NIKI - The Lost Son

NIKI - The Lost Son
22



Bab 22.


 


Disalah satu kota, Liang sedang bersantai di pemandian air panas. Pintu ruangan dibuka, “maaf bos, ada yang ingin bertemu” salah satu anak buah membawakan pesan, Liang hanya mengangguk dan menyuruh anak buahnya keluar. Liang baru saja keluar dari ruang pemandian sembari mengeringkan tubuhnya, Kulu sudah menunggunya disana “sedang menikmati hari?” – “untuk apa kemari?” tanya Liang.


Kulu mengeluarkan sebuah gulungan “aku ingin kau membunuh seseorang” kata Kulu langsung pada intinya, “aku tidak menerima perintah darimu, simpan saja gulungan itu” Liang beranjak pergi, “ini menyangkut Caka” kata Kulu yang menghentikan langkah Liang, Liang terdiam sejenak, Kulu tertawa kecil “aku mengetahui semua tentangmu topeng perak, bahkan penyebab kau memakai topeng itu” Kulu bangkit berdiri, meninggalkan gulungan itu disana “akan ku tunggu kabar darimu” lalu beranjak pergi meninggalkan Liang yang masih terdiam.


Matahari baru saja terbenam, di kastil keluarga Wong, Caka sedang menikmati makan malamnya. Liang baru saja sampai di kastil itu, kini ia sedang berdiri diatas atap memperhatikan Caka, “aku tidak menyangka Kulu akan mengirimmu” Rasa datang menghampiri, “jika kau kemari hanya untuk menghalangi, kau akan kubunuh juga” jawab Liang, Rasa tersenyum “sebaiknya kau tidak meremehkan ayah” – “aku sudah tahu itu” Liang melompat turun.


Caka masih menikmati makan malamnya, pintu ruangan dibuka, Liang berjalan masuk. “Siapapun yang mengirimu, sepertinya sangat meremehkan aku” sambut Caka sembari menyuap makanannya, Liang langsung maju menyerang, Caka melempar meja makannya, Liang menghantam meja itu hingga hancur, pertarungan pun terjadi.


Ruangan itu sudah hancur berantakan, Caka mencabut pedangnya “aku telah meremehkanmu” Caka maju menyerang, menghujani Liang dengan tebasan - tebasan pedang. Liang terus menghindari serangan Caka, hingga satu titik Liang melihat celah, ia pun langsung membalikan serangan, tangannya membentuk cakar elang dan menghantam tenggorokan Caka, seketika Caka memuntahkan darah, kini tenggorokan Caka telah hancur. Caka berusaha untuk berbicara, tetapi tidak ada suara yang keluar, “sepertinya kau lengah tuan Caka” Liang membuka topeng peraknya, Caka terkejut melihat wajah dibalik topeng itu, terpampang segel matahari di dahi Liang, lambang segel seorang budak.


“Aku yakin kau masih ingat dengan segel ini kan tuan Caka? Kau sendiri yang mensegel ini di dahi ku!” Liang menekan nada bicaranya, Caka hanya terdiam, ia sudah tidak bisa bicara, tetapi ia mulai bersiap dengan pedangnya dan seketika maju menyerang, Liang tidak siap dengan serangan itu, ia berusaha menahan tebasan pedang Caka. Liang berteriak kesakitan, lengan kirinya baru saja terpotong tebasan pedang, Liang jatuh berlutut dan memegangi lukanya, ia masih berteriak kesakitan “bajingan kau Caka!” ia bangkit berdiri dan langsung menyerang Caka, pertarungan kembali terjadi.


Kini tubuh Caka sudah dipenuhi luka - luka, begitu pula dengan Liang, pertarungan hebat baru saja terjadi diantara mereka berdua. Liang menerjang kearah Caka, Caka mengangkat pedangnya dan menusuk tubuh Liang, Liang menerima tusukan itu, ia tetap mendekatkan tubuhnya, tangan kanannya membentuk cakar elang dan menyerang mata kanan Caka.


Bola mata jatuh ke lantai, Caka berteriak kesakitan, tetapi tidak ada sedikitpun suara yang keluar, Liang baru saja mencongkel mata kanan Caka, tetapi Liang juga mulai memuntahkan darah, tusukan pedang Caka menembus tubuhnya, mereka berdua jatuh tergeletak. Rasa menyaksikan itu semua dari atas atap, ia memalingkan wajahnya dan beranjak pergi.


Matahari baru saja terbit, pagi yang tenang di gunung emas. Wen sedang duduk bersantai ditemani segelas teh, Yinsa datang menghampiri “maaf menganggu, tetapi ada kabar dari keluarga terpandang kerajaan” Yinsa memberikan sebuah gulungan. Wen membaca gulungan itu, ia menghela nafas, gulungan itu membawakan kabar kematian Caka.


Wen kini sedang bersiap, “biar aku temani” Su menghampiri, mereka bermaksud untuk menghadiri pemakaman Caka. Wen dan Su sudah bersiap di kuda mereka, begitu pula beberapa pasukan untuk mengawal yang diketuai oleh Yinsa. “Kita berangkat sekarang!” perintah Wen sembari memacu kudanya diikuti Su dan para pasukan.


Matahari sudah sampai dipuncak, Kastil keluarga kerajaan Wong sudah ramai. Rasa sedang berdiri di samping altar tempat Caka dibaringkan, menatapi Caka dengan tatapan kosong, “kakak” Enel menghampiri, ia memakai topeng beruang kutub menutupi wajahnya yang hancur. Enel memberikan pedang milik Caka “kini pedang ini menjadi milik kakak, menggantikan posisi ayah sebagai ketua keluarga besar Wong”, Rasa memperhatikan pedang itu “aku tidak pantas duduk di kursi itu, sebaiknya kau saja yang gantikan ayah” Rasa beranjak pergi, Enel hanya terdiam.


Wen, Su, dan para pasukan baru saja sampai, turun dari kuda mereka, “terima kasih atas kedatangan kalian” sambut Wei, laik - laki paruh baya, adik dari Caka. Wei pun berbincang - bincang dengan Wen dan Su, “saya sama sekali tidak menyangka jika dua legenda kekaisaran sampai datang” kata Wei, “kami yang merasa terhormat, Wong adalah keluarga terpandang, sudah seharusnya kami menghadiri pemakaman ini” jawab Wen.


Kereta kuda istana baru saja sampai, “sebaiknya saya menyambut utusan istana” kata Wei sembari beranjak menghampiri kereta kuda istana, Wen dan Su hanya memperhatikan dari kejauhan, bertanya - tanya siapa yang akan turun dari kereta kuda. Pintu kereta kuda istana dibuka, Sanji turun dari kereta kuda itu, semua orang terkejut dengan kehadiran Sanji, seharusnya istana mengirim penasehat yang jauh lebih senior. “Selamat datang penasehat” Wei memberi hormat, Sanji membalas hormat.


Acara pemakaman dimulai, Rasa naik keatas altar sembari membawa obor ditangannya “maaf kan aku ayah” Rasa melemparkan obor itu, api mulai membakar altar berserta Caka didalamnya, semua orang tertunduk melepas kepergian Caka, ketua keluarga besar Wong. Wen menghampiri Sanji “bagaimana kabarmu?”, Sanji tampak terkejut melihat Wen “saya tidak menyangka penasehat juga datang” Sanji memberi hormat, “siapa yang mengutusmu? Tidak biasanya Kaisar mengutus penasehat muda” tanya Wen lagi, “saya juga tidak mengetahui alasan pastinya” jawab Sanji dengan gemetar, Wen hanya mengangguk dan beranjak pergi meninggalkan Sanji, Sanji menghelas nafas lega.


Hari semakin larut, kini seluruh anggota keluarga Wong berkumpul di dalam kastil terkecuali Rasa, mereka bermaksud merundingkan siapa kepala keluarga selanjutnya. “Rasa sebagai kandidat terkuat telah mengundurkan diri” Wei membuka pembicaraan, semua orang di ruangan itu pun mulai berdebat, “dasar anak tidak tahu diri, bahkan dia tidak hadir di pertemuan ini, Caka sepertinya telah membesarkan anak yang salah” celetuk salah satu anggota keluarga, “jaga bicaramu!” potong Enel “jangan bicara sembarangan tentang ayah, dia baru saja dimakamkan dan kau sudah bicara seperti itu, lancang sekali!” Enel menghantamkan palu besinya ke tanah hingga retak, semua orang di ruangan itu terkejut.


“Saya merekomendasikan Enel sebagai penggantinya, ia adalah anak dari Caka dan juga adik dari Rasa, dia adalah kandidat yang cocok” kata Wei, “aku menolak, kalian hanyalah keluarga sampah yang tidak menghargai ayah” Enel mengambil palu besinya dan beranjak pergi, semua orang di ruangan itu terdiam, Wei hanya menghela nafas.


Didalam hutan tidak jauh dari kastil. Rasa sedang bertemu dengan Kulu, “jadi kau tidak ikut pertemuan itu, seharusnya kau kandidat terkuat” kata Kulu, “aku tidak tertarik mengurus keluarga itu” jawab Rasa singkat, “kakak!” Enel menghampiri dari kejauhan, “sepertinya adikmu datang, apa aku juga harus membunuhnya?” Kulu bersiap mencabut pedangnya, Rasa langsung mencabut pedang tipisnya dan menodongkan dileher Kulu “jangan bertindak bodoh, dia ikut bersamaku” – “itu tidak sesuai dengan perjanjian kita” jawab Kulu, “cabut pedangmu, kita lihat apa kau masih bisa melanjutkan rencanamu” Rasa semakin menekan pedangnya, menimbulkan goresan di leher Kulu. Kulu tersenyum, menjauhkan tangannya dari pedang “aku mengikutimu”, Rasa pun menurunkan pedangnya dan memasukannya kembali.


Tidak beberapa lama Enel datang “apa yang kakak lakukan disini?”, Rasa tidak menjawab, “selamat datang” sambut Kulu kemudian memberi aba - aba, para pasukan mulai keluar dari balik pepohonan “hujani mereka!” perintah Kulu, para pasukan mulai mengeluarkan busur panah, membakar anak panah mereka dan menembakannya ke arah kastil.


Panah api menghujani kastil, semua orang didalam kastil pun panik, dalam sekejap kobaran api sudah menelan kastil itu. Wei berhasil keluar dari kobaran api dengan luka bakar disekujur tubuh “tolong aku!” teriak Wei dengan sayu, Wei pun terjatuh kehabisan tenaga dan mulai kehilangan kesadaran. Kulu hanya tertawa memperhatikan itu semua dari kejauhan, “ternyata benar dugaanku” kata seorang dari kejauhan, Kulu pun terkejut melihat kehadiran orang itu.