
Bab 75.
Hujan mengguyur, pasukan elang perak masih menunggu di perkemahan, Silvana menunggu dengan cemas. Sementara Lei dan juga Lam masih menyusuri terowongan gelap itu, “katakan padaku, mengapa para bandit meninggalkan Mawar Merah?” Lei membuka pembicaraan, Lam terdiam sejenak “Mawar Merah sudah menjadi persinggahan para bandit, akhir - akhir ini para bandit semakin banyak yang berdatangan, bahkan melebihi kapasitas Mawar Merah, bandit - bandit rendahan seperti diriku tidak mendapat tempat disana, tidak bisa makan, tertindas bandit yang lebih kuat itulah mengapa aku pergi meninggalkan Mawar Merah”, Lei terdiam sejenak “lalu siapa yang mengajak mu bergabung dengan Naga Biru?” – “salah seorang ketua bandit di Mawar Merah, ia mengirimkan bandit - bandit terlantar kepada Naga Biru, termasuk diriku” jawab Lam yang membuat Lei berpikir sejenak “siapa dia?”, Lam terdiam sejenak “dia dikenal dengan julukan Kobra”, Lei mulai tersenyum “ternyata kau berguna juga”.
Sementara itu di kota Purnama, Sai, Kin, dan juga Niki mulai berbaur dengan para bandit, mereka sedang duduk di dekat api unggun, membakar beberapa daging untuk dibakar. “Tadi kau mengatakan berasal darimana?” tanya salah seorang bandit, berbadan gagah dan memekai ikat kepala, ia bernama Zeo, dijuluki serigala hitam. “Aku sempat menetap di Mawar Merah, dan ini kedua adikku” jawab Sai sembari meminum sebotol arak, “ternyata kita berasal dari tempat yang sama, apa kau juga tumbuh besar disana?” tanya Zeo sembari memakan daging bakarnya, “tidak juga, aku melarikan diri ke Mawar Merah saat pemberontakan gagal” jawab Sai lagi, Zeo mengangguk, kemudian meminum araknya “senang berkenalan denganmu”.
Lei dan juga Lam baru saja memasuki kota Purnama, “sebaiknya kau ganti pakaian” celetuk Lam, Lei tertawa kecil “benar juga, mengapa kau tidak mengatakan saat masih di perkemahan”. Di sisi lain kota Purnama, Kulu baru saja selesai bermesraan dengan Mei, Kulu memakai kembali pakaiannya “aku sangat merindukan mu, tidak ada yang bisa memuaskanku seperti dirimu” Kulu mencium bibir Mei, mereka berciuman untuk sesaat. Kini Kulu kembali bersiap, membawa busur panahnya, “apa kau sudah harus pergi? aku baru beberapa hari disini” bujuk Mei yang masih bersantai ditempat tidur tanpa sehelai pakaian, Kulu tersenyum “kau memang tahu cara menggodaku, tetapi aku harus pergi, musim dingin sebentar lagi datang, tidak banyak waktu yang kupunya”, Mei tersenyum, menghampiri Kulu, kemudian mengecup pipi Kulu “aku mengerti, aku akan menunggu mu pulang”, Kulu kembali tersenyum “kita bisa menghabiskan waktu bersama selama musim dingin” Kulu kembali mencium bibir Mei, mereka kembali berciuman.
Matahari mulai terbenam, pintu gerbang istana dibuka, pasukan elang perak berkuda kembali ke istana. Lei turun dari kudanya, segera menuju ke ruang arsip, “jendral” sambut para jendral di ruangan itu, Lei menaruh sebuah gulungan diatas meja “aku berhasil menggambar sebagian wilayah kota Purnama”, seisi ruangan pun terkejut mendengar itu, kemudian para jendral mulai memberi hormat “jendral telah berjasa bagi kekaisaran ini”, Lei membalas hormat “sudah menjadi tugasku”. Malam semakin larut, kini Kara, Kulu, dan juga Akari berkuda memasuki Lembah Kabut, mereka berkuda menuju pasar malam. Pasar malam ramai seperti biasanya, Kara, Kulu, dan juga Akari berkuda memasuki pasar malam, Vin disana menyambut mereka “tuan Zazu sudah menunggu”.
Vin berjalan memasuki pondok besar di tengah pasar malam, diikuti Kara, Kulu, dan juga Akari, didalam pondok Zazu sudah menunggu, ia sedang memberi makan lima ekor serigala. “Ternyata kalian sudah datang” sambut Zazu, “tidak perlu basa-basi” jawab Kulu, Zazu tertawa “sepertinya kau masih belum melupakan pertikaian terakhir kita”, Kara melemparkan sekantung kepingan emas “bukakan jalannya”, Zazu mengambil kantung kepingan emas itu, kemudian menghitungnya “maafkan aku, tetapi sepertinya harganya harus ku naikan”. Kulu geram mendengar itu, ia bermaksud mengeluarkan busur panahnya, tetapi Kara menahannya “baiklah, katakan berapa?”, Zazu tersenyum “sepertinya kau mengerti caranya berdagang, berikan aku sekantung kepingan emas lagi”, Kara terdiam sejenak, membuka topeng birunya “kau tahu kan, kepingan emas hal yang langkah di kekaisaran ini, hanya bisa menemukannya didalam istana” Kara berjalan menghampiri Zazu, Zazu tersenyum kecil “selama ini aku belum pernah melihat wajah dibalik topeng itu”, Kara ikut tersenyum “biasanya orang yang melihat wajahku akan mati, tetapi kau sudah kuanggap sebagai temanku” Kara menaruh topeng birunya dilantai “kepingan emas tersedia banyak di Mawar Merah, bukakan jalannya, aku akan kembali dengan sekantung kepingan emas, topeng ini menjadi jaminannya”.
Zazu mulai tertawa “apa kau sedang bergurau?” Zazu bangkit berdiri, mencabut golok naganya, menodongkannya ke leher Kara “dipenggal golokku atau dicabik serigalaku? pilihlah”, Kara tersenyum “sudah kukatakan, siapapun yang melihat wajahku akan mati”. Api biru menyambar sangat besar, melahap pondok besar itu, Kara sudah memakai kembali topeng birunya, berjalan keluar dari kobaran api sembari menyeret Zazu yang masih terbakar. Seketika kepanikan terjadi di pasar malam, Kara melempar Zazu yang masih berteriak kesakitan, Kara menghembuskan nafasnya, seketika kobaran api biru padam, api biru yang membakar Zazu maupun pondok besar itu, semua orang di pasar malam terkejut melihat itu. “Beraninya kau menyentuh tuan Zazu, dasar keparat!” Kidan berlari menerjang dan menebaskan ketiga pedangnya, tetapi tiba-tiba sebuah anak panah memanah kakinya hingga terjatuh, Kulu yang melakukan itu, di sisi lain Lilia sudah bersiap dengan busur panahnya membidik Kara, tetapi tiba-tiba sebuah pisau ditodongkan dilehernya, Akari yang melakukan itu “jika jadi kau, aku takkan melakukannya”. Dalam sekejap Zazu sudah tidak bernyawa, Kara berjalan menghampiri Lilia “kudengar kau tangan kanannya” Kara memberikan satu kepingan emas “bukakan jalannya”, Lilia hanya diam, terpampang murka diwajahnya “akan ku antarkan”.
Kini Lilia berjalan ke sebuah gua, diikuti Kara, Kulu, Akari, dan juga Vin sembari berkuda. Lilia berhenti di ujung gua, terdapat sebuah pintu dari batu yang terkunci, Lilia mengeluarkan sebuah kunci membuka pintu batu itu “ikuti saja terowongan ini, dalam tiga hari kalian akan sampai di Mawar Merah, ini bukan pertama kalinya kalian melewati terowongan ini bukan?” kata Lilia masih dengan wajah geramnya “sebaiknya kalian tidak kembali sebelum aku selesai memakamkan tuan Zazu” Lilia beranjak pergi, Vin menyalahkan sebuah obor “seperti biasa, aku yang akan mengantar kalian” Vin berkuda memasuki terowongan itu diikuti Kara, Kulu, dan juga Akari.