
Bab 19.
Pagi yang tenang di istana, Khan sedang menikmati udara pagi sembari diduduk di kursi rodanya, segelas teh hangat menemani. Kulu baru saja sampai di istana, ia langsung bergegas menuju ke loteng tempat Khan berada, “Kaisar” Kulu memberi hormat “Kaisar sudah sadar syukurlah” – “Kulu, rasanya seperti baru kemarin aku bertemu dengan mu, oiya mengapa istana begitu sepi?” tanya Khan, “banyak hal yang terjadi selama Kaisar belum siuman, tetapi Kaisar tidak perlu khwatir, para jendral sudah menanganinya, sebaiknya Kaisar banyak - banyak istirahat terlebih dahulu” jawab Kulu yang dengan mudah dapat meyakinkan Khan.
Setelah itu Kulu beranjak pergi, ia pergi ke ruang rahasia bawah tanah, Sada sudah menunggunya disana. “Mengapa memanggil ku kemari?” tanya Sada langsung pada intinya, “racun yang kau berikan gagal, Kaisar sudah siuman sebelum waktu yang direncanakan” jawab Kulu kesal, “tidak mungkin racun itu gagal, aku sudah mengeceknya satu persatu, semua ramuan yang ada di istana tidak bisa menetralkan, itu pasti ramuan dari luar istana” lanjut Sada yang membuat Kulu semakin kesal “ini pasti ulah penasehat tua bangka itu!” Kulu menghantam dinding ruangan.
Disebuah pondok di desa kecil, Wen sedang mengobati Kang yang masih terbaring tidak sadarkan diri, di pondok itu juga ada Su dan juga Yamato. “Jadi siapa yang menyerangnya?” tanya Wen sembari masih mengobati Kang, “masalah itu aku tidak tahu, yang jelas kini hanya tersisa dua jendral, Kang dan Kulu” jawab Yamato, Su menyalakan cerutunya “kalau begitu sudah jelas siapa pelakunya” – “saya juga mendapat kabar dari istana jika Kaisar sudah sadarkan diri” lanjut Yamato, “jadi ramuannya bekerja ya, Yamato maaf merepotkanmu, bisakah kau kembali ke istana dan jaga ketat Kaisar, Kulu pasti kembali bertindak” perintah Wen, “saya mengerti” Yamato memberi hormat kemudian beranjak pergi.
Tidak jauh darisana disebuah kota. Mayat Sabo sudah dibaringkan, Rasa menyalahkan obor dan mulai mengkremasi Sabo, Caka terdiam menyaksikan salah satu anaknnya telah meninggal. Enel juga berada disana, ia masih mengingat betul kejadian semalam, bahkan detik - detik Niki membunuh Sabo masih tergambar jelas di ingatannya “ayah, aku akan balas dendam” kata Enel, “tidak usah” jawab Caka yang membuat Enel terkejut “apa maksud ayah? Sabo sudah dibunuh olehnya!” – “ayah tidak bisa kehilangan anak lagi, bagaimana jika kau juga tewas sama seperti Sabo?!” bentak Caka yang membuat Enel terdiam, Caka cukup khwatir dengan kemampuan Niki.
Rasa menghampiri mereka “kau masih ingat wajahnya?” tanya Rasa kepada Enel, Enel mengangguk, “ayu berangkat, akan ku pastikan kau tidak tewas” lanjut Rasa, Caka hanya diam tidak bisa berkata - kata.
Niki kini masih terbaring tidak sadarkan diri, Pingping berhasil membawa Niki melarikan diri. “Tidak perlu khwatir, anak ini akan segara sadarkan diri” kata Guo yang baru selesai membalut beberapa bagian di tubuh Niki, semalam Pingping melarikan diri dan menemukan kuil empat mata angin.
Matahari sudah sampai di puncak, Niki sudah mulai sadarkan diri, kini Pingping memberikannya secangkir teh “syukurlah kau tidak apa - apa” – “apa yang terjadi?” tanya Niki sembari meminum teh itu, “semalam setelah bertarung kau tidak sadarkan diri, aku berhasil menemukan kuil ini” jawab Pingping. Guo masuk kedalam ruangan “kau sudah sadarkan diri ya, sepertinya semalam kau habis melakukan pertarungan hebat” – “terima kasih” jawab Niki, Guo tertawa “kau mengingatkanku pada seseorang”.
Hari terus berjalan, Rasa dan Enel sudah membawa pasukan mereka untuk memburu Niki, satu demi satu kota mereka masuki, tetapi belum ada hasil yang memuaskan. “Sial! Dengan tubuh terluka sehabis bertarung, dia tidak mungkin sudah pergi jauh kan!” gerutu Enel, “semuanya tetap lanjutkan pencarian!” perintah Rasa.
Matahari mulai terbenam, kini Rasa dan Enel sampai di depan kuil empat mata angin, “hanya kuil terbengkalai, kita lanjutkan perjalanan” kata Enel, “tunggu, aku ingin memeriksa kedalam” potong Rasa. Rasa turun dari kudanya, berjalan masuk kedalam kuil, “malam - malam begini ada tamu ya” Guo menyambut, “hei biksu tua, apa kau melihat dua anak muda lari kesini?” teriak Enel dari kudanya, “ya, mereka ada didalam” jawab Guo dengan santai, mendengar itu Enel bergegas turun dari kudanya dan berjalan kedalam kuil.
Guo tersenyum “tetapi sayang kalian tidak boleh masuk”, Enel kesal mendengar itu, ia mengeluarkan palu besinya “banyak bicara!” Enel mengayunkan palu besinya kearah Guo, tetapi dalam sekejap Guo sudah berpindah tempat menghindari serangan, “bajingan!” Enel bermaksud kembali menyerang, “aku disini!” Niki berjalan keluar dari kuil itu “tidak perlu bertarung untukku, aku akan melawannya”, Enel tersenyum mendengar itu “aku akan meladenimu”.
Enel dan Rasa berjalan kembali ke kudanya “jika aku kalah, hujani kuil ini dengan panah api” perintah Enel kepada para pasukan. Enel pun berjalan ke halaman kuil, Niki sudah berdiri disana, Enel mengangkat palu besinya “kau sudah membunuh adikku, kau kira aku akan melepaskanmu? sampai neraka pun akan ku kejar!” Enel maju menyerang dan menghantamkan palu besinya, Niki menghindarinya, palu besi Enel meremukan tempat Niki berdiri, ayunan palu yang sangat kuat.
Para pasukan terkejut melihat itu, “ayo Niki!” sorak Pingping. “Jangan senang dulu!” Enel bangkit berdiri dan kembali menyerang Niki, Niki kembali menghindari serangan Enel, Enel terus menyerang dengan membabi buta, Niki kembali melihat celah, kali ini ia mengalirkan tenaga dalam ke kakinya dan mendaratkan tendangan ke tubuh Enel, Enel pun terpental cukup jauh, Niki sudah menguasai pertarungan.
Rasa hanya diam melihat itu, kini ia tahu alasan Sabo kalah ditangan Niki. Enel mulai bangkit berdiri, ia mulai memikirkan cara-cara untuk mengalahkan Niki, matanya terus mencari celah, dan matanya melihat Pingping yang tengah menyoraki Enel, kini ia mendapatkan ide. Enel bangkit berdiri dan melemparkan palu besinya, tetapi palu besi itu bukan dilemparkan kearah Niki melainkan kearah Pingping, Niki yang melihat itu pun langsung melompat kearah Pingping, palu besi itu tepat menghantam tubuh Niki, Niki pun terjatuh kesakitan.
Enel tidak membuang-buang waktu, ia langsung menerjang kearah Niki dan akan mengakhiri pertarungan, “Niki cepat bangun!” teriak Pingping, Niki pun segera mengalirkan tenaga dalam ke tinju kananya. Enel kini telah berdiri dibelakang Niki, ia akan melayangkan hantaman, Niki menghindari hantaman itu dan langsung melayangkan tinjunya ke wajah Enel, Enel pun jatuh tergeletak, kini setengah wajahnya hancur akibat hantaman Niki.
Enel sudah tidak sadarkan diri, dengan ini pertarungan telah selesai, para pasukan mulai mengeluarkan busur panah mereka, “hentikan!” Rasa mencegah para pasukan “kita sudah kalah”, Rasa berjalan menghampiri Niki “kami mengaku kalah, ijinkan aku membawa pulang adikku”, Niki mengangguk, Rasa segera mengangkat tubuh Enel dan menaruhnya diatas kuda.
Rasa dan pasukannya berkuda pergi, “ayu kembali kedalam” ajak Guo, tetapi tiba-tiba Niki memuntahkan darah, ia pun terjatuh, tubuhnya terasa sakit dan mulai kehilangan tenaga, Pingping terkejut melihat itu, “bertahanlah!” Guo membantu Niki berdiri dan membawanya kedalam.
Niki sedang meminum ramuan dari Guo, “sepertinya tubuhmu tidak kuat menahan tenaga dalam yang kau lepaskan” kata Guo, “jadi kau mengetahuinya?” tanya Niki, “tentu saja, kau sudah tahu kan jika tubuh tidak bisa menahan pelepasan tenaga dalam yang terlalu banyak, tubuh juga memiliki batasnya, dan jika ku hitung, tubuhmu hanya kuat menahan tiga kali pelepasan setiap pertarungan, jika melebihi itu tubuhmu akan hancur” Guo menjelaskan, Niki mengangguk, “sejujurnya aku tidak menyangka anak muda sepertimu bisa melepaskan tenaga dalam sebaik itu” lanjut Guo, “guruku mengajari dengan sangat baik” jawab Niki sembari meminum kembali ramuan itu.
Malam semakin larut, Niki sedang beristirahat ditemani Pingping, “aku sudah beberapa kali melihatmu bertarung, sepertinya kau cukup tangguh, apa julukanmu?” Pingping memecah keheningan, “aku tidak mempunyainya” jawab Niki sembari memejamkan matanya, “setiap pendekar pasti punya julukan, jika tidak kau buat saja sendiri” Pingping berpikir sejenak “kau berkelana tanpa tujuan, bagaimana dengan anak hilang” – “jangan bicara ngawur” jawab Niki masih memejamkan mata, “aku tidak bicara ngawur, sudah kuputuskan, sekarang kau adalah Niki si anak hilang” Pingping ikut memejamkan matanya, Niki hanya tersenyum mendengar ocehan Pingping.
Matahari sudah kembali terbit, Niki masih bertapa di halaman kuil, ia baru saja membuka matanya, “kau pulih dengan cepat” sapa Guo, “aku ingin mengucapkan terima kasih” Niki bangkit berdiri, Gou tersenyum “kau mengingatkanku pada seseorang, kau sangat mirip dengannya” – “guruku juga mengatakan aku mirip dengan temannya, sepertinya banyak orang yang mirip denganku” jawab Niki.
Pingping berjalan keluar dari kuil “aku sudah siap!” kata Pingping sembari membawa karung cukup besar, “apa isi karung itu?” tanya Niki, “keperluan perjalanan, biksu yang memberikannya” jawab Pingping sembari menyeret karung itu, “lalu siapa yang mengatakan kau ikut denganku?” tanya Niki lagi, “aku tidak meminta ijinmu anak hilang” jawab Pingping sembari menunjukan raut meledek, “jangan memanggilku dengan sebutan itu!” kata Niki kesal, “aku juga tidak minta ijin untuk itu anak hilang” Pingping kembali menunjukan raut meledek, Niki semakin kesal dengan Pingping, Guo hanya tersenyum menyaksikan pertengkaran mereka berdua.
Kini Niki dan Pingping berjalan meninggalkan kuil, “hey anak muda!” panggil Guo menghentikan langkah Niki “apa kau pernah mendengar nama Tagatha?” tanya Guo, “tidak” jawab Niki, Guo tersenyum “dialah orang yang mirip denganmu”, Niki hanya membelas senyum dan kembali melanjutkan perjalanan.