku ingin mengeluarkannya terlebih dahulu” – “mereka? siapa maksudnya mereka?” tanya Xu bingung, “sepertinya pasukan Tebing Langit belum sepenuhnya mati” sambung Jee sembari melihat kearah Kong.


Kong tampak kesal, ia mengeluarkan gadah peraknya dan meletakannya diatas meja “tarik kembali perkataanmu!”, Jee tersenyum “kau memang sangat primitif” – “sudah cukup hentikan!” Liang membentuk cakar elang dan menghantam meja bundar itu hingga retak, semua orang diruangan itu terkejut, “aku baru saja kehilangan tanganku, jangan membuatku kesal!” Liang mencengkram cakar elangnya, retakan di meja itu semakin besar, Shibaku hanya tersenyum melihat keganasan Liang. Sai berhasil memanjat tebing menuju loteng kastil, ia memperhatikan itu semua dari atas sana.


Pertemuan kembali dilanjutkan, Kulu dan aliansinya sedang membahas langkah mereka selanjutnya. “Hentikan!” Shibaku memotong pembicaraan, “ada apa?” tanya Xu, “Kulu, kau menyadarinya bukan, jika dari tadi ada penyusup yang mendengarkan pertemuan kita” lanjut Shibaku, Sai pun terkejut mendengar itu.


Kulu tersenyum “siapa yang mau bertarung?” – “ternyata Sai ya” Kong mengambil gadah besinya “biar aku yang urus!” Kong langsung melompat menghantam tembok tempat Sai berada, tembok itu langsung hancur berkeping-keping, Sai berhasil menghindarinya. Tetapi tiba-tiba Taka-Taki sudah berada di belakang Sai “lama tidak jumpa ya Sai” sapa Taki sembari mencabut pedang kembarnya dan menyerang Sai, Sai mencabut pedang hitamnya dan menahan serangan Taki, Taka juga mencabut pedangnya dan ikut menyerang, pertarungan terjadi.


Sai masih bertarung dengan Taka-Taki, ia melihat celah dan pedang hitamnya menebas mata kiri Taka, Taka pun terjatuh, “kakak!” Taki memalingkan wajahnya, “jangan lengah!” Sai melayangkan tendangan ke tubuh Taki hingga terpental. Tetapi tiba-tiba sebuah cambuk dengan mata pisau diujungnya mencambuk Sai dari belakang, cambuk itu merobek lengan kiri Sai, darah pun mengalir dengan deras, Oto yang melakukannya.


“Ternyata kemampuan anak iblis memang tidak bisa diremehkan ya” kata Oto sembari menggulung kembali cambuknya, Sai terkejut dengan kehadiran Oto, ia sama sekali tidak merasakannya apalagi sampai bisa menyerangnya. “Kau tidak boleh lengah!” Kong mengayunkan gadah peraknya menghantam wajah Sai hingga terpental, darah pun mengalir keluar dari wajah Sai.


Jee tersenyum “tidak kusangka sampai harus empat orang yang menanganinya”, Kulu mencabut pedangnya “dia terlalu berharga untuk dibunuh sekarang” kemudian melompat keluar ke tempat pertarungan. Sai masih terkapar, Kong mengangkat gadah peraknya “tidak kusangka begini caramu mati” Kong bermaksud menghantam Sai, tetapi Kulu menahan gadah perak itu dengan pedangnya “sudah cukup! Ikat dia! terlalu cepat membunuhnya sekarang”, Kong tampak kesal dan menurunkan kembali gadah peraknya.


Kembali ke istana, di ruang bawah tanah. Sada sedang melakukan penelitiannya, Kobe disana duduk tidak jauh, “untuk apa kau disini? Aku tidak mau diganggu” kata Sada sembari tetap mengerjakan penelitiannya, “lakukan saja urusanmu, jendral Kulu menitipkan istana padaku, berarti itu juga termasuk kau didalamnya” jawab Kobe. Mendengar itu Sada menghampiri Kobe “aku disini bukan untuk main-main” Sada mencabut belatinya dan bermaksud menusuk Kobe, Kobe pun menyadari itu, ia juga mencabut pedang tengkoraknya dan bermaksud menebas Sada.


Tetapi kemampuan Sada diatas Kobe, belatinya sudah menembus tubuh Kobe dan tangan kirinya menahan pedang tengkorak yang akan menebasnya “perjanjianku dengan Kulu adalah aku boleh melakukan penelitian sepuasku dibawah sini, berarti itu juga termasuk menjadikan anjing peliharaannya sebagai kelinci percobaan” Sada menusuk belatinya lebih dalam, darah mulai mengalir keluar, “bajingan kau! Pasukanku akan membunuhmu!” kata Kobe sembari menahan sakit, “coba saja!” Sada mencabut belatinya, darah mengalir dengan deras, Kobe jatuh tergeletak. Pedang tengkorak Kobe jatuh tidak jauh darinya, Sada mengambil pedang tengkorak itu “pedang ini bagus juga” Sada mengantungi pedang itu kemudian beranjak pergi, membiarkan Kobe tergeletak kehabisan darah.