NIKI - The Lost Son

NIKI - The Lost Son
64



Bab 64.


 


Matahari mulai terbenam, Khan mengajak Harl untuk berendam air panas, melepaskan ketegangan hari itu, dengan ditemani beberapa pelayan perempuan dan juga botol arak. Sedangnya para pasukan Cahaya Fajar mulai mendirikan tenda - tenda di dermaga istana, mereka menyalakan api unggun dan juga berpesta disana, sudah cukup lama mereka tidak menginjak daratan. Salah seorang perempuan duduk sembari bermain kecapi, ia memakai topi caping, mata kanannya ditutupi kain hitam, ia bernama Zizi, dijuluki kakatua hitam.


Masih Zizi bermain kecapi, Cilion menghampirinya, duduk disamping Zizi, kemudian meminum sebotol arak “kau mau?” Cilion menawarkan Zizi, Zizi hanya menggeleng sembari tetap memainkan kecapinya, Cilion tertawa kecil sembari meminum kembali araknya “mengapa murung begitu?” – “kau tidak menginzinkan aku turun dari kapal” jawab Zizi menggunakan bahasa isyarat, Zizi terlahir bisu.


Cilion kembali meminum araknya “mengawasi nafsu membunuh Garo dan pangeran saja sudah membuatku kewalahan, apa lagi juga harus mengawasi mu” – “jangan bercanda, aku juga tahu nafsu membunuh mu” jawab Zizi menggunakan bahasa isyarat, Cilion tertawa “kau sangat mengenalku ya, itulah mengapa aku membutuhkan arak” Cilion kembali meminum araknya, Zizi hanya menggeleng kemudian meneruskan bermain kecapi.


Dari kejauhan Sun memperhatikan menggunakan teropongnya, ia masih mengawasi pergerakan pasukan Cahaya Fajar. Masih memperhatikan, tidak beberapa lama, salah seorang pasukan berlari menghampiri, dengan masih terengah - engah memberi hormat “lapor jendral! pos penjaga di Jembatan Merah telah diserang”.


Di Jembatan Merah, para pasukan istana berserakan tidak bernyawa. Jiu duduk di pinggir jembatan, memainkan belatinya “ternyata pasukan istana hanyalah tumpukan sampah” – “dari dulu mereka memang sampah” jawab Enel yang duduk diatas tumpukan mayat pasukan istana, tangannya berlumuran darah “apa orang yang kita cari ada disini? Aku sudah tidak mengingat wajahnya”, Jiu tertawa kecil “tidak ada”, Enel ikut tertawa kecil “baguslah, karna pertarungan barusan sama sekali tidak menarik”. Jiu memasukan kembali belatinya “bagaimana jika kita bersantai di kota terdekat?”, Enel tertawa kecil “ide mu tidak buruk” kemudian bangkit berdiri dan beranjak pergi diikuti Jiu.


Malam semakin larut, Harl tidur dengan nyenyak ditemani tiga orang pelayan perempuan di kanan kirinya, tetapi tiba - tiba ia terbangun, tubuhnya dibasahi keringat. Harl pun memutuskan untuk memakai pakaiannya, kemudian beranjak ke loteng kamarnya, dari sana terlihat dermaga samar - samar, tetapi terdengar suara pasukan Cahaya Fajar yang masih berpesta.


“Tidak bisa tidur lagi pangeran?” Sofia, salah satu pelayan menghampiri, memeluk Harl dari belakang “sepertinya akhir - akhir ini pangeran jadi susah tidur”, Harl hanya tertawa kecil “delegasi ini hanya membenaniku”, Sofia mengecup pipi Harl “pangeran, saya ingin mempunyai keturunan dari pangeran”, Harl tersenyum kecil “setelah kita kembali ke Cahaya Fajar, kau bisa memilikinya” kemudian mengecup pipi Sofia, kemudian memeluk dan menggendong Sofia kembali ke dalam kamar.


Matahari kembali terbit, Harl masih tertidur, Sofia mengecup pipi Harl membangunkan. Harl mulai membuka matanya, “pangeran” sambut Sofia dengan senyum manisnya, Harl tersenyum kemudian mencium bibir Sofia, menarik lengan Sofia mengajaknya kembali tidur, Sofia menarik lengannya “pangeran, jendral Cilion sudah menunggu anda di depan”, Harl menghela nafas “merusak pagi ku saja” gerutu Harl sembari beranjak dari tempat tidur.


Di pondok pinggir danau istana, para pelayan sedang menyiapkan hidangan makan diatas meja, sedangkan Khan hanya berdiri di pinggir danau, berbincang dengan Sun. “Salah satu pos penjagaan kita diserang, lebih baik delegasi tidak keluar istana untuk sementara” Sun memberikan laporan, Khan menghela nafas “kita tidak bisa mengurung mereka didalam istana, amankan beberapa kota, mungkin aku bisa mengajak mereka untuk bekeliling”, Sun memberi hormat “saya mengerti, saya akan menempatkan pasukan jendral Kumo dan jendral Lei tepat disamping anda”, Khan mengangguk, Sun pun beranjak pergi.


Tidak beberapa lama, Harl datang diikuti Cilion dibelakangnya “maaf membuat Kaisar menunggu” Harl memberi hormat, “tidak apa, hidangannya juga baru siap, mari..” Khan mengajak Harl untuk duduk didalam pondok. Kini mereka mulai menyantap makan, “jadi Kaisar, sesuai pembicaraan kita semalam, apa hari ini aku bisa melihat - melihat kota?” Harl membuka pembicaraan, Khan tersenyum “tentu saja, aku akan ikut menemani”, Harl mengangkat gelas arak “Kaisar sangat murah hati” kemudian meminumnya.


Matahari sampai di puncak, Khan dan Harl sedang bersiap untuk perjalanan ke kota. Kumo dan Lei datang menghampiri, kemudian memberi hormat “saya jendral Kumo, pasukan pedang emas siap mengawal!” – “saya jendral Lei, pasukan elang perak siap mengawal!”. Tidak beberapa lama, Jee datang menghampiri, kemudian memberi hormat “Kaisar memanggil saya?”, Khan menepuk pundak Jee “kau ikutlah denganku menemani pangeran berkeliling kota” – “sebuah kehormatan bagi saya” jawab Jee.


Pintu gerbang istana dibuka, para pasukan berkuda keluar diikuti kereta kuda Kaisar, Khan duduk didalam kereta kuda ditemani Harl dan juga Jee, sedangkan Kumo, Lei, dan juga Cilion berkuda berjaga didepan kereta kuda, pasukan Cahaya Fajar tidak ada yang ikut, hanya Cilion seorang untuk menjaga pangeran. Kini kereta kuda Kaisar menuju salah satu kota, “apa kau tidak membawa pasukan mu jendral?” Kumo membuka pembicaraan disela - sela berkuda, Cilion tersenyum “tidak perlu, kurasa pasukan kalian sudah cukup”.


Di loteng istana, Roku memperhatikan dermaga melalui teropong “Cih! Mereka meninggalkan pasukan mereka di dermaga, tetaplah waspada!”, Sun tersenyum “sepertinya jendral besar belum mempercayai mereka” – “aku tidak akan mempercayai mereka!” jawab Roku ketus kemudian beranjak pergi.


Kereta kuda Kaisar mulai memasuki salah satu kota, Silvana dan para pasukan yang berjaga dikota menyambut “Kaisar!” mereka memberi hormat. Lei turun dari kuda “bagaimana keadaan kota?” – “para pemanah sudah berjaga diatap - atap kota” Silvana memberi laporan. Cilion mulai memperhatikan sekitar “Jendral, tidak mungkin penjagaan seketat ini hanya untuk menjagaku seorang, katakan padaku, apa ini untuk melindungi serangan dari pihak ketiga?” bisik Cilion kepada Kumo, Kumo tersenyum kecil “jendral memang orang yang cerdas”.


Dari kejauhan, Kulu memperhatikan dari jendela salah satu penginapan “Kaisar sudah tiba”, Taka dan Akari juga berada disana, mereka sudah bersiap. Khan turun dari kereta kuda, diikuti Harl dan juga Jee, para penduduk mulai menyambut dengan antusias, bukan penampakan sehari-hari mereka bisa melihat Kaisar.


Khan mulai menyambut penduduknya dengan ramah, begitu pula dengan Harl, tetapi tak satu pun penduduk yang tahu siapa itu Harl, bahkan tak ada satu pun yang tahu tentang kedatangan Cahaya Fajar selain istana. Kulu mulai membidik busur panahnya, “apa kau akan membunuh Kaisar disini?” tanya Taka, Kulu tersenyum “tidak, tapi aku akan memulai perang”.