NIKI - The Lost Son

NIKI - The Lost Son
16



Bab 16.


 


Hari kesepuluh musim dingin, pagi yang cukup dingin. Di istana, Kulu masih tertidur bersama Mei, tiba - tiba pintu kamar dibuka “maaf menganggu” Toro memberi hormat “jendral harus melihat ini”. Kulu pun berjalan ke halaman istana mengikuti Toro, halaman istana sudah ramai, mayat Kil tergeletak disana. “Ada apa ini?” tanya Kulu saat melihat mayat Kil, “lapor jendral sepertinya jendral Kil dan pasukannya diserang, dan para tabib yang dibawa mereka juga menjadi korban, tidak ada yang tersisa” salah satu pasukan memberi laporan.


Kulu terdiam sejenak “siapkan pemakaman untuk jendral Kil dan juga yang lainnya” – “laksanakan jendral!” para pasukan memberi hormat dan beranjak pergi. “Jadi bagaimana ini jendral?” tanya Toro, “apa pun yang terjadi tidak boleh ada berita yang tersebar keluar istana” jawab Kulu, “lalu jendral, saya juga mendengar laporan tentang kericuhan di beberapa kota” lanjut Toro, Kulu menghela nafas “kumpulkan semua jendral, adakan pertemuan setelah makan siang” – “laksanakan jendral!” Toro memberi hormat.


Di pegunungan tiga jari, Bao sedang duduk di atas pohon memperhatikan Niki, sedangkan Niki sedang berlatih memukul pohon itu dengan tenaga dalam. Sudah berkali - kali percobaan tetapi Niki masih belum berhasil, “hei anak muda, kau harus melepaskan tenaga dalam mu” kata Bao dari atas pohon, Niki tidak menjawab dan terus mencoba, Bao hanya tersenyum melihatnya.


Di istana, para jendral sudah berkumpul, mereka semua berjumlah sembilan orang, seharusnya sepuluh jendral, tetapi Kil baru saja wafat. Wen dan beberapa penasehat Kaisar lainnya juga berada disana. “Baiklah, tujuan saya mengadakan pertemuan ini adalah untuk membahas keadaan kekaisaran, kekacauan terjadi diluar istana, jendral Kil sudah menjadi korban, kita tidak bisa menutup istana rapat - rapat dan menunggu Kaisar pulih” Kulu membuka pembicaraan, “lalu apa usul anda jendral Kulu?” tanya Kang, salah satu jendral.


“Membuka istana dan mulai mengirim pasukan untuk meredahkan kekaucauan diluar sana” jawab Kulu yang membuat seisi ruangan terkejut, “apa kau sudah gila? Jelas - jelas hanya Kaisar yang bisa memerintahkan itu” potong Lin, salah satu jendral. “Lagi pula bukankah sudah jelas jika keselamatan Kaisar adalah hal terpenting? Menutup istana adalah sebuah keharusan untuk saat seperti ini” lanjut Gong, Kulu memukul meja “disaat Kaisar siuman, sudah tidak akan ada yang tersisa diluar istana, lalu apa Bulan Sabit masih bisa disebut sebagai kekaisaran?”, seisi ruangan terdiam. Wen bangkit berdiri “sebagai penasehat Kaisar, aku mendukung keputusan Kulu” kata Wen lalu beranjak pergi, seisi ruangan terkejut mendengar itu.


 


Hari ke dua belas musim dingin, disebuah pelabuhan. Kereta kuda Kulu baru saja sampai, Kulu turun dari kereta kudanya, “tuan Kulu, yang lain sudah menunggu” sambut Huang, tangan kanan Xu. Huang naik kesalah satu kapal dagang diikuti oleh Kulu, seluruh kapal dipelabuhan itu adalah kapal dagang milik Xu. “Kau terlambat” sambut Caka saat Kulu memasuki ruang utama kapal, ruangan itu sudah ramai, Kong dan Shibaku sudah berada disana, begitu pula dengan Jee dan Valir, lalu juga Caka dan Rasa.


“Selamat datang di kapalku” sambut Xu, “aku tidak mengerti mengapa kita harus mengadakan pertemuan di kapalmu” celetuk Caka, “sudah tidak perlu diperpanjang, semuanya sudah berkumpul, kita bisa memulai pertemuannya” Kulu mengeluarkan beberapa gulungan “dalam tiga hari para jendral akan keluar istana dan mengatasi kericuhan di kota-kota, saat itulah peluang kita untuk membunuh mereka, disetiap gulungan sudah ada nama jendral-jendral target kalian, ku percayakan semuanya pada kalian” Kulu membagikan gulungan itu.


 


Shibaku masih berbincang dengan Kulu di atas dek kapal, “tidak disangka rencanamu bisa berjalan mulus” kata Shibaku, Kulu tertawa “saya sendiri tidak menyangka penasehat sialan itu mendukung” – “Wen?” tanya Shibaku, Kulu mengangguk, Shibaku diam sejenak “tua bangka itu memiliki jalan pikiran yang rumit, tidak bisa percaya begitu saja padanya”, Kulu mengangguk “saya mengerti”.


 


Hari itu ditengah salju yang tebal Niki kembali berlatih bersama Bao, Niki kembali mencoba untuk memukul pohon menggunakan tenaga dalamnya. Hari itu berlalu dengan hasil yang sama, Niki belum mampu melakukannya, “dengar anak muda, tenaga dalam itu seperti sungai, kau hanya perlu mengalirkannya ketempat yang tepat” Bao memukul pohon itu dengan tenaga dalam, dalam sekejap terbentuk lubang besar di pohon itu, Niki terkejut melihatnya, kekuatan yang belum pernah ia lihat sebelumnya.


Malam semakin larut, Wen sedang berdiam dikamarnya sembari menulis sebuah pesan. Pintu kamar diketuk “permisi tuan, makan malamnya sudah siap” kata pelayan dibalik pintu, “letakan saja disana” jawab Wen, pelayan itu menaruh nampan makanan dan beranjak pergi. Wen membuka pintu, mengambil nampan makanan dan membawanya kedalam, kemudian membokar makanan itu, menyalipkan secarik kertas berisi pesan, kemudian menaruh kembali makanan itu diluar.


Matahari kembali terbit, pelayan kembali membawakan nampan makanan, mengetuk pintu kamar “permisi tuan, sarapannya sudah siap” kemudian menaruh nampan itu di depan pintu dan membawa pergi nampan bekas semalam. Pelayan itu menaruh nampan makanan didapur, “sepertinya penasehat Wen sedang tidak nafsu makan” celetuk salah satu koki melihat nampan makanan yang masih utuh, “makanan itu biar aku yang makan” kata seorang laki-laki dengan rambut bewarna hijau, ia bernama Yamato, wakil kepala koki istana. Yamato mengambil nampan makanan itu dan mulai membokarnya, ia menemukan secakir kertas, mengambilnya dan membawanya pergi.


Disalah satu kota, Su sedang duduk bersantai di rumah bunga, ditemani beberapa botol arak. Tiba-tiba jendela ruangan dibuka, Yamato melompat masuk kedalam, ia memakai jubah hitam untuk menutupi wajahnya. “Siapa yang menyuruh mu?” sambut Su, Yamato memberi hormat “maaf menganggu” Yamato membuka tudungnya, Su mengenali Yamato “jadi rupanya kau, sedang apa pasukan bayangan istana kemari? Apa tua bangka itu yang menyuruhmu?” – “tuan Wen tidak menyuruhku secara langsung, hanya saja saya yang menemukan pesan ini” Yamato memberikan secakir kertas kepada Su. Su membaca pesan itu kemudian membakarnya didalam cerutu, Yamato memberi hormat “tugasku sudah selesai, saya undur diri” Yamato kembali melompat keluar jendela.


Di istana, Kulu kini sedang berada diruang bawah tanah, ruangan rahasia yang hanya diketahui beberapa orang. Didalam ruangan itu sudah ada beberapa orang yang memakai jubah hitam, mereka adalah pasukan bayangan istana yang membelot, “jendral Kulu” hormat Kobe, ketua pasukan bayangan.


Tidak jauh darisana, di pondok pinggir danau, Wen sedang duduk bersantai sembari menghisap cerutunya, Yamato datang menghampiri “penasehat” Yamato memberi hormat, “untuk apa kemari?” tanya Wen, “pesannya sudah kusampaikan” jawab Yamato, “beruntung kau yang menemukan pesan itu, aku sempat bertaruh, jika jatuh ke pasukan bayangan yang salah, nyawaku taruhannya” Wen menghembuskan asap cerutunya.