NIKI - The Lost Son

NIKI - The Lost Son
23



Bab 23.


 


Kulu terkejut melihat kedatangan Wen dan Su beserta pasukan mereka. Kulu tersenyum “jadi aku sudah tertangkap basah ya” – “hentikan semuanya, membunuh para jendral dan penasehat, kini keluarga kerajaan, langkahmu harus berakhir disini” Wen mencabut pedangnya, pedang yang sudah lama tidak ia pakai, bahkan sudah cukup lama pedang itu tidak keluar dari sarungnya. Kulu kembali tersenyum “sayangnya aku sudah tidak punya urusan disini” ia melemparkan bubuk asap, lalu pergi menghilang bersama dengan pasukannya, kini hanya tersisa Rasa dan Enel.


“Cih! Dasar pengecut!” gerutu Wen, “penasehat tidak perlu muram begitu, aku akan meladenimu” Rasa mencabut pedang tipisnya, Wen tersenyum “sudah lama aku tidak bertarung, anggap saja ini pemanasan” Wen maju menyerang, tebasan pedang Wen ditahan oleh pedang tipis Rasa, pertarungan pun terjadi. Yinsa mencabut pedang besarnya “kalian para pasukan bersiaplah, keselamatan penasehat dan tetua adalah prioritas kita”, para pasukan mengangguk dan bersiap dengan senjata mereka, melihat itu Enel juga mengeluarkan palu besinya, bersiap menyerang jika terjadi sesuatu.


Pertarungan yang sengit antara Wen dan Rasa, meskipun Wen sudah berumur tetapi ia tetap bukan lawan sembarangan. Rasa terpojok, sebuah tebasan mengenai tubuhnya, Rasa pun terjatuh, Enel langsung maju menyerang menolong Rasa, ia bermaksud menghantam Wen dengan palu besinya, tetapi Yinsa terlanjur datang dan menahan hantaman itu dengan pedang besarnya “lawanmu adalah aku” Yinsa menendang tubuh Enel menjauh.


Rasa melihat celah, ia langsung melayangkan serangan ke Wen, Wen terkejut dengan serangan itu, pedang tipis Rasa berhasil menusuk bahu kiri Wen “sebaiknya kau waspada penasehat”. Melihat Wen terluka para pasukan langsung bersiap menyerang, tetapi tiba - tiba Su sudah berada di belakang Rasa “kita akhiri disini!” Su menghantam kepala Rasa hingga terbentur ke tanah, Enel terkejut melihat itu, ia tidak bisa melakukan apa-apa, ia pun melemparkan bubuk asap dan memutuskan untuk kabur.


Hari berlalu, kembali ke gunung emas, Wen sedang diobati lukanya, “aku tidak menyangka penasehat bisa terkena serangan seperti itu” kata Fei, “aku lengah, aku sudah menua, indraku sudah tidak seperti dulu” jawab Wen dengan bahu yang sedang diperban.


Diujung gua, Rasa sedang duduk terikat rantai, beberapa pasukan mengawasinya, sebuah mangkuk nasi di taruh dihadapan Rasa, Niki yang menaruhnya “tidak kusangka kita bertemu lagi”, Rasa tersenyum “ternyata kau salah satu dari mereka, tidak heran Enel dan Sabo kalah ditanganmu” – “aku hanya melakukan tugasku” Niki beranjak pergi, “tunggu!” panggil Rasa yang menghentikan langkah Niki “siapa namamu? kau akan menjadi lawan yang menarik”, Niki hanya tersenyum dan beranjak pergi “Niki, dan hari itu pasti akan datang”, Rasa ikut tersenyum.


Kini Niki keluar dari dalam gua, ia bermaksud mencari Pingping. Pingping sedang berlatih memanah di dalam hutan, Kiba yang melatihnya, “jadi kalian disini” Niki menghampiri “aku sudah mencari kemana - mana”. Melihat kedatangan Niki, Pingping langsung membidik kearah Niki dan menembakan anak panahnya, Niki menghindari anak panah itu, melesat tipis di sampingnya “apa yang kau lakukan?!” – “mencoba ke target asli” jawab Pingping sembari tertawa, “tidak lucu!” kata Niki kesal, Kiba ikut tertawa melihat tingkah Pingping dan Niki.


Malam itu hujan mengguyur istana, kini Enel sudah berada di ruang rahasia bawah tanah, ruangan yang kini menjadi tempat percobaan ilmiah Sada. “Mereka merenggut Sabo, kemudian ayah, dan kini kakak, aku semakin merasa tidak berdaya!” Enel menghantamkan palu besinya ke tanah hingga retak, Sada menghampiri Enel “terkadang kekuatan memang diperlukan, dan tidak peduli darimana datangnya” Sada memberikan segelas ramuan “obat - obatan juga bisa meningkatkan kekuatan”.


Enel mengambil gelas itu dan langsung meminum ramuannya hingga habis, seketika tubuh Enel terasa panas, ia berteriak kesakitan, rambutnya mulai berubah menjadi putih, Enel terjatuh dan terus berteriak hingga satu titik teriakannya berhenti. “Bagaimana?” tanya Sada, Enel tersenyum “aku merasakannya” Enel mengambil palu besinya dan melemparkannya ke dinding, palu besi itu menembus dinding hingga hancur, Enel tertawa puas.


Dikamar Khan, Khan tersenyum puas tanpa sehelai pakaian, tubuhnya dipenuhi keringat, Mei juga berada disana, ia sedang memakai kembali pakaiannya, “kau memang selalu tahu cara memuaskanku” Khan mengelus - elus tubuh Mei, Mei hanya tersenyum menggoda “aku masih ada pekerjaan” Mei mencium bibir Khan lalu beranjak pergi meninggalkan Khan yang masih tergeletak puas. “Sudah selesai?” sambut Kulu saat Mei keluar dari kamar Khan, Mei tampak terkejut.


Hari berlalu, sebuah kapal berukuran besar baru saja berlabuh dipelabuhan, Kulu sudah menunggu kedatangan kapal itu. Xu turun dari atas kapal “jendral, sudah lama menunggu?” sambut Xu, “apa kau mendapatkannya?” tanya Kulu, Xu tersenyum “kau bisa mengandalkanku” Xu mempersilahkan Kulu untuk naik ke atas kapal. Kini mereka masuk kedalam gudang kapal, didalam sana terisi penuh tumpukan kotak - kotak dinamit “aku membelinya dari pedagang asing” kata Xu, Kulu tersenyum lebar “aku sangat puas”.


Kereta kuda Kulu kini telah kembali ke istana, diikuti beberapa kereta kuda mengangkut kotak - kotak dinamit. Pintu kereta kuda dibuka, Kulu turun dari kereta kuda itu, “jendral!” para pasukan menyambut, “bawa ini semua ke ruang bawah tanah!” perintah Kulu, para pasukan langsung mengangkut kotak - kotak dinamit itu.


Yamato memperhatikan itu semua dari kejauhan, ia pun bermaksud untuk melaporkan kepada Wen, baru ia ingin beranjak pergi sebuah pedang dengan lambang tengkorak menusuk bahunya, Kobe yang melakukan itu “dasar Yamato, kau telah berkhianat”, Yamato menahan sakit “kau yang berkhianat!” ia mengeluarkan senjata cakar dari tangan kanannya dan langsung menyerang Kobe, cakar Yamato merobek jubah Kobe, pertarungan pun terjadi.


 


Kulu baru saja memasuki ruang bawah tanah, “kau membawa cukup banyak dinamit” sambut Sada, tiba-tiba Yamato yang sudah diikat dengan rantai dilemparkan kedalam, Kobe yang melemparnya “aku menemukan pengkhianat!”, Kulu hanya tersenyum, mengeluarkan pedangnya dan menempelkannya di wajah Yamato “seingat ku kau adalah koki istana bukan?” – “aku tidak perlu menjawab pertanyaanmu!” jawab Yamato, Kulu pun menebaskan pedangnya, luka gores tertampang di wajah kanan Yamato “beritakan kepada seluruh kekaisaran, kita sudah menangkap orang yang meracuni Kaisar, seorang koki istana”, Yamato hanya bisa diam tidak bisa melakukan apa-apa.