
Bab 41.
Rumah dagang di kota, Vivian sedang terjebak di sana, lusinan bandit mengepung rumah dagang, tubuhnya juga sudah dipenuhi luka - luka. Kini Vivian sedang bertarung dengan Huang, Huang menggunakan tameng dan tombak menghujani serangan, sebuah tusukan mengenai tubuh Vivian, Vivian terjatuh dan memuntahkan darah. Huang tertawa “apa cuma segini? Sangat tidak menarik”, Vivian berusaha bangkit berdiri, ia memegangi lukanya, sedangkan Xu hanya duduk menonton sembari ditemani secangkir teh.
Dari balik tembok rumah dagang, Kin memperhatikan itu semua, ia sedang memikirkan cara untuk menolong Vivian. Lagi - lagi sebuah serangan menghantam Vivian hingga terjatuh, Xu tertawa dari tempat duduknya “perempuan cantik seperti mu seharusnya menjadi perempuan penghibur saja, aku bersedia membayar mahal”, Vivian kesal mendengar itu, tetapi tubuhnya sudah dipenuhi luka, seharusnya ia bisa mengalahkan Huang dengan mudah, tetapi gelas teh yang diberikan Xu sebelumnya mengandung racun, ia kesulitan untuk menggerakan tubuhnya.
Xu masih menikmati tontonannya, ia mulai menyalakan cerutu “buat lebih menarik lagi” Xu tertawa, tetapi tiba-tiba sebuah pedang tumpul memukul kepala Xu dari belakang, seketika Xu tidak sadarkan diri, Kin yang melakukannya, kini ia berdiri dibelakang Xu dan menodongkan pedang tumpulnya “hentikan atau kubunuh tuan kalian!” ancam Kin.
Semua bandit terdiam melihat itu, termasuk Huang, Vivian melihat celah, ia segera mengeluarkan pisaunya dan menyerang Huang, Huang lengah, pisau Vivian menebas leher belakangnya, Huang pun jatuh tergeletak, Vivian mengambil tameng milik Huang dan berlari kearah Kin. Kini Kin menyeret Xu yang sudah tidak sadarkan diri sebagai sandera, sementara Vivian didepannya memegang tameng, bersiap jika ada yang menyerang.
“Senior, kita harus segera pergi dari sini” kata Kin, “ya, aku tahu itu” jawab Vivian sembari memikirkan cara, seketika Kin melempar tubuh Xu “sekarang!” kemudian melarikan diri bersama Vivian keluar dari rumah dagang. Para bandit mulai mengejar, kini Vivian dan Kin berkuda pergi meninggalkan kota.
Di gunung emas, matahari mulai terbit, Shibaku kini tidak sadarkan diri, begitu pula dengan Niki. Fei masih duduk disamping Su, hanya terdiam meratapi kepergian gurunya, Sai berdiri tidak jauh, juga terdiam memandangi Su. “Jadi dia tidak selamat ya” Wen menghampiri, ia berjalan dengan sempoyongan, tubuhnya bergetar, menggunakan pedangnya sebagai penopang, kini ia duduk dibawah pohon, meminum obatnya “bukan waktu untuk meratapinya sekarang, kita harus segera menyusul pasukan lainnya”.
Fei tertunduk, lengan kanannya yang remuk gemetar “Sai, pinjamkan pedang mu”, Sai pun memberikan pedang hitamnya, kemudian Fei memotong lengan kanannya dan mengembalikan pedang hitam kepada Sai tanpa berkata apa-apa, Sai hanya diam melihat itu.
Fei kini mengangkat tubuh Su, kemudian menaikkannya keatas kuda “kita harus pergi” – “tinggalkan mayat itu!” Kara yang sudah luka-luka muncul dari balik pepohonan, tetapi tiba-tiba sebuah pedang tumpul memukul kepalanya dari belakang, seketika Kara jatuh tergeletak tidak sadarkan diri, Kin yang melakukan itu, ia dan Vivian baru saja sampai ke gunung emas, mereka terkejut melihat apa yang terjadi disana.
Kin segera turun, mengangkat tubuh Niki dan menaikannya ke atas kuda, kini pasukan naga yang tersisa berkuda pergi meninggalkan gunung emas dengan tertunduk, mereka baru saja kehilangan salah satu pahlawan mereka.
Matahari telah sampai di puncak, Kiba dan pasukan naga kini menunggu di sebuah gua di padang gurun, mereka telah keluar dari perbatasan Bulan Sabit. “Aku tidak suka ini, bagaimana jika bandit atau kekaisaran lain menangkap kita” gerutu Kang, “lalu apa bedanya? Didalam sana pasukan bayangan istana juga memburu kita” celetuk Tang.
Di gunung emas, Kara baru saja sadarkan diri, kemudian ia mengecek keadaan Shibaku yang sudah sekarat. “Dia belom mati” kata Kuijin yang tiba-tiba muncul disana, Kara terkejut dengan kehadiran Kuijin, “aku akan membawanya, kau ikutlah juga” Kuijin menyentuhkan tongkatnya, seketika Kara dan Shibaku terhisap masuk kedalam.
Lalu Kuijin memutuskan untuk mengitar terlebih dahulu, ia menemukan Liang yang tertusuk di duri-duri es “jurus ini” Kuijin menyentuh duri-duri es itu, ia mengenal betul jurus itu, kemudian Liang memuntahkan darah, “ternyata masih hidup” Kuijin menyentuhkan tongkatnya, Liang terhisap masuk kedalam tongkat itu, kemudian menghilang bersama dengan Kuijin.
Tidak beberapa lama Kulu berkuda datang, ia turun dari kudanya, melihat keadaan sekitar, hanya tersisa mayat-mayat berserakan, ia mengepalkan tangannya geram.
Di dasar tebing, Rasa terbaring dengan beberapa puing menutupi tubuhnya, darah mengalir dengan deras, hanya tinggal menunggu waktu. Tidak jauh dari sana, Guo sedang memetik beberapa daun untuk obat-obatan, kemudian ia mendengar ada pergerakan dari tumpukan puing. Gou memutuskan untuk mengecek kesana, ia menemukan Rasa terbaring dipenuhi darah dan tidak sadarkan diri, Guo pun mengangkat tubuh Rasa, membawanya pergi darisana.
Beberapa hari telah berlalu, gurun di luar perbatasan. Hari itu matahari sangat terik, pasukan naga sudah kehabisan makanan dan juga minuman, para pasukan hanya duduk kehausan. “sial! Apa kita tidak ada persediaan lagi?” gerutu Kang sembari membalikan kantung airnya yang sudah kosong, sedangkan Fei dan Wen sedang berdiskusi membicarakan langkah mereka selanjutnya, peta terpampang dihadapan mereka “sepertinya tidak ada cara lain, kita harus ke kota Mawar Merah” usul Fei, kota Mawar Mewar adalah kota ditengah jalur sutera, kota yang berdiri sendiri, bukan milik kekaisaran manapun.
“Apa kau sudah gila, kau tahu itu kota apa bukan? Lagi pula lokasi kota itu terlalu jauh, kita akan disergap bandit ditengah perjalanan, apa lagi dengan rombongan sebanyak ini, dan kita sudah tidak bisa bertarung, semua pasukan kelelahan, sudah jelas kota Mawar Merah bukanlah pilihan” Wen berpikir sejenak “bagaimana jika kita ke benteng perbatasan utara, mereka sangat jauh dari istana, benteng terbengkalai, tidak mungkin Kulu memburu kita hingga kesana” usul Wen, Fei berpikir sejenak, ia melihat keadaan para pasukan “sepertinya tidak ada pilihan lain”.
Tidak jauh darisana, sebuah batu nisan terpampang di tengah-tengah gurun pasir, batu nisan milik Su, Sai hanya berdiri diam memperhatikan batu nisan itu. Dari kejauhan Kiba memperhatikan itu, “Sai masih berada disana?” Vivian menghampiri, “sejak semalam senior Sai tidak beranjak” jawab Kiba, Vivian menghela nafas.
Di dalam gua, Niki masih tidak sadarkan diri, “lagi-lagi dia memaksakan diri” kata Pingping yang duduk disampingnya menemani, “sudah menjadi kebiasaannya” jawab Kin yang juga duduk tak jauh. Kini pasukan naga berada di jalan buntu.
Di hutan malam, Shibaku baru saja sadarkan diri, tubuhnya dipenuhi keringat “apa yang terjadi?” tanya Shibaku terengah-engah, “kau berhasil membunuh Su, ambisi mu sudah tercapai” Kuijin menghampiri, memberikan segelas teh, Shibaku meminum teh itu.
Shibaku merasakan sesuatu yang berbeda pada tubuhnya, lalu ia melihat tubuh lamanya terbaring tidak jauh, “kau pasti bertanya-tanya apa yang terjadi” Kuijin memberikan sebuah cermin, Shibaku sangat terkejut saat melihat wajahnya adalah wajah Kara.
“Apa aku kembali berganti kulit?” tanya Shibaku, “tubuh mu sudah hancur” jawab Kuijin yang kembali mengingatkan Shibaku akan pertarungan terakhirnya “jurus itu belum mati..” Shibaku terdiam sesaat “apa sekarang jiwa ku sudah menjadi milik mu?” tanya Shibaku lagi, “belum, pelayan mu sangat setia, ia berkorban untuk mu, kalian berganti tubuh, aku memindahkan jiwa mu ke tubuh pelayan mu, dan jiwa pelayan mu sudah menjadi milikku” Kuijin menjelaskan “kau kembali hidup Shibaku”, Shibaku kembali terdiam “tidak, Shibaku sudah mati, sekarang aku adalah Kara”.