NIKI - The Lost Son

NIKI - The Lost Son
67



Bab 67.


 


Hari berlalu, semenjak penyerangan kemarin, semua pasukan ditarik mundur kembali ke istana. Hari itu para jendral melakukan pertemuan, “sudah bisa dipastikan dua orang penyerang, Kulu, mantan jendral, dan juga Taka, mantang pasukan Tebing Langit” Sun menaruh selembaran wajah Kulu dan juga Taka diatas meja, Kang menghela nafas “sudah kuduga hari ini pasti akan tiba” – “ada hal yang sepertinya perlu saya sampaikan” Lei membuka pembicaraan “saya khwatir jika pada penyerangan kemarin, dari awal Kulu memang mengincar pangeran” – “maksud mu mereka ingin meretakan delegasi?” celetuk Kumo, Lei menghela nafas “bisa dikatakan begitu, tetapi dari mana mereka tau tentang delegasi?”.


Masih melakukan pertemuan, tiba-tiba pintu ruangan dibuka, Cilion berjalan masuk kedalam, “maaf jendral Cilion, pertemuan ini tertutup” sambut Sun, Cilion tersenyum “ya saya tahu itu, tetapi sepertinya saya bisa membantu” Cilion menaruh selembaran wajah Akari di atas meja “dia adalah kucing hijau, salah satu penyerang tempo hari”, para jendral terdiam sejenak “dari mana kau mengetahuinya?” tanya Lei, Cilion tersenyum “bukankah lebih baik kita bertukar informasi?”.


Sun menghela nafas “sepertinya kita tidak punya pilihan” Sun menaruh selembaran wajah Darius di atas meja “apa kau tahu siapa dia?”, Cilion sedikit terkejut “dia pukulan petir” Cilion menghela nafas “ada satu hal lagi, kucing hijau dan pukulan petir, mereka berdua mantan buronan kekaisaran Cahaya Fajar” – “mantan?” tanya Lei, “seharusnya mereka sudah mati beberapa tahun yang lalu” jawab Cilion, “dari mana kau mengetahui itu?” tanya Sun, “karna saya sendiri yang membunuh mereka” jawab Cilion yang membuat para jendral terdiam.


Semenjak penyerangan tempo hari, Jee mengurung dirinya di kamar, hanya bermain catur seorang diri, ditemani seteko teh hangat. Pintu kamar diketuk, Harl masuk kedalam “apa saya menganggu penasehat?” – “tidak, silahkan masuk” sambut Jee, Harl duduk dihadapan Jee, Jee menuangkan segelas teh, Harl meminum teh itu “saya belum sempat mengucapkan terima kasih” – “tidak perlu sungkan, sudah menjadi tugas saya” jawab Jee sembari tetap bermain catur, Harl kembali meminum tehnya “boleh saya temani bermain?”.


Cukup lama mereka bermain, belum ada pemenang dalam permain kali itu “penasehat cukup hebat memainkan permainan ini, sama seperti Cilion” puji Harl disela - sela permainan, “bukan hal besar, inti dari permainan ini sangat sederhana, kau hanya perlu menyiapkan rencana dibalik rencana” Jee menggerakan bidak caturnya “permainan selesai”, Harl terkejut melihat itu, kemudian ia tertawa kecil “aku tidak menyangka, penasehat memang sangat hebat”.


Di sisi lain, pertemuan para jendral hampir menuju kata selesai, Sun menggulung sebuah gulungan “baiklah, saya akan melaporkan pembicaraan hari ini kepada jendral besar dan juga Kaisar, sekali lagi saya ucapkan terima kasih, jendral Cilion”, Cilion mengangguk “bukan hal besar”. Kini para jendral meninggalkan ruang pertemuan, begitu pula dengan Fei dan Kang, “jendral, apa menurut mu kita bisa mempercayai jendral Cilion?” Kang membuka pembicaraan, Fei terdiam sejenak “tidak ada yang tahu pasti tentang itu, sekarang ini yang bisa kita lakukan hanyalah mengamati”, Kang menghela nafas “sepertinya begitu”.


Fei kembali ke ruangannya, Vivian sudah disana menunggu “bagaimana pertemuannya?” sambut Vivian sembari menuangkan segelas teh. Fei mengambil tempat duduk, meminum teh itu “sepertinya semua informasi dari Tang mengarah pada hal yang sama” – “jadi apa rencana jendral?” tanya Vivian lagi, Fei menghela nafas “aku akan menjemput Tang di tembok perbatasan utara, ku titipkan pasukan naga padamu”, Vivian terdiam sejenak “lalu bagaimana dengan Niki?” – “pastikan dia tidak keluar istana” jawab Fei.


Matahari mulai terbenam, Fei sedang bersiap di kandang kuda, ia memakai jubah dan tudung hitam menutupi wajahnya. Vivian membuka salah satu pintu gerbang istana “hati - hatilah guru”, Fei pun berkuda meninggalkan istana, menuju ke tembok perbatasan utara.


Tsam berjalan ke sebuah gerobak yang ditutupi kain, Tsam membuka kain itu, Yuan tergeletak tidak berdaya “dia adalah pasukan istana, dan tidak salah lagi, orang yang kita cari ada di istana” Tsam menunjukan selembaran wajah Niki yang sudah berlumuran darah, “sepertinya akan sulit untuk menyusup ke istana, dari yang kudengar, bukankah topeng perak saja gagal saat menyusup kesana?” celetuk Jiu, “jika kau takut, kau tidak perlu ikut” tatapan mata Enel mulai berubah “sekarang aku sudah mengingat wajahnya”.


Matahari mulai terbit, Fei baru saja sampai di tembok perbatasan utara, para pasukan benteng menghentikan “siapa kau?!”, Fei membuka tudungnya “aku ingin bertemu dengan jendral Yao”. Kini Fei sedang berbincang dengan Yao diatas tembok perbatasan “jika bukan kau, aku tidak akan melakukannya” Yao membuka pembicaraan, “jika tidak terdesak aku tidak akan meminta bantuan padamu jendral” jawab Fei, “kapan mereka akan sampai?” tanya Yao, “aku sudah mengirimkan pesan kepada mereka, seharusnya mereka akan sampai saat tengah hari” Fei memandangi gurun luas didepannya.


Matahari mulai sampai dipuncak, tiga orang berkuda mendekat kearah tembok perbatasan, “lapor jendral! ada tiga orang datang berkuda!” lapor Ao dari atas menara benteng, Fei mulai melihat menggunakan teropong “tidak salah lagi, itu mereka”. Pintu gerbang tembok perbatasan dibuka, Sai, Tang, dan juga Kiba berkuda masuk kedalam, Fei sudah berdiri menyambut mereka. Sai, Tang, dan juga Kiba turun dari kuda mereka, kemudian memberi hormat “jendral!”, Fei menghampiri Sai “jika bukan karna keselamatan Niki terancam, aku tidak akan menyuruh mu datang kemari”, Sai mengangguk “saya mengerti, sudah menjadi tanggung jawab saya juga, mendiang kakek Su pernah menitipkannya pada saya”, Fei menghela nafas “ya..sama denganku, kakek itu memang merepotkan” canda Fei.


Di markas Naga Biru, “bajingan!” Kulu menghantam dinding gua, ia baru saja mendapat pesan yang berisi tentang kerjasama Bulan Sabit dan Cahaya Fajar untuk memburu Naga Biru. “Sepertinya rencana mu menjadi bumerang, bukan memecah perang, malah membuat hubungan mereka semakin erat” celetuk Taka, Kulu mulai mengatur nafasnya, duduk disalah satu batu “kita harus memikirkan rencana lain, rencana yang jauh lebih matang” – “aku yakin kau bisa melakukan itu” Kara datang menghampiri “pikiran mu sedang kacau, kau hanya berpikir untuk balas dendam, tenangkan diri mu, dan pikirkan rencana yang lebih matang seperti pemberontakan waktu itu, hanya saja kali ini tidak ada yang akan menusuk mu dari belakang”, Kulu terdiam sejenak, kemudian mulai tersenyum “ya, sepertinya kau ada benarnya”.


Di sisi lain markas Naga Biru, Akari sedang duduk diam sembari menikmati sepotong apel, tidak beberapa lama, Darius datang menghampiri “jadi kau bertemu dengan Cilion ya” sapa Darius sembari duduk tak jauh dari Akari. “Aku sempat menyerangnya” jawab Akari sembari memakan apelnya, Darius tertawa kecil, kemudian mengepalkan tangannya “sepertinya reuni yang menyenangkan, aku tidak sabar untuk reuni kembali dengannya”.


 


Matahari mulai terbenam, Vivian kini berjalan menuju loteng istana. Di loteng istana, Sai sedang memandangi langit, ditemani segelas teh hangat, “jadi kau sudah kembali?” sapa Vivian, Sai menengokan wajahnya, kemudian tersenyum “lama tidak berjumpa ya”, Vivian ikut tersenyum.


Dari kejauhan di atas pohon di dalam hutan, Tsam memperhatikan istana menggunakan teropong, sementara Yuan duduk di bawah pohon terikat, dijaga oleh Enel. Jiu memanjat menghampiri Tsam “bagaimana?” – “sepertinya semua pasukan sudah kembali ke istana, akan sulit untuk masuk kedalam” Tsam masih memperhatikan menggunakan teropong, “jadi apa rencana mu?” tanya Jiu, Tsam terdiam sejenak “aku masih memikirkannya”.