
Bab 63.
Dari kejauhan Harl mulai tersenyum, Garo adalah salah satu petarung terkuat di armada lautnya. Kini Garo mulai melancarkan serangan, ia melakukan hantaman yang sangat kuat, Kal menahan hantaman itu, tetapi ia tetap terpental cukup jauh, lengannya mulai gemetar akibat menahan hantaman itu “cih!” gerutu Kal. Garo kembali menyerang, meskipun serangan Garo sangat kuat, tetapi gerakannya tidak begitu cepat, Kal berhasil menghindarinya “selama tidak terkena serangannya tidak masalah” gumam Kal dalam hati.
Garo kembali menyerang, menghujani Kal dengan hantaman, Kal terus menghindarinya, mencoba melakukan serangan balik saat Garo lengah, tak butuh waktu lama, Kal pun melihat celah dan melayangkan serangan balik, sebuah tendangan menghantam telak tubuh Garo, tetapi sekali lagi Garo tidak beranjak, melainkan Kal yang terjatuh, kakinya mulai gemetar akibat beradu dengan tubuh Garo.
“Cih! Apa - apaan tubuh itu, keras sekali!” gerutu Kal dalam hati, Sun memperhatikan keadaan Kal, sepertinya tidak mungkin melanjutkanya, Sun mengangkat tangannya “pertarungan ini dihentikan!”, Harl hanya tersenyum melihat itu, “jendral kenapa?” tanya Kal, “sudah, obati saya tubuh mu” jawab Sun.
“Cih!” gerutu Roku “apa yang dilakukan Sun?! memalukan!” – “Sun tahu kemampuan pasukannya, ia tidak ingin membuatnya terluka parah” celetuk Fei, Roku geram “cih! Siapapun kirim pasukan untuk menghajarnya” – “bagaimana dengan jendral Fei? Apa pasukan mu ada yang mampu mengalahkan orang itu?” celetuk Kumo, Fei terdiam sejenak “tidak ada”. Mendengar itu Roku semakin geram “apa maksud mu Fei?! Jangan bercanda! Cepat kirim pasukan mu!”, Fei menghela nafas “baiklah kalau begitu..Niki, masuk ke arena” – “kenapa harus saya?” tanya Niki, seketika Vivian menginjak kaki Niki, “baiklah saya akan turun” Niki memberi hormat kemudian beranjak pergi.
Niki berjalan memasuki arena, ia berpapasan dengan Kal “kalahkan dia” bisik Kal, Niki mencabut pedang bunga “tolong pegangi untukku”, Kal mengambil pedang bunga itu, kemudian berlalu pergi. Kini Niki berdiri berhadapan dengan Garo, kini tatapan Garo berubah, seperti nafsu membunuh, ia bisa merasakan jika Niki lawan yang menarik, “apa kau sudah siap?” tanya Sun, Niki mengangguk, “baiklah kalau begitu mulai!” Sun memberi aba - aba untuk bertarung.
Garo langsung melayangkan serangan, sebuah pukulan yang sangat kuat, Niki berhasil menghindarinya, pukulan Garo menghantam arena hingga berlubang, semua orang terkejut melihat itu, “apa dia mau membunuh pasukan kita?!” gumam para pasukan, “sepertinya lawan kali ini menarik, membuat Garo sampai bersemangat seperti itu” gumam Cilion yang berdiri di samping Harl.
Niki mulai memasang kuda-kuda, ia mulai memikirkan cara melawan Garo, melihat dari pertarungan sebelumnya, tubuh Garo tidak bisa diserang begitu saja, jika ia bisa menggunakan tenaga dalam mungkin akan jauh lebih muda, tetapi segel dipunggungnya menjadi masalah. Belum selesai Niki berpikir, Garo sudah kembali menyerang, ia kembali melayangkan pukulan, Niki menghindari pukulan itu tepat disampingnya, tetapi pukulan selanjutnya menyusul, Niki kembali menghindar, ia dihujani pukulan oleh Garo, Niki bisa menghindarinya, tetapi tidak menemukan celah untuk membalas serangan. Hingga satu titik Garo kembali melayangkan pukulan, Niki menghindarinya, berguling melewati kaki Garo, kini Niki berada dibelakang Garo, melayangkan tendangan ke kaki Garo, keseimbangan Garo pun menghilang, Niki melihat celah dan melayangkan tendangan ke kepala Garo, Garo pun terjatuh.
Semua pasukan bersorak dalam hati mereka, begitu pula dengan Harl, ia mulai tersenyum lebar, tatapan matanya menunjukan nafsu membunuh, Cilion hanya memperhatikannya “sepertinya sekarang malah memancing nafsu membunuh pangeran, aku tidak mengkhwatirkan pasukan musuh, aku lebih khwatir jika mereka lepas kendali” gumam Cilion.
Garo mulai bangkit berdiri, “apa kau masih bisa melanjutkan?” tanya Sun, Garo mengangguk dengan tatapan yang lebih bersemangat, “cih!” gerutu Niki, sepertinya pertarungan ini tidak bisa berakhir dengan cepat. Kini Garo mulai mengepalkan tangannya dan kembali menyerang, melayangkan pukulan kearah Niki, Niki menghindarinya, Garo melanjutkan dengan tendangan, Niki tidak menyangka, tetapi ia tetap bisa menahan tendangan itu, Niki jatuh terpental cukup jauh. “Cih!” gerutu Niki, belum sempat ia bangkit berdiri, Garo sudah kembali menyerang, melompat dan bermaksud menghantam Niki sekuat tenaga, dari kejauhan Harl masih tersenyum lebar, belum pernah ada yang selamat dari serangan Garo itu, kini ia bisa melihat darah.
Semua orang terkejut melihat itu, “apa dia mati?” pertanyaan yang muncul dikepala setiap orang, asap tebal mulai memudar, Garo terlihat berdiri gagah, tetapi lengan kanannya mulai gemetar, dari kejauhan terlihat, Niki mulai bangkit berdiri, tidak ada luka sedikit pun ditubuhnya, semua orang terkejut melihat itu, Fei mulai tersenyum kecil. “Arena sudah hancur, pertarungan ini sudah selesai!” kata Sun yang sudah menjauh dari arena “jika aku tidak menyingkir, mungkin aku akan terkena imbas, serangan yang mengerikan, tetapi kenapa pasukan itu sama sekali tidak luka?” gumam Sun sembari memperhatikan Niki, Harl tertawa dengan kencang, ia bangkit berdiri dan bertepuk tangan “pertarungan yang hebat!”.
Niki berjalan meninggalkan arena yang hancur, “ini pedangmu” Kal memberikan pedang bunga, Niki mengambilnya “terima kasih” – “pertarungan yang hebat” puji Kal, Niki hanya tersenyum, kemudian beranjak pergi. Sementara Garo berjalan kembali ke pasukannya, “wah pertarungan yang hebat Garo!” puji para pasukan Cahaya Fajar, tetapi wajah Garo tampak kesal, ia mulai memegangi lengan kanannya yang gemetar.
“Apa kau menikmati pertarungannya pangeran?” tanya Khan, “tentu saja” jawab Harl sembari tertawa kecil “tetapi sepertinya saya menjadi bersemangat dan ingin ikut bertarung” – “pangeran!” potong Cilion, Harl tertawa kecil “satu pertarungan saja” – “tapi arena sudah hancur” jawab Khan, “ahh..itu bukan masalah” Harl kembali tertawa, Khan juga ikut tertawa “baiklah jika itu kemauan pangeran”.
Kini Harl berjalan memasuki arena yang sudah hancur itu “hei wasit!” panggil Harl kepada Sun “agar pertarungan ini lebih menarik, bagaimana jika menggunakan senjata?”, semua orang terkejut mendengar itu, termasuk Cilion “dasar sudah gila!” gumamnya. “Ambilkan pedangku!” perintah Harl kepada para pasukan Cahaya Fajar, tidak beberapa lama, salah seorang pasukan datang dan membawakan pedangnnya, Harl tertawa dan menaruh pedang itu dipundaknya “ayu kita bertarung!”.
Sun menghela nafas “hei Niki, kembalilah ke dalam arena!” – “mengapa harus aku?” tanya Niki, “sepertinya pangeran ingin bertarung dengan mu, sudah cepat sana!” jawab Sun, Niki menghela nafas, padahal segel punggungnya masih terasa terbakar akibat menggunakan tenaga dalam. Dengan terpaksa Niki kembali berjalan memasuki arena, “aku akan membuat pertarungan ini lebih menarik” Harl mulai tertawa dengan tatapan membunuh.
Niki mulai mencabut pedang bunga, “aku akan menghentikan pertarungan ini sebelum ada yang terluka parah” Sun memberi aba - aba untuk bertarung “mulai!”. Tanpa basa - basi Harl langsung mengayunkan pedangnya, Niki menangkis tebasan Harl dengan pedang bunga, Harl kembali melakukan tebasan, ia menghujani Niki dengan tebasan - tebasan, Niki terus menangkis tebasan Harl, Harl menyerang dengan sangat agresif.
“Hebat juga pangeran Cahaya Fajar” celetuk Kumo, “jangan memuji kekaisaran asing!” jawab Roku dengan ketus, Cilion terus memperhatikan Harl dari kejauhan, tatapan Harl benar - benar memperlihatkan tatapan membunuh, seakan siap menerkam mangsanya.
Harl terus menekan Niki, hingga satu titik Niki melihat celah, Harl melakukan tebasan, Niki menahan tebasan itu dengan lengannya, darah mulai mengalir keluar, “apa yang dilakukannya?” gumam para pasukan. Kini pertahanan Harl terbuka lebar, Niki bermaksud melayangkan tusukan, Harl tidak mungkin bisa menghindarinya, tusukan menembus leher yang akan langsung membunuhnya. Niki melayangkan tusukan, Harl terkejut melihat itu, ia lengah, “pangeran!” Cilion bermaksud untuk beranjak menghentikan pertarungan, tetapi Sun sudah terlebih dahulu menahan pedang bunga, memegangnya dengan tangannya “apa kau ingin menimbulkan perang?!” darah mulai mengalir keluar dari tangan Sun.
Cilion pun bisa bernafas lega, Roku mulai tertawa “orang yang menarik! aku menyukainya! Itu baru seorang pasukan!” Roku tertawa semakin kencang. Harl mulai tertawa “aku mengaku kalah” kemudian memasukan kembali pedangnya, Niki juga memasukan kembali pedang bunga “maafkan saya”, Harl menepuk pundak Niki “lain waktu kita bertarung lagi” kemudian beranjak pergi meninggalkan arena, Khan menghela nafas panjang, ia baru saja mengira akan terjadi perang.