
Bab 12.
Dua hari kemudian di ladang, tubuh Niki sudah babak belur, ia kembali bertarung dengan Bao. “Kau masih belum menyerah ya, ayu cepat mengaku kalah” ejek Bao, “berisik!” Niki kembali menyerang, mereka kembali bertarung hingga petang.
Yuyu masih menunggu kepulangan Niki dengan cemas, hanya duduk diam didepan tenda pengobatan, “Yuyu, Niki belum kembali juga?” Kin berjalan menghampiri, Yuyu menggeleng, “sial! Apa si yang dia lakukan, sepertinya harus melapor” Kin langsung beranjak pergi mencari Vivian. Vivian sedang berada di tenda sembari meminum teh bersama Sai dan Tang, Kin masuk kedalam tenda “maaf menganggu ada yang ingin saya sampaikan ini masalah Niki” Kin memberi hormat, Sai sedikit terkejut “Niki?”. Setelah Kin menceritakan, akhirnya Sai yang memutuskan untuk pergi mencari tahu, Niki adalah anak buahnya, ia merasa bertanggung jawab.
Niki masih bertarung dengan Bao, nafasnya sudah terengah-engah, ia memutuskan untuk mencoba jurus yang baru dipelajarinya, jurus delapan totokan. Niki maju menyerang, Bao tampak terkejut dengan jurus yang digunakan Niki, tetapi ia tetap bisa menghindarinya, akhirnya Niki terjatuh karna kelelahan, perlahan kesadarannya mulai hilang. “Jadi ini ulah senior Bao ya” Sai datang menghampiri, “lama tidak berjumpa ya” sapa Bao, “apa ini permintaan tetua Su?” Sai melihat tubuh Niki yang sudah babak belur, “anak ini gigih, sama seperti ayahnya, kau bawalah dia kembali ke pengungsian, sepertinya tugasku sudah selesai” Bao memakai kembali topi capingnya dan berjalan pergi, Sai hanya tersenyum melihat Niki yang bertarung sampai tak sadarkan diri.
Sai membawa Niki ke tenda pengobatan, luka-lukanya sedang diobati oleh Yuyu. Sai keluar dari tenda pengobatan, Vivian dan Tang sudah menunggu disana, “jadi apa yang dialakukan?” tanya Tang, Sai tersenyum “hanya berlatih”. Niki mulai sadarkan diri, Yuyu duduk disana menemani “sepertinya kau sangat kelelahan” sapa Yuyu, Niki hanya tersenyum “boleh minta air?”.
Matahari baru saja terbit, Fei sedang bersiap-siap untuk pergi ke istana, Vivian juga berada disana “ketua yakin melakukan perjalanan sendiri?” – “pengungsian ini sangat membutuhkan tenaga, aku bisa jaga diri sendiri” jawab Fei sembari mengikatkan barang bawaan di kudanya.
Para pasukan istana berkuda masuk kedalam pengungsian, berhenti tepat didepan Fei, Fong turun dari kudanya “Kaisar memerintahkan untuk menjemput ketua Fei” Fong memberi hormat, Fei tersenyum “sudah ada yang menjemputku, kau tidak perlu khwatir” kata Fei kepada Vivian, “baiklah kalau begitu” Vivian mengangguk. Fei naik keatas kudanya “ayu kita pergi” Fei memacu kudanya keluar dari pengungsian diikuti para pasukan istana, sebenarnya Vivian tidak terlalu mempercayai pasukan istana.
Fei dan pasukan istana sudah memasuki pertengahan perjalanan, mereka sedang berkuda melewati hutan, tiba-tiba lusinan anak panah ditembakan dari atas pepohonan. “Ada serangan, lindungi ketua Fei!” teriak Fong, para pasukan istana langsung mengeluarkan tameng mereka dan mengelilingi Fei. “Sial, dimana penembaknya? Aku tidak bisa melihatnya” gerutu Fong, para bandit pun langsung melompat turun dari pepohonan dan mulai menyerang, pertarungan pun terjadi, Fei hanya duduk dengan tenang diatas kuda sembari mengipas-ngipas kipasnya.
Korban pun berjatuhan dari kubuh bandit maupun pasukan istana, hanya tersisa Fong dan Kao yang masih berdiri dengan luka-luka disekujur tubuh mereka. “Dasar Kao pengkhianat! kau yang mengirim pesan dan membocorkan perjalanan ini kan!” Fong langsung menyerang Kao, “ketua apa yang kau lakukan?!” Kao memuntahkan darah, Fong menusuknya dengan pedang, “mati saja pengkhianat!” Fong menarik keluar pedangnya. Kao tergeletak tak bernyawa, Fong terdiam sejenak kemudian memasukan kembali pedangnya “maaf ketua, ketua jadi harus menyaksikan hal seperti ini” Fong naik ke atas kudanya “mari kita lanjutkan perjalanan” Fong memacu kudanya diikuti Fei.
Matahari sudah hampir tenggelam, Fei dan Fong memutuskan untuk singgah di salah satu kota, “sebaiknya kita mencari penginapan, besok pagi baru kita lanjutkan perjalanannya” usul Fong sembari mengikatkan kudanya. Fei turun dari kuda, ia melihat-lihat sekitar, kota itu sangat sepi, baru Fei ingin melangkah tiba-tiba lusinan bandit keluar dari gang-gang kota dan menghampirinya.
Fong sudah mencabut pedangnya dan bersiap menyerang Fei, Fei hanya tersenyum “aku sudah tahu jika kau pengkhianatnya” Fei menghembuskan nafasnya dan seketika para bandit langsung tergeletak jatuh, Fei menggunakan tenaga dalam untuk melumpuhkan mereka. Tersisa Fong yang masih berdiri, ia kembali memasukan pedangnya “sepertinya percuma saja, aku tidak akan bisa mengalahkanmu”, Fei menjentikan jarinya dan Fong langsung tergeletak tak sadarkan diri. Fei menghampirinya dan berbisik “besok pagi ketika kau sadarkan diri, pulanglah ke kampung halamanmu dan mulailah bertani” Fei kemudian berjalan pergi meninggalkan Fong yang masih tertidur.
Di Tebing Langit, Kong sedang bersantai dengan para gadis. Oto masuk kedalam ruangan “maaf mengganggu” – “ada apa?! Menganggu saja” gerutu Kong, “tampaknya bidakmu didalam istana telah gagal” lanjut Oto, mendengar itu Kong memberi isyarat kepada para gadis untuk meninggalkan mereka.
Kong memakai pakaiannya “Fong bodoh, tidak bisa diandalkan” – “menurutku anda yang terlalu meremehkan Fei, Shibaku tidak akan senang mendengar ini” jawab Oto. Kong berpikir sejenak “tidak perlu khwatir, kita masih memiliki banyak bidak” – “tidak akan sempat, sebentar lagi Fei sudah memasuki istana” – “memangnya siapa yang mau menyerang Fei lagi?” Kong tersenyum, Oto mengangguk “akan saya laksanakan” lalu beranjak pergi.
Kini mereka bertiga pergi berkuda, Oto meminta mereka untuk menyerang tempat pengungsian. Ditengah perjalanan didalam hutan, mereka berpapasan dengan Bao yang sedang berkemah, mereka tetap berkuda melewati Bao, tidak menyadari wajah dibalik topi caping itu.
Malam semakin larut, Zazu dan Kidan sedang bersembunyi dibalik semak-semak memperhatikan keadaan sekitar, Lilia turun dari atas pohon, “bagaimana?” tanya Zazu, “hanya ada sepuluh penjaga” jawab Lilia, “aku akan bereskan mereka, Lilia bersiap diatas dan panah semua yang melarikan diri, Kidan kau bakar pengungsian ini” kata Zazu sembari mencabut golok besarnya dan berjalan keluar dari semak-semak.
Zazu berjalan mendekati pengungsian, “hei siapa kau?!” salah seorang penjaga menghentikan, Zazu langsung menebas kepala penjaga itu. Seketika kericuan terjadi, Kidan pun sudah mulai membakar pengungsian, Sai baru saja keluar dari tendanya “ada apa?” – “serigala merah menyerang” jawab Vivian, “sial!” Sai langsung bergegas.
Para pasukan berusaha menghentikan Zazu, tetapi satu persatu kepala mereka ditebas dengan mudah oleh Zazu, Sai datang dan langsung menebas tubuh Zazu dari belakang. Zazu berteriak kesakitan “ternyata anak iblis ya, akhirnya lawan yang sepadan” Zazu mulai menyerang Sai, pertarungan pun terjadi.
Kidan juga sudah mulai bertarung dengan para pasukan, tiba-tiba beberapa pisau dilemparkan kearahnya, Kidan berhasil menghindar, Vivian mengeluarkan pisaunya dan langsung menyayat lengan Kidan, salah satu pedang Kidan terjatuh, tangannya mulai mengeluarkan darah. “Ternyata kilat merah ya, sesuai dengan namanya, kau cepat juga” Kidan mengambil kembali pedangnya dan langsung menyerang Vivian, mereka pun mulai bertarung.
Niki baru keluar dari tendanya, ia melihat kebakaran besar, ia langsung belari kearah tenda pengobatan. “Kin, Yuyu!” teriak Niki masuk kedalam tenda pengobatan, Kin masih terbaring disana, Niki langsung menghampirinya dan membopong keluar “dimana Yuyu?” tanya Niki sembari meletakan Kin disamping tenda, “ia pergi ke air terjun mengambil air” kata Kin yang masih sulit bernapas karena asap, mendengar itu Niki langsung berlari mengejar Yuyu.
Yuyu sedang berlari menuju ke air terjun, Lilia membidiknya dari atas pepohonan “mau kabur kemana gadis kecil?” Lilia menembakan busur panahnya, Yuyu sama sekali tidak menyadari ada anak panah yang menuju kearahnya, tetapi Niki datang dan langsung melompat mendorong tubuh Yuyu, anak panah itu meleset.
“Niki?” Yuyu terlihat bingung, “cepat pergi!” Niki membantu Yuyu berdiri, “dasar penganggu!” Lilia membidik Niki dan menembakan busur panahnya, anak panah itu menggores lengan kiri Niki, Niki langsung berteriak kesakitan, “sial meleset!” gerutu Lilia sembari mengambil anak panah lagi.
“Yuyu cepat berlindung dibalik pohon itu!” perintah Niki, Yuyu mengangguk dan mulai berlari, sebuah anak panah sudah ditembakan kearah Niki, ia mengeluarkan kerambitnya dan menangkis anak panak itu. Yuyu hanya memperhatikan Niki dari balik pohon, ia takut sekaligus khwatir dengan Niki.
Lilia tersenyum “menarik juga, kita lihat bagaimana kau menghindari yang ini” Lilia mengambil tiga anak panah sekaligus, membidik dan menembakan busur panahnya, ketiga anak panah itu melesat kearah Niki. Niki berhasil menghindarinya, ia melihat tempat asal anak panah itu ditembakan, ia langsung berlari kearah pepohonan. “Sial! Mau kemari ya” Lilia langsung menembakan busur panahnya secara beruntun, Niki berhasil menghindari semua anak panah itu, melompat keatas pohon dan langsung menendang tubuh Lilia hingga jatuh dari pohon.
“Sialan!” Lilia bangkit berdiri “kau mengganggu kesenangan ku!” Lilia kembali mengambil anak panah dan menembak, tetapi kali ini ia tidak membidik kearah Niki melainkan kearah Yuyu. Anak panah itu melesat menembus batang pohon tempat Yuyu berlindung, Yuyu pun terjatuh kesamping. Kini Yuyu terpampang jelas tanpa terlindungi pohon, Lilia kembali mengambil busur panahnya dan menembak kearah Yuyu “mati kau!”, anak panah itu melesat menuju Yuyu, Yuyu tidak bisa menghindar, ia hanya memejamkan matanya.
Yuyu membuka matanya perlahan, Niki berdiri dihadapannya dengan bahu kiri yang tertusuk anak panah. Lilia tertawa puas “kau termakan jebakanku”, darah mengalir dengan deras dari tubuh Niki, “kini tinggal menyelesaikan” Lilia kembali mengambil anak panah panah dan membidik Niki “ucapkan selamat tinggal” Lilia menembakan busur panahnya, anak panah itu melesat tepat kearah Niki.